
"Lin."
"Hm, kenapa?"
"Lo pulang sama siapa?" tanya Mario.
"Oh habis ini pulang naik angkot, bang Davi ada les." jelas olin.
"Sama gue aja." ucap Mario spontan. Olin memandang manik Mario cukup lama. Lalu mengangguk.
"Gue beli minum dulu." pamit Olin lagi agar cekalan Mario terlepas. Cowok itu sadar dan melepaskan cekalan. Membiarkan Olin pergi membeli minum untuk dirinya. Entah mengapa, ada yang aneh dari Olin hari ini. Biasanya gadis itu jutek dan tidak perduli sekarang menjadi gadis baik hati pada Mario.
Sedikit aneh namun Mario senang atas sikap Olin hari ini yang sedikit berubah.
"Bu, beli air mineral dua." ucap Olin pada ibu pemilik warung di kantin sekolahnya.
"Iya mbk, mbk Olin kok belom pulang?" tanya ibu Ratmi yang kenal olin.
"Iya bu masih nunggu temen latihan volly."
"Oh, biasanya kan udah pulang sama mas Davi."
"Bang Davi ada les jadi Olin pulang sama temen, bu. " jelas Olin sambil tersenyum.
"Loh, mas Davi bukannya kelas 12 IPA 4 ya mbk?"
Olin mengangguk, "iya bu, kenapa?"
"Sekarang yang les anak kelas 12 Ips mbk Olin."
__ADS_1
"Loh tapi tadi bang Davi bilangnya gitu bu ke saya."
"Mas Davi pasti ngerjain mbk Olin deh. Anak kelas 12 ipa udah pulang semua." ucap ibu Ratmi lagi.
"Yaudah bu makasih ya." setelah membayar Olin kembali menemui Mario di lapangan.
"Kenapa cemberut gitu?" tanya Mario sambil meluruskan kakinya di rumput.
"Nggak."
"Ada apa cerita."
"Nggak."
Mario menghembuskan nafasnya panjang, "kalau lo crita mungkin gue bisa bantu." ucap Mario lagi.
Olin memandang manik milik cowok di sampingnya. Apa kah dia harus bercerita kepada mario?. Olin pun mengangguk dan mulai bercerita tentang apa yang dia rasakan.
"Yaudah kita pulang aja, gue juga udah selesai kok,lo butuh istirahat." ucap Mario yang di setujui Olin.
---------------------------------------------
Di perjalanan Olin hanya diam sambil melihat keramain jalan di sore hari ini. Dia masih penasaran mengapa sang kakak berbohong kepadanya. Apakah yang di katakan bu Ratmi tadi benar?
Mata Olin tak sengaja melihat ke arah cafe dekat taman. Sekelebatan dia melihat sang kakak di sana. Menggunakan sragam karyawan cafe itu.
"Bang Davi." ucapnya.
"Kenapa, Lin?" tanya Mario saat mereka berhenti di trafic light.
__ADS_1
"Gue kayak liat bang Davi." lapornya masih menoleh ke belakang.
Perasaan Mario tak enak. Karena mereka berhenti tepat di trafic light dekat cafe Davi bekerja. Apa yang di lihat Olin tadi adalah Davi?
"Bukan, lo salah kali." Mario berusaha menggoyahkan keyakinan Olin atas apa yang dia lihat. Gadis itu hanya termenung.
"Gue pulang ya, lo jangan banyak pikiran." ucap Mario sebelum pergi. Olin hanya mengangguk paham.
"Tiati"
---------------------------------------------
"Anak bunda udah pulang?" suara Mirna terdengar menyambut kehadiran olin.
"Bang davi kemana, bun?"
"Belom pulang, kenapa?" tanya Mirna yang mengetahui raut tak beres dari Olin.
Olin melihat jam di pergelangan tangan kirinya. Sudah jam 4 lebih, seharusnya kakaknya sudah pulang.
"Bun, bang Davi itu kerja?" tanya Olin tiba-tiba. Mirna terkejud, dia terdiam.
"Bunda, jawab," suara olin sedikit meninggi.
"Dik, ada apa sih." tanya Raven yang baru saja muncul.
"Bang, apa bener bang Davi itu kerja?" tanya Olin lagi. Raven diam.
"Benerkan, Olin selama ini nggak abang kasih tau soal ini. Kenapa sih bang? Takut kalau olin juga bakal ikut kerja diem-diem."
__ADS_1
"Nggak gitu, dik." ucap Raven menenangkan adik bungsunya.