Pangeran Gesrek

Pangeran Gesrek
Pengadilan


__ADS_3

"Gelap, kenapa lampunya dimatiin? Masuk jangan, ya?" tanya Deden lebih pada dirinya sendiri, ia lebih mendekatkan diri pada Key karena merasa suasana di sekelilingnya mendadak lebih mencekam.


"Terserah, lo. Gue gak maksa," timpal Key tak acuh.


"Ada siapa, Key?"


"Seperti biasa."


"Maneh yakin gak apa-apa?"


"Yakin," jawab Key singkat padat dan jelas.


"Firasat urang gak enak," ucap Deden mengusap tenguknya pelan.


Hari sudah malam, langit dipenuhi dengan tinta hitam dengan binar jutaan bintang. Kedua siswa itu masih membeku pada posisi masing-masing.


"Lama, lo. Gue duluan, nih."


Deden memegang lengan Key, menahan pergerakannya. "Tunggu-tunggu, Key."


"Apalagi, sih? Badan gue udah gerah, nih."


"Maneh niat ngajak urang, gak? Kalo enggak, urang gak jadi."


"Lama banget, mikir doang!" Key menghembuskan napas kasar. "Gak apa-apa, percaya sama gue," lanjutnya mengangguk meyakinkan.


"Yakin?" tanya Deden masih memastikan. "Percaya sama maneh mah musyrik."


"Yakin!" jawab Key tegas.


"Yakin?" Deden masih ragu dengan jawaban Key, wajahnya terlihat sedikit berkeringat.


"Iya, Deden!" Key mulai gemas sendiri.


"Sekali lagi urang tanya? Yakin, gak bakal terjadi apa-apa?"


"Astaghfirullah. Yakin! Rakafa Dean Farizi alias Deden alias Rayyan."


"DOR!" Seseorang mengejutkan mereka berdua dari belakang, hingga mereka terlonjak kaget.


"Hayo ... lagi ngapain?" Arkan yang baru datang tersenyum sambil menenteng sebuah kantong kresek hitam.


"Kok rumah gelap?" tanya Key pada Arkan yang malah menaik-turunkan alisnya, senyum-senyum sendiri.


"Mati lampu, Kak. Gak tahu sampai kapan." Arkan menaikkan bahunya acuh. "Ngapain di depan gerbang gini, Kak. Gak masuk?"


Key menunjuk Deden yang menatap ngeri rumah Key tanpa cahaya. "Tanya dia," ucapnya singkat.


"Urang pengen mampir, tapi kalo gelap gitu takut ada pencuri, perampok, apalagi setan. Kalo ada genderuwo gimana? Begal? Suster ngesot? Maling? Pocong loncat? Kuntilanak terbang?" ucap Deden dengan jujur dan bersungguh-sungguh. "Kalo ada genderuwo begal pocong yang ngesot, bareng kuntilanak loncat-loncat pencuri suster terbang gimana?" Deden berubah panik, melirik sekelilingnya dengan was-was.


Arkan tertawa melihat ekspresi Deden. "Kak Deden penakut! Kak Key kalo lagi PMS lebih serem, lho, yakin masih suka?" tanya Arkan yang sontak saja mendapat pukulan di kepala dari Key, hingga ia mengaduh pelan. "Di dalem ada ayah sama bunda. Gue baru aja pulang dari warung buat beli lilin." Arkan menunjukan kantong kresek yang di genggamnya.


"Gue bilang apa! Gak akan terjadi apa-apa." Key mendorong pintu gerbang rumahnya, Deden menyusul dan memasukan motornya ke halaman rumah Key.


"Habislah, Kak Deden," ucap Arkan berjalan mendahului. "Di hukum mati sama ayah-bunda." Arkan menggerakan jari telunjuknya melingkar di lehernya, mengancam Deden seakan-akan jarinya itu adalah sebuah pisau.


"Kenapa tuh anak? Kurang micin? Kelebihan masako? Atau keselek micin overdosis masako?" gumam Deden dengan pertanyaan bertubi-tubi.


Baru saja Arkan bersiap melangkahkan kakinya di teras rumah, listrik menyala begitu saja, rumah Key yang tadinya terasa gelap berubah terang benderang.


