Not To Be Angel

Not To Be Angel
Episode 37


__ADS_3

"Mama tau, kamu pasti akan marah." ucapnya lembut.


"Tapi tidak bisa kah, sedikit saja kamu memandang mama sebagai orang tua mu. Bukan sebagai musuh," pinta Nilam masih dengan nada lembut seorang ibu.


"Mama minta maaf, Rav." ucapnya dengan air mata yang mulai mengalir di pipinya.


Raven masih diam, tangannya mengepal. Seolah menahan amarah dan kekecewaannya selama ini.


"Mama tau selama ini mama salah. Nggak seharusnya mama ninggalin kalian semua di saat jiwa kalian sedang terguncang," jelas Nilam.


"Kalau sudah tau keadaannya seperti itu, kenapa anda malah pergi!" sudah tidak ada lagi kesabaran di hati Raven. Dia benar-benar marah.


"Kenapa anda lebih memilih menyelamatkan perusahaan dari pada anak anda sendiri!"


"Anda tau, karena ke egoisan anda, anak-anak anda harus menanggung semua derita selama ini,  anda tidak tau kan? Bagaimana rasanya bergelud dengan tekanan batin setiap kali mata kita terbuka di pagi hari. Mimpi buruk yang selama ini di harapkan tidak akan menjadi kenyataan, malah berbanding terbalik dari harapan itu sendiri. Anda nggak akan pernah tau semua rasanya, karena anda sibuk dengan urusan anda sendiri!!!"

__ADS_1


Nilam menangis semakin menjadi saat Raven berbicara dengan nada tinggi. Mirna hanya mampu menenangkan kakak iparnya. Dia tidak bisa membuat Raven meredakan amarahnya.


"Sekarang anda datang tanpa dosa, mengetuk pintu yang selama ini sudah anda tinggalkan sekian lama, berharap pemilik pintu memaafkan?" Raven menggeleng berulang.


"Nggak akan segampang itu, maaf bisa saja di dapat, tapi luka masih saja membekas." ucap Raven, raut wajahnya benar-benar marah.


Setelah mengucapkan itu Raven pergi, namun baru beberapa langkah. Kakinya terasa berat seperti ada yang menahan.


Nilam berlutut sambil memegang ujung celana Raven. Tangisannya pecah disana. Isakan semakin menjadi-jadi.


"Dengan adanya perusahaan itu mama yakin hidup kalian akan tercukupi. Namun mama salah, kebahagiaan nggak akan perna bisa di beli dengan uang. Mama selama ini mengejar yang berlari bukan mengejar kalian yang masih setia menunggu mama kembali." 


Nilam mencoba mencurahkan apa saja yang dia simpan selama ini. Masalah yang membuat dia dan ketiga anaknya bercerai berai.


"Mama minta maaf, Rav. Mama bener-bener minta maaf. Mama pengen kita kembali seperti dulu. Kasih kesempatan mama, Raven." ucap Nilam sangat memohon.

__ADS_1


Raven tidak mengerti mengapa sudut matanya berair. Pipinya yang tadinya kering seketika basah. Linangan air mata yang tadinya tidak dia persilahkan turun, malah turun dengan derasnya.


Dia meraih lengan sang mama. Memeluknya erat.   Tangisannya pecah disana, di pelukan sang mama. Wanita yang selama ini dia rindukan kehadiran. Tembok beton yang selama ini membatasi dirinya untuk tidak lagi perduli akan kabar mamanya sekita runtuh. Tembok itu runtuh dengan berlututnya Nilam di kakinya.


Raven tau itu keterlaluan, tapi dia tidak bisa menahan amarahnya.


"Maafin Raven, ma." ucapnya di sela pelukannya. Nilam mengangguk dia senang bisa mendapat maaf dari anak sulungnya.


Mirna yang berada di situ, tersenyum bahagia bercampur terharu. Raven yang terkenal keras kepala akhirnya bisa luluh dan memaafkan sang mama.


Semua kesalahan berhak mendapatkan maaf dan kesempatan untuk kedua kalinya, selama itu bisa membuat semua kembali membaik seperti semula, meski luka tetep membekas di tempatnya


terimakasih sudah membaca karya saya, disini saya juga masih berlajar tentang kepenulisan, mohon dukungannya


cerita mario dan olin masih berlanjut tetap stay ya...

__ADS_1


__ADS_2