
"What is your favourite color?" tanya Pak Wiryo menampilkan tiga buah kertas warna-warni ke hadapan tiga pemuda yang duduk berdempetan.
Kertas warna-warni itu disimpan di meja, Pak Wiryo duduk memandang mereka sambil tersenyum aneh. Di dalam pikirannya sudah banyak sekali pertanyaan teka-teki yang akan ia lontarkan.
"Apaan tuh artinya?" tanya Vino berbisik pada Gibran di sebelahnya, ia memang berbisik tapi satu RT dapat mendengar suaranya.
"Colour kan artinya warna, jadi Pak Wiryo kayaknya nanya warna kolor kita, Vin," jawab Gibran balas berbisik, menjawab dengan mantap, ia merasa yakin akan penjelasannya.
"Warna kolor yang kita pake sekarang gitu? Warna kolor lo apa, Bran?" Vino kembali berbisik pada Gibran, Deden dan Pak Wiryo hanya kebingungan melihat tingkah duo cunguk.
"Sebentar." Gibran tampak mengingat-ingat sejenak. "Abu-abu beruk," lanjutnya berbisik pada Vino.
"Memangnya ada warna kayak gitu? Aduh, kalo gue pas banget lagi pake yang warna kuning e*k kucing. Gimana, dong?" timpal Vino membalas Gibran. "Warna kolor lo apa, Den?" Vino balik berbisik pada Deden, posisinya memang berada di tengah-tengah.
Vino sudah bersiap memegang celana Deden untuk mengetahui jawaban dari pertanyaannya, sontak saja Deden langsung memukul tangan Vino kencang.
"Ckk ... gini nih kalo anak akikahnya pake domba hago," ucap Deden memijit kepalanya frustasi. "Pak Wiryo cuman nyuruh kita milih kertas warna-warninya, bukan nanyain warna kolor kalian. Apa faedahnya coba?"
Deden beralih pada Pak Wiryo yang sedang menatap mereka bingung. "Pak Wiryo sih pake bahasa inggris segala, duo cunguk ini kadang emang terlalu pinter, Pak. Saking pinternya mode pesawat aja mereka cari dimana pilotnya."
Tangan Gibran melewati tubuh Vino dan menepuk bahu Deden pelan dari belakang, ia berbisik pada Deden di balik tubuh Vino.
"Den, Pak Wiryo kan sukanya maen teka-teki. Mungkin aja yang dimaksud bener-bener nanyain warna kolor," ucap Gibran penuh keyakinan.
Seakan sinyal-sinyal bodoh dari Gibran tertangkap sempurna oleh Deden, Deden yang tadinya sudah berada di jalan yang lurus mendadak berbelok pikirannya.
"Oh ... warna kolor urang ungu janda, Pak, tapi yang masih muda," ucap Deden pada Pak Wiryo.
"Gue lebih suka warna ungu tua, Den," ujar Vino ikut menanggapi.
"Yaudah gampang, tungguin aja. Nanti juga tua sendiri," timpal Deden dengan santainya. "Kasih makan aja yang banyak, biar cepet gede."
"Emang warna tumbuh dan berkembang kayak manusia gitu?" tanya Gibran menampilkan wajah yang sok sedang berpikir.
Pak Wiryo memijit kepalanya yang mendadak pening. "Kalian spesies murid jenis apa, sih? Kok saya jadi guru berasa gak ada harga dirinya." Pak Wiryo menghembuskan napas kasar. "Saya nanya kemana, jawab kemana, jadinya kemana-mana," lanjutnya menatap prihatin ke-tiga anak didiknya.
"Emang bapak mau ngejual harga diri berapa, Pak? Coba jual di Sheepi." Deden menyarankan. "Urang pernah tuh, beli es batu harganya Rp.500 perak, tapi ongkirnya Rp. 25.000. Murah kan, pak?"
"Kok lebih mahal ongkirnya, Den? Es batunya gimana?" tanya Gibran mulai penasaran.
"Urang kan beli cuma satu bungkus, ya. Pas datang cair, gak ada batunya lagi. Katanya es batu, malah yang dateng air sama plastik doang. Mana batunya coba?" Deden bercerita sambil menahan amarah.
"Keluar kalian! Keluar!" teriak Pak Wiryo penuh amarah.
"Bukannya kita mau dihukum, Pak? Ini kita sudah pasrah, loh, menerima dengan lapang dada bukan lapangan basket," ucap Vino mulai meracau tak jelas.
"Gak jadi! Keluar sana! Bisa-bisa darah tinggi saya naik!"
"Mau bantu diturunin pake tangga, gak, Pak?" tanya Deden serius menawarkan.
"Keluar!"
Deden dan duo cunguk pun keluar dari ruangan BK, mereka berlari cepat menjauhi ruangan tersebut. Sampai hingga di pinggir lapangan dekat kelas mereka, awalnya mereka hanya diam dan saling tatap, kemudian mereka tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
"Bhahaha, gila maneh, Bran. Pake bawa-bawa kolor segala." Deden tertawa lepas, ia memegangi perutnya karena tak kuat menahan tawa.
"Si Vino, noh. Mancing-mancing, kan gue tinggal samber umpannya," ujar Gibran ikut tertawa lepas.
"Gue puas, baru kali ini kita lolos dari teka-teki Pak Wiryo, sungguh kebahagiaan yang hakiki." Vino mengusap air di ujung matanya karena terlalu keras tertawa.
"Kita bener-bener beruntung karena gak dihukum," ucap Deden mengatur napasnya setelah tertawa.
Ting!
Notifikasi ponsel Deden berbunyi, ia segera membuka pesan yang terpampang di layar benda pipih tersebut.
