Pangeran Gesrek

Pangeran Gesrek
Bayaran


__ADS_3

"Baru nganter pulang udah kangen," ucap Deden menunduk, menahan tawanya. Ia memainkan kunci di tangannya, berjalan memasuki sebuah rumah setelah memarkirkan motornya.


[Malam, Princess. Jangan lupa mimpiin urang. Titik dua bintang.]


Tulis Deden mengetikan sebuah pesan dan mengirimnya pada Key. Ia tak henti-hentinya tersenyum. Beberapa menit kemudian sebuah pesan masuk.


My Princess


[Mimpiin lo bikin gue tindihan.]


[Jujur aja. Lagi kangen, kan, sama urang? Titik dua bintang. Titik dua tanda kurung satu.]


My Princess


[Lo ngetik apa, sih? Titik dua? Titik dua bintang? Ngeselin tahu, gak?]


[Lagi salting, kan, di kamar? Apa sama bunda? Tanggung jawab, urang kangen, nih.]


My Princess


[Berisik!]


[Ini, kan, pesan Key. Bisa berisik gitu?]


My Princess


[Majikan telah memblokir kontak ini!]


[Blokir, kok, bilang-bilang. Lagian nama maneh di kontak urang 'My Princess']


My Princess


[Berisik!]


[Cie ... baper.]


My Princess


[Iya, emang kenapa? Off gue baperan!]


Deden tertawa melihat pesan terakhir Key, ia memasukan ponsel ke saku celana.


Pria itu menghentikan langkah. Tanpa sadar Deden pulang kerumahnya. Padahal beberapa hari terakhir ini, ia menginap di tempat Bimo. Deden merutuki dirinya sendiri, karena setiap pulang pasti masalah selalu muncul, itu semua karena papanya yang selalu membuatnya kesal.


"Renata Hanum, istri dari Gilbert louis. Mereka memiliki anak bernama Rayyan Alexander Louis. Gilbert meninggal karena penyakit jantung tujuh tahun lalu, sedangkan Rayyan meninggal sekitar dua tahun lalu," ucap Dirga menyesap benda di tangannya, mengeluarkan asapnya perlahan dari mulut.


Deden menghentikan langkah, baru saja dipikirkan, orangnya sudah menyapa Deden duluan. Benar-benar panjang umur. Deden menghela napas panjang, menghampiri pria paruh baya yang tengah duduk di sofa ruang tengah.


"Langsung ke inti saja, Pa," timpal Deden tak acuh, ia benar-benar lelah.


Siswa itu duduk di hadapan ayahnya, kali ini ia akan melawan. Deden tak mau lagi tertekan atau dipaksa menaati seluruh perintah orang di hadapannya.


"Rena depresi, ia juga memiliki penyakit gagal ginjal, benar?"


"Apalagi yang baginda papa rencanakan?"


"Kau akan pindah Kafa. Kembali ke Amerika," ucap Dirga kembali menyesap benda di tangannya.


"Tidak mau, tuh! Kafa sudah mengambil dokumen persiapan pindah dari sekolah."


"Itu hanya sebuah dokumen, mudah untuk disiapkan kembali." Dirga mematikan benda berasap itu, menatap Deden serius.


"Biayanya lebih dari 300 juta," ucap Dirga lebih mendekat.


Deden menaikan sebelah alisnya. "Maksudnya?" tanyanya kebingungan.

__ADS_1


"Cuci darah untuk Renata, kau kira harganya murah? Harganya cukup hanya dengan uang yang kau bayarkan?" Senyuman penuh kemenangan tercipta di wajah Dirga. "Konsultasimu pada Haidar? Itu gratis?"


Deden berpikir sejenak, ia mendengkus, mendongakan kepala sambil tersenyum. Pria itu memegang pangkal hidungnya yang terasa berdenyut.


"Ah ... pantas saja," ucap Deden tersadar ia tersenyum miris. "Pantas segalanya terasa lebih ringan," lanjutnya sambil tertawa.


"Jadi bagaimana? Pilih mengembalikan semua uang atau menuruti perintah?"


"Sebenci apa?" Deden menggantung ucapannya, Dirga menunggu anaknya melanjutkan, "sebenci apa baginda papa pada Kafa?"


"Kau bertanya? Coba aku pikirkan," jawab Dirga tampak mengira-ngira. "Sepertinya aku sangat membencimu, hingga tak dapat mengiranya."


"Apa karena kematian mama? Karena Kafa penyebabnya?" tebak Deden, matanya mulai buram karena dilapisi air mata yang tertahan.


"Coba kau pikirkan."


"Masalah kecelakaan Rayyan? Kafa juga penyebabnya."


Ponsel Deden berbunyi, menampilkan sebuah notifikasi. Tanpa mempedulikan orang di hadapannya Deden membuka ponselnya, memeriksa pesan yang masuk.


Ucokgaligacokcocok


[Bro, gue dapet info. Jalan Pamekasan. Hadiahnya gede, ditunggu! Mulai jam dua malem ini, gue otw.]


"Wah, pas banget," ucap Deden tersenyum lega. "Tunggu aja, Kafa akan bayar semuanya!" lanjut Deden segera bangkit, ia pergi meninggalkan Dirga yang hanya tersenyum menatap punggung anaknya.


*      *       *       *       *


"Welcome, Bro! Udah lama lo gak turun ke jalanan," sapa Ucok memberi salam hangat.


Pengendara motor ninja merah itu membuka helm fullfacenya. Tersenyum menampilkan deretan gigi membalas salam Ucok.


"Urang butuh uang," ucap Deden turun dari motornya.


"Mantap! Berapa hadiahnya?"


