Pangeran Gesrek

Pangeran Gesrek
Bukan Cinta


__ADS_3

"Menurut urang, ini cuman sebuah rasa perhatian yang tertinggal." Deden.


~ ~ ~ ~ ~


Byur ....


Key yang baru saja keluar dari Toilet terkejut, seluruh tubuhnya basah kuyup tersiram air.


Sekolah terlihat sudah sepi karena memang bel pulang sekolah sudah berbunyi satu jam yang lalu.


"Duh ... dingin ya? Basah? Maaf ya akhu gak sengaja," Zea tersenyum sinis melihat Key yang kebasahan, ember yang tadinya ia pegang dijatuhkan sengaja. Dibelakangnya terlihat juga dua orang siswi yang tersenyum puas menatap Key.


"Ada apa ini Ze?" tanya Key bingung, tiba-tiba saja Zea bersikap seperti ini.


"Ada apa ya? Akhu kira didepanku ada cewek murahan deh," ucap Zea menatap Key tajam, teman dibelakangnya hanya tertawa gembira.


"Tapi kenapa? Gue kira lo orang baik." Key menyingkirkan rambut yang menghalangi wajahnya.


"Segini akhu udah baik loh, bahkan tadinya akhu mau pake air comberan. Karena akhu kasian sama kamu, akhu ganti deh jadi air biasa." Zea menarik dagu Key kasar hingga lehernya terasa sakit, terdapat kilatan emosi terlihat di mata Zea ketika menatap Key. "Akhu udah kasih khamu kesempatan buat deket sama Deden, terus khamu sia-sia in dia. Sekarang? Khamu mau balik lagi gitu seperti gak ada apa-apa?" ucap Zea yang sekarang melepas kasar wajah Key yang dipegangnya.


Zea mengeluarkan tisu dari kantong seragamnya, kemudian dia membersihkan tangannya yang basah setelah memegang wajah Key.


"Kita para cewek sebenernya gak suka sama lo, Key.  Lo itu sok dingin, tapi sebenernya lo cuman cewek gampangan," ucap seorang siswi berponi menyamping dibelakang Zea, Key tidak ingat pasti siapa namanya.


"Semua cowok lo deketin. Kak Bagas, Deden, Vino, Gibran, dan terakhir Juna. Lo kecentilan banget sih jadi cewek." Siswi berkuncir satu lainnya yang dibelakang Zea ikut bersuara, Zea hanya tersenyum sinis penuh kemenangan.


"Gue kira lo orang baik," ucap Key melihat Zea dengan wajah tanpa ekspresi. Walaupun wajah Key tanpa ekspresi, tatapannya terlihat sangat menyeramkan, hingga membuat nyali Zea sedikit menciut.


"Eh .... Wah berani juga khamu! Harusnya cewek rendahan itu dibawah aja, gak usah sok ngerasa tinggi."


Dua orang siswi dibelakang Zea memegangi pundak Key kuat dan memaksanya berlutut dihadapan Zea.


"Bukannya lo yang ada dibawah dan usaha narik gue yang diatas buat jatoh?" tanya Key telak, ia berusaha lepas dari cengkraman orang dibelakangnya. Dua siswi yang dibelakangnya hanya memebelalak tak percaya mendengarnya.


"Berani banget lo ngomong kayak gitu sama Zea!" ucap siswi berponi menyamping dibelakang menarik rambut Key hingga ia meringis kesakitan.

__ADS_1


"Gak apa-apa kok Gina, udah jangan kasar." Zea menggelengkan kepalanya, siswa yang dipanggil Gina itu melepaskan rambut Key yang ia tarik.


Zea ikut berjongkok mensejajarkan dirinya dengan Key, ia menekan leher Key kuat hingga kesulitan bernapas. "Orang tua lo pasti kecewa punya anak cewek yang gak ada harga dirinya kayak lo atau mungkin mereka yang gak becus ngurus anak?"


Key terbatuk kesakitan, Zea melepaskan cengkramannya dileher Key. Cengkraman Zea cukup kuat hingga menimbulkan bekas luka kemerahan di leher Key.


"Gue gak suka lo bawa-bawa orang tua," ucap Key bergumam pelan, Zea kesulitan mendengarnya.


"Gue paling gak suka ada orang yang ngerendahin orang tua gue!" Key berdiri paksa, ia mendorong dua orang dibelakangnya hingga jatuh kesakitan.


"Jangan lo kira karena gue orangnya dingin! Gue akan diem aja saat orang tua gue dijelek-jelekin. Gak! Gue benci sama orang yang seenaknya nilai orang tua gue buruk!" Key sudah naik pitam, emosinya tak bisa ia tahan kembali.


Key mencekik Zea dan mendorong tubuhnya hingga ke dinding. Tatapannya tajam dan penuh amarah.  Zea kesakitan, suranya tak bisa keluar. Key semakin kuat mencekiknya.


