
Olin baru saja selesai membantu Mutia mencuci piring setelah mereka sarapan.
"Olin merasa terimakasih banget, tan. Buat semuanya." ucap Olin di sela mencuci tangannya.
"Kamu nggak perlu terimakasih, tante ikhlas bantuin kamu. Kalau ada apa-apa cerita ke tante, datang aja kesini pintu rumah tante selalu terbuka buat kamu," Mutia mengucapkan itu dengan senyuman lebar di bibirnya.
"Tante baik banget, sih. Padahal kemaren aku ngerepotin tante." ucap Olin sedih.
Mutia mengelus pundak gadis itu dengan lembut.
"Nggak masalah, lin. Tante udah nganggep kamu seperti anak tante sendiri."
Olin tersenyum, begitu baiknya keluarga ini padanya. Padahal mereka belum pernah bertemu sebelumnya. Tapi sikap Mutia, Mario, bang Indra dan Pandu sangat baik padanya. Olin sangat berterimakasih sekali. Di saat dia terpuruk masih ada orang baik yang bisa menolongnya.
"Lin, udah selesai?" tanya Mario dari arah tangga menuju dapur. Cowok itu menaruh tas Olin di pundak kirinya, sedangkan tangan kirinya membawa paperbag berisi baju Olin kemarin.
"Udah, kok." jawab Olin sambil melihat Mario.
"Yaudah ayo," ajaknya. Olin mengangguk.
"Tante, olin pulang ya. Terimakasih buat bajunya, buat semuanya juga." ucap Olin sambil berpamitan. Iya Mutia memberikan baju pada Olin kemarin saat baju seragam gadis itu basah saat kehujanan. Alhasil, Mutia harus mengambilkan baju di butik yang dia punya.
"Sama-sama, olin. Jaga diri baik-baik ya kalau ada apa-apa bilang ke tante," Lagi-lagi gadis itu mengangguk sambil tersenyum.
"olin pulang, tan." ucapnya lalu menyusul Mario yang sudah berada di pelataran.
"Udah semua nggak ada yang ketinggalan?" tanya Mario pada Olin. Gadis itu menggeleng singkat.
__ADS_1
Kedua remaja itu pun memasuki mobil dan dalam hitungan detik pun mobil itu hilang dari pandangan.
"Udah siap kan?" tanya Mario di sela menyetirnya.
"Semoga gue bisa." ucap Olin.
"Harus!"
Olin menoleh ke arah Mario. Tangan mungilnya menggenggam tangan besar Mario.
Mario menoleh sekilas masih tidak tau maksud Olin. Dia kembali menyetir dengan tangan kirinya masih di genggam Olin.
"Biarin gini, sebentar." ucap Olin sambil memejamkan matanya. Mario hanya bisa melirik apa yang di lakukan Olin.
"Terimakasih, Mar." ucapnya masih di posisi yang sama. Mata terpejam sambil menyenderkan punggungnya ke kursi.
Mario membenarkan anak rambut olin yang berantakan saat trafic light berwarna merah. Dia tersenyum melihat wajah gadis di sebelahnya. Tak lama trafic light pun berganti warna, mobil itu kembali melaju.
"Kita udah sampai." ucap Mario membangunkan Olin.
Gadis itu membuka matanya. Dia masih mengumpulkan nyawanya agar segera sadar. Tangan mereka masih saja saling menggenggam.
"Ayo,kita turun." ucap Mario,di pundaknya sudah ada tas Olin. Begitu pula dengan tanganya, sudah menenteng paperbag tadi.
Olin dengan nyawanya yang masih tiga perempat berusaha berjalan mendahului Mario.
Bell di tekan beberapa kali. Namun pintu gerbang belum juga di bukakan.
__ADS_1
Olin berdecak, "Abang. Bukain gerbangnya!" seru Olin dengan suara kencang.
Mario sampai kaget dengan apa yang di lakukan gadis itu. Sampai-sampai dia melotot ke arah Olin. Suara langkah kaki terdengar mendekati gerbang.
Gerbang di buka dan muncul lah kepala Davi di sana. "Olin,"
"Biarin olin masuk." ucap Olin menyeruak masuk ke dalam rumahnya. Mario masih Setia di tempatnya berdiri.
"Lo nggak masuk?" tanya Davi. Mario mengangguk dan ikut memasuki rumah Olin.
"Assalamualaikum ,olin pulang!" seru Olin saat dirinya sudah berada di ruang keluarga. Langkah kaki mulai terdengar mendekati.
"Olin," sapa Nilam yang berdiri tak jauh dari dirinya.
"Mama," tanpa aba-aba gadis itu berlari dan memeluk Nilam erat.
Davi dan Mario yang baru saja datang pun hanya bisa terdiam memandang kejadian di depannya. Raven yang baru sampai di ruang tamu juga kaget dengan kejadian itu.
"Maafin sikap olin kemarin ya, ma. Olin nggak dengerin penjelasan mama, olin lebih milih pergi," Olin terisak di pelukan Nilam. Dia mengakui kesalahannya.
Nilam mengangguk sambil terus mengelus punggung Olin. "Mama sadar kok, mama yang salah. Sikap kamu kemarin memang benar. Tapi sekarang ya sekarang,hal kemarin coba kita ikhlaskan. Mama kangen banget sama kamu, nak. Sudah lama mama nggak meluk kamu kayak gini." ucap Nilam, pipinya juga basah akibat air mata yang menetes.
"Olin juga kangen, ma. Kita perbaiki semuanya lagi ya?"
Nilam mengangguk, "pasti nak, mulai sekarang kita perbaiki semuanya."
Davi dan Raven mendekati dua wanita itu. Mereka saling berpelukan disana. Mario hanya tersenyum lebar melihat kejadian itu. Dia bisa merasakan bagaimana bahagianya mereka saat ini. Setelah sekian lama terpisah.
__ADS_1
...^^^...^^^...Memang benar, kebahagiaan tidak bisa di beli dengan uang. Sebanyak apa pun uang yang kalian punya tidak akan bisa membeli waktu yang sudah terlewati. ...^^^...^^^...