
Kantin cukup sepi, hanya beberapa siswa yang masih berada di sekolah. Ke-delapan siswa ditambah Pak Kasim tengah mengatur napas yang terengah-engah. Lari di Siang hari memang memakan tenaga berlebih, keringat bercucuran di wajah mereka, baju mereka juga terlihat basah.
Sesampainya di depan kios Pak Kasim Deden langsung tengkurap di lantai, merasakan lantai kantin yang bersih dan dingin. Punggungnya terlihat naik-turun kelelahan. Juna ikut tiduran di atas tubuh Deden, kondisinya tak jauh berbeda. Gibran menindih tubuh mereka dengan santainya, meregangkan tubuhnya hingga terdengar bunyi gemeretak, terakhir Si Cunguk Vino yang ikut-ikutan menindih mereka bertiga, posisinya jadi paling atas. Sekarang mereka persis seperti cucian kotor yang saling menumpuk.
Key, Viera, Bagas dan Zea duduk di atas, saling berhadapan di satu meja. Mereka termasuk pada golongan orang-orang normal.
"Woy! U- urang ... engap," ucap Deden kesulitan bernapas, menepuk-nepuk lantai di bawahnya.
Gibran tertawa mendengarnya, Vino yang paling puas tertawa. Key hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan mereka.
"S- sahabat laknat! Gue pengek nih di bawah!" cerca Juna yang tak dapat bergerak.
"Maneh pengek urang di bawah tinggal nama, Jun," ucap Deden kesal. "Ming-gir, woy! Urang gak bawa nyawa cadangan!" Deden menepuk-nepuk orang di atasnya.
Vino tertawa mengganti posisinya, ia tiduran dekat dengan meja Key dan yang lainnya, sedangkan Gibran tiduran di sebelah Juna. Posisi mereka berubah, sekarang mirip seperti ikan pindang yang berjajar.
Gibran mengatur napasnya agar kembali normal, wajahnya berubah merah seperti bunglon. "Hah ... gila! Capek!" ucap siswa itu menghembuskan napas kasar.
"Kita juga capek kali!" timpal Viera sebal mendengar Gibran yang mengeluh.
"Pak, minum, dong, delapan mangkok," pinta Deden pada Pak Kasim.
Pak Kasim yang tengah selonjoran di dalam kios melongok sejenak. "Minumannya mau dipakein mangkok?" tanyanya kebingungan.
"Ya ... kitu wae pokokna, mah. (Ya ... gitu aja pokoknya.) "
"Eh, Akhu gak usah. Cuma mau sebentar di sini. Akhu mau nyampein sesuatu sama khamu," ucap Zea menggeleng, rambutnya sedikit lepek karena basah.
"Oh, yang lain pada mau, 'kan?" tanya Deden, semua mengangguk dengan serempak. "Tujuh berarti, Pak. Minumanya samain aja." Deden kembali memesan.
"Sebentar, ya. Bapak ngaso dulu," jawab Pak Kasim dengan napas tak karuan.
Deden mengangkat jempolnya tinggi. "Sip, Pak! Santai wae." Deden tersenyum, ia mengalihkan perhatiannya pada Zea. "Mau ngomong apa maneh, Ze?" tanya Deden bangkit terduduk, kakinya masih ia luruskan.
"Boleh kita bicara berdua ajha?" Zea sedikit memohon, menunjukan puppy eyesnya.
"Sini," ucap Deden menepuk lantai di depannya.
Mata Key membelalak kaget, ia menatap Deden dengan tatapan tajam. Deden yang melihat perubahan ekspresi Key mati-matian menahan tawanya.
"Maksudku, bukhan di sini," ujar Zea memperjelas ucapannya.
"Emang maneh maunya di mana? Yakin ... berdua aja?" ucap Deden pada Zea. Ia tersenyum jahil menatap Key.
Key menatap mereka serius. Merasa ada hawa-hawa panas, padahal memang bumi sedang dilanda global warming. Deden menatap Key ragu-ragu. Kenapa suasana berubah mencekam? Atau itu hanya perasaanya saja? Deden bukan anak ind*mie, tapi melihat tatapan Key yang semakin mematikan, ia takut juga.