"Sianyir! Buat apa gue beli lilin?" Arkan menggerutu sebal, yang ia lakukan terasa sia-sia.


Deden mengacak-acak rambut Arkan, sedangkan Key sudah terlebih dahulu memasuki rumahnya.

__ADS_1


"Lumayan buat keliling, ntar malem," ujar Deden terkikik geli.


"Iya, Kak Deden yang keliling. Gue yang jaga, biar tengah jalan gue tiup!" ketus Arkan merapikan rambutnya.


Deden menepuk punggung Arkan kencang hingga meringis kesakitan, kasian Arkan selalu jadi korban.


"Jangan gitu sama calon kakak ipar, nanti urang kasih tips, cara naklukin cewek dalam tiga menit," ujar Deden menepuk dadanya bangga.


"Apaan, sama Kak Key aja hubungan masih gantung!" Arkan berjalan masuk diikuti Deden.


"Aish, kakak maneh itu spesial. Terlalu istimewa buat dimiliki, jadi butuh perjuangan dapetinnya." Deden merangkul pundak Arkan di sebelahnya.


"Gak! Gue mau dukung Kak Bagas aja."


Deden mengeluarkan uang selembar lima puluh ribu, di sodorkannya pada Arkan. "Tadi maneh dukung siapa?" tanya Deden tersenyum licik.


"Kak Deden dong, selalu! Tadi mulutnya typo, jadi salah ucap, hehe," jawab Arkan mengangkat jempol kanannya.


Diam-diam, tangan Arkan mulai mengambil uang yang Deden sodorkan. Arkan tidak tahu jika tangan Deden pandai berkelit, uang yang tadinya biru mendadak berubah menjadi warna hijau.


"Loh, kok ganti warna?" cerca Arkan tak terima.


"Maaf, tadi server otak lagi down. Jadi, tangannya typo. Harusnya ngeluarin yang Hijau malah yang biru." Deden tertawa terbahak-bahak melihat kilatan emosi di wajah Arkan. "Mau gak, nih?" tanya Deden mengibas-ngibaskan uang berwarna hijau ke depan Arkan.


Arkan mengambilnya dengan cepat, takut uang tersebut kembali berubah warna menjadi abu-abu. "Gue sumpahin! Muka gue ganteng seumur hidup!" ujar Arkan kesal.


Deden tertawa, mereka memasuki area ruang tamu di rumah Key. Suasana mendadak lebih mencekam dibanding saat mati lampu tadi. Ayah surya dan Bunda Devi tengah duduk serius menatap Key yang masih mengenakan seragam di depannya.


"Deden. Kemari, Nak." Suara Ayah begitu berat dan dingin, ia berucap tanpa menoleh ke arah orang yang dituju.


Ragu-ragu Deden mendekat ke arah mereka dan duduk tepat di samping Key. Ia menundukan kepala, tatapan kedua orang tua Key begitu datar namun membunuh. Arkan berdiri di belakang dan bunda sambil membuat wajah-wajah mengejek.


"Darimana saja kalian seharian ini?" tanya Bunda mendekatkan wajahnya.


"Jangan menyangkal kalian! Di sini sudah terdapat barang bukti yang kuat." Bunda menunjukan tas Key.


Key yang melihatnya meringis pelan, bagaimana tasnya bisa berada di tangan ayah dan bunda? Seingatnya ia tadi meninggalkannya di dalam kelas.


"Bunda, Key baru dateng, masih gerah. Key mandi dulu, yah," ucap Key setengah memohon, berniat beranjak dari duduknya.


"Tidak perlu mengelak! Seorang saksi yaitu Viera yang disamarkan namanya, membawa barang bukti dan telah memberikan seluruh informasi!" Ayah menunjukan wajah serius, Key kembali ke posisinya.


Tok! Tok! Tok!


Ayah memukul meja berkali-kali dengan sapu, lebih tepatnya berusaha memukul tangan Deden dan Key yang berada di atas meja. Untung saja mejanya terbuat dari kayu, jadi tahan terhadap serangan, apalagi serangan luka di masa lalu.


"