
Mentari mulai menunjukan eksistensinya. Menyadarkan seseorang yang telah tidur cukup selama delapan jam, atau lebih tepatnya pingsan dan tidur secara bersamaan, atau mungkin mati suri? Bimo cukup kesulitan membangunkan siswa yang tertidur seperti orang mati itu.
"Bangun! Emangnya lo gak sekolah?" Bimo menepuk pelan pundak Deden yang sudah terduduk.
Siswa yang baru bangun itu mengerjap-ngerjapkan mata, seperti sedang mengumpulkan kesadarannya yang masih berceceran.
"Kepala urang kerasa berat, Bang." Deden memijat pangkal hidungnya.
"Iya! Semalem otak lo gue masukin palu!" ucap Bimo mendecih kesal.
Deden terkejut, ia meraba-raba kepala bagian atasnya. "Iya, gitu, Bang?" tanyanya khawatir.
"Gue masukin palu, obeng, kunci inggris, sama baut banyak-banyak," jawab Bimo kesal. "Biar otak lo, bisa service tuh dirinya sendiri!" Bentak Bimo sambil menyisir rambutnya di depan kaca. Ia baru saja selesai mandi.
"Emang otak urang bengkel ketok magic apa? Apa iya itu masuk semua?" Deden berdiri, ia hampir terjatuh. Untung saja Bimo segera membantu Deden agar tak jatuh dengan memegang kencang lehernya atau lebih tepat terlihat seperti tengah mencekik lehernya.
"Mandi sana, lo! Sekolah! Gue tunggu di bawah. Gue punya seragam bekas SMA, noh, di lemari," ucap Bimo menunjuk lemari dengan dagunya.
"Khhk, b- bang. Mati nih urang, nyawa tinggal lima persen. " Deden menepuk lengan yang mencekiknya hingga Bimo melepaskannya.
"Mandi sana! Badan lo bau bangke, dari kemaren gak mandi," ucap Bimo melangkah pergi menuruni tangga menuju ke lantai bawah.
Deden mendecih memegangi lehernya yang memerah. "Apa gitu rasanya, kalo misalkan punya kakak tiri jahanam? Bisa-bisa kehidupan urang sengsara."
Deden mengambil beberapa potong pakaian dari lemari Bimo, ia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Sekitar 15 menit kemudian Deden turun dari lantai atas, ia sudah rapi lengkap dengan ketampanannya yang tidak akan luntur hanya karena mandi menggunakan air dan sabun. Deden memakai jeans hitam selutut yang dipadukan dengan kaos hitam pula, ia duduk di depan meja barista.
"Urang butuh banyak uang," ucap Deden dalam hati. Ia mengotak-atik benda pipih di tangannya, mencoba menghubungi seseorang.
"Lo gak sekolah?" tanya Bimo terlihat sibuk mengerjakan sesuatu.
"Males, Bang," jawab Deden tak acuh.
Tiba-tiba Bimo memegang rahang bawah Deden. Pemilik kafe itu meminumkan paksa kepada Deden segelas susu yang di pegangnya hingga tersisa separuh.
Deden terbatuk, memukul-mukul dadanya. "Gila maneh, Bang! Kalo urang mati gimana?" cerca Deden dengan mata melotot. "Panas lagi susunya. Bisa-bisa lidah urang melepuh."
"Minum susu yang banyak! Terus makan, biar capek lo ilang!" titah Bimo serius.
Deden tersentak kaget, ia mengingat kejadian semalam. Baru semalam Deden mengeluh lelah pada seseorang, ia jadi kebingungan sendiri bagaimana cara menjelaskan kepada Bimo mengenai kondisinya.
"Maneh tahu apa aja, Bang?" tanya Deden ragu.
"Lo tahu, gak? Gue semalem panik, karena ngeliat, lo, kayak om-om yang habis kejedot tiang listrik. Penampilan serampangan, baju acak-acakan. Kalo gue mati karena serangan panik gimana? Gak etis banget tuh matinya," bentak Bimo menahan emosi.
"Maaf, Bang. Urang ada sedikit masalah," ucap Deden menunduk lesu.
"Sedikit? Gue gak semudah itu dibodohi, Ferguso!" Bimo menatap Deden tajam. "Apa masalah, lo? Gak mungkin cuma karena masalah kecil, lo sampe minum obat penenang. Lo lebih kayak orang deperesi, Den."
"Urang gak apa-apa, Bang." Deden memaksakan senyum di wajahnya.
__ADS_1
"Nih anak belom pernah dicekokin paku selusin, ya?"
"Belom, Bang. Urang kan bukan limbad."
Bimo menjitak kepala Deden hingga berbunyi gemeretak, semoga Deden tidak geger otak.
"Lo jangan sengak! Ngerasa semua hal bisa lo atasi sendiri. Kita makhluk sosial, Den, pasti butuh bantuan. Lo udah gue anggep adek sendiri. Lo susah, gue gak akan jauhin. Gue akan bantu sebisa gue," ucap Bimo berapi-api, napasnya naik turun menahan emosi.
"Urang bener-bener gak apa-apa, Bang. Masih cukup kuat." Deden tersenyum mengangkat kedua tangannya, berniat menampilkan otot lengan, maksudnya. "Sekarang urang belom butuh bantuan. Nanti kalo urang butuh, Bang Bimo cepet datang, ya," pinta Deden tulus, wajahnya ia atur agar selalu tersenyum.
