
"Cek ... cek ... cek ...."
Para siswa yang sedang menikmati free classnya, setelah pemilihan ketua OSIS itu tampak penasaran dengan suara yang diedarkan melalui speaker di setiap pojok atas kelas. Ada yang langsung mendengarkan fokus, tetapi ada juga yang tidak peduli.
Key yang sedang membaca novel di kelasnya, mengenali suara itu. Ia sedang menyibukan dirinya, karena ia merasa bodoh telah terlalu khawatir akan mimpinya mengenai Deden yang menjadi ketua OSIS dan serangan alien itu, konyol bukan? haha ... dan sekarang terbukti bukan Deden ketua OSIS barunya, rasanya Key ingin sekali terjun ke inti bumi dan membangun apartemen di sana untuk ditinggalinya.
"Tolong minta perhatiannya sebentar, saya hendak menyampaikan sesuatu mohon didengarkan," ucap suara Bagas dari speaker.
Semua siswa serentak menoleh ke arah speaker di kelas mereka masing-masing, fokus menatap speaker dan memperhatikannya. Mereka menghentikan aktivitas sejenak, padahal mereka hanya diminta mendengarkan bukan? Entah mengapa mereka malah menonton speaker itu serius seperti orang yang berbicara sedang tergantung di atas speakernya.
"Kak Bagas, ya, Key? Ada perlu apa tuh?" tanya Viera yang dibalas anggukan dan gelengan dari Key.
"Maksudnya apa sih ngangguk tapi geleng juga? kepala lo bautnya kendor?" lanjut Viera tak paham.
"Tsk! ... iya itu suara Kak bagas, gue juga gak tahu dia mau apa, tentang pengurus OSIS baru kali," ucap Viera menjelaskan.
"Sebelumnya, mohon maaf telah mengganggu kegiatan kalian semua," ucap Suara Bagas.
* * * * *
Di lain tempat lebih tepatnya di kelas XI IPS 5, Deden tampak tak peduli dengan suara dari speaker itu, ia sedang lahap menikmati gorengannya di depan kelas. Dengan sarung yang ia gelar sebagai tikar dan gorengan dengan modal 5000 rupiah serta segelas air mineral beermerek akuluka, ia merasa dirinya bahagia seperti sedang berpiknik di taman bunga. Kedua cunguk sedang membeli makanan ringan lainnya di kantin, tadinya mereka hendak patungan makanan dan berkumpul di depan kelas bersama, tetapi Deden yang sudah kelaparan itu memakan gorengan yang seharusnya untuk patungan dan di makan bersama.
"Den gawat, telah terdeteksi bencana! Status sudah siaga tiga," ucap Vino mengatur napas, karena ia dan Gibran berlari dari kantin ke kelas.
"Bencana?" tanya Deden sambil tetap tenang mengambil tempe gorengnya.
"Iya, tercium gelagat Kak Bagas yang hendak meminang Key sebagai pacarnya," ucap Gibran telak.
Deden terbatuk karena tersedak gorengannya yang baru digigit setengah, ia pun langsung menyambar minumnya dan berlari keluar kelas diikuti Vino dan Gibran.
Di tengah lapangan Bagas memegang balon sambil berbicara lewat mic, beberapa teman di belakangnya memegang kertas dengan tulisan, ada juga yang memegang bunga.
"Saya mau jujur, terutama jujur ke diri saya sendiri. Sudah sejak lama saya memendam perasaan ini, dia adalah sahabat saya sejak kecil. Dia yang selalu berhasil membuat saya tersenyum walaupun kesedihan sudah menumpuk di hati saya," ucap Bagas.
Sekarang para siswa-siswi banyak yang keluar dari kelasnya ke arah sumber suara, mereka berbisik setelah melihat Bagas yang berdiri di tengah lapangan yang terik. Para siswi yang mengaku sebagai fans Bagas pun penasaran siapa yang Bagas maksud, lebih tepatnya mereka berharap yang Bagas maksud adalah mereka.
Dari kejauhan terlihat Viera yang sedang menyeret paksa Key untuk melihat apa yang terjadi, Key yang dipaksa itu terlihat malas mengikuti.
