Pangeran Gesrek

Pangeran Gesrek
Pernyataan


__ADS_3

"Hy maaf ganggu, akhu boleh bicara sebentar?"


Key yang berjalan hendak menuju kelasnya, dihadang oleh Zea yang tiba-tiba muncul dihadapannya.


Mereka sekarang tengah duduk di kursi di bawah salah satu pohon rindang disekolah.


"Namaku Zea, akhu temannya Deden dari Amerika," ucap Zea mengulurkan tangannya berkenalan.


Key mengangguk karena memang sudah kenal Zea dari Deden, ia menerima uluran tangan Zea.


"Key," ucap Key tersenyum tipis.


"Akhu suka sama Deden," tembak Zea langsung, Key yang mendengarnya tampak melongo tak percaya.


Tujuan Zea bilang kalo ia suka Deden pada Key itu apa? Minta ditikung atau gimana? Key menatap Zea kebingungan, sedangkan yang ditatap hanya tersenyum manis.


"Oh ... oke," ucap Key kikuk.


"Akhu tidak tahu bagaimana perasaanmu pada Deden, tapi akhu akan merebutnya darimu kalo sampai khamu menyia-nyiakan nya," ucap Zea masih tersenyum.


"Maksud lo apa?" tanya Key.


"Deden sayang banget sama khamu Key, hatinya penuh sama kamu, hingga gak ada lagi tempat untuk akhu." ucap Zea matanya tampak berkaca-kaca.


"Akhu pernah bikin Deden kecewa, jangan sampai kamu juga ngelakuin hal yang sama ke Deden," lanjut Zea setetes air matanya lolos, langsung saja Zea hapus tak ingin Key melihatnya.


"Ingat ya, kata-kata akhu."


Zea tersenyum meninggalkan key yang sekarang masih mencerna seluruh ucapannya, sebenarnya sedari tadi Zea melihat seluruh kejadian antara Key dan Deden hatinya terasa sakit. Namun, memiliki tak semerta-merta dapat menjadi jaminan membuat seseorang bahagia.


Sebenarnya apa yang telah terjadi dengan Zea juga Deden,  Key seperti melihat luka disetiap perkataan Zea.


Key melanjutkan perjalanannya menuju kelas, pikirannya dipenuhi pertanyaan yang tak terjawab.


*   *   *   *   *


Dari jauh Key melihat Deden yang sedang bersandar pada dinding di depan perpustakaan, Key yang tadinya hendak mengambil buku sumber untuk tugasnya berbalik arah kembali menuju kelasnya.


"Kok maneh menghindar?" tanya Deden dengan alis bertaut bingung.


Key tidak menjawab pertanyaan Deden, ia terus saja menatap ke depan tak memperdulikan orang disebelahnya.


Brugh!


Key meringis kesakitan, ia terjatuh setelah Deden mencekal kakinya. Apa Deden tidak tahu, ada sebuah filosofi yang berbunyi, 'jika terjatuh di depan banyak orang itu sakitnya tak seberapa, tapi malu nya yang bikin kepingin langsung ganti nama' mau taruh dimana nih muka Key.


Ia langsung berdiri menghadap Deden, sudah bersiap hendak memaki cowok satu itu, lututnya sekarang terasa perih.


Para siswi langsung memperhatikan mereka, Deden yang mengetahui tatapan Key langsung menatap tajam siswa yang melihat mereka. Para siswa yang tadinya asyik bergosip langsung menciut pergi.


"A- " Baru saja Key mengucapkan satu huruf, Deden memotong ucapannya.


"Pertama, karena maneh udah setuju ngasih kesempatan sama urang, urang mau kenalan ulang sama maneh, mulai semua dari awal lagi," ucap Deden menjelaskan.

__ADS_1


"Lo ngajak kenalan apa tawuran, ogeb! " bentak Key kesal merapikan seragamnya.


"Hy! nama urang Deden, tapi lebih suka dipanggil sayang," ucap Deden tersenyum manis.


Deden mengulurkan tangannya, Key hanya menyilangkan tangannya di dada. Deden yang gregetan dengan sikap Key itu, menarik tangan kanan Key untuk bersalaman dengannya.


"Dan nama maneh?" tanya Deden pura-pura tak tahu.


Key memutar bola matanya malas, apa harus Key mengikuti kemauan Deden yang sepertinya telah kehilangan seluruh otaknya. Key menghembuskan napas pasrah, karena ia sendiri yang sudah bilang setuju untuk memberi kesempatan pada Deden. Sebenarnya apa yang waktu itu ia pikirkan? Kalo tahu akhirnya akan seperti ini Key mending ikut jualan bakso sama Pak kasim. Eh ....


"Key," jawab Key singkat.


Deden tersenyum mendengarnya, sedangkan Key dengan segera melepaskan tangannya.


Deden memegang sebuah ponsel berwarna putih yang tak asing bagi Key, ia mengotak-atik layar itu santai.


"Lo nyuri HP gue?" Key mencoba merebut ponselnya, tetapi Deden mengangkatnya tinggi-tinggi.


"Maneh tahu gak Key apa bedanya urang sama pencuri?" tanya Deden mencoba menggombali Key sambil terus menghindari Key yang berusaha menggapai ponselnya.


"Kalo pencuri napasnya pakai hidung, tapi kalo urang napasnya pake oksigen," lanjut Deden asal. Memang itu gombalan ya?


Key tidak memperdulikan celotehan-celotehan Deden, yang pasti sekarang Key tidak tahu apa yang sedang Deden lakukan pada ponselnya.


