
Mario dan Olin telah sampai di tempat tujuan mereka. Sang tuan rumah masih mengandeng pergelangan tangan tamunya dengan erat.
"Hay, Olin." Sapa Mutia ramah menyambut kedatangan Olin.
Gadis itu tersenyum lebar mendengar sambutan hangat dari Mutia.
"Tante, apa kabar?" tanya Olin sambil mendekat ke arah wanita paruh baya itu. Mario melepaskan cekalannya.
"Tante baik, kok. Kamu lama nggak pernah kesini." ucap Mutia.
Mario yang melihat kedekatan mamanya dengan Olin hanya tersenyum.
"Ma, Mario ke kamar dulu ganti baju," pamit Mario lalu meninggalkan dua kaum hawa itu berbincang-bincang.
"Kamu mau makan? Biar tante siapain makan buat kamu sama Mario," tanya Mutia.
"Nggak usah tante, terimakasih. Olin masih kenyang, kok." jawab Olin.
"Ya sudah, tante nggak maksa. Gimana koleksi bunga kamu udah nambah?"
"Masih sama sih, tan. Olin belum sempet beli bunga krisan yang baru lagi," jelas Olin.
"Yaudah nanti tente bakalan kasih kamu satu koleksi bunga milik tante." ucap Mutia yang membuat mata Olin berbinar.
"Beneran ,tan?" tanya Olin tidak percaya.
Mutia mengangguk, "Yuk ke taman belakang," ajak Mutia ke apada Olin agar mengikutinya menuju taman belakang.
"Hallo, bre."
"Hallo, ada apa?"
"Gua kangen, nyet. Ketemuan yok."
__ADS_1
"Lo kok jadi alay gini, sih. Kedengeran serem tau nggak."
"Resek, lo. Jadi gimana mau nggak?"
"Nggak bisa, doi gue ada di rumah."
"Hah? Gue nggak salah denger kan? Lo punya doi? Cewek kan?"
Mario tertawa cukup lama, "iya iyalah cewek, gue masih normal ya."
"Cepet banget punya cewek lagi lo."
"Gue ganteng, beda sama lo." olok Mario pada sahabatnya itu.
"songong emang, lo nggak ajak kenalan ke gue nih?"
"Nggak, ntar lo tikung lagi."
"Iya siapa yang tau, kan?"
"Wah ngeselin banget lo sekarang"
"Ci ,lain waktu ketemuan di tempat biasa. Ada yang perlu gue omongin."
"Oke siap. Tapi btw jangan manggil gue ci doang ,yang jelas woy di kira cici ntar"
Mario tertawa dia lupa kalau Chio tidak perna mau namanya di ucap hanya setengah. Karena akan menimbulkan salah paham. Dia selalu meminta memanggil namanya dengan lengkap dan benar.
"Sorry-sorry."
"Yaudah deh, gue mau ke gereja dulu."
"Oke, sampek ketemu lain waktu."
__ADS_1
Mario menutup sambungan telvon saat dirasa suara Chio sudah tidak terdengar. Mario segera memakai kaosnya untuk turun menemui Olin.
Dia menemukan Olin dan Mutia yang sedang berbincang akrab di taman belakang. Tepatnya di taman bunga milik Mutia.
Mario tidak ingin mengganggu dua kaum hawa itu. Dia memilih pergi dan menonton TV di ruang keluarga.
"Kamu ini cantik banget, sih," puji Mutia.
"Terimakasih ,Tan. Tante juga cantik, kok." ucap Olin.
"Lihat wajah kamu, tante jadi inget temen kuliah tante," Olin memandang Mutia.
"Wajahnya mirip sekali sama kamu waktu dia Sma. Waktu pertama kali tante lihat kamu, tante kira kamu anak sahabat tante yang udah 10 tahun nggak pernah tante denger kabarnya. Ternyata bukan, tapi wajah kalian mirip sekali itu yang membuat tante penasaran, Tante lalu inget kalau anak sahabat tante itu cowok semua ,sama kayak tante," jelas Mutia semangat.
"Tante, udah nggak pernah ketemu lagi sama sahabat tante itu?" tanya Olin, Mutia menggeleng.
"terakhir tante ketemu 18 tahun yang lalu saat dia melahirkan anak keduanya, setelah itu tante nggak perna ketemu dia lagi, anak-anaknya seumuran dengan anak-anak tante, yang pertama seumuran dengan Indra yang kedua seumuran dengan Mario hanya beda beberapa bulan saja. Dulu kita berdua berharap bakal menjadi besan, tapi ternyata anak-anak kita sama-sama laki-laki," Mutia terkekeh setelah mengatakan kalimat terakhirnya.
"Dan beberapa tahun lalu tante denger kalau dia sibuk di luar kota sebagai wanita kantoran. Dia juga jarang pulang ke kota ini,"
"Tente berharap semoga dia baik-baik saja disana, meski kita udah lama nggak ketemu tapi tante masih inget banget wajahnya. Dia juga sama kayak kita, suka ngoleksi bunga krisan." ucap Mutia lagi.
"Semoga aja tante bisa ketemu sahabat tante lagi secepatnya," Olin lalu tersenyum.
Mutia mengulurkan kedua tangannya kehadapan Olin, "boleh tante meluk kamu?" Mutia meminta ijin untuk memeluk Olin.
Olin mengangguk. "Boleh tan," jawab Olin.
Mutia langsung memeluk Olin dengan penuh kasih sayang seperti anaknya sendiri. Gadis itu tersenyum di pelukan Mutia. Dia sangat senang karena baru kali ini dia bisa merasakan pelukan seorang ibu kecuali pelukan Mirna, dan sekarang Mutia memeluknya layaknya anak kandungnya sendiri,
"Kamu sering-sering main ke sini ,ya." ucap Mutia sambil melepaskan pelukannya.
"Iya, tante. Olin pasti bakal sering main kesini," jawaban Olin membuat Mutia tersenyum lebar.
__ADS_1