
"Lagi jemput Pandu?" Mario mengangguk.
"Ya ampun. Lama kita nggak ketemu. Kamu sekarang pindah dimana?"
"Nggak usah lebay deh, sa." ucap mario sambil melepaskan tangan sasa yang masih menempel di lengannya.
"Kok kamu jadi gini? Kamu udah punya pengganti aku ya?" cerocos gadis itu, karena Mario masih diam.
"Mahen, jawab aku!" tanpa aba-aba Mario menarik lengan Sasa keluar dari labby.
Setelah sampai di parkiran mario pun berucap.
"Sa, kita udah putus lama. Dan kalau gue udah punya pacar baru. Itu bukan urusan lo lagi. Paham?" suara Mario sebisa mungkin dia tahan agar tidak terdengar oleh orang lain.
"Secantik apa sih pacar kamu yang baru? Kamu udah dapet apa aja dari dia. Sampai kamu jadi gini ke aku." ucap Sasa masih penasaran.
"Dia jauh lebih baik dari lo. Dan dia nggak gampang ngasih tubuhnya ke orang lain." jawaban Mario begitu ketus dan sadis.
Gadis itu menatap mario dengan tatapan tak percaya "ohh, sekarang lo jadi sok alim ya." Sasa ikut emosi.
"Apa lo lupa, udah berapa cewek lo sakitin dan lo mainin seenak jidat lo, Dan satu lagi yang harus lo inget baik-baik. Udah berapa cewek yang lo tidurin?" ucapan Sasa terakhir membuat mario emosi.
"Denger ya, gue emang playboy tapi gue nggak perna nidurin anak orang sama sekali." ucap Mario dengan wajah memerah.
__ADS_1
Sasa tertawa, "lo kira gue percaya sama omongan lo. pasti lo di keluarin dari sekolah karena udah ngehamilin anak orang kan?" tuduh Sasa lagi.
"Lo sakit, sa. Otak lo udah nggak waras. Terserah lo mau bilang apa. Gue nggak perduli, karena lo nggak ngerti kenyataannya"
Setelah mengucapkan kalimat terakhirnya, Mario pergi dari hadapan Sasa. Saat melihat Pandu yang keluar dari lobby mencarinya.
"Awas aja. Gue bakal bales apa yang perna lo lakuin ke gue. Gue masih nggak terima lo putusin gue gitu aja." gumam Sasa dengan wajah liciknya. Lalu pergi.
--------------------------------------------------
"Alaannnn, kejar gue kalau bisa." ucap anya sambil berlari meninggalkan alan di belakangnya.
"Males ah, Nya. Gue ngejar lo dari kelas 10 nggak dapet-dapet." jawab alan mengeluh namun tetap mau mengejar anya yang sudah berlari cukup jauh dari arah parkiran.
Saras yang tak sengaja melihat kedua remaja itu, hanya bergumam di tempatnya berdiri.
"Ras, sehat?" suara tak asing di telinga saras pun tiba-tiba terdengar dan membuat dia menoleh ke samping. Sudah ada Gilang di sisinya.
"Hah?"
"Lo ngapain berdiri disini, sambil ngedumel sendiri?" tanya Gilang.
"Itu temen lo, bikin drama sama Anya. Pakek acara kejar-kejaran lagi sepagi ini pula." jelas saras.
__ADS_1
"Alan yang lo maksud?" Saras mengangguk.
"Baru sampek sekolah udah mainin film india."
"Anya berangkat sama Alan?" lagi-lagi saras mengangguk.
"Pantes aja, gue jemput nggak mau." ucap gilang.
"Lagian lo ngapain sih pakek jemput Alan, kekurangan cewek buat di bonceng?" tanya Saras heran. Karena sejak dulu gilang selalu berangkat bersama Alan.
"Iya lo kan tau. Gue nggak punya temen cewek yang mau di bonceng."
"Kata siapa?" tanya Saras, sambil memandang cowok yang tingginya 180cm di sampingnya.
"Kata gue lah, barusan." jawab Gilang yang juga memandang Saras.
"Ada tuh, gue." ucap Saras spontan. Gilang kaget, dia mengkerutkan dahinya tidak paham.
"Maksud lo, lo mau gue jemput tiap pagi?" tanya Gilang memastikan. Saras memandang wajah cowok di sampingnya. Gilang **** apa emang nggak peka sih.
"Gue males ngomong sama orang nggak peka." setelah mengucapkan itu, Saras pergi menuju kelas meninggalkan Gilang sendiri yang masih berfikir.
Satu detik, dua detik, lima detik.
__ADS_1
"Oke, gue jemput lo besok!" teriak Gilang ke arah Saras yang sudah mulai menjauh. Gadis itu mendengar teriakan Gilang di belakangnya, dan hanya mengacungkan satu jempolnya ke atas tinggi-tinggi.
Gilang tersenyum lebar, lalu menyusul Saras yang sudah hilang di belokan koridor lantai bawah.