
Disini lah Mario berada, di kursi panjang yang menghadap langsung ke kolam renang. Suasana malam ini begitu dingin akibat guyuran hujan tadi sore.
Jam menujukkan pukul 8 malam, setelah sholat dan mengecek keadaan Olin ,Mario turun.
Dia terdiam cukup lama, pikirannya kembali menerawang kejadian tadi sore saat dirinya mendengar semua cerita sedih yang Olin alami.
Mario tahu betul perasaan Olin, bagaimana hidup gadis itu berhenti saat kejadian dulu.
"Di luar dingin ngapain lo disini, cari penyakit?" seruan itu terdengar di telinganya.
Tanpa Mario menoleh pun dia tau siapa yang berucap. "Gue bosen di dalem."
"Nih, cokelat hangat," Indra memeberikan secangkir cokelat hangat pada adiknya.
"Thanks, bang." ucapnya sambil mengambil cangkir itu.
"Lo perduli banget sama dia, lo suka?" tanya Indra.
Mario diam dan menunduk, dia tidak tau tentang perasaannya. Sulit untuk di artikan saat ini.
"Kenapa diem? Gue liat lo khawatir banget." ucap Indra lagi.
Mario memandang sang kakak. "Dia sama kayak gue, bang. bedanya gue lebih beruntung."
Indra menatap adiknya dengan kaget. Sorot matanya soalah bertanya pada Mario.
"Seriusan?" Mario mengangguk. Indra menepuk pundak Mario berulang.
"Kalau gitu buat dia beruntung." ucap Indra yang membuat adiknya menoleh kaget.
__ADS_1
"Mana bisa?"
"Bisa, kalau lo bisa dia juga bisa," Indra mencoba meyakinkan adiknya.
"Bang, gue bukan malaikat." ucap Mario masih tak yakin.
"Tapi lo bisa jadi malaikat di hidup dia."
"Bantu dia lewatin ini semua, mar. Buat dia lihat pelangi meski di penghujung hari." setelah mengucapkan itu Indra pergi. Namun beberapa langkah dia menoleh.
"Lo kalau mau istirahat bisa tidur di kamar gue." ucapnya lalu pergi.
Mario mengusap wajahnya gusar. Apa kah saran sang kakak akan dia lakukan? Entahlah, tapi dia ingin melihat gadis itu kembali tersenyum dengan hari-hari berwarnanya.
"Kamu tidur dimana, mar?" tanya Mutia yang baru saja mengecek keadaan Olin.
"Di kamar bang Indra, ma," lapornya pada Mutia.
"Mama istirahat aja, nanti biar mario cek keadaan olin." ucap Mario menyarankan.
"Yaudah, mama turun dulu. Kalau ada apa-apa kamu bilang," Mutia turun untuk menuju kamarnya dan istirahat.
Mario memandang pintu kamarnya dia tidak berniat masuk untuk melihat olin, dia malah memasuki pintu di sampingnya, pintu kamar Indra sang kakak.
Dia tidak melihat Indra disana, mungkin kakaknya sedang keluar. Mario mematikan lampu kamar dan hanya menyisakan lampu meja yang menyala. Dia lalu merebahkan tubuhnya di atas ranjang dan mencoba memejamkan matanya.
Jam menunjukan pukul 10 malam, Indra melihat adiknya yang sudah tidur di ranjangnya. Namun ada yang aneh.
"Tumben mati'in lampu kamar," gumam Indra.
__ADS_1
Dia sudah tidak lagi menghiraukan hal itu, dia memilih menyalakan televisi dengan volume kecil agar tidak mengganggu Mario.
Namun beberapa saat ada yang aneh di diri Mario, Indra melihat wajah adiknya yang tidak tenang matanya masih tertutup, keringat bercucuran di wajah tampan mario. Nafasnya pun tak beraturan.
Nampaknya mario mimpi buruk. Indra segera membangunkan adiknya. "Mar, lo nggak pa-pa?" tanyanya khawatir.
Nafas Mario masih berpacu. Dia terduduk di atas ranjang dengan wajah penuh keringat dingin.
"Minum dulu." ucap Indra sambil menyodorkan segelas air putih kehadapan Mario. Cowok itu segera meminumnya. Indra menyalakan lampu kamar,seketika yang tadi redup kini terang.
"Lo mimpi itu lagi?" tanya Indra lagi. Mario mengangguk, dia masih mengatur hembusan nafasnya.
"Lo ngapain sih pakek acara mati'in lampu kamar segala?" dia marah, Indra tak habis pikir dengan adiknya.
"Gue cuma pengen membiasakan diri, bang." jawab mario, dia sedikit takut karena sang kakak nampaknya marah.
"Lo tuh belom bisa, jangan bikin nambah parah!" benar, Indra marah.
"Sorry." ucap Mario lirih.
"Butuh waktu sedikit lebih lama buat lo kembali seperti semula," suara Indra sudah kembali biasa.
"Tapi kapan, bang. Gue juga pengen hidup normal."
"Sabar, lo cuma butuh waktu. Lo tunggu." ucap Indra membuat adiknya mengangguk mengerti.
"Udah lo buruan tidur lagi, lampu kamar nyalain," perintah Indra.
"Lo nggak tidur, bang?"
__ADS_1
"Ntar aja, gue belom ngantuk. Mau nonton film di bawah. Nanti gue cek'in juga keadaan Olin," Mario mengangguk lalu menyalakan lampu kamar dan tidur.