Not To Be Angel

Not To Be Angel
Episode 12


__ADS_3

"Lah kok baru pulang?" suara cowok mengagetkan Olin.


"Bang Raven, sejak kapan ada si situ?"  tanya Olin pada kakaknya.


"Dari tadi, pas kamu ngomong makasih sama cowo yang tadi itu."


"Abang ngerti mukanya Mario?" tanya Olin khawatir.


"Ngerti, kenapa?" tanya Raven sambil berkacak pinggang.


"Jangan cari dia ya bang. Jangan di ajak berantem. Tadi dia udah di ijinin bang Davi kok kalau mau ngnter aku." jelas Olin dengan wajah ketakutan.


Raven menghampiri adiknya yang masih mematung di tempat awalnya.


"Nggk kok, tadi Davi udah bilang abang juga. Yauda masuk sekarang." ajak Raven sambil menggandeng tangan adiknya.


"Ini jaketnya si Mario?" tanya Raven di sela berjalannya.


"Iya, tadi aku tembus jadinya jaket dia yang di buat nutupin."


Raven mengangguk, "habis ini buruan istirahat ya" ucap sang raven sambil mengelus puncak kepala Olin lembut. Gadis itu pun menuju ke kamarnya.


----------------------------------------------


Jam 3 sore Mario turun dari kamarnya untuk menuju ke ruang keluarga dimana sudah ada mamanya disana.


"Mam." sapanya pada sang mama yang tengah membaca majalah.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Mutia tanpa melihat anaknya.


"Bang Indra, belom pulang?"


"Abang mu jemput Pandu les. Kenapa tumben nyari'in, biasanya kalau ketemu bawaannya perang terus." sindir Mutia yang hafal persis kelakuan anak-anaknya.


"Nggak kenapa-kenapa, sih" tanya Mario sambil menyalakan televisi.


"Eh Mar, mama mau tanya?"


"Tanya apa ma?"


"Tadi mama ke kamar kamu. Ambil seragam kamu yang mau di cuci. Mama nemuin struk belanja di saku baju kamu. Tapi kok kamu belanja pembalut, sih." tanya Mutia heran.


Semua anaknya adalah laki-laki kenapa ada yang berbelanja barang kebutuhan perempuan.


"Emm, itu tadi...."


"Bukan, ma. Tadi itu Mario bantuin temen sebangku yang lagi kesusahan. Dan kebetulan banget dia cewe lagi halangan gitu. Trus minta aku buat beliin pembalut. Masak Mario tolak kan kasian, dia juga sendirian di kelas tadi. Semua udah pulang." jelas Mario pada Mutia.


"Ohh,  kirain kamu udah move on dari Divia"


"Paan sih ma bahas itu lagi. Emang Mario udah move on kali sama dia"


"Ihh masa?" goda Mutia pada anak keduanya itu.


"Iya ma. Udah deh jangan godain." Mario sebal dengan sang mama karena mengodanya.

__ADS_1


"Yang kamu tolong cantik nggak, Mar"


"Cantik." jawab Mario singkat.


"Kata mu tadi dia sebangku ya sama kamu?" tanya Mutia penasaran.


"Iya, dia juga yang Mario kenal pertama kali masuk sekolah" jawab Mario tanpa melihat sang mama.


"Wahh, itu bisa jadi cinta pertama kamu nggak ya di sekolah baru ini?"


"Apa lagi sih ma."


"Ih biarin aja lah. Mama lagi berkhayal kalau seumpama anak anak mama bawa pulang gadis trus di kenalin ke mama. Mama bakal punya anak cewe deh."


"Ada ada aja deh. Kalau berkhayal."


"Biarin aja lah." ucap Mutia tak mau kalah. Ponsel Mario berbunyi di sakunya. pesan dari grup ternyata. Mario membaca chat grup, Alan dan Gilang mengajaknya untuk keluar. Sekedar untuk nongkrong. Mario langsung mengiyakan ajakan itu.


Mario bangkit dari duduknya untuk menganti penampilannya. Mutia yang tak sengaja melihat bertanya.


"Mau kemana, Mar?"


"Mau keluar sama temen,ma?"


"Perempuan?" tanya Mutia kepo.


"Laki, ma. Udah ya Mario mau ganti baju dulu." setelah mengucapkan itu Mario pergi dari hadapan mamanya.

__ADS_1


Tak berapa lama Mario sudah berganti setelan. Dia menuruni anak tangga dan menghampiri mamanya.


"Mario berangkat dulu, ma." ucapnya sambil mencium pipi kanan sang mama.


__ADS_2