Pangeran Gesrek

Pangeran Gesrek
Kafa (2)


__ADS_3

Brak!


Pintu dibuka dengan kasar, Haidar yang sedang mengatur dokumen di atas meja terkejut melihat seseorang datang dengan wajah yang tidak bersahabat.


Haidar tersenyum menatapnya. "Halo, De-"


"Gue mau konsultasi," ucap Deden datar.


"Ah, Kafa! Silakan duduk," ujar Haidar mempersilakan.


Deden duduk di hadapan Haidar yang juga sudah siap dengan memegang sebuah dokumen di tangannya.


"Ada apa?" tanya Haidar tenang, dengan senyuman terlukis di wajahnya.


"Gimana kalo misalnya, orang yang lo percaya berkhianat?" tanya Deden mengambil sebuah pulpen di atas meja, diketuk-ketuk secara berkala.


"Nah, bagaimana menurutmu?" Haidar balik bertanya.


"Orang kayak gitu! Gue sebut pengecut!" ucap Deden tersenyum miring.


Haidar mengangguk, ia melihat Deden yang mulai menggores-goreskan ujung pulpen di atas meja. Meninggalkan bekas di sana. Tak apa jika Deden merusak meja, tapi masalahnya itu fasilitas rumah sakit. Kenapa kebiasaan di kelas dibawa-bawa? Bagaimana jika nanti ada yang bertanya? Berapa harga sebuah meja?


"Dibayar berapa lo sama baginda papa?"


Haidar mengernyit bingung mendengar pertanyaan Deden. "Maksudnya?"


"Sejak kapan lo jadi orang suruhan baginda papa?" Tanpa basa-basi lagi, Deden mengucapkan apa yang ia ingin ketahui. Kedua alisnya terlihat menukik tajam, seringai terlihat di wajahnya.


"Dua tahun yang lalu," jawab Haidar.


Deden tertawa miris. "Haha ... gue tahu kalo Zea, makanya gue gak pernah bilang apapun ke dia. Tapi, lo?!" tunjuk Deden geram menggunakan pulpen.


Haidar masih memperhatikan Deden dengan seksama, goresan yang dihasilkan Deden pada meja semakin dalam.


"Dengan bod*hnya gue cerita apapun yang gue rasain!" Deden memijit pangkal hidungnya, kepalanya mendadak sakit.


"Om Dirga, minta saya pantau kesehatanmu. Dia bermaksud baik."


Deden memegang sebelah telinganya yang seakan terasa panas. "Baik? Lo tahu apa?!"


Gebrakan di meja membuat Haidar terkejut, tetapi ia segera mengontrol ekspresi wajahnya.


"Lo kira kehidupan gue apa? Cerita novel?!" teriak Deden emosi. Amarahnya sudah tak dapat dikendalikan.


"Tugas saya membantu seorang pasien."


Deden berdiri, menendang meja dihadapannya dengan keras. Ia tersenyum meremehkan. "Berantem, yuk?!" ucapnya.


"Saya rasa ini bukan konsultasi. Kita bisa membicarakan hal ini setelah emosimu mereda."


"Halah! Ban*i!" cerca Deden kesal menarik kerah baju Haidar. Rahangnya mengeras, kepalan tinju sudah siap ia lancarkan.


"Saya rasa kamu tahu ini sebuah rumah sakit. Saya rasa kamu juga tahu jika papamu sudah tahu mengenai Nyonya Rena."


Cengkraman Deden mengendur, tangannya yang sudah terkepal tinggi ia turunkan. "Ah, apalagi ini?!" tanya Deden mengacak rambutnya frustasi.


"Saya masih ada urusan, mari kita lanjutkan konsultasi di lain waktu," ucap Haidar tenang sambil tersenyum.


"Gue gak akan pernah ... ngucapin sa-tu kata pun lagi sama lo," ucap Deden penuh penekanan di setiap katanya. "Gue harap baginda papa udah cukup seneng, bikin gue hancur."


Bunyi bedebam keras terdengar saat Deden keluar menutup pintu dengan kasar. Haidar terduduk di kursinya, ia juga pusing menghadapi pasiennya yang satu itu, juga masalah keluarganya tentunya.


