
"Raven, dia itu masih mama mu, dia yang melahirkan kamu, hormati dia."
"Hormati,bun? Setelah dia ngehancurin masa depan Raven dan adik-adik, sekarang dia masih ingin di hormati sebagai ibu?" Raven menahan emosinya.
"Apa segampang itu?" Raven menggeleng berulang.
"Davi dan Olin hampir jadi gelandangan, dan aku hampir aja jadi bandar narkoba gara-gara dia, dan sekarang dengan gampangnya dia bilang pengen ketemu Raven dan pengen minta maaf?"
"Raven, dengar apa bunda, kamu boleh membencinya tapi ingat, bagaimana pun juga dia ibu kandung mu, bunda tau gimana perasaan kamu selama ini. Tapi mama mu benar-benar ingin minta maaf ke kamu," Mirna berusaha keras untuk meluluhkan hati keponakan itu.
Raven masih terdiam, dia sama sekali tidak berani menjawab ucapan Mirna. Bundanya benar, apa pun yang di lakukan mamanya dulu, tidak akan mengubah status ibu dan anak di antara mereka berdua. Bukan Raven tak ingin memaafkan, tapi apa segampang itu? Setelah tujuh tahun dia dan adik-adiknya berusaha hidup baik-baik saja tanpa adanya kasih sayang orang tua?
Mereka mendapat kasih sayang hanya dari Mirna dan Toni, saudara yang mau menganggap mereka bertiga layaknya anak sendiri. Namun, kasih sayang orang tua sangatlah utama menurutnya. Meskipun beribu kasih sayang dia dapatkan dari orang lain, kasih sayang orang tualah yang paling berharga.
"Bunda pengen kamu mau bertemu mama mu, kalau pun kamu nggak mau berbicara sama mama mu, temui saja, dia juga kangen sama kalian." setelah mengucapkan itu Mirna pergi meninggalkan Raven yang berada di sana sendiri.
Raven melihat amplop yang sengaja Mirna tinggalkan di sana, mengambilnya dan masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Amplop itu tidak dia bawa ke kamarnya, melainkan dia letakkan kedalam laci almari di ruang keluarga. Setelah itu dia memasuki kamarnya dan menutup pintu.
Mirna melihat semua yang di lakukan Raven, dia menuju laci dimana Raven meletakan amplop tadi. Betapa kagetnya dia saat melihat beberapa tumpukan amplop yang masih terutup rapat.
Raven selama ini tidak menggunakan sepeser pun uang yang di berikan Nilam sang mama padanya. Dia hanya menerima dan menyimpannya saja.
"Kamu emang keras kepala, Rav."gumam Mirna.
---------------------------------------------
"Selamat pagi anak-anak." sapa Gilang di depan kelas. seluruh murid melihat kearah dimana Gilang berada.
"Udah diem ya, bapak mau mengambil tugas dari bu Diah minggu lalu, ayo di kumpulkan, bapak Alan tolong saya di bantu." ucap Gilang layaknya seorang guru.
"Kan masih kurang sehari lagi, Lang." protes intan sang bendahara kelas.
"Heh, lo aja kalau nagih uang kas ke kita juga nggak ada toleransi, sekarang gue juga sama, mana tugas lo", Gilang merampas buku tugas milik Intan. Intan hanya berdecak sebal.
__ADS_1
"Ayo ayo yang lain mana", suara Alan begitu lantang, mirip seperti pedagang asongan di dalam bus.
Semua murid menyerahkan buku tugas mereka kepada Alan dan Gilang.
"Selamat pagi semua." suara berat seorang guru terdengar di depan kelas.
"Pagi pak," murid-murid berseru kompak.
"Kalian berdua ngapain?" tanya pak Trisna.
"Ngumpulin tugas bu Diah, pak. Ijin sebentar ya, pak." ucap Alan berpamitan.
"Ya sudah, cepat kembali ke kelas." ucap pak Trisna selaku guru bahasa inggris.
"Hari ini bapak mau megadakan tes lisan."
Semua murid yang tadinya sedikit ramai seketika hening, dan melihat ke arah pak Trisna.
__ADS_1
"Pak, kok mendadak sih?" tanya salah satu siswa.