Not To Be Angel

Not To Be Angel
Episode 26


__ADS_3

"Jadi gue anter kan, yuk." ajak Mario sambil memasang helmnya.


"Eh gue belom ijin bang Davi."


"Tadi udah gue ijinin, katanya boleh." jelas Mario.


"Masa?"


"Lo nggak percaya?"


"Nggak." jawab Olin singkat.


Mario berdecak,  "kali ini lo harus percaya gue. Udah ayo." ajak Mario lagi, sambil menyodorkan helm untuk di pakai Olin.


Di tengah perjalanannya Olin cukup menikmati, karena biasanya jika di bonceng oleh Davi, dirinya hanya bisa menutup mata dan berpegangan dengan kuat.


Semua dia lakukan karena sang kakak selalu membawa motor secara brutal. Meskipun Raven selalu melarang Davi untuk tidak ngebut, cowok itu tetap melakukannya. Alasannya tetap sama, takut telat.


Mario berhenti di sebuah warung makan sederhana di pinggir jalan dekat dengan persawahan. Olin baru sadar jika dirinya tidak melewati jalanan menuju rumahnya. Bahkan sekarang dia berada di mana pun dia tidak tau.


"Mar, kita dimana?" tanyanya panik.


"Kenapa, lo takut nyasar?"


"Bukan gitu, gue nggak tau ini dimana."


"Udah, lo tenang aja. Ayok." ajak Mario menggandeng tangan Olin untuk memasuki warung makan sederhana itu.


"Siang, bu." sapa Mario ramah saat melihat seorang wanita paruh baya di balik etalase yang berisi aneka makanan.


"Loh, mas Mario." wanita itu sangat kaget dengan datangnya Mario di warungnya.


"Iya bu, ini saya mario. Masa ibu lupa sama saya?" tanya Mario sambil terkekeh.


"Mana mungkin toh mas, ibu lupa. mas Mario sing ganteng e koyo ngne iki" jawab ibu tadi dengan logat jawa yang kental.


"Hehe, saya pesen kayak biasanya ya, bu."

__ADS_1


"Oke mas. Ibu bungkusin sik yo." Mario tersenyum.


"Itu sama siapa kesini?"


"Ohh, ini temen aku bu."


"Kirain gadisnya." ibu tadi menggoda Mario.


"Iya doain aja sih, bu. Syukur-syukur kalau jadi." jawab Mario, lalu terkekeh.


"Aamiin."


Olin di sampingnya hanya melotot seram ke arah Mario. Namun dia sembunyikan karena takut di lihat oleh ibu tadi.


"Mas mario katanya pindah sekolah yo?" tanya ibu lagi.


"Iya bu, kok ibu tau?"


"Mas Chio sing kondo ibu."


"Chio masih sering ke sini, bu?"


"Mas Mario kenapa kok pindah? Bukannya enak bisa trus bareng mas Chio."


"Emm, itu bu ada masalah dikit."


"Oalah iyo yo."


Olin hanya menjadi pendengar di antara pembicaraan sang ibu pemilik warung dengan Mario di sampingnya. Ibu itu sangat akrab sekali dengan Mario.


"Bu, saya pinjem toiletnya bentar ya." pamit Mario lalu pergi kebelakang.


Olin di tinggal sendiri bersama ibu pemilik warung yang masih saja sibuk dengan pesanan Mario.


"Mbknya pacaran sama mas mario?" tanya ibu tadi.


"Bukan bu, saya hanya teman sekelas Mario."

__ADS_1


"Oh kirain mas Mario bohong, mbknya cantik pasti mas mario ke sem-sem."


"Ibu bisa aja." jawab olin terkekeh.


"Loh beneran iki mbk, mas Mario kalau kesini nggk perna ngajak cah wadon. Mesti karo mas Chio." jelas sang ibu dengan antusiasnya, Olin hanya mengangguk karena tidak tau harus menjawab apa.


"Mas Mario tuh baik orangnya, dulu kalau dia gak punya uang buat bayar dia bantu ibu nyuci piring, yo karo mas Chio juga. Mereka tuh kentel banget koncoan e." logat sang ibu membuat Olin sedikit kebingungan. Dia hanya bisa tersenyum manis saja.


"Eh lali aku mbk, gak tak gaekno ngombe. Bentar yo." Olin bingung, ibu tadi bilang apa. Yang Olin tangkap adalah kata 'bentar'.


Beberapa saat ibu tadi selesai dengan kegiatannya, "nih mbk, di minum dulu pasti haus. Sabar nggeh, habis ini selesai ibu bungkus nasinya."


Lagi dan lagi, Olin mengangguk saja. Sampai akhirnya Mario pun kembali.


"Loh pesen minum sendiri?" tanya Mario pada Olin.


"Mas ini udah selesai." lapor sang ibu tiba-tiba.


"Oh, jadi berapa bu?"


"120 ribu mas"


"Sama minumnya ini, bu?"


"Wealah gak usah, ibu emang sengaja ngasih ke mbknya kok. Kasian haus dia." jawab ibu tadi dengan tersenyum ke arah Olin.


"Waduh jadi gak enak, makasih ya bu." Mario mengucapkan rasa terimakasihnya, lalu  mengambil kantung plastik ukuran besar dari tangan sang ibu pemilik warung.


"Kalau gitu saya pamit bu, lain kali saya ke sini lagi." pamit Mario.


"Iyo mas, mampir yo ke sini."


"Siap bu, assalamualaikum." ucap Mario sebelum pergi, Olin juga tersenyum ramah ke ibu pemilik warung itu.


"Waalaikumsalam." jawabnya.


"Elo bisa bawa kan?" tanya Mario saat mereka sudah berada di depan warung.

__ADS_1


Bukanya menjawab Olin malah bertanya, "Lo beli nasi bungkus segini banyak buat siapa?"


"Entar lo tau kok, bisa kan bawanya?" Olin mengangguk. Dia menaiki motor Mario, beberapa detik kemudian motor itu kembali membelah jalanan.


__ADS_2