
"Lin, lo pulang sama bang Davi kan?" tanya Saras saat jam pulang sekolah telah tiba.
"Iya, gue pulang sama abang."
"Yaudah, gue sama anya pulang dulu ya." pamit Saras dan Anya berbarengan. Olin hanya tersenyum sambil mengangguk. Memandang punggung dua sahabatnya yang mulai menghilang dari pandangan.
Olin berjalan sendiri di tengah koridor yang sepi. Dia melihat ke arah lapangan volly yang masih ada siswa yang berlatih untuk acara lomba.
Tangan mungil Olin masih menggenggam selembar kertas jawaban. Itu adalah milik Mario yang tadi di titipkan bu Anggi pada Olin.
"Dek." Olin menoleh saat suara yang dia kenal memanggilnya.
"Kenapa bang?" tanya Olin sambil melihat manik sang kakak.
"Pulang sendiri bisa? Abang ada les. Bareng Anya atau Saras gak pa-pa." ucap Davi dengan wajah seriusnya.
Olin mengangguk, "iya udah abang duluan ya." ucapnya setelah berhasil mencubit pipi adiknya. Gadis itu hanya menghembuskan nafasnya panjang dengan kelakuan sang kakak. Dia kembali berjalan sendirian.
Sampai lah Olin di pinggir lapangan volly. Cuaca hari ini sangat cerah, matahari bersinar dengan terangnya. mata olin memicing untuk mencari keberadaan mario di antara siswa yang berada di sana. Pasalnya di tengah lapangan banyak siswa yang mengikuti latihan volly hari ini. Mulai dari kelas 10 sampai kelas 12.
Olin merasakan teduh di wajah dan di atas kepalanya. Dia mendongakkan kepalanya, matanya melihat sepasang tangan tengah mengadah tepat di atas kepalanya. Melindungi olin dari panasnya sinar matahari.
"Panas-panas gini ngapain berdiri di sini? berjemur?" tanya cowok yang sedang berdiri di belakang Olin tepat. Tangannya masih setia melindungi kepala Olin.
__ADS_1
"Mario." ucap Olin kaget. Mario menggandeng Olin untuk berteduh.
"Kok belom pulang?" tanyanya lagi saat mereka sudah duduk di bawah pohon yang rindang.
"Emm."
"Nungguin gue ya?" tebak Mario sambil tersenyum jail.
Olin memukul lengan mario keras. "apaan sih!? Nggk ya."
"Trus ngapain panas-panasan di sana tadi sambil liat ke tengah lapangan?" tanya Mario penasaran dengan yang di lakukan Olin tadi.
"Nih." Olin menyodorkan kertas jawaban yang sedari tadi dia bawa.
"Paan?"
"Gue tau nih apa." ucap Mario masih belum membuka kertas itu.
"Emang apa?"
"Nilai gue kan." Olin mengangguk.
"Pasti gue menang." ucapnya pede lalu membuka lipatan kertas itu.
__ADS_1
"kok delapan puluh?" ucapnya kaget.
"Iya emang itu nilai lo."
"Kok nggak seratus?"
"Mana gue tau." jawab Olin sewot.
"Alah gak pa-pa, pasti nilai lo di bawah gue." lagi-lagi dia mencoba pede. Olin berdecak mendengar kesombongan Mario.
"Nihh nilai gue, lo yang di bawah gue." ucapnya bangga sambil memperlihatan nilainya.
"Lah kok nilai lo bagus?"
"Kan gue belajar. Lo nggak." ejek Olin.
"Kok bisa gitu sih?"
"Dah deh trima kekalahan. So lo harus traktir gue makan selama seminggu." ucap Olin sambil tersenyum jahat.
"Seinget gue, perjanjiannya nggk gitu deh. Nggak seminggu gitu perasaan." Mario nampak protes.
"Itu perasaan lo aja. Orang gue inget kok dulu itu perjanjiannya traktir makan selama seminggu." Olin tetep kekeh dengan ucapannya.
__ADS_1
"Iya deh." Mario pasrah saja, toh dengan begitu dia bisa lebih dekat dengan olin.
"Sana latihan, gue beli minum dulu, lo pasti haus." setelah itu Olin pergi, merasa ada yang janggal Mario mencekal pergelangan tangan olin.