Seseorang menarik tangan Key dari leher Zea, hingga terlepas. Wajah Zea memerah karena hampir kehabisan napas. Deden menarik Key ke dalam pelukannya, ia mencoba menenangkannya. Sedari tadi Deden menunggu Key keluar sekolah, karena khawatir, segera saja ia berinisiatif menyusul. Deden terkejut melihat keadaan yang sedang terjadi.


"Stop it, Key. Stop, urang tahu kalo orang tua maneh yang terbaik." Deden mengelus pelan rambut Key yang basah. Zea yang masih terbatuk langsung mendapatkan tatapan tajam dari Deden.


Napas Key masih memburu, emosinya belum teredam. Zea yang terjatuh kelelahan dibantu oleh kedua siswi yang tadi bersamanya.


"Sekarang gue tahu, kalo sebenernya gue udah gak suka sama lo," ucap Deden masih menatap Zea dengan tajam, terdapat kilatan marah dimatanya. "Gue keliru saat bilang sama lo kalo gue masih suka sama Zea, gue rasa itu cuma rasa perhatian yang tersisa," ucap Deden yang beralih menatap Key, yang Key lihat dihadapannya sekarang adalah Kafa, bukan Deden.


"Sekarang kalian pergi! Sebelum gue ngelakuin hal yang gak pantas!" Deden menatap Zea dan siswa dibelakangnya dengan tatapan menyeramkan, mereka langsung pergi masih dalam keadaan kesakitan.


"Den?" Key memanggil pelan Deden yang tampak masih emosi lehernya masih terasa sakit, Key selalu takut setiap Deden bersikap layaknya Kafa.


"Key, maneh gak apa-apa?" tanya Deden khawatir mengusap wajah Key yang basah, ia juga memperhatikan seluruh tubuh Key yang basah kuyup.


"Aduh mata!" ucap Deden tiba-tiba membalikan tubuhnya membelakangi Key.


"Mata? Kenapa mata lo, Den?" tanya Key yang sekarang berdiri di depan Deden, ia menunduk mencoba memegang mata Deden untuk memastikan jika Deden baik-baik saja.


Deden yang melihat Key berada dekat dihadapannya langsung menutup mata dan kembali berbalik ke arah lain membelakangi Key. Jantung Deden berdetak tak karuan, mukanya memerah merasa malu karena pikirannya sendiri.


"Kenapa sih, Den?" tanya Key yang masih kebingungan.

__ADS_1


"E-ehm, urang motor sweeter dibasah ambil," jawab Deden tak jelas masih menutup matanya.


"Apa sih? Gue gak paham."


Muka Deden semakin memerah merasakan Key yang sedang berdiri di hadapannya, ia mati-matian menahan agar matanya terus tertutup.


"Tembus liat basah baju," ucap Deden masih tak jelas menutup mata.


"Baju basah?" Key melihat dirinya sendiri yang basah kuyup, seragamnya juga basah tak tersisa. Bajunya terasa berat dan juga, "Aaaaaa! Deden!" Key terkejut melihat seragamnya yang sekarang terlihat transparan, pantas saja Deden langsung menutup matanya.


"Urang dulu sweeter ada motor ambil." Deden ikut panik dan segera melangkah, Ia berlari tunggang-langgang tak tentu arah. Jantungnya masih berdetak tak karuan. Baru saja beberapa meter ia menjauh Deden sudah jatuh tengkurap di tanah karena matanya yang masih ditutup, segera saja ia bangun dan memaki dirinya. Deden kembali melangkah menuju motornya untuk mengambil sweeter.


"Deden tunggu!" ucap Key menahan Deden yang terlihat tergesa-gesa.


Deden menghentikan langkahnya ia berbalik menghadap Key sambil kembali menutup matanya. "K- kenapa Key?" jawab Deden gugup, ia sudah tak bisa mengontrol debaran jantungnya.


"Buka seragam lo!" titah Key dari kejauhan.


"Apa?!" Deden seketika membuka mata kemudian menggeleng dan kembali menutup matanya cepat. "Maneh mau apain urang Key?"


"Minta ditampol lo ya? lo pake kaos kan didalam seragam lo? Gue pinjem dulu buat nutupin baju gue yang transparan."


"Oh," ucap Deden paham, ia membuka seragamnya dan memberikannya pada Key masih dengan mata tertutup. Ia segera berlari meninggalkan Key mengambil Sweeter untuknya.


"Huh gi*a! Apa yang sebenernya tadi urang pikirin? Bolot! bolot!" Deden memukul-mukul kepalanya sendiri memaki otaknya yang sudah tak beres.


Deden dengan segera mengambil sweater di dalam jok motornya, hingga saat ini jantungnya masih berdetak tak karuan. Ia segera kembali untuk memberikan Sweeternya pada Key.


*    *     *     *    *


Hy gaes happy reading! Jangan lupa krisannya juga, maafin author kalo ada salah😂


Urang \= Saya


Maneh \= Kamu

__ADS_1


Jangan lupa, like, komen, vote, klik fav dan rate bintang lima yaa ... See you next part.


__ADS_2