Pangeran Gesrek

Pangeran Gesrek
Key Vs Zea


__ADS_3

"Duo cunguk, apa yang kalian ketahui tentang Deden?" tanya Key memegang sapu yang ujungnya ditepuk-tepuk pada telapak tangan. Wajahnya serius menatap dua orang dihadapannya.


Mereka sekarang tengah berada di kelas Key. Gibran dan Vino duduk di bangku terdepan kelas, tangan mereka diikat ke belakang oleh Viera menggunakan tali rapia yang didapatkan dari Pak Kasim.


Sekolah sudah sepi, hanya tinggal beberapa siswa yang masih mengikuti ekstrakulikuler. Jadi mereka bebas berbuat sesuka mereka.


"Dimana Deden berada?" tanya Viera memegang buku dan pulpen ditangannya.


Sekarang Key dan Viera bak seperti detektif yang sedang mengintrogasi pelaku. Mereka mondar-mandir dihadapan duo cunguk.


"Jawab!" ucap Key berteriak sambil memukul meja dengan sapu. Gibran dan Vino tersentak kaget, bahkan Viera juga malah ikut terperanjat.


"Kita gak tahu apa-apa," ucap Vino tulus.


"Jangan belagak gak tahu!" bentak Key lagi.


"Kok lo ganas sih, Key?" tanya Gibran memelas.


"Lo beneran Key kan? Bukan makhluk jadi-jadian dari dimensi lain yang berniat menghancurkan bumi dengan membentuk aliansi bawah tanah untuk bersiap menyerang pada waktu yang tepat?" tanya Vino panjang lebar memastikan.


"Banyak halu kalian! Cepetan jawab susah banget sih!" Teriak Key membentak, mukanya tampak sangat serius.


"K ... key?" tanya Viera pelan.


"Apa?!"


"Kok lo serem?" Viera menatap Key ikut ketakutan. Aneh sekali harusnya Viera juga ikut mengintimidasi duo cunguk mengapa malah dia sekarang yang merasa terintimidasi?


Key menghela napas pelan. "Gue cuman mau mastiin dia baik-baik aja. Tolong kasih tahu gue," ucap Key menunduk sendu. Sapu yang Key pegang terlepas dari tangannya.


"Gak gini caranya, Key. Kita berasa mau dihukum mati," ucap Gibran tersenyum kikuk.


"Hahaha ... habisnya kalian setiap gue mau samperin pasti kabur. Jadi aja gue pake cara begini," ucap Key menjelaskan. Viera hanya mengangguk membenarkan.  "Padahal gue berharapnya kalian berasa akan dimutilasi, bukannya malah dihukum mati." Duo cunguk menelan ludahnya kasar. Perkataan Key sangat menyeramkan, seperti psikopat. Ditambah dengan Viera yang disebelahnya menunjukan seringai jahat.


"Kecelakaan itu bukan dia kan? Deden gak tabrakan kan? Dia lewat aja, semua kendaraan langsung sungkem. Bener kan? Dia kan sultan cunguk." Key bertanya cepat, berharap mendapatkan kabar baik. Sedangkan Vino, Viera , dan Gibran menatap Key bingung. Memang apa hubungannya sultan cunguk sama sungkemnya kendaraan? Lagipula sejak kapan Deden jadi sultan cunguk? Jadi duta sampo lain sih, iya. Eh ...


"Hahaha ... Khamu lucu juga ya. Pernah denger kalimat kaya gini gak, 'Seseorang akan cenderung mengikuti tingkah laku orang yang disukainya. Entah dari ucapan atau perbuatan.' khamu tadi nunjukin kalo kamu suka Deden, karena kamu mulai melucu walaupun garing." Key menatap Zea yang barusan berbicara. Zea berdiri di ambang pintu sembari menyilangkan tangan didadanya.


"Zea?" tanya Key heran.


"Bukan. Akhu ponakan Mimi peri." Zea tersenyum sambil berpose imut.


Duo cunguk dan Viera terbahak mendengarnya, kecuali Key yang menatapnya serius.


"Tadi akhu sudah bilang, 'Seseorang akan cenderung mengikuti tingkah laku orang yang disukainya. Entah dari ucapan atau perbuatan.' Akhu sedang mengikuti tingkah laku Deden." Zea mengangkat pundaknya santai. "Khamu juga sudah tahu kalau aku suka Deden." Zea menatap Key serius, sedangkan Viera menatap tak percaya.

__ADS_1


"Terus?" tanya Key bingung, sedangkan yang lainnya menatap dua orang yang berdebat itu seru. Bahkan mereka menyoraki dan menyemangati Zea atau Key sebagai Jagoan mereka.


"Akhu juga sudah bilang juga, kalo sampai khamu sia-sia in Deden. Akhu akan rebut perhatian dia dari kamu. So it's time to begin," ucap Zea sambil menyeringai memakutkan.


"Maksud lo apa?"


"Lo jangan sedih, kalo nanti Deden akhirnya jadi milik Gue," ucap Zea menepuk pipi Key pelan dan pergi meninggalkan mereka.


"Gue gak jadi dukung Zea, mukanya serem tadi kayak kunti lampir," ucap Vino yang tadinya mendukung Zea.


"Nenek lampir kali," timpal Viera kesal.


"Kunti lampir lebih serem dari kuntilanak dan lebih sakti dari nenek lampir." Setelah mendengar ucapan Vino, mereka pun sepakat untuk tak memperdulikan perkataan Vino lagi, bahkan kalo bisa Vino dihapus dari muka bumi. Ngabis-ngabisin oksigen aja.


