
Mario turun dari motornya, di belakangnya sudah ada Pandu, Sang adik yang berusia 10 tahun. Mereka berdua sudah sampai di sebuah indo3.
"Dik, mau ikut ke dalem atau mau jaga parkiran?" tanya Mario pada adiknya. Pandu berpikir.
"Jaga parkiran aja bang." jawab Pandu.
"Yaudah duduk sana ya. Jangan kemana mana."
"Iya, tapi nggak janji." jawab Pandu dengan cengengesan.
"Gue buang ke kolong jembatan kalau sampek kluyuran," ancam Mario sadis, agar adiknya itu tidak menghilang. Karena Pandu anaknya sangat aktif ada saja yang akan dia lakukan.
Mario pergi dari hadapan sang adik. Dia harus membeli beberapa kebutuhannya dan titipan dari abangnya tadi.
Cukup lama Pandu menunggu Mario datang sambil melihat orang lewat. Persis seperti anak hilang.
"Loh bang!" teriak Pandu pada seorang cowok yang baru saja keluar dari indo3.
Pemuda itu tidak mendengar karena dia sedang bertelvon. Pandu mengambil dompet pemuda tadi yang jatuh tidak jauh dari dirinya.
"Kenapa, Ndu?" tanya Mario yang baru saja datang. "Ini dompet siapa?"
"Itu bang. Abang abang itu." ucap Pandu sambil menunjuk pemuda yang berjarak beberapa langkah di depan mereka berdua berdiri.
"Biar abang yang balikin. Kamu di sini aja." ucap Mario lalu berlalu menghampiri pemuda tadi.
__ADS_1
"Eh mas sorry, dompetnya jatuh." ucap Mario sambil menepuk pundak pemuda tadi.
Pemuda itu menoleh, "Eh makasih ya. Mungkin tadi jatuh pas aku ambil hp." ucapnya.
Mario terdiam saat dia merasa perna melihat pemuda itu. Dia seperti cowok yang tadi siang membonceng Olin.
"Lain kali hati-hati mas." ucapnya lalu pergi.
"Iya makasih ya." ucap pemuda tadi.
Mario pergi bersama Pandu. Sebelum meninggalkan indo3 dia mengklakson pemuda tadi yang masih ada disana.
---------------------------------------------
Olin terbangun dari tidurnya. Dia ketiduran rupanya di ruang keluarga. Dia mengecek jam di ponselnya jam 5 sore. Olin segera pergi ke kamarnya untuk mandi.
Pesan terakhir Olin tidak di baca oleh Raven mungkin dia masih menyetir saat ini. Olin memilih untuk sholat terlebih dahulu karena adzan magrib sudah terdengar.
Suara klakson mobil terdengar tepat saat Olin baru saja turun dari anak tangga terakhir. Dia segera berlari membukakan gerbang. Rumahnya ini sebenernya memiliki bell, namun kedua abangnya yang tak memiliki akhlak selalu saja mengklakson secara brutal.
Raven turun dari mobil saat dia sudah memarkirkan mobilnya. "Udah sholat dik?" tanya Raven pada Olin.
"Udah kok, ini apa bang?" tanyanya saat melihat kedua tangan Raven membawa beberapa kantung belanjaan.
"Bahan makanan, tadi abang belanja sebentar." ucap Raven.
__ADS_1
"Bangak banget?"
"Abang lagi ada rejeki dikit. Yaudah ayo masuk," ajaknya sambil menggandeng Olin lembut.
"Abang mau mandi, kamu siapin makanan yang ada di kantung warna putih itu ya. Nanti kita makan bareng." ucap Raven lalu pergi meninggalkan Olin.
Ponsel Olin berdering nyaring ternyata grup gengnya. Anya dan Saras sedang membahas PR, mereka berdua meminta olin untuk mengirimkan jawab.
Olin tidak berniat membalas pesan di grup itu. Dia hanya membaca pesan kedua sahabatnya yang sedang beradu di roomchat. Olin tersenyum dengan tingkah kedua sahabatnya yang selalu saja tidak sepaham. Satunya suka dengan bang Raven dan satunya lagi suka dengan bang Davi.
Mungkin ini kali, yang di namakan resiko jadi adik cewe dari dua abang ganteng seperti Raven dan Davi.
"Kenapa, Lin? kok senyum-senyum?" tanya Raven yang baru saja datang menghampiri Olin di meja makan.
"Oh enggak kok bang ini loh temen-temen Olin lagi bikin rusuh di roomchat grup."
Raven mengangguk, "Yaudah makan yuk." Olin mengangguk dan mengambil nasi. Acara makan keduanya sangat hening, tidak ada yang mengelurkan pembicaraan.
"Bang Davi kenapa selalu pulang malem sih, bang?" tanya Olin pada sang kakak.
"Mungkin dia ada tugas numpuk yang harus segera di tuntasin sebelum UN." jawab Raven singkat.
"Masa iya hampir setiap hari."
"Udah, Olin nggak usah mikirin itu. Itu kan urusannya bang Davi. Olin fokus sekolah aja ya." ucap Raven lembut pada adik perempuannya itu.
__ADS_1
Olin hanya diam sambil mengangguk.
"Habis ini belajar ya." lagi-lagi Olin mengangguk. Dia selalu patuh dengan apa yang di katakan sang kakak. Dia tidak perna membangkang sedikit pun perintah Raven selama itu baik untuk dirinya.