Bagas melihat Key yang datang bersama Viera, ia mendekat dan mengambil alih tangan Key untuk membawanya ke tengah lapangan.
"Seorang gadis bernama Keyara Valensia sudah mengisi hati saya sejak lama, saya selalu berpikir dua kali untuk mengutarakan perasaan saya. Saya terlalu takut nanti saya hanya akan kehilangan dia sebagai sahabat, tetapi sekarang saya sudah tidak peduli."
Bagas memegang erat tangan Key yang kebingungan, di belakang Bagas terlihat seseorang yang memegang kertas dengan tulisan, 'Keyara will you be my love?'
Keyara menyembunyikan detak jantungnya yang berdetak cepat, Viera yang ia lihat sedang mengangguk-angguk memberi isyarat. Key menjerit dalam hati saking malunya diperhatikan oleh seluruh siswa, entah para guru kemana, yang jelas sekarang Key berharap ada yang dapat membantu Key.
Bagas tersenyum menatap Key, sambil terus memegang balon ia menghadap Key dengan tatapan serius.
"Ngapain sih kak?" ucap Key masih tak mengerti situasi.
Deden yang sudah berlari secepat mungkin itu kelelahan, ia menarik napas panjang dan mengaturnya agar kembali normal.
"Vin status bencana apa?" tanya Deden kepada Vino disebelahnya.
"Hampir meledak akan terjadi korban jiwa," jawab Vino terengah
__ADS_1
"Key will you- , uhukk ... uhuk .... "
Bagas tersedak tempe goreng yang tinggal separuh itu, karena disuapi paksa oleh Deden. Ucapannya terputus saat itu juga, entah kenapa sekarang Key merasa sangat ingin berterima kasih pada Deden.
Mic yang Bagas pegang, diambil alih oleh Deden, balon yang sedari tadi Bagas pegang terbang menjauh, dadah balon ... Gibran dan Vino mengikuti Deden ke tengah lapangan.
"Mereka maen dramanya bagus yaa, urang sampe terhura," ucap Deden memakai mic.
Para siswa semakin penuh disekeliling lapangan, penasaran akan yang sebenarnya terjadi.
Bugh!
Bagas memukul Deden telak di pipi, sudut bibirnya robek mengeluarkan darah. Gibran dan Vino hendak membalas perbuatan Bagas kepada sahabatnya tetapi dicegah oleh Deden yang menganggapnya tidak perlu.
"Apa-apaan, lo?" ucap Bagas emosi.
"Ayolah, Kak, gak usah terlalu serius. Selagi ada mic di sini mending kita karaoke-an daripada main drama, hidup udah penuh drama kak gak usah nambah episode lagi biar rating naek," timpal Deden mengusap sudut bibirnya.
Bagas terlihat sangat kesal, ia berniat hendak pergi dari tempat itu tapi dicegat oleh Deden.
"Maen cantik dong kak, biar Key yang milih antara urang atau maneh. Jangan paksa Key nerima maneh dengan membuatnya di bawah tekanan kayak gini," ucap Deden berbisik di telinga Bagas.
"Kalo Key jadi milik saya, kamu harus jauh-jauh dari kehidupan Key," timpal Bagas menanggapi ucapan Deden, kemudian berlalu pergi diikuti temannya.
"Bhayangkara digoyang .... " ucap Deden di mic, para siswa bersorak menanggapinya.
"Jug ... gijag ... gijug ... gijag ... gijug ... guprak guprak ... kereta berangkat."
Deden malah menyanyikan lagu 'kereta malam' untuk mencairkan suasana, itupun langsung ke reff nya, Gibran dan Vino megiringi Deden dengan mengeluarkan suara alat musik dari mulut mereka. Para siswa berhamburan ke tengah lapangan, dan berjoget bersama mengikuti irama.
"Kemana, Key?" tanya Deden sambil tersenyum melihat tangannya yang digenggam.
Key tidak menjawab, ia terus saja menarik Deden ke tempat yang dituju.
* * * * *
Sekarang Key dan Deden sedang berada di UKS, Key langsung mendudukan Deden dan mencari kotak P3K.
