Pangeran Gesrek

Pangeran Gesrek
Jadian


__ADS_3

"Kok maneh ada di sini sih, Jun?"


Deden masih kebingungan akan kehadiran Juna, bukannya ia bersekolah di SMA Garuda? Mengapa nyasar jauh sekali hingga ke SMA Bhayangkara.


"Kan waktu itu gue udah bilang, mau pindah ke sekolah lo."


"Kapan maneh bilang?"


"Lo aja yang pelupa."


"Serem urang kalo maneh ada dimana-mana." Deden mendengus kesal melihat sesosok arwah, maksudnya sahabat didepannya.


"Liat cara lo minta maaf kayak tadi, gue jadi inget Rayyan," ucap Juna kembali mengingatkan Deden pada sahabat mereka kembali. Deden diam tak bersuara wajahnya tampak syok dan berubah pucat." Haha bercanda. Gue pindah biar koordiansi kita gampang lah ngatur pheonix. Ternyata penglihatan gue gak salah, disini ceweknya cantik-cantik. Sayangnya gue salah sasaran, cewek yang gue incer udah ada yg punya."


"Siapa, Den?" tanya Gibran penasaran melihat siswa didepannya. "Lo yang waktu itu sama Gank motor nya Deden kan?"


"Oh iya kenalin semuanya, dia Juna. Sahabat urang sejak masih SMP di Amerika."


"Gue Gibran," ucap Gibran menjabat tangan Juna.


"Gue Vino." Vino juga bergiliran menjabat tangan Juna.


"Gue Bobby." Bobby teman sekelas Key yang bertubuh gempal itu malah ikut-ikutan memperkenalkan diri juga.


"Gue Dinda."


"Gue Thania."


"Gue Raffa."


"Gue Riendra."


"Gue Sasha."


"Gue Ervin."


"Gue Pak kasim."


"Ini kenapa malah pada kenalan semua? Pak Kasim juga kenapa ikut-ikutan?" Deden Gemas melihat tingkah teman-temannya di kelas Key. "Udah nanti lagi perkenalannya, nanti ceritanya malah penuh sama perkenalan. Enak authornya dong gak usah mikir cerita."


"Saya cuma mau nganter bakso nih, Den. Liat lagi pada kenalan, jadi pengen ikutan," ucap Pak Kasim yang entah sejak kapan sudah berada di kelas Key sambil membawa semangkok bakso. Ia memberikan bakso itu kepada Dinda yang memesannya.


"Jelas lah mereka pada ikut kenalan. Lo bilangnya kenalin semuanya .... Bukan kenalan beberapa ... mereka gak salah," ucap Vino mengedikkan bahunya membenarkan.


"Terserah kalian aja deh, urang pasrah. Emang urang selalu salah dimata kalian, untung bener dipelajaran," timpal Deden menyerah.


"Minggir woy, minggir! Air panas ... air panas ... air panas." Viera ikut maju ke depan menerobos kerumunan siswa yang menonton seru, ia tidak percaya sahabatnya menerima permintaan maaf Deden semudah itu. "Key kenapa lo maafin, nih sandal jepit sih?" Viera menatap Deden serius, ia menunjukkan tatapan membunuh penuh emosi di matanya. Deden yang ditatap setajam itu hanya diam merasa bersalah.


"Heh! kenapa lo yang repot? Key aja maafin kok!" Vino yang tadinya diam menyambar sekenanya, Ia tak terima sahabatnya dipanggil sandal jepit, yang bagusan dikit kek, bakiak gitu.


"Temen lo tuh udah bikin Key nangis! Dia kan juga tahu kalo Key phobia coklat malah dipaksa makan!"


"Semua orang juga bisa khilaf kali!"


"Khilaf apaan? Jelas-jelas dia sengaja!"


Sekarang Deden dan yang lainnya malah mulai duduk menatap seru Viera dan Vino yang sedang berdebat hebat, mereka seperti sedang menonton sinetron yang diadakan secara langsung. Key duduk di samping Deden dan di sebelah lainnya ada Gibran dan Juna. Siswa-siswa sekelas Key yang lainnya duduk berbanjar dibelakang mereka. Ada yang langsung mengeluarkan snacknya, memakan baksonya, bahkan Pak Kasim ikut-ikutan menonton. Apa tidak apa-apa jika kios baksonya tidak ada yang menjaga?

__ADS_1


"Lo kira Deden malaikat gak pernah punya salah?" Vino telah tersulut emosi dadanya naik turun menahan marah. Deden yang sedang menonton seru merasa terharu mendengarnya.


"Key sakit hati tahu gak! Dia terluka. Seenaknya aja sahabat lo minta maaf dan langsung diterima."


"Hey! Asal lo tahu aja. Suka tidak suka, mau tidak mau. Luka yang mendewasakan kita!" Mari tepuk tangan untuk Vino yang telah berhasil mengeluarkan kata-kata bijaknya.


"Gue gak suka sama lo!" ucap Viera kesal, napasnya mulai memburu.


"Gue juga gak suka!" jawab Vino tak kalah sengit.


"Gue kesel sama lo!"


"Gue juga!"


"Gue marah sama lo!"


