
"Den, dari tadi kita nyariin, lo," ucap Gibran dengan tatapan yang tak dapat diartikan.
"Iya, Den. Akhirnya ketemu juga," timpal Vino menyeringai, wajahnya tampak menyeramkan.
Deden yang baru kembali dari toilet menautkan alisnya kebingungan, melihat Vino dan Gibran yang bertingkah aneh. Ia merasa seperti menjadi anak kecil yang akan di culik dan dijual organ tubuhnya oleh kedua om-om. Deden menatap sekeliling, mencoba membaca keadaan. Setidaknya sekarang ia berada di pinggir lapangan yang cukup ramai, sehingga jika duo cunguk melakukan sesuatu yang mencurigakan, Deden akan berteriak sekencang-kencangnya.
"Urang habis dari toilet, maneh berdua kenapa?" Deden mundur perlahan-lahan, firasatnya tidak enak.
"Kita gak apa-apa," ucap Gibran tersenyum penuh arti. "Kemarin papa lo gimana?"
"Papa urang baik, masih punya paru-paru buat napas, jantung buat mompa darah, sama dua ginjal buat eksresi . Gak ada yang dijual," ucap Deden semakin memundurkan langkah.
"Vin," ucap Gibran memberi isyarat, Deden spontan melihat Vino yang sekarang sudah memegang kedua lengannya ke belakang dengan erat.
"Lo inget gak ini hari apa?" tanya Vino semakin mengeratkan pegangannya di tangan Deden.
"Kamis."
Vino mendecak sebal mendengar jawaban Deden. "Lo liat kita pake baju apa?"
"Weh, iya. Baju baru? Emang udah lebaran?"
Gibran memukul kepala Deden hingga terdengar bunyi yang cukup keras. "Ini kostum Futsal, Deden sengklek! Hari ini kita ada tanding futsal! Lo harus ikut main."
"Gak, gak mau! Urang kan sekali doang waktu itu latihan." Deden memberontak berusaha melepaskan diri, tapi sekarang Gibran ikut-ikutan memeganginya. "Aduh pusing ... maneh si, Bran. Mukulnya kekencengan, kalo otak urang belah dua gimana?"
"Pokoknya lo harus ikutan. Cepet pake kostum, lo," ucap Gibran memberikan kaos yang senada dengannya dan Vino.
"Gak mau!"
"Pokoknya harus!" Vino berpindah memegangi kaki Deden, hingga Deden terjungkal. Ia menduduki kakinya agar Deden tak bisa bergerak.
Para siswa-siswi yang penasaran mulai berkumpul, mereka memperhatikan apa yang tengah dilakukan oleh Deden dan kawan-kawannya. Karena sudah terbiasa melihat kelakuan Deden dan duo cunguk, para siswa kembali pegi, berbeda dengan siswi-siswi yang masih memperhatikan karena para cunguk tampan, tapi otaknya setengah sedang ribut-ribut.
"Cepet ganti!" ucap Gibran masih memegangi lengan Deden, yang sekarang persis seperti gembel karena berbaring di pinggir lapangan. Ditambah Vino yang menduduki kakinya hingga tak bisa bergerak. Sunguh penyiksaan sahabat yang hakiki.
"Urang gak mau!"
"Paksa, Bran." ucap Vino, Gibran mengangguk menyetujui.
Duo cunguk memaksa membuka kaos seragam Deden, berusaha menggantinya dengan kostum futsal. Mereka tidak peduli pada sekeliling mereka, para siswi pun semakin banyak berkerumun.
Dengan susah payah duo cunguk mengangkat kaos seragam Deden dan membuka kancingnya, Deden dengan sekuat tenaga mencegahnya.
"Woy! Penyiksaan dalam rumah tangga," ucap Deden berteriak. Dua lawan satu, memang sulit untuk dimenangkan.
"Rumah tangga siapa? Kita di sekolah yang ada penyiksaan dalam sekolah tangga," timpal Vino menanggapi.
"Nya, kumaha ceuk dinya wae lah. Intinya urang merasa tersiksa. ( Iya, gimana kamu aja lah. Intinya saya merasa tersiksa.)"