"Oh iya Key, Deden baik-baik aja. Gue gak tahu maksud lo tentang kecelakaan tapi dia baik-baik aja," ucap Gibran menjelaskan.


"Dimana dia?" tanya Key yang baru tersadar dari lamunannya.


"Rahasia negara, Key. Gak bisa dipublikasikan."


Setelah mendengar Deden baik-baik saja Key merasa lebih tenang, tapi dia harus memastikan sendiri keadaannya.


"Ini lepasin dong, Bambank!" Vino dan Gibran berucap serentak.


Key dan Viera tidak memperdulikan mereka dan malah pergi meninggalkan kelas beranjak pulang.


Viera dan Key tidak memperdulikan mereka dan sudah menghilang dari pandangan. Untung saja ikatannya tidak begitu kuat hingga mereka bisa terlepas dan pulang ke habitat masing-masing.


*    *    *    *     *


Suara knalpot bersahut-sahutan meramaikan malam yang sunyi, pengendara motor ninja merah itu terus menarik gasnya agar tidak terkejar oleh motor dibelakangnya. Ia semakin mempercepat lajunya ketika seseorang berniat menyalipnya dari samping kanan. Didepannya masih terdapat satu motor yang tidak terlalu jauh jaraknya. Jalanan yang lurus hingga belokan tajam ia lewati dengan mulus, semulus paha ayam yang baru dicabuti bulunya.


Seseorang melambaikan sapu tangan putih ketika para pengendara melewati sekumpulan orang yang bersorak-sorai, menandakan jika selanjutnya adalah lap terakhir. Pengendara motor ninja merah itu memasukan giginya (Gigi motor maksudnya) dan mengatur koplingnya. Tangannya tak henti-hentinya menarik gas yang tak berkurang kecepatannya.


Ban motor berdecit bergesekan dengan aspal kasar dijalanan yang sudah terbiasa dijadikan tempat balapan. Garis Finish sudah dekat, motor didepannya masih menghalanginya untuk keluar sebagai juara. Speedometer terus merangkak naik seiring gas yang selalu diputar, kecepatannya bertambah, malam ini ia tidak boleh kalah.


Belokan di depan menjadi peluang untuk menyalip masuk, dipancingnya motor didepan agar sedikit bergeser dari ujung belokan, akan lebih mudah menyalip dari dalam. Pengendara ninja merah itu fokus memperhatikan jalan, saatnya menjadi pemenang. Ia memancing agar pengendara didepan sedikit bergeser ke sebelah kanan, kemudian ia segera membalikan stirnya membelok ke arah kiri.


Berhasil! Caranya mengecoh lawan berhasil. Hanya tinggal beberapa meter lagi garis akhir terlewati, dari lejauhan terlihat seorang wanita yang tengah mengibar-ngibarkan bendera kotak-kotak tanda kemenangan.


Pengendara motor ninjanmerah itu pun langsung menarik gasnya lebih kuat, meninggalkan para pesaingnya di belakang.


Tepuk riuh menggema kala ia berhasil menjadi yang pertama melewati garis finish disusul pengendara lainnya. Para penonton yang tadinya bersorak-sorai langsung berkerumun merayakan kemenangannya.


"Masih jago juga lo ternyata, Kafa!" ucap Pria berwajah asia dengan lesung pipit. Pria itu yang tadi berhasil dikalahkan dan harus puas menjadi juara ke-dua.

__ADS_1


Orang-orang yang tadinya berkerumun membukakan jalan untuk mereka berbincang. Mereka menatap takjub pada dua orang yang sekarang tengah berhadapan.


Arjuna Gefhandrata, sahabat Deden dari SMP. Mereka bersahabat sejak Deden berada di Amerika.


"Pasti. Siapa sih yang bisa ngalahin gue?" ucap Deden menyombongkan dirinya.


"Katanya lo punya nama panggilan baru? Siapa itu? Deden? Hahaha ... " Juna terbahak mendengar berita akhir-akhir ini mengenai Deden yang memang benar adanya. "Kok jadi kampungan sih lo, bro."


"Gue tetep Kafa yang lo kenal, yang selalu bisa ngalahin lo."


"Ayolah, gue tadi cuman ngalah. Ngasih kesempatan buat lo sebagai ucapan selamat datang karena lo balik lagi ke 'Phoenix' "


"Walaupun lo keluarin semua kemampuan lo, gak akan bisa ngalahin gue jun."


"Woah ... sadis!"


"Jadi gimana, kapten? Are you back or not? Phoenix gak seru gak ada lo," ucap Juna mengajak bersalaman.


"Gue balik, dan gak bakal berhenti lagi," jawab Deden menjabat balik tangan Juna.


"Hidup Phoenix!" Juna bersorak keras menatap orang-orang dibelakangnya.


"Hidup!"


"Jangan lo kira gue lupa, Jun. Tadi gue menang, mana hadiahnya?" tanya Deden meminta haknya.


"Haha ... lo gak pernah lupa kalo soal beginian." ucap Juna menyodorkan amplop coklat tebal pada Deden.


* * * * *


Kok Deden gak bilang,


Urang \= Saya


Maneh \= Kamu


~ ~ ~


Kim taehyung As Deden



Seo Kang Joon As Arjuna Ghefandrata


__ADS_1


See you next part, jangan lupa, like, komen, klik favourite, vote dan rate bintang lima yaa bye bye.


__ADS_2