*     *      *     *     *


Flashback ON


"Hai, lagi apa?" tanya Haidar ikut duduk di kursi taman kota, bersebelahan dengan siswa yang baru saja masuk SMA.

__ADS_1


Siswa yang masih berseragam lengkap itu terlihat sedang memikirkan sesuatu dengan kater di tangannya. Penampilannya terlihat acak-acakan.


"Mau bunuh diri," jawab siswa itu datar.


"Cuma pake kater? Yakin, gak takut?" tanya Haidar lagi.


"Apa urusan, lo?" Siswa tersebut menatap Haidar tajam, tapi tangannya terlihat gemetar.


"Melihat kamu memilih tempat yang ramai seperti ini, sepertinya kamu tidak bersungguh-sungguh. Kamu ingin ditolong, bukan?"


"Lo punya masalah apa sama gue? Berantem hayuk!" ucap Siswi tersebut mengacungkan kater ke arah Haidar.


"Kamu sepertinya takut," ucap Haidar santai menyenderkan dirinya pada kursi taman. "Saya Haidar," lanjutnya memperkenalkan diri.


"Gue gak peduli nama lo!"


Haidar melihat Badge name pada seragam siswa tersebut. "Rakafa Dean Farizi. Wah, panjang juga, tulisannya sampe hampir ke ketiak. Saya harus manggil apa?"


"Apa-apaan lo? Seenaknya liat nama orang! Gak punya nama sendiri?" ketus siswa tersebut.


Ya, siswa tersebut Deden. Bukan-bukan, dia Kafa. Seorang siswa yang baru saja datang dari Amerika. Seorang siswa yang bolos di hari pertamanya bersekolah.


"Maaf mengganggu, silakan lanjutkan bunuh dirinya," ucap Haidar sopan.


"Berisik, lo!" Kafa sudah siap mendekatkan mata kater ke pergelangan tangan kanannya.


Haidar memposisikan dirinya menghadap Kafa. "Saya kasih saran. Kalo bunuh diri pake kater, kamu bakal kesiksa. Apalagi kater kecil kaya gitu."


"Gue gak peduli! Apa urusan, lo?"


"Kalo di tangan, kamu harus bisa mutus pembuluh nadi, begitu juga di leher, dalam sekali percobaan. Kalo kamu ngelakuinnya ragu-ragu apalagi tanggung, kamu hanya akan mati perlahan dan saya kasih tahu, itu rasanya menyakitkan."


Kafa terkejut, ia mulai menjauhkan kater tersebut dari tangannya. Namun, ia kembali mendekatkan katernya karena prinsipnya 'Tak boleh percaya pada orang asing'.


Haidar tertawa lepas. "Pegang kater aja gemetar, gimana bunuh diri? Kalo mau, ya. Kamu cari gedung paling tinggi di negara ini, terus kamu loncat, deh. Selain bisa ngerasain terbang, kamu juga akan mati dalam sekejap. Asalkan kamu punya keberanian untuk loncat," ucap Haidar, wajahnya berubah serius.


"Oh, Kafa! Senang berkenalan denganmu."


"Tapi, gue gak seneng ketemu sama, lo," timpal Kafa datar.


"Kalo begitu mau bersenang-senang?"


Kafa menaikan sebelah alisnya kebingungan. "Maksud, lo?"


"Kamu tahu, ketika membicarakan masalah sendiri pada orang terdekat atau yang dipercaya, kemungkinan perasaan merasa lega menjadi lebih besar."


"Terus?"


"Saya ditinggal mantan nikah," ucap Haidar begitu saja.


Kafa tertawa terbahak-bahak. "Aduh-aduh, sorry. Lagian lo maen ngomong gitu aja."


"Yah, padahal saya belajar mati-matian, biar bisa nikahin dia. Sepertinya belum jodoh."


"Terus?"


"Terus ... akhirnya saya jomblo sampe sekarang."


Kafa tampak menahan tawanya. "Bukan, bukan itu maksud gue."