Dokter Ahay ... deh!
Kondisi Ny. Rena mendadak tidak stabil, saat ini ia sedang dalam keadaan kritis.
Deden terkejut seketika. "Vin, Bran, urang perlu bantuan kalian," ucap Deden terburu-buru memasukan ponsel ke sakunya.
"Bantu apa, Den?" tanya Gibran kebingungan dengan perubahan ekspresi Deden yang mendadak.
"Bantu urang bolos."
"Baru aja kita keluar dari ruang BK, Den," ujar Vino mengingatkan. "Kita juga bakal dicurigain, masih pake tas begini."
"Urang doang yang bolos, kalian jangan. Bantu buat lewatin pak satpam doang," ucap Deden menjelaskan.
"Emang ada apa, sih?" tanya Gibran menatap Deden yang wajahnya mulai panik.
"Nanti urang ceritain."
"Selamat pagi, om? Kok di sekolah?" tanya Zea yang baru saja melewati ruang guru dan bertemu seseorang.
"Pagi, Ze. Ini om baru saja mengurus perihal dokumen perpindahan sekolah Kafa," jawabnya tersenyum simpul.
"Pindah, ya, Om?"
"Kamu sendiri bagaimana? Persiapan untuk pindah sudah selesai?"
"Eh, iya, Om. Akhu sudah mempersiapkan segalanya."
"Akhir semester ini?"
"I- iya, Om," jawab Zea kikuk.
"Bantu om, Ze. Jaga Kafa baik-baik."
"Siap, Om. Akhu akan jagain Kafa."
"Yasudah, om pergi dulu."
"Perlu akhu antar? Om Dirga?" tawar Zea tersenyum penuh arti.
* * * * *
__ADS_1
Gibran dan Vino bersama-sama menggelindingkan sebuah tong sampah besar menuju gerbang sekolah, tentu saja tingkah duo cunguk itu menimbulkan kecurigaan satpam sekolah yang sedang berjaga di dekat gerbang.
Pak satpam menghadang mereka berdua dan berkata, "Stop! Kau mencuri hatiku ... hatiku ... eh?"
"Yo! Pak satpam!" sapa Vino merangkul seorang satpam dengan kumis tebal yang sedang berjaga di dekat pintu gerbang.
"Kalian bolos? Gak masuk kelas?! Mau saya laporin ke Pak Wiryo?" tuntut Pak satpam bertubi-tubi.
"Selow dong, Pak. Ini kita justru ditugasin Pak Wiryo buat nyari bahan pertanyaan teka-teki. Bener kan, Vin?" tanya Gibran ikut merangkul satpam tersebut, sekarang mereka saling rangkul-merangkul, tetapi bukan telet*ubies
"Apa, iya? Terus ini apaan nih?" tanya Pak satpam masih tak yakin, ia menendang keras tong sampah hingga berguling-guling di hadapannya.
"Aduh! Hoek!" Suara yang berasal dari dalam tong sampah itu menambah kecurigaan pak satpam.
"Hallo, di dalem ada siapa?" tanya pak satpam kembali menendang-nendang tong sampah pelan, ia mendekatkan telinga pada tong sampah berharap mendapat jawaban.
"Hantu," jawab sebuah suara di dalam.
"Eh, hantu?"
"Bukan- bukan, urang bukan hantu, tapi ... meong ... meong ... meong," jawab suara di dalam kembali menyahut.
"Loh? Kucing?"
Gibran terkejut melihat perlakuan Pak satpam. "Jangan di tendang, Pak. Nanti bapak di anggap telah melakukan KDST," ucap Gibran mencegah Pak satpam yang hendak kembali menendang tong sampah tersebut.
"KDST?" tanya satpam kebingungan.
"Kekerasan dalam sebongkah tong sampah!" Vino malah menjawab dengan tegasnya.
"Memang apa isinya?" Pak satpam mencoba membuka tutup dari tong sampah.
"Ini kan tong sampah, pak. Isinya sampah lah, masa isinya Jin." Gibran menghalangi gerakan tangan pak satpam untuk membuka tong sampah.
"Apa, iya? Sampah apa yang beratnya kayak beban hidup gini?" tanya pak satpam masih tak yakin.
Gibran menggiring pak satpam agar lebih menjauhi gerbang sekolah dan membelakanginya. "Pak apa bener kalo Ikan Gurame karena ada lockdown jadi Ikan Gusepi?" tanya Gibran yang membuat pak satpam mengernyit kebingungan.
Gibran memberikan isyarat pada Vino untuk segera membawa tong sampah keluar sekolah, ia melemparkan kunci yang entah sejak kapan berada di tangannya. Vino jadi curiga, akhir-akhir ini permen di tasnya juga sering hilang.
Vino segera membuka gerbang dengan perlahan, ia menggelindingkan tong sampah cepat ke samping sekolah dan segera meninggalkannya kembali masuk, sebelum pak satpam menyadari.
Orang yang sedari tadi harus bersabar tergoncang-goncang di dalam tong sampah akhirnya keluar dengan kepala yang berdenyut dan perut mual. "Hoekk ... hoekk, buset dah urang berasa naik roller coaster di dalem," ucap Deden sambil muntah-muntah.
Seseorang menyodorkan sapu tangan pada Deden yang langsung diterimanya, kebetulan sekali ia membutuhkannya.
"Makanya gak usah banyak gaya! Dasar cowok aneh!"
* * * * *
Hy gaes happy reading! Jangan lupa krisannya juga, maafin author kalo ada salah😂
Urang \= Saya
__ADS_1
Maneh \= Kamu
Jangan lupa, like, komen, vote, klik fav dan rate bintang lima yaa ... See you next part.