Deden sembunyi-sembunyi menunjukan telapak tangan yang terdapat tulisan dan tandatangan pacarnya. Ia mengedipkan matanya sebelah pada Key sambil tersenyum manis. Mengingatkan jika ia adalah benar-benar milik Key seorang. Key hanya mendecih pelan, ingatkan Key untuk segera melempar deden ke Antartika nanti.
"Di sini aja, Ze. Gak apa-apa," ucap Deden dengan tenang.
__ADS_1
Zea memperbaiki posisinya menghadap Deden yang duduk di bawah. "Sebenernya Akhu pindah ke Indonesia karena-"
"Baginda papa?" tebak Deden memotong ucapan Zea.
Gibran, Vino, dan yang lainnya mencondongkan kepala karena penasaran akan perbincangan Deden dan Zea.
"Iya, khamu tahu. Papaku kolega Om Dirga, mereka bekerja sama. Akhu diminta untuk mengawasimu dari dekat dan memberitahukan semua kegiatanmu." Zea menunduk lesu. "Akhu tidak bisa menolaknya."
Mereka yang mendengar tampak terkejut, bahkan Pak Kasim yang sedang sibuk membuat minuman ikut terkejut.
"Oh," timpal Deden singkat padat dan jelas.
"Khamu gak kaget?" tanya Zea kebingungan.
"Gak tahu, nih! Kaget, dong!" titah Vino menepuk lengan Deden. "Gak asik, lah. Ekspresinya gak kayak artis di sinetron, yang mangap kalo kaget itu, lho." Vino memeragakan gerakan terkejut ala sinetron, mulutnya terbuka, untung tidak ada lalat lewat.
Terimakasih Bagas, karena telah menepuk keras kepala Vino yang memang tak ada isinya. Vino memegangi kepalanya kesakitan.
"Baginda papa ... emang gitu. Urang udah gak aneh."
Pak Kasim membawa nampan penuh minuman es jeruk, yang ditaruh di mangkok lengkap dengan sendok dan sedotan. Disimpannya di atas meja dan di bagikan, Pak Kasim benar-benar membuat apa yang diminta Deden, sungguh luar biasa!
Siswa-siswi lain beberapa ada yang berdatangan hanya sekedar untuk makan siang sebelum pulang.
"Terus gimana, Ze?" tanya Juna, ia kebingungan melihat mangkok di hadapannya, tetapi tetap meminumnya dengan sedotan.
"Om Dirga mau tahu segala hal yang khamu lakuin. He want to protect you," lanjut Zea menjelaskan, menatap Deden dengan sungguh-sungguh.
"Dia ... Kafa," gumam Key pelan, melihat Deden yang masih menahan emosinya.
Semuanya diam, tak ada yang berani menegur Deden. Padahal, minuman di hadapan Deden hampir tumpah. Zea menatap Deden takut, sedangkan yang lain mulai menyendok minuman pelan. Seharusnya Zea dan Deden tidak membicarakannya di sini.
"Apa khamu udah pernah coba, bicara baik-baik sama papa khamu?" tanya Zea sedikit menunduk, tak berani menatap Deden langsung.
"Buat apa?!" Rahang Deden mengeras, tangannya terkepal keras, ia mengubah posisi duduknya bersila."Percuma! Dia cuma mau gue nurut! Semua yang diperintahin harus ditaati! Gue bukan robot, gue juga punya hati!" ucap Deden menunjuk dirinya sendiri.
Oke, tak ada yang berani berbicara. Mereka menatap mangkuk masing-masing layaknya seorang guru killer yang harus di perhatikan.
"Khamu berubah. Semenjak kecelakaan Rayyan ... khamu benar-benar berubah." Mata Zea berkaca-kaca.
"Terus lo mau gue gimana?!" teriakan Deden membuat kaget. Bagas hingga salah menyuapkan minuman ke hidungnnya.
