
"Coba lo rasain, saat lo ada di posisi gue. Posisi dimana saat berjuang mati-matian. Apa lo kuat? Kita tukar posisi." ~Kafa/Deden
"Tukar posisi kata lo? Tapi gue gak mau harus pake celana terus gak bisa pake rok." ~Key
"Maksudnya bukan tuker posisi jadi cowok, Bambank!" ~Author.
* * * * *
"Deden. Stop!" Key merentangkan tangan dihadapan Deden, ia menghalangi langkah Deden menuju kelasnya. Jejak air mata tampak masih terlihat di pipinya.
"Udah gue bilang kan kalo gue Kafa. Bukan Deden," ucap Deden tegas. Zea yang disebelahnya memeluk lengan Deden sambil menyeringai puas pada Key.
Beberapa siswa yang tadinya hendak kembali menuju kelas terhenti melihat percakapan antara dua pasangan yang selama ini menjadi trending topik.
"Kenapa lo berubah?"
"Bukannya lo yang nyuruh gue berubah?" Key mengernyitkan dahi tak paham akan ucapan Deden."Lo kan yang minta gue sama Zea. Ini cara gue, apa urusannya sama lo?"
"T- tapi bukan ini maksud gue."
"Apa? Gue udah lakuin yang lo mau."
"Key, kita ke kelas aja yuk." Viera menarik tangan Key yang masih berdiri menantang menatap Deden dihadapannya.
"Udahlah, lo buang waktu gue." Deden melangkah pergi meninggalkan Key yang masih tak percaya.
"Akhu udah pernah bilang kan? Akhu akan ambil semua perhatian Kafa dari khamu. kalo khamu sampe sia-sia in dia. Akhu udah peringatin khamu," ucap Zea menyilangkan lengannya di dada, tatapan Zea ketika pertama kali bertemu dengan Key sangat berbeda. Zea melihat Key dari atas hingga bawah kemudian tersenyum meremehkan."So, let's fight. Siapa yang akan berhasil dapetin perhatian Kafa kembali," ucap Zea pergi menyusul Kafa.
Para siswa berbisik-bisik seru. terutama para siswi, gosip tentang Zea yang menantang Key tersebar luas dengan cepat. Memang para wanita adalah alat penyebaran informasi tercepat di dunia. Ponsel pun kalah.
Sepanjang jam pelajaran Key tidak dapat fokus. Entah kenapa dipirkirannya hanya ada Deden, ingin rasanya Key mencopot kepalanya.
"Punya kepala pusing. Gak punya kepala serem," ucap Key bergumam, Viera disebelahnya hanya menggeleng prihatin.
"Bumi kepada, Key. Masih waras?" tanya Viera berbisik melihat Key yang sekarang senyum-senyum sendiri. Ia menyenggol pelan bahu Key.
"Gue udah ambil keputusan. Gue suka Deden!" Key berteriak semangat berdiri dari duduknya dengan tangan mengepal ke atas.
Viera memberi kode pada Key agar segera duduk dan diam. Sepertinya Key yang sekarang sudah kehilangan akal. Apakah dia tidak melihat guru didepannya sedang mengajar? Lagi-lagi guru itu adalah Bu Fida pengajar Fisika. Malang sekali nasibmu Key, dijamin pasti kena hukuman tanpa nego.
"Sedang apa kamu, Key?" tanya Bu Fida menghentikan kegiatan menerangkan tugas di papan tulis dan beralih menatap Key tajam.
"Merdeka, bu. Hehehe ..." Key kembali mengepalkan tangannya kikuk ke atas.
"Hati kamu maksudnya yang merdeka? Kamu kira saya gak denger kamu bilang apa tadi. Sini maju kamu!"
Key maju ke depan kelas dengan pasrah, teman-temannya yang lain tampak menahan tawa melihat kekonyolan yang tadi Key lakukan.
Sepertinya untuk menghilangkan sial Key harus mandi kembang tujuh rupa ditambah rupa-rupa warnanya agar hatinya tidak kacau karena meletus balon hijau. Tunggu-tunggu sepertinya kenal penggalan lagu itu? Oke tidak penting. Pastinya sekarang Key benar-benar sial.
"Coba teriakkan dengan kencang apa yang kamu katakan tadi."
"Malu, Bu."
"Terus yang tadi apa? Tarian topeng monyet? Kamu seperti tak punya rasa malu tadi."
"Ibu lucu deh. Sodaranya sule ya, Bu?" ucap Key tersenyum yang dipaksakan.
__ADS_1
"Ayo mulai."
Key mengangguk pasrah dan mulai mengepalkan tangannya ke atas ragu-ragu.
"Saya suka Deden," ucap Key pelan.
"Lebih keras!"
"Saya suka Deden!" ucap Key yang sekarang lebih kencang.
Para siswa yang tadinya melongo tak percaya, tampak bertepuk tangan takjub. Akhirnya seorang Key si manusia datar bisa melengkung juga. Eh apanya nih yang melengkung?
"Asyik Ikrar cinta!"
"Aku padamu, Key. Semangat!"
"Kita bangga padamu, nak."