"Ngapain nih kesini? Sepi lagi. Hayo ... mau apa?" ucap Deden tersenyum jahil.
Ptakk!
Key memukul kepala Deden dengan kotak P3K yang ia temukan di lemari, tidak bisa ya Deden sehari saja waras.
"Bisa diem dulu gak, lo." Key sedikit berteriak memerintah, melihat Deden yang mengusap kepalanya.
"Siksa aja terus urang terus Key, asal maneh nantinya jadi suka ikhlas deh," ucap Deden menunjukan cengirannya.
"Lo luka, nanti infeksi kalo gak segera diobatin, bukan malah nyanyi."
Key mengambil kapas yang sudah dilumuri antiseptik, ia membersihkan luka Deden dengan perlahan.
Bibir Deden terlihat berwarna pink cerah, sejenak Key berasumsi jika Deden tidak seperti siswa nakal lainnya yang suka merokok, bentuk bibir Deden pun unik tidak salah banyak cewek yang langsung terpana jika mendapat senyumannya.
"Jangan bilang maneh mau cium urang Key? Gak papa kok nih." Deden mengerucutkan bibirnya, melihat Key yang terdiam sejenak membersihkan lukanya.
__ADS_1
"Aww ... Aww ...." Deden meringis karena Key yang menekan lukanya tidak hati-hati.
"Muka lo kayak bebek," ucap Key kesal, Deden tertawa mendengarnya.
"Key sebenernya maneh suka gak sama Kak Bagas?" ucap Deden tiba-tiba serius.
Key yang mendapat pertanyaan menghentikan gerakannya, ia pun sebenarnya tak tahu bagaimana perasaannya.
"Kalo sama urang, maneh suka gak, Key?" tanya Deden lagi.
Key masih diam tak menanggapi pertanyaan Deden, ia bingung hendak menjawab apa.
"Apa sih, gue mau ke kelas."
Key membalikan badan hendak pergi, namun tangannya di cekal oleh Deden. Ia pun kembali berbalik kebingungan seakan bertanya apa yang Deden mau.
"Kasih urang waktu tiga bulan lagi, Key. Kalo maneh suka sama urang, urang harap maneh bisa jujur sama perasaan sendiri, tapi kalo maneh bener-bener gak suka sama urang, urang bakal berhenti dan pergi menjauh." Deden menatap Key yang sekarang sedang mencerna perkataan Deden.
"Jujur Key urang juga capek punya perasaan tapi gak terbalas, urang gak mau maksa maneh Key. Maneh berhak sama yang lain saat itu urang bakal berusaha move on, dan gak bakal ganggu maneh lagi," lanjut Deden.
"Tapi tolong maneh kasih urang kesempatan tiga bulan aja buka hati maneh buat urang, gimana, Key?" tanya Deden mengakhiri bicaranya.
Setelah berpikir cukup lama, Key mengangguk ragu menyanggupi perkataan Deden.
"Hati-hati ke kelasnya ya ... princess."
Deden mengelus kepala Key lembut, ia tersenyum menatap Key, dengan segera Key pergi meninggalkan Deden menuju kelasnya.
* * * * *
"Kan, Arkan!" Panggil author melihat Arkan yang sedang memainkan gadgetnya.
"Apaan, thor? " tanya Arkan malas.
"Promo dong," ucap author memohon.
"Berani bayar Cameron Dallas berapa thor?"
"Pede banget, ujung kukunya aja kagak mirip," ucap author sebal.
"Yaudah kalo gak mau."
"Eh ... goceng deh goceng."
"Beli seblak juga kagak cukup, thor," ucap Arkan makin tak peduli.
Author lesu sambil duduk di pojokan menahan tangis.
"Author cengeng, lah, Gaes jangan lupa Like, vote, favorit dan komen yaa biar author lebih semangat bikin ceritanya." ucap Arkan tersenyum manis.
"Udah tuh, thor," jelas Arkan.
Author langsung nyengir merasa bangga dengan cast nya satu ini, saking gemasnya author hingga mencoba menceburkan Arkan ke sumur.
"Biar seger, wkwk ..." ucap author tertawa evil.
__ADS_1