"Key tahu gak kenapa urang suka sama maneh?" ucap Deden masih berusaha melancarkan gombalannya.


"Soalnya karena planet saturnus punyanya cincin bukan gelang kaki, kan emang planet gak punya kaki," ucap Deden menjawab pertanyaannya sendiri.


Key bersumpah, gombalan Deden sama sekali tak menarik minatnya. Sepertinya Deden harus belajar dengan Dodi tetangga Key, seorang anak SD yang gombalannya menjadikan ia punya pacar sampai lima, bayangkan saja ... bahkan hingga manggil ayah-bunda segala, apa nanti kalau mereka putus status mereka berubah jadi janda-duda?


"Kedua, setelah kenalan, Urang harus minta nomor ponsel maneh," ucap Deden kembali menjelaskan.


"Lo kan udah punya nomor ponsel gue, bekas malak watu itu," ucap Key kesal.


"Tadi urang udah hapusin semua kontak maneh, kecuali nomor keluarga di ponsel maneh, nomor urang juga udah di hapus. Urang juga udah hapus semua nomor yang ada di ponsel urang termasuk nomor maneh." Deden kembali menjelaskan sambil mengeluarkan ponselnya yang berwarna hitam.


Mata Key membelalak, benar saja. Di ponselnya hanya ada nomor ayah, bunda, dan Arkan, bahakan nomor Viera dan Kak Bagas pun tak ada.


'Bunuh orang dosa gak si? Siapapun tolong bantu Key mutilasi Deden sekarang juga,' ucap batin Key ingin berteriak.


"Key karena kita udah kenal, boleh urang minta nomor maneh?" pinta Deden kembali berpura-pura.


Key langsung saja merampas ponsel hitam milik Deden, ia menyimpan nomornya diponsel Deden dengan nama 'Majikan', Deden tersenyum melihatnya.


Deden menelpon nomor Key yang langsung terhubung ke ponsel pemiliknya, suara nada dering instrumen piano yang memainkan lagu 'fur elise' terdengar.


Dengan gerakan tangan cepat Key menyimpan nomor makhluk species langka di depannya dengan nama 'Guguk Cungkring'.


"Udah puas, lo?" ucap Key menampilakan layar ponselnya, sebal sekali ia rasanya.


Deden tertawa melihat nama yang Key simpan untuk nomornya, ia mengangguk menahan tawanya yang tak bisa berhenti.


"Ketiga, setelah punya nomor ponsel. Maneh harus pulang bareng urang, gak ada tolakan soalnya emang bukan olahraga tolak peluru," ucap Deden tanpa menunggu jawaban dan berlalu pergi.

__ADS_1


*   *   *   *   *


Dengan wajah yang kusut dan ditekuk, Key memasuki kelasnya. Viera yang melihat temannya seperti itu langsung menatap penasaran.


"Kenapa, Key?" tanya Viera langsung


"Gue minta nomor ponsel lo, Ra," ucap Key menahan sebal.


"Bukannya lo udah punya nomor gue?"


"Gak tahu tuh spesies langka ngehapusin semua kontak di ponsel gue."


Key masih sebal, pasalnya ia tidak pernah sekalipun mencoba mengingat nomor-nomor di ponselnya, kalau ada yang penting gimana? Masih beryukur Deden menyisakan nomor ponsel keluarganya, Key memang paling malas dalam urusan mengingat nomor ponsel orang.


Key juga sudah mengiyakan permintaan Deden, apa ia urungkan saja? Ayolah, Key adalah orang yang selalu menepati janjinya.


Viera paham siapa yang Key panggil spesies langka, ia pun memasukan nomornya pada ponsel Key.


Sebuah instrumen piano yang memainkan lagu 'fur elise' kembali mengalun dari ponsel Key. Terdapat sebuah panggilan dari nomor tak dikenal, iyalah ... Key hanya memiliki lima kontak saja, itupun ditambah satu dari Viera tadi.


"Angkat Key," ucap Viera menyadarkan Key.


"Siapa nih? Kalo orang yang hipnotis gimana?" tanya Key ragu.


"Angkat dulu, lah, jangan maen suuzan aja," jawab Viera.


"Halo, Assalamu'alaikum," ucap suara disebrang telepon, Key tahu itu suara bagas.


"Wa'alaikum salam," jawab Key.


"Tuh, kan, mana ada orang mau hipnotis ucap salam dulu," jelas Viera membenarkan ucapannya.


"Key nanti malam setelah pulang sekolah, boleh pergi sebentar sama saya?" tanya Bagas.


"Oh oke, Kak."


"Yaudah nanti saya jemput, sekalian pamit sama ayah bunda."


"Iya, Kak," jawab Key.


Key menutup panggilan terlebih dahulu, setelah dirasa tidak ada lagi yang mau dibicarakan. Ia menyimpan kontak Bagas sesuai nama aslinya, sepertinya mulai dari sekarang Key harus mulai kembali mengumpulkan nomor ponsel teman-temannya, memikirkannya saja seperti orang yang tidak ada kerjaan.


* * * * *


Urang \= Saya


Maneh \= Kamu


"Hai gaes jangan lupa vote, komen, like, dan like favorit ya, ditunggu krisannya juga," ucap author kebingungan mencari sesuatu.


Author melihat ke bawah meja, dalam sepatu, rak piring, kantong kresek dan sedotan jus.


"Pada kemana nih para cast," ucap Author kebingungan masih celingukan.

__ADS_1


"Ssstt ... jangan berisik," ucap Deden berbisik pada cast lain yang berhimpit-himpitan di dalam gudang.


__ADS_2