"Saya juga diselingkuhin mantan dua kali, ditikung sahabat satu kali, ditinggal pas lagi sayang-sayangnya tiga kali, sama ditolak sebelum bilang cinta ke gebetan lima kali."


Kali ini Kafa tak bisa menahan tawanya, ia tertawa terlalu keras. "Aish, lo siapa, sih? Gue gak nanya itu, kenapa juga lo bilang sama gue?" tanya Kafa masih dengan sisa tawanya.


"Saya percaya sama kamu. Ah ... perasaan saya jadi lega setelah bilang."


"Oh, ya?" tanya Kafa tak percaya.

__ADS_1


"Saya ada urusan, ini ada kartu nama saya. Mari kita berbincang lagi," ucap Haidar menyodorkan sebuah kertas kecil pada Kafa, Kafa mengangguk menerimanya. "Sampai ketemu lagi."


Haidar menjauh, menuju parkiran taman dan masuk ke dalam mobil sedan hitamnya. Ia mengeluarkan ponsel pipih berwarna hitam dan mengirimkan pesan pada seseorang.


[Saya menemukan Kafa. Saya akan sebaik mungkin menjaganya.]


Flashback OFF


* * * * *


Juna menghampiri Key di depan gerbang sekolah, ia sudah siap mengendarai motornya.


"Yuk pulang, Key," ajak Juna membuka helm fullfacenya.


Klaskson mobil terdengar dari belakang, Bagas keluar menghampiri mereka.


"Key pulang sama saya," ucap Bagas menarik tangan Key menuju mobilnya.


Juna mematikan mesin motornya, ia turun dan menghadang langkah Bagas. Wajah Juna kesal karena Bagas menarik Key begitu saja.


"Deden udah nitipin Key ke gue," ucap Juna menarik tangan Key satunya.


"Saya ada yang mau dibicarakan dengan, Key. Lagipula rumah Key dekat dengan saya." Bagas teguh dengan pendiriannya.


"Gue sama Kak Bagas aja, Jun. Makasih," ucap Key tersenyum, ia masuk ke dalam mobil Bagas.


Wajah Juna terlihat kesal ia kembali ke motornya dan pergi mendahului mobil Bagas dengan kecepatan tinggi.


"Waktu saya di SMA tinggal satu semester lagi, Key. Mungkin saya akan sibuk dengan ujian," ucap Bagas memulai obrolan, ia mengendarai mobilnya dengan hati-hati.


"Kak Bagas kuliah?" tanya Key mengalihkan perhatian pada Bagas, sedari tadi ia memikirkan Deden yang entah di mana.


"Iya, saya mungkin akan kuliah di luar negeri."


"Kenapa gak yang deket aja, Kak?"


"Karena hati saya sakit setiap ngeliat kamu sama Deden," ucap Bagas pelan.


"Eh, apa, Kak?"


"Gak, saya hanya ingin cari pengalaman di negeri orang."


Key mengangguk paham, tangannya ia gerak-gerakan tak karuan, ia gelisah.


"Gue dukung apapun keputusan lo, Kak," ucap Key menyemangati.


Tak sengaja Bagas melihat tulisan di telapak tangan Key, sebenarnya ia melihatnya sejak berada di kantin tadi.


"Kamu ... jadian sama Deden?" tanya Bagas sambil membelokan setirnya.


"I- iya, Kak."


"Selamat," ucap Bagas singkat.


Key menatap Bagas ragu. "Ehm ... sebenernya gue gak tahu, Kak. Gue gak yakin apa gue pacaran sama Deden atau Kafa. Dia seperti dua orang di dalam satu tubuh, bahkan tiga karena adanya Rayyan juga."


"Maksudnya?" tanya Bagas tak paham.


"Ekspresinya, terlalu cepat berubah."


* * * * *


Hy! Hy! Mohon kritik dan sarannya yang membangun. Kalo ada salah marahin aja authornya.


Urang \= Saya


Maneh \= Kamu

__ADS_1


Jangan lupa, like, komen, vote, klik favorite, dan RATE bintang lima. See you next part.


__ADS_2