"35," jawab Ucok semangat, senyuman selalu terpampang di wajahnya. "Gue gak sabar, bro! Semangat, lah!"


Deden terkikik geli melihat temannya yang sudah loncat-loncat tak jelas. "Urang gak pernah kalah, kali ini juga gak akan," ucap Deden tersenyum penuh keyakinan.


"Masih lama mulainya. Santuy aja dulu."


"Siap!" timpal Deden mengangguk.


Pukul dua dini hari, ketika semua orang terlelap. Sederet motor berbaris, memanaskan mesin. Mereka menatap serius seorang gadis pembawa bendera putih, menunggu aba-aba.


"Satu! Dua! Go!"


Bendera dijatuhkan, para pengendara mengatur kopling dan memasukan gigi. Mereka melaju secepat mungkin, membuat jarum pada spidometer terus-terusan merangkak naik.


Perlombaan begitu sengit, mereka saling salip dan menambah kecepatan. Gas terus ditarik, berusaha saling mendahului setiap ada kesempatan.


Ucok menyemangati dari tempat awal, berteriak heboh setiap Deden berhasil melewati satu putaran. Perlu beberapa putaran hingga menang, walaupun Deden telah meyakinkannya bahwa akan menang, tetap saja Ucok merasa was-was. Uangnya dan uang Deden dipertaruhkan.


"Semangat! Semangat, Bro! Semangat!" teriak Ucok saat Deden lewat. Ia bertepuk tangan menyemangati.


Rival Deden banyak, kemampuan mereka juga mumpuni. Ucok tahu jika Deden rajanya balapan jalanan, tapi akhir-akhir ini Deden jarang bertanding dan banyak pembalap baru yang tak kalah cepat dalam pertandingan.


Putaran terakhir, Ucok menggenggam tangannya yang gemetar. Deden berada di urutan ke-tiga.


"Ayo, Bro! Ayo!" gumam Ucok berharap.


Motor Deden berhasil menyalip hingga urutannya naik, ia terus-terusan mengejar motor di hadapannya. Mereka saling mempercepat motornya, garis finish mulai terlihat di depan.


"Urang harus menang!" ucap Deden menyemangati dirinya sendiri.

__ADS_1


Deden berhasil mensejajari motor di depannya, sekarang mereka berjalan beriringan dengan kecepatan yang hampir sama. Deden semakin menarik gas, kembali menaikan kecepatan, beberapa meter lagi garis finish.


Bendera kotak-kotak berwarna hitam-putih di kibarkan, tanda berakhirnya pertandingan. Deden menghentikan motornya beberapa meter dari garis finish, ia membuka helmnya.


"Bro! Lo menang!" ucap Ucok menggoyangkan pundak Deden. "Menang kita, Bro! 35, bro, 35," teriak Ucok gembira.


Beberapa orang mulai mengerumuni, mengucapkan selamat. Suasana mendadak ramai, banyak orang-orang di sekeliling Deden.


Perlu beberapa waktu agar suasana kembali normal, Deden tak lagi di kerumuni.


"Wah ... kemampuan urang masih ada," gumam Deden tertawa.


Ucok datang membawa sebuah amplop coklat, ia memberikannya pada Deden. "Uang, Bro! Gue 15 lo 20. Gimana? Kurang, gak?"


"Makasih, Cok! Segini cukup," timpal Deden menerima amplop. "Lain kali kalo ada lagi bilang. Urang butuh banyak."


"Asiap, Kapten!"


"Yaudah, urang capek. Pulang, lah. Mau mimpiin pacar," ujar Deden tertawa sendiri.


"Iya aja, dah, yang punya pacar."


Deden kembali menaiki motornya, bersiap pulang. Kali ini ke tempat Bimo, ia tidak ingin kembali ke rumah itu. Pria itu berjalan pelan, masih menikmati euforia kemenangan.


Jalanan cukup sepi karena memang masih dini hari. Mata Deden setengah mengantuk dan tangannya terasa agak pegal karena pertandingan tadi.


Ucokgaligacokcocok


[Bro! Duit gue diambil.]


Deden yang menghentikan motor di pinggir jalan, mengernyit heran setelah membaca pesan dari Ucok. Ia tak mengerti apa maksudnya.


Sekitar tiga motor berhenti di dekatnya, orang-orang itu membawa senjata juga kayu. Deden jadi paham apa yang di maksud Ucok. Sekitar lima orang mengelilinginya, orang-orang yang juga tadi berada di arena balapan.


"Mana duit lo?" tanya Salah satu dari mereka, wajahnya garang, terdapat luka di bawah mata kirinya.


"Urang menang. Itu hak urang," timpal Deden tak terima.


"Gue rugi!" Pria pemegang kayu ikut berbicara.


"Suruh siapa kalah?" Deden menjawab tegas.


"Banyak omong lo!"


Lima lawan satu, sungguh sulit. Deden tidak tahu ia harus bagaimana. Jika Deden kembali ke motornya dan kabur itu sudah terlambat, ia sudah terkepung.


"Kamu cari mati!" ucap Seseorang di samping Deden. Entah sejak kapan ia berada di situ.


"Maneh ngapain di sini?"


"Saya tadi lewat. Gak sengaja liat anak kucing di keroyok lima serigala."


"Heh, urang bukan kucing. Urang harimau."


"Diem, yang jelas. Gimana kita ngelawan mereka?"


*      *       *        *         *


Hy! Hy! Mohon kritik dan sarannya yang membangun. Makin gaje nih cerita, hehe. Kalo ada salah marahin aja authornya.


Urang  \= Saya


Maneh \= Kamu


Jangan lupa, like, komen, vote, klik favorite, dan RATE bintang lima. See you next part.

__ADS_1


__ADS_2