"Maaf, Ze. Mungkin lo harus pulang sekarang," pinta Key sedikit memohon.
Gadis berambut pirang sebahu itu berdiri, beranjak pergi sambil menenteng tasnya. Ia menutupi wajahnya dengan tangan.
"Oh iya gue baru inget. Gue pernah liat Zea, papa lo, sama seorang dokter di parkiran sekolah. Mereka ngebahas tentang lo, tapi gue lupa apaan." Viera menjelaskan sesuatu yang sempat terlupa.
"Kapan?" tanya Key ikut bersuara.
__ADS_1
"Kapan, ya? Pas gue berantem sama mantan!" ucap Viera menekan kata akhir dan menatap tajam Vino di depannya.
"Kenapa tuh mata? Minta dicolok?" cerca Vino kesal.
"Colok, nih. Sini kalo berani!" Mata Viera melotot menantang.
"Gak usah berantem. Gue penasaran, nih. Terus-terus dokternya siapa?" tanya Gibran terlihat antusias.
Viera tampak mengingat-ingat sejenak."Kalo gak salah namanya Haidar," ucapnya kemudian.
Secara tiba-tiba Deden bangkit berdiri, ia terkejut mendengar nama orang yang dikenalnya. "Jun, anterin Key pulang. Jangan sampe lecet!" titahnya datar, Deden melangkah pergi meninggalkan kantin.
"Lo mau ke mana, Den?" tanya Gibran melihat Deden yang menjauh.
Gadis cantik yang disebut tadi ikut berdiri, ia menyusul Deden yang sosoknya mulai tak terlihat di tikungan.
"Lo mau kemana, Key?" tanya Gibran lagi.
Bagas menatap kepergian mereka, entah kenapa hatinya masih terasa sakit walaupun sudah berusaha merelakan.
Langkah Deden begitu cepat, key kesulitan mengejarnya. "De-, Kafa!" panggil Key kencang.
Deden menghentikan langkahnya, Key segera berlari mendekatinya. Rambut Key berantakan, kakinya juga lelah terus-terusan berlari
Key menekan-nekan pipi Deden pelan. "Key memanggil Deden," ucap Key tersenyum manis, memiringkan kepalanya melihat Deden dari samping.
"Ngapain, lo? Gue saranin lo cepet pulang," ucap Deden datar, entah sejak kapan ia sudah memakai jaket dan menggendong tasnya.
"Lo gak apa-apa? Lo mau kemana? Gue ikut!" ucap Key bertubi-tubi.
Deden masih diam, entah apa yang ia pikirkan. Key melihat mata Deden yang masih terpancar sebuah amarah.
"Den?" panggil Key pelan.
"Lo harus pulang! Jangan ikutin gue terus!"
Gadis cantik penyuka pedas itu masih memperhatikan Deden serius. Key ragu-ragu menggenggam tangan Deden yang terdapat tulisan dan tanda tangannya.
"Gak apa-apa. Kalo lo belum bisa nerima semuanya," ucap Key menyemangati, ia sedikit berjinjit untuk menepuk-nepuk puncak kepala Deden pelan. "Terkadang, kita harus marah saat merasa semuanya gak adil, kita juga harus menangis saat merasa tersakiti, dan kita boleh beristirahat saat merasa lelah. Setelah itu, kita harus kembali bangkit! Jangan simpan semua rasa sendirian. Gue ada di deket lo." Key menatap tangan mereka yang berpautan.
Deden memandang ke arah Key di sebelahnya, tatapannya berubah sendu. "Gue harus pergi!" ucapnya pelan. Deden melepaskan genggaman mereka begitu saja.
Key tersenyum tipis, menatap punggung yang kian menjauh. "Fighting! My prince," gumam Key hampir tak bersuara.
* * * * *
Hy! Hy! Mohon kritik dan sarannya yang membangun. Kalo ada salah marahin aja authornya.
Urang \= Saya
__ADS_1
Maneh \= Kamu
Jangan lupa, like, komen, vote, klik favorite, dan RATE bintang lima. See you next part.