"Ish, kesel gue sama, lo. Gue bunuh juga, nih cunguk." Bimo hendak kembali memukul kepala Deden, tetapi ia urungkan. "Lo tahu, gak? Semalem gue mau kencan. Gara-gara lo dateng, jadi di-cancel."
"Abang urang punya pacar ternyata. Emang ada, Bang?" tanya Deden tak jelas.
"Ada apaan?" Bimo balik bertanya kebingungan.
"Ada yang mau sama, Bang Bimo?" Deden tertawa, menghindari setiap serangan yang Bimo berikan. "Eitt, gak kena."
* * * * *
"Mau lo apa, sih?" tanya Vino geram, ia menahan dirinya agar tak bersuara tinggi.
"Dasar gak peka!" timpal seorang siswi di hadapannya.
"Gimana gue mau peka. Kalo lo gak ngasih tahu, Ra!" ucap Vino, suaranya naik satu oktaf.
Vino dan Viera tengah berada di parkiran motor depan sekolah, mereka seperti sedang membicarakan sesuatu. Seorang siswi lainnya menghampiri mereka dengan wajah yang kebingungan.
"Belom dateng, mungkin. Ini masih terlalu pagi buat Deden," jawab Vino menenangkan.
"Iya, mungkin, Key," timpal Viera menyetujui.
"Yaudah, gue cari ke tempat lain, ya. Bye, kalian," ucap Key berpamitan meninggalkan parkiran.
"Lanjut, gak, nih. Marahannya?" tanya Vino pada Viera yang masih menatap kepergian Key.
"Lanjut, lah. Ayo!" jawab Viera bersemangat.
"Jadi, apa sebenarnya yang lo mau?" Vino bertanya untuk kesekian kalinya.
"Makanya lo peka kalo jadi cowok!"
"Makanya lo bilang!"
Sebuah mobil sedan hitam mewah berhenti beberapa puluh meter dari tempat Viera dan Vino berdiri. Seorang siswi betambut pirang sebahu mendekati mobil tersebut.
"Mau nyari tahu, gak? Kayaknya itu Zea," ajak Viera menunjuk ke arah siswi di samping mobil yang baru datang.
"Yuk! Gue juga penasaran," ucap Vino menarik tangan Viera agar mendekat ke arah mobil.
Seorang pria dengan setelan jas hitam keluar dari mobil, wajahnya tampak berwibawa. Zea menghampirinya dan memberi salam dengan sopan.
__ADS_1
"Selamat Pagi, Om," sapa Zea mengangguk sopan.
"Kafa, sekolah?" tanya Dirga sedikit merapikan dasinya.
"Sepertinya tidak, Om. Udah hampir bel masuk kelas, dan akhu belum melihatnya," jawab Zea.
"Apa informasi yang udah kamu dapat?"
"Akhu sudah pergi ke rumah sakit yang sering Deden kunjungi. Akhu pun sedikit terkejut, Om, karena akhu lihat ada Mama Rena di rumah sakit."
"Berarti informanku, benar," ucap Dirga tampak berpikir. "Oh, iya, Ze. Kenalkan ini Dokter Haidar. Dia dokter yang om perintahkan menangani Kafa."
Seorang pria yang baru keluar dari mobil mengenakan celana bahan hitam dan kemeja merah maroon mengajak Zea bersalaman sambil tersenyum manis.
"Akhu juga lihat Dokter Haidar di rumah sakit. Bukannya dokter kerja di sana? Jadi, dokter juga orang suruhan Om Dirga? Khenapa gak ngasih tahu soal Mama Rena?" tanya Zea bertubi-tubi.
"Kita lanjut di tempat lain. Kamu bisa minta izin tidak masuk sekolah dahulu, Ze?" tanya Dirga memberi perintah.
"Bisa, Om. Akhu sudah izin, tadi, karena om bilang ini penting," jawab Zea.
Mereka memasuki mobil hitam tersebut dan pergi meninggalkan lingkungan sekolah. Viera dan Vino yang mendengar sayup-sayup pembicaraan mereka tampak kebingungan.
"Gimana? Mau lanjut lagi berantemnya?" tanya Vino menghadap Viera setelah beberapa saat mobil pergi.
Viera tampak berpikir sejenak. "Yaudah, lanjut, tapi sebentar aja, gue mau ngasih tahu hal tadi sama Key. Takutnya lupa kalo kelamaan berantem."
"Gue juga mau ngasih tahu hal tadi sama Deden dan yang lain," timpal Vino tak mau kalah. "Jadi, sebenernya apa yang lo mau?" Vino bertanya entah untuk ke berapa kalinya.
"Dasar gak peka!"
"Dasar betina!"
"Lo kira gue ayam?!" bentak Viera kesal.
"Bukan! Lo cecak gurun!"
"Lo kali komodo benua!"
"Gak tahu, deh. Gue capek!"
"Bodo amat!"
* * * * *
Holla Gaes! Happy Reading. Tolong krisannya, ya. Author banyak salah jadi marahin aja.
Urang \= Saya
Maneh \= Kamu
Jangan lupa like, komen, vote, rate bintang lima dan klik favorit. See you next part.
__ADS_1