Not To Be Angel

Not To Be Angel
Episode 32


__ADS_3

"Trus apa bang!? kenapa sih kalian semua bohongin Olin, aku bukan anggota keluarga kalian ya sampek aku nggk boleh tau urusan abang aku sendiri." suara Olin meninggi. Bukan karena hal sepele dia marah, tapi ini soal keterbukaan dua kakaknya pada dirinya selama ini.


Olin merasa dirinya tidak di anggap jika dia tidak mengerti keadaan kedua kakaknya.


"Lin."


"Bang aku juga perlu tau, menurut abang ini hal sepele, tapi buat aku nggak bang. Dulu saat aku tau bang Raven kerja, aku berat bang buat setuju, ini kenapa bang Davi juga ikut tanpa bilang ke aku?"


"Olin, udah ya, kamu ganti baju dulu nanti kita omongin lagi semuanya." ucap Mirna mencoba menenangkan Olin yang sekarang mulai menangis.


"Aku ngerasa nggak berguna bang jadi adik, aku nggk bisa bantu abang buat nyari uang." Olin berkata di tengah isakannya.


"Bang Raven nggak mau, kamu ikut kerja dan nggk fokus sama sekolah kamu, Lin."


"Tapi setidaknya bang Raven sama bang Davi bilang ke Olin."

__ADS_1


Raven hanya bisa diam, dia merasa bersalah telah menutupi kebohongan selama ini. Berharap kebohongan itu tersimpan rapi kini malah Olin mengetahuinya sendiri.


Sedangkan Olin dia menangis di pelukan Mirna. Isakan yang tadinya kecil kini semakin hebat.


"Ada apa nih?!" tanya Davi yang baru saja pulang.


Olin mendongak melihat davi yang berdiri di ambang pintu, "sekarang Olin tau, kenapa tiap Olin bayar spp, admin selalu bilang kalau spp Olin udah lunas sampai beberapa bulan. Jadi selama ini bang Davi yang bayarin aku spp?"


"Maksud kamu apa sih, dik?"


Davi terkejud bagaimana bisa adiknya tau soal itu, mata Raven memberi isyarat pada Davi yang seolah berkata bahwa Olin sudah tau semuanya.


"Kenapa sih bang!" Olin berteriak. Dia marah.


"Lin, kamu nggak boleh bicara seperti itu ke kakakmu." ucap Mirna karena Olin berteriak ke arah Davi.

__ADS_1


"Bang davi selalu berangkat telat karena harus kerja malam, bang Davi bohong ke aku katanya ada jam tambahan tapi ternyata kerja."


"Lin, maafin abang, nggak ada maksud buat nutupin semuanya ke kamu. Abang, bang Raven, bunda sama ayah cuma pengen kamu tetep fokus sekolah." jelas Davi agar sang adik mengerti situasinya.


"Tapi nggk harus bohong juga kan bang," isakan trus terdengar di telinga semua orang yang berada disitu. Raven mendekati adik bungsunya. Memeluk Olin yang tangisannya belum juga reda.


"Maaf ya." bisiknya di telinga sang adik. Olin tak menjawab, dia masih terisak.


"Kita semua lakuin ini biar kamu dapet kehidupan yang layak. Biar kamu nggak ngerasain kayak apa yang bang Raven dan bang Davi alamin dulu, Lin. Itu kenapa abang nggak bilang kamu sebelumnya tentang ini."


"Udah ya, maapin kita semua, nggak usah nangis lagi." ucap Raven lembut. Olin mengangguk di pelukan sang kakak.


"Minta maaf ke bang Davi, tadi kamu udah teriak ke dia." perintah Mirna mengelus puncak kepala Olin.


Olin berjalan mendekati Davi yang masih berdiri di tempatnya awal. "Maafin Olin, bang." ucapnya lalu memeluk sang kakak.

__ADS_1


"Iya, abang maafin kok" jawab Davi sambil memeluk adik perempuan. Mirna tersenyum di samping Raven yang juga tersenyum melihat kedua adiknya kembali akur, sudah tidak ada lagi rahasia di antara mereka semua. Raven harap keluarganya akan terus bahagia.


__ADS_2