Duo cunguk berhasil membuka sebagian kaos seragam Deden hingga terlihat bentukan otot di perutnya.
Gubrak!
Terdengar bunyi seperti buah nangka jatuh dari pohonnya, serentak semuanya menoleh ke arah suara. Seorang siswi jatuh terbaring begitu saja di dekat Deden dan kawan-kawannya. Deden segera mendekat setelah duo cunguk lengah, melepaskan dirinya.
"Maneh gak apa-apa?" tanya Deden mendekat ke arah siswi yang jatuh tanpa adanya angin, hujan, apalagi topan.
__ADS_1
"OMG, Nikmat mana lagi yang engkau dustakan," gumam siswi tersebut menatap kosong ke arah langit.
Deden mengulurkan tangannya membantu siswi tersebut berdiri. "Maneh gak apa-apa, 'kan?"
"Terlampau baik," ucap siswi itu mengangguk-angguk menatap Deden dengan wajah penuh senyuman.
Beberapa siswi di sekeliling Deden juga tampak menatapnya tercengang bahkan ada yang menatapnya seperti hewan buas yang telah menemukan mangsanya. Deden mencoba menemukan apa yang salah pada dirinya.
"Teriak!" ucap Deden dengan suara keras.
"Kenapa lo, Den?" tanya Vino kebingungan, ia terkejut melihat para siswi yang menatap Deden intens.
"Urang tadi teriak. Pantes cewek-cewek tatapannya aneh. Liat nih." Deden menunjuk dirinya, lebih tepatnya kaos seragamnya yang kancingnya telah terbuka seluruhnya dan menampilkan bagian tubuhnya, kaos polos yang ia pakai di dalam seragamnya juga terangkat ke atas.
"Emang kenapa?" tanya Gibran ikut kebingungan.
"Sebenernya urang juga gak paham, kenapa cewek-cewek jadi aneh. Mungkin mereka lihat penampilan urang udah kayak orang gila lampu merah."
Deden menaikan kembali kaos polos di balik seragamnya, menilai apakah penampilannya benar-benar menyedihkan hingga para siswi menatapnya seperti itu. Siswi yang melihatnya kembali menjerit dan berteriak histeris.
"Eh ... kenapa sih?" tanya Deden semakin kebingungan.
"Den, ikut tanding futsal cepet. Waktunya tinggal satu jam lagi di SMA Garuda. Lo pake kostumnya, nih," ucap Gibran tak memperdulikan para siswi lagi, ia kembali menyodorkan kostum futsal yang sejak tadi dipegangnya.
"Key juga ikut jadi penonton sama Viera." Vino berbisik. "Lo bisa tebar pesona sama dia."
"Oke, kalo gitu urang ikut." Deden langsung membuka seragamnya dengan baju futsal yang di berikan Gibran. Para siswi yang masih bertahan di sana memekik kegirangan bahkan ada yang hingga kehilangan kesadaran dan mimisan.
"Duh ... aku gak kuat."
"Tabahkanlah diri hamba."
Gumaman dari para siswi saling bersahutan. Beberapa dari mereka juga ada yang berlari tanpa alasan.
Plak!
"Lo mau jadi pusat perhatian?! Awas aja lo bikin Key sakit hati!" Viera yang entah sejak kapan sudah muncul memukul kepala Deden tak kalah keras dari yang dilakukan Vino, hingga Deden meringis kesakitan. Sepertinya pulang sekolah nanti Deden harus memeriksakan kepalanya karena terlalu sering menjadi korban. Melihat Viera yang datang dengan tatapan membunuh, para siswi yang tadi berkerumun segera membubarkan diri mereka.
"Kenapa sih, Ra?" tanya Deden mengusap kepalanya yang mulai berdenyut.
"Noh, para fans, lo. Pasti kesenengan lah. Lo buka-buka baju begitu."
"Ah ... urang salah, ya." ucap Deden yang baru sadar dan langsung merasa bersalah. Ia menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal. "Maneh mau ke pertandingan bareng Key kan, Ra? Key mana?"