Ucapan-ucapan serta siulan mulai terdengar riuh di kelas Key. Key sangat malu, ralat. Ia sangat-sangat malu sekali. Rasanya ingin menceburkan diri di segitiga bermuda saja. Viera juga sejenak berpura-pura tidak mengenal Key dengan menyembunyikan dirinya dibalik buku.
"Berisik!" ucap Bu Fida lantang.
The power of guru killer, semua siswa serentak langsung diam tanpa suara. Mereka seperti sedang dikarantina mulutnya. Eh ....
"Berdiri di situ hingga pelajaran selesai," ucap Bu Fida melanjutkan pelajaran. Key hanya menuruti sambil menghembuskan napas pelan.
* * * * *
"Ke kantin yuk, Key." Viera mengajak Key yang sekarang sedang memukul-mukul kakinya pegal.
"Ayo deh. Jadi lapar gara-gara tadi dihukum berdiri."
"Gak tahu, Ra. Gue berasa ada aja yang dipikirin."
"Kayak orang tua lo!"
Key dan Viera sekarang sedang berada di warung seblak, karena Key yang sekarang menginginkan makanan super pedas. Viera juga tergiur akan tawaran Key apalagi tawaran traktirannya untuk tadi pagi. Walaupun berubah jadi seblak tapi jika labelnya traktiran Viera pasti setuju.
Sejauh ini pemandangan di kantin tampak biasa. Satu-satunya hal yang membuat Key merasa ingin makan orang adalah dengan adanya Deden di bangku pojok kantin dikelilingi banyak wanita.
"Lo bakal diem aja, Key?" tanya Viera mengarahkan pandangannya pada Deden.
"Huh ... panas, Ra. Pengen ngemil kulkas rasanya. Tapi gue sadar kalo bukan siapa-siapa."
"Jadi lo beneran suka sama Deden?"
"Iya, Ra." Key menunduk lesu menjawab pertanyaan dari Viera.
"Jadi apa yang lo tunggu lagi?"
"Gue nunggu ikan sapu-sapu jadi ikan ngepel, Ra."
"Key!" Viera memijit kepalanya sakit, sejak kapan sih sahabatnya jadi segesrek ini? Viera baru tahu jika penyakit gesrek menular.
"Gue laper, Ra. Makan seblak dulu."
Viera menepuk jidatnya, tapi perkataan Key benar juga. Urusan perut seperti motor, selalu didepan!
__ADS_1
Dari jauh diam-diam Deden memperhatikan Key, tapi tekadnya sudah bulat. Ia menanggapi setiap obrolan dari kakak kelas ataupun adik kelas yang bertanya mengenai dirinya. Ah, Deden benar-benar menjadi playboy.
* * * * *
"Kenapa khamu memutuskan kembali jadi Kafa?" tanya Zea yang sudah duduk dihadapan Deden. Jangan tanya kemana para siswi yang lain, tentu saja Zea yang mengusirnya.
"Gue mau hadapin masa lalu gue. Terutama Rayyan."
"Akhu kira karena akhu juga." Zea menghela napasnya pelan. "Kenapa khamu jauhin Key?"
"Dia yang minta."
"Khamu udah gak suka lagi sama Key? Bosan? Seperti mantan-mantanmu yang lain?"
"Gue bukan playboy seperti dulu lagi."
"Bolehkah akhu jika masih suka khamu?"
"Lo banyak tanya Ze kayak wartawan. Gue berasa artis."
"Mana ada artis nama panggungnya Deden."
"Deden itu terkenal, Ze. Ikan Deden contohnya yang banyak khasiatnya."
"Itu ikan sarden. Kafa bolot."
"Bunyi klakson juga suaranya. Deden ... Deden ... Deden ...."
Zea tertawa mendengar lawakannya. Dia bukan Kafa yang dulu, dia Deden dan mungkin selamanya akan menjadi Deden.
Key mendekat perlahan, lebih tepatnya Viera yang mendorong-dorongnya paksa tapi ia selalu menahan. Melihat Deden dengan Zea yang tertawa bersama membuat hati Key sakit. Ternyata ini rasanya sakit tak berdarah.
"Ayo, Key." Viera berbisik pelan di telinga Key.
Deden yang melihat kedatangan Key dan Viera menautkan alis bingung. Zea menatap mereka dengan tatapan yang tak bisa diartikan.
"Gimana, Ra?"
"Tinggal ngomong pake mulut. Jangan pake hati doang, gak bakal kedengeran. Dasar gagang panci!"
"Sabar, Ra. Gue lagi ngumpulin keberanian dan mutusin sejenak urat malu gue."
Deden menatap mereka semakin heran. Kenapa mereka malah berbisik-bisik dihadapannya?
Siswa-siswi yang lain juga tampak menatap penasaran. Apa saja yang terjadi antara Key dan Deden selalu menjadi hal yang menarik.
"Deden. Gue suka sama lo!"
* * * * *
Hy Gaes! Deden masih jadi Kafa ya. Masih gak ada yang bilang.
Urang \= Saya
Maneh \= Kamu
Ada yang penasaran gak nih soal masa lalu Deden dan siapa itu Rayyan? Kira-kira Key kenapa jadi gesrek ya?
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, vote, rate bintang lima dan klik favorit. See you next part.