Not To Be Angel

Not To Be Angel
Episode 28


__ADS_3

"Bunda udah masak, ayo makan." ajaknya.


Cowok itu mengerjapkan matanya berulang, dia baru saja bangun dari tidurnya, "Olin udah pulang?" tanyanya.


"Udah, dia masih mandi."


"Davi?"


Wanita itu menggeleng, "belom, tapi tadi udah bunda telvon katanya pulang telat" Raven mengangguk mengerti.


Di ruang makanlah sekarang mereka berkumpul. Kecuali Davi yang masih belom pulang. Olin setelah mandi dan sholat magrib juga ikut bergabung dengan Mirna dan Raven.


"Tadi pulang sama siapa?" tanya Raven pada Olin di depannya.


"Sama mario."


"Mario itu siapa?" tanya Mirna yang baru sadar jika Olin pulang dengan seorang laki-laki selain kedua kakaknya.


"Calon pacarnya olin, bun." jawab Raven mendahului Olin yang akan menjawab.


"Ish abang, apaan sih. Jangan percaya deh, bun." rengek Olin.


"Beneran Olin udah punya calon pacar?" tanya Mirna penasaran. Raven hanya mengangguk sambil meminum air putih.


"Bunda, percaya sama Olin deh. Nggak gitu kok." Olin benar-benar merasa di pojokan sekarang oleh Raven.

__ADS_1


"Sekarang gini, bun. Mana ada sih cewe yang mau di anter sama cowo yang baru dia kenal? Apalagi si cewe udah lama nggak percaya sama cowo, deket pun juga nggk perna, bisa di curigain kan, bun?"


"Emm bisa sih, iya juga ya."


"Bunda, apaan sih." rengek Olin lagi.


"Wah anak bunda udah mau pacaran nih."


"Ih bunda, nggak gitu, aku cuma temen doang sama dia. Nggak lebih." Olin mencoba untuk membela dirinya.


"Alah udah, nggk usah malu gitu, bunda maklum kok." ucap Mirna sambil tersenyum.


"Udahlah, Olin mau ngerjain tugas dulu." Olin pamit dari ruang makan dan menuju ke kamarnya.


"Bunda, kapan pulang? Masih lama kan disini?" tanya Raven masih berada si tempatnya duduk.


Raven mengangguk, "nggak pa-pa bun, Raven seneng jadi kalau aku sama Davi kerja, Olin ada yang jagain."


"Kalian berdua, bisa nggak fokus sama pendidikan aja, bunda sama ayah bisa kok nyekolahin kalian berdua." ucap Mirna untuk kesekian kali.


Raven menggeleng, "nggak usah, bun. Raven masih sanggup kok biayain sekolah adik-adik."


Mirna berdecak. "sifat kamu emang persis kayak mbak Nilam, keras kepala." Raven hanya tersenyum tipis.


---------------------------------------------

__ADS_1


Ting ting ting


Suara bell membuat gerbang rumah itu tebuka.


"Cari siapa ya, dik?"


"Olinnya sudah berangkat, tante?" tanya Mario kepada Mirna.


"belom, masih di dalem." jawab Mirna. "kamu ini siapa ya?"


"Oh saya Mario tante, temennya Olin. Mau ngajak olin berangkat bareng."


"Oh gitu, yaudah ayo masuk." ajak Mirna ramah.


"Sebentar ya tante panggilin olin dulu." Mirna pergi dari hadapan Mario. Membiarkan pemuda itu duduk di kursi yang berada di teras.


"Jemput gue kenapa nggk bilang dulu?" suara yang sangat Mario kenali terdengar di telinga Mario. Cowok itu menoleh ke arah Olin.


"Kan kemaren gue udah bilang ke lo, pas nganter lo pulang." jawab Mario sambil berdiri.


Olin mengkerutkan dahinya mengingat kata apa yang di ucapkan mario kemarin. "oh iya lupa gue." ucapnya sambil tersenyum lebar.


"Yaudah yok berangkat."


"Lah, nggk pamit dulu?"

__ADS_1


"Nggk usah, tadi gue udah pamit kok. Ayo buruan." ajak Olin yang berjalan mendahului Mario. Sedangkan cowok itu hanya menurut apa kata Olin.


Motor di stater dan tanpa menunggu lama, motor Mario menghilang dari depan rumah Olin.


__ADS_2