"Key lagi beli cemilan buat nonton nanti," jawab Viera ketus. Sebenarnya Deden ini entah makhluk jenis apa, kenapa bisa kelakuannya membuat orang ingin memukulnya dengan tiang listrik.
"Oke, urang semangat! Urang bakal ganti celananya jadi buat futsal juga, tapi bukan di sini. Bahaya." Deden langsung merampas bagian celana dari kostum futsalnya dan berlari ke arah toilet.
"Sahabat lo noh, Vin!" ucap Viera menatap Vino sinis.
"Salah terus!" timpal Vino mendengus kesal.
"Jadi nyamuk terus!" Gibran menepuk udara kosong.
* * * * *
"Duduk di sini aja, Key," ucap Viera mengusulkan. "Keliatan semuanya."
__ADS_1
Key mengangguk dan duduk di sebelah Viera. Ia menatap Deden dan kawan-kawannya yang sedang memainkan bola dan menggiringnya menghindari lawan.
"Ra, gue penasaran kemaren papanya Deden ngapain ke sekolah."
"Gue juga, Key. Gue udah coba nanya Ke si Kafan, dia juga gak tahu."
"Dia punya masalah apa ya sama papanya? Sampe berlutut gitu."
"Gue gak tahu, Keyara. Lo tanya langsung aja sama orangnya, lo kan calon pacarnya."
"Hush ... berisik."
"Malu nih, ye."
"Yang bawa bola cakep."
"Anak bhayangkara, kan? Iya bener, yang main futsal mukanya limited semua."
"Gue denger yang bawa bola namanya Deden, katanya di bhayangkara fansnya juga banyak. aneh, kan? Muka sama nama gak seiras."
"Gak apa-apa, yang penting ganteng."
"Eh itu si Juna? Ternyata dia pindah karena mau kumpul sama para cogan."
Bisikan-bisikan dari siswi SMA Garuda terdengar, memang tidak ada batasan untuk kedua sekolah, mereka dibiarkan memilih tempat duduk dan menyatu.
"Ra, kok mendadak panas ya gue?" ucap Key mengipas wajah dengan tangannya.
"Adem kok, Key. Kita kan dalam ruangan."
"Gak tahu, Ra. Rasanya panas." Key melirik pada siswi-siswi yang bersorak menyemangati Deden dari SMA Garuda. Aneh, bukankah seharusnya mereka mendukung sekolah sendiri?
Viera mengikuti arah lirikan Key. "Ah lo, cemburu. Ududu ... Key sudah besal," ucap Viera sengaja membuat dirinya cadel.
"Apa sih, Ra."
"Semangat Deden! Aku padamu!" teriakan siswi yang menyemangati Deden membuat Key terkejut. Ingin rasanya Key menjambak siswi tadi.
"Deden, Semangat!" ucap siswi tadi kembali bersorak. Key menatapnya tajam, ia semakin naik pitam.
"Deden! Berjuanglah!"
Key meremas rok seragamnya, ia tampak sedang menahan emosi.
Deden yang mendengar sorakan dan teriakan, tampak bahagia-bahagia saja. Ia sesekali mengedipkan sebelah matanya dan memberikan Kiss jarak jauh untuk para fansnya yang seketika histeris, Key semakin dibuatnya emosi.
Key berdiri, ia menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. "Deden, semangat! I love you!" ucap Key berteriak, ia melakukannya dengan spontan hingga menutup mulutnya karena terkejut sendiri. "Aduh ... dasar ogeb-ogeb!" ucap Key memukul kepalanya merutuki diri sendiri. Ia berdiri gugup karena merasa malu setengah mati.
"Apa, Key? Gak kedengeran." Deden yang entah sejak kapan sudah berada di pinggir lapangan dekat dengan Key yang masih berdiri, ia menatap Key dengan senyum jahilnya.
* * * * *
Hy gaes happy reading! Jangan lupa krisannya juga, maafin author kalo ada salah😂
Urang \= Saya
Maneh \= Kamu
__ADS_1
Jangan lupa, like, komen, vote, klik fav dan Rate bintang lima yaa ... See you next part.