
Suara denting alat makan yang beradu dengan piring terdengar ramai, Deden yang memakai kaos putih karena tak sempat pulang itu ikut makan malam bersama keluarga Key.
"Sampean orang sunda Den? teu aya tampang-tampang sunda tapi nya, (Kamu orang sunda Den? gak ada muka-muka orang sundanya ya),"
Pak Surya, ayahnya Key, memulai pembicaraan. Ayah Key yang memang notabenenya juga merupakan orang sunda tampak tertarik dengan kehadiran Deden.
"Please deh yah, cukup Deden aja yang bicaranya sunda, ayah gak usah. Nanti para pembaca makin pusing," ucap Key mengomentari ayahnya itu.
Deden tertawa mendengar ucapan Key dihadapannya, keluarga Key sangat hangat, semuanya berkumpul untuk makan malam. Mereka juga ramah-ramah kepada Deden, kecuali Key tentunya.
"Papah orang Amerika om, mamah baru orang sunda, makanya cetakan muka saya percampuran antara dua benua," ucap Deden terkekeh menjelaskan, Pak Surya dan Bunda Devi yang mendengarnya pun tampak ikut tertawa.
"Ini Deden lagi waras apa gimana? kok logat sundanya ilang?" batin Key kebingungan, ia satu-satunya orang yang tak tertawa.
"Kak Deden ini cakep loh gak beda jauh lah sama gue, kalo main tok-tok sekali juga bisa langsung Viral. Tapi namanya kebanting sama muka, Kak. Mukanya cakep masa namanya Deden," ucap Arkan mengomentari di sela-sela makannya.
Arkano Gefa Prayoga, adik Key yang berumur 14 tahun ini memang mempunyai kepercayaan diri setinggi menara eiffel. Keluarga Key semuanya tampak ramah dan humble akan kehadiran Deden, entah kenapa hanya Key saja yang tidak bisa diajak bercanda. Terkadang Key juga berpikir sifatnya dan keluarganya yang lain jauh berbeda, apakah Key ini sebenarnya anak pungut?
"Muka kayak gagang teko aja dibanggain." Key nyeletuk refleks.
Deden dan Arkan menautkan alisnya bingung, siapa sebenarnya yang Key anggap mukanya mirip gagang panci diantara mereka. Bunda Devi dan Pak Surya hanya tertawa mendengarnya.
"Nama asli urang sebenernya Rakafa Dean Farizi, waktu kecil sih dipanggil Kafa. Tapi nenek, pas urang lahir pengen banget namain cucu nya Deden Supriyanto biar sama namanya kayak tukang bubur. Katanya sih tukang buburnya baik ... pake banget karena sering ngasih tambahan kerupuk gratis, jadi nenek juga pengen cucunya baik kayak tukang bubur itu. Makanya sekarang urang Pake nama Deden sebagai nama panggung, " ucap Deden menjelaskan panjang lebar.
Keluarga Key mendengarkan dengan serius, berbeda dengan Key yang sekarang sedang terbahak. Tuh kan ... sebenarnya Key ini anak siapa? Padahal Key tadinya khawatir mengira Deden waras karena logat bicaranya yang hilang eh sekarang malah muncul kembali.
"Ayah, bunda, ini saya bawa kue buatan ibu buat semuanya."
Bagas yang datang tanpa disadari itu sudah berdiri dihadapan mereka sambil menenteng kantong kresek berwarna putih, Ia kebingungan melihat Deden yang sedang duduk di meja makan.
"Sini, nak, duduk makan dulu," ujar Pak Surya mengisyaratkan untuk Duduk.
Bagas memang sudah sering berkunjung ke rumah Key, ia juga sudah akrab dengan keluarga Key. Pasti lah, rumahnya memang hanya berjarak beberapa meter saja. Bagas pun mengambil tempat duduk di sebelah Deden, siap-siap perang dunia ke-tiga dimulai.
"Kak Bagas juga anak, Om?" tanya Deden menatap Bagas.
"Kan bunda sudah bilang, kamu boleh panggil ayah sama bunda kok ke kita." Bunda Devi yang menanggapi tersenyum hangat.
"Bunda jangan sering-sering nerima anak dadakan kayak dia," ucap Bagas menimpali.
"Kalo gitu urang juga bakal panggil pake Ayah sama Bunda, yaa." Deden menunjukan senyum termanisnya.