"Gue juga!"


"Gue benci sama lo!"


"Gue juga!"


"Sebenernya gue gak terlalu benci sih," ucap Viera mengoreksi perkataannya.


"Gue juga gak benci, malah gue sebenernya suka,"


"Gue juga suka,"


"Yang bener, sejak kapan?"


"Jadi kita mau gimana?"


"Lo maunya gimana?"


"Jadian Kuy?"


"Kuy!"


Vino dan Viera akhirnya pergi begitu saja meninggalkan para penonton yang melongo tak percaya. Ending macam apa itu tadi? Semudah itu mereka berbaikan dan akhirnya pacaran? Apakah ini yang dinamakan sinetron benci jadi cinta dalam kurun waktu 13 menit?


"Jahat banget si Vino tiba-tiba ganti status gitu meninggalkan gue yang masih jomblo," Gibran mengelus dadanya menatap kepergian Viera dan teman sepercungukannya.


"Urang juga ngerasa terhina, bran. Urang jungkir balik deketin Key sampe sekarang belom jadi, semudah itu Vino dapetin cewek? Kayaknya urang harus mandi kembang tujuh rupa," ucap Deden menampilkan muka memelas.


"Apa disini emang semuanya segampang itu dapetin cewek? Kok berasa gak ada tantangannya banget?" tanya Juna kebingungan akan hal yang barusan terjadi.


"Loh kok gimana sih, akhirnya kok gitu? Tapi gue ikut seneng juga sih," ucap Key yang juga ikut kebingungan.


"Key, maneh mau gak- "


"Aduh gue kebelet kencing," ucap Key yang kemudian berlari keluar kelas. Deden yang ucapannya terpotong diam menatap kepergian Key yang tiba-tiba.


"Oke semuanya, bioskop habis. Silahkan bubar," ucap Deden yang kemudian diikuti para siswa termasuk Pak Kasim mulai berpencar.


*      *      *      *      *


Bel pulang sekolah sudah berbunyi, hampir seharian mereka mendapatkan jam pelajaran kosong hingga mereka bisa bebas dan akhirnya pulang.

__ADS_1


Pasangan yang baru saja terlahir itu sedang asyik berbincang berdua hingga yang lainnya terasa berada di alam gaib. Mereka sekarang berada diparkiran sekolah yang sudah cukup sepi, bersiap menaiki motor masing-masing.


Plakk ...


"Aduh nyamuk," ucap Gibran menepuk tangannya sekali berpura-pura menangkap nyamuk. Padahal dapat dipastikan tidak akan ada satupun nyamuk diantara mereka.


"Oh iya kalian kan sahabatnya Kafa. ehm, maksud gue Deden. Kalian mau gak masuk phoenix?" tanya Juna bertanya pada Gibran dan Vino yang sekarang teralihkan perhatiannya.


"Kayaknya seru," timpal Gibran tampak antusias.


"Aman gak tuh?" tanya Viera meragukan. "Kalo aman, gue juga pengen ikutan." Wajah Viera tiba-tiba berubah semangat.


"Emang lo punya motor?" tanya Vino pada pacar barunya itu.


"Gak ada sih, gue juga gak bisa naek motor hehe ...." jawab Viera yang sekarang tertawa cengengesan. "Gue udah dijemput, pulang duluan yaa. Dah ... bilangin sama Key gue pulang duluan."


"Lo gak mau pulang bareng gue?" tanya Vino mengangkat sebelah alisnya.


"Gak, najis!"


"Jahat banget maneh sama pacar sendiri," ucap Deden sudah tertawa geli.


"Haha ... enggak kok. Gue ada urusan keluarga, bye!"


Viera sudah pergi meninggalkan mereka, ia memasuki mobil yang baru datang menjemputnya.


"Gimana Den kalo mereka gabung ke Phoenix?" tanya Juna menunggu persetujuan Deden.


"Urang sih oke-oke aja."


"Gimana? Kalian mau ikut gak?"


"Boleh, lah."


"Nih gue kasih stiker sebagai tanda keanggotaan phoenix kalian." Juna memberikan stiker berbentuk burung api merah bertuliskan Phoenix.


Gibran dan Vino langsung menempelkan stiker tersebut pada sisi badan motor mereka masing-masing. Mereka tampak senang melihat stiker tersebut menempel dimotor mereka.


"Kita kumpul setiap malam sabtu, di dekat kafe tempat urang kerja. Nanti kalian jangan lupa kesana, kalian harus di ospek dulu sebagai anggota baru," ucap Deden memberitahu.


"Siap-siap. Lo kira kita berani?" ucap Vino mengangguk menyanggupi.


"Kok gue ngerasa ada kata yang salah ya dari ucapan Vino?" ucap Gibran yang kemudian mengangguk tanda setuju.


"Kita pulang duluan ya, Den. Lo masih mau nunggu Key?"


"Iya, duluan aja."


*    *     *     *     *


Hayo tadinya kalian ngira siapa yang jadian? Hayo ngaku😂


Urang \= Saya


Maneh \= Kamu


Jangan lupa, like, komen, vote, klik fav dan rate bintang lima yaa ... See you next part.

__ADS_1


__ADS_2