Not To Be Angel

Not To Be Angel
Episode 39


__ADS_3

"Tante pengen sekali punya anak perempuan ,tapi Tuhan selalu menitipkan anak laki-laki kepada tante. Tapi nggak pa-pa, nanti kalau anak-anak tante udah menikah, tante pasti punya anak perempuan juga." ucap Mutia. Olin tersenyum mendengar penuturan wanita paruh baya di depannya.


"Lin, kita pulang sekarang," Mario datang sambil membawa tas milik Olin.


"Tante, olin pamit pulang dulu, ya. Udah sore," pamit Olin yang langsung di balas anggukan oleh Mutia.


"Yaudah, hati-hati ya. Oh ya ,ini bunga krisan buat kamu," Mutia memberikan satu koleksi bunga miliknya kepada Olin.


"Terimakasih,tan." ucapannya sambil tersenyum lebar.


Mutia mengangguk ,"Mar, jangan ngebut bawa anak gadis orang," Mutia coba mengingatkan Mario.


"Siap ratu." setelah berpamitan Olin dan Mario menuju garasi.


"Kayaknya mau hujan, kita naik mobil aja." ucap Mario sambil melihat ke atas langit. Olin hanya mengangguk.

__ADS_1


Setelah keduanya memasuki mobil, mobil sedan hitam itu pun meninggalkan pelataran rumah Mario.


---------------------------------------------


Di rumah Raven tepatnya di ruang tamu, Mirna, Davi, Raven dan Nilam berkumpul di sana. Davi sudah tau tentang kembalinya mamanya di hidupnya. Sebenarnya dia masih tidak bisa menerima dan memaafkan Nilam. Tapi sang kakak Raven, membuatnya yakin bahwa sang mama memang benar-benar ingin meminta maaf.


"Mama sangat berterima kasih sama kalian, meski mama udah jahat sama kalian tapi kalian tetap mau menerima mama kembali." ucap Nilam masih tidak percaya.


"Sebenarnya berat, ma. Saat harus nginget semua kejadian yang udah perna kita lewatin sebelumnya ,gimana susahnya bang Raven waktu itu. Mama pasti nggak ngerti rasanya," Davi bersuara.


"Mama paham, dav. Mama ngerti,itu mengapa mama datang dan meminta maaf ke kalian. Mama pengen memperbaiki semuanya. Kita buka lembaran baru," Nilam masih berusaha membuat anak-anaknya percaya.


"Sejak kejadian itu, olin berubah, ma. Dia nggak pernah mau percaya sama laki-laki mana pun kecuali raven dan davi. Itu adalah bentuk traumanya selama ini. Raven udah berusaha buat meyakinkan dia lagi, tapi percuma semua sia-sia." jelas Raven.


Nilam menghembuskan nafasnya dalam. Dia membayangkan bagaimana nanti saat Olin pulang, apakah dia bisa menerima Nilam kembali.

__ADS_1


Olin baru saja turun dari mobil Mario. Dia lalu memasuki pelataran rumahnya. Meninggalkan mario yang masih setia di sana.


"Assalamualaikum ,bunda bang abang, Olin pul...." ucapan Olin terhenti saat melihat wanita cantik yang duduk manis di samping bundanya.


"Olin." sapa Nilam dan berdiri dari duduknya. Dia menghampiri putri kecilnya yang sekarang sudah remaja.


Olin melangkah mundur, "jangan pernah sentuh saya." ucapnya.


"Lin, dengerin mama dulu." ucap Raven yang ikut mendekati adiknya. Olin menggeleng.


"Olin, maafin mama, nak."


"Jangan pernah anda temui saya!" Olin berteriak histeris. Dia terus melangkah mundur.


Bukan malah berhenti, Olin berlari menuju depan rumahnya. Menghampiri Mario yang masih disana karena mendengar Olin berteriak histeris.

__ADS_1


"Bawa gue pergi, mar." ucapnya panik sambil duduk di kursi penumpang.


"Hah? Kok lo...."


__ADS_2