"Bunda jangan kebanyakan anak, nanti anak sendiri gak dianggep." Key berkomentar datar dan mendapat anggukan dari adiknya.
"Tapi kalo kak Deden sama Kak Bagas yang mukanya mirip-mirip sama gue sih gak papa." Arkan menyendok nasinya santai, dan mendapat hadiah berupa satu pukulan keras dari Key. ia pun mengaduh pelan, mengelus kepalanya yang sakit.
"Bukanya ini udah malem, ya, bun? kok anak sekolah langsung mampir ke tempat lain sampai malem gak pulang dulu," ucap Bagas menyindir sambil menatap Deden tajam.
"Eh ... iya, nak, kamu belum sempat pulang yaa? Maaf ya bunda maen ajak kamu aja," ucap Bunda merasa bersalah.
"Yaudah, nanti kapan-kapan kamu maen lagi kesini ya, takut orang tuamu nyariin." Ayah Key tersenyum menenangkan dengan tatapannya yang tampak berwibawa.
"Gak apa-apa, Bun, Yah. Kalo gitu urang izin pulang dulu yaa, maaf urang maen SKTM aja, memang udah malem juga hehe ...." Deden beranjak dari duduknya bersiap berpamitan.
"Apaan tuh, Kak, kok SKTM?" tanya Arkan.
"Sudah Kenyang Tinggal Meluncur...." Deden memeragakan tangannya ke atas seperti pesawat terbang.
"Kamu Ti-Ti-Di-Je ya, Den," ucap Pak Surya.
"Apaan lagi tuh yah? Artis?" tanya Arkan lagi.
__ADS_1
"Hati-Hati Di Jalan," jawab Pak Surya melambaikan tangan, Arkan hanya ber-oh ria.
"Siap, Yah, Ra-no-Kar-no!" Deden menjawab lagi.
"Apaan lagi tuh, Kak?" Lagi-lagi Arkan yang bertanya.
"Ribet banget sih, lo, semua orang ditanyain." Key menanggapi kesal adiknya yang tak mau diam itu.
"Penasaran, Kak," jawab Arkan lesu.
"Mau tahu? Ra-no-Kar-no itu ... pemain Si Doel anak sekolahan haha, Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh."
Deden memyalami kedua orang tua Key, bertos ria bersama Arkan, menepuk pundak Bagas pelan dan terakhir mengedipkan sebelah matanya pada Key.
"Bagas juga izin pulang, Yah, Bun," ucap Bagas berpamitan, memberikan kue yang tadi dibawanya.
* * * * *
Baru saja Deden hendak menaiki motornya untuk pulang, Bagas menahannya dan menatap Deden dengan tampang serius.
"Saya tahu kamu suka Key, tapi lebih baik kamu mundur deh. Key gak cocok buat cowok playboy dan gesrek kayak kamu," ucap Bagas menunjuk muka Deden langsung ke intinya.
"Urang gak bakal nyerah buat dapetin Key, ancaman dari maneh doang sih gak mempan," timpal Deden tersenyum sinis.
"Jangan kira saya gak tahu ya, kamu itu banyak ceweknya. Kamu juga udah sering nyakitin banyak cewek, dan satu hal lagi jangan harap kamu bisa jadiin Key korban selanjutnya atau kamu bakal tahu akibatnya."
Bagas melenggang pergi setelah mengucapkan kalimat-kalimatnya dengan tatapan ingin membunuh.
Dukk!
Deden menendang motor ninja merahnya, entah kenapa ia kesal sekali dengan makhluk bernama Bagas itu.
"Aw ... sakit juga yah, kasian maneh yang jadi pelampiasan Pinky." Deden mengaduh pelan karena kakinya kesakitan, ia mengelus motornya juga yang tak bersalah itu.
"Apa tadi dia bilang? Urang playboy? Urang nih ya ... pernah ke kantin sendirian tanpa duo cunguk karena mau jajan permen, terus liat banyak cewek bejibun aja mundur lagi, takut dicubit kalo enggak yaa dijitak," ucap Deden kesal mendumel sendiri.
"Emang salah urang yaa punya muka mirip Kim taehyung gini sampe cewek-cewek pada gemes?" lanjut Deden masih meneruskan omelannya.
"Urang tuh harus-, eh ... ada Key, sejak kapan maneh disitu?" Deden kaget melihat Key yang sudah berdiri dihadapannya.
"Dari lo mulai gila karena ngomong sendiri, sampe lo gak waras," ucap Key datar.
"Jangan gitu lah, urang merasa tersakiti nih." Deden memegang dadanya, mukanya sengaja di melas-melaskan.
"Tuh jaket lo ketinggalan, Makasih ya .... " Key melempar jaket Deden yang langsung ditangkap pemiliknya.
"Kasar maneh, ya, yang bener dong bilang terimakasih nya," ucap Deden menatap Key serius.
"Makasih Deden Supriyanto tukang bubur yang suka ngasih kerupuk gratis, dah lo sono pulang." Terlihat Key memperlihatkan senyum terpaksa.
"Nah gitu dong, kan urang jadi ... seneng, walaupun ekspetasi urang gak kayak gitu," ucap Deden memakai jaketnya.
"Pulang gak, lo!" Key menunjukan kepalan tangannya ke arah Deden.
"Oke-oke santai, urang izin pulang Key selamat malam, awas jangan kangen." Deden sedikit berbisik mendekatkan kepalanya ke telinga Key.
Motor ninja merah yang Deden tumpangi itu melaju menjauh, meninggalkan Key yang melihatnya hingga menghilang. Key tidak dapat menampik jika Deden memang anaknya unik dan menarik, ia tersenyum tipis melihat jalanan kosong yang tadi di lalui Deden.
* * * * *
Rumah besar bergaya retro itu tampak terlalu besar hanya untuk satu orang yang menempatinya, rumah mewah dengan segala fasilitas yang dimilikinya.
__ADS_1
Deden membaringkan badannya di atas sofa, ia sangat bahagia saat ini karena telah bertemu dengan calon mertua, ia bahkan senyum-senyum sendiri memikirkannya.
Namun, atmosfir rumah ini benar-benar dapat merubah hatinya dalam sekejap, Deden merasa dirinya seperti memasuki rumah hantu, begitu sunyi, sepi dan mencekam. Suasana rumah ini jauh berbeda dengan suasana rumah Key yang hangat.
Deden yang merasakan hawa dingin, terduduk dari tidurnya, ia merasakan bulu kuduknya berdiri. Deden melihat ke sekeliling ruangan rumahnya, terdengar suara bergeretak benda dari arah dapur. Deden berdiri dan mengintip ke arah dapur, sekelebat bayangan hitam tertangkap netranya, ia pun mulai mendekat menahan takut.
'Lengser ... Wengi ....🎶'
.
.
.
.
.
"*****, kaget urang."
Deden memekik kaget mendengar suara dering telponnya sendiri yang berbunyi, seharusnya ia mengganti nada dering ponselnya itu, ia pun segera menggeser tombol hijau.
"Assalamu'alaikum, Bang. Ada apa?" ucap Deden menyapa duluan.
"Wa'alaikumussalam. Ada apa, ada apa ... ada blacpink noh lagi konser!"
Di sebrang panggilan Bimo tampak menahan kekesalannya pada karyawannya itu.
"Nonton yuk, Bang," ucap Deden bersemangat.
"Cepet lo ke cafe woy kerja, telat mulu! nyantuy banget ya."
"Konser Blakpinknya gimana, Bang?"
"Mamamu Blackpink! cepet kesini woy banyak pelanggan nih."
"Mama urang Jennie Blackpink dong, Bang? haha."
"Lo mau mati hari ini, ya? ini para pelanggan maunya lo yang ngelayanin."
"Jangan ngegas mulu kenapa, Bang. Ngopi dulu ngopi ...." Deden kembali tertawa.
"Kan lo pembuat kopi nya Samsul! cepetan lo gak pake lama."
"Nama panggilan baru nih samsul," ucap Deden masih tertawa.
"Deden!"
"Siap bang meluncur!"
Deden mematikan sambungan telponnya, ia segera bergegas membersihkan diri dan berpakaian sederhana, hanya celana jeans hitam dan sebuah kaos putih.
Jaket army kesayangannya ia pakai, ia menyambar cepat mengambil kunci motornya, menutup pintu rumahnya rapat-rapat dan pergi menuju kafe tempatnya bekerja.
* * * * *
Urang \= Saya
Maneh \= Kamu
Mohon dukungannya yaa gaes!
__ADS_1
Dengan Cara klik like, favorite, dan memberikan Saran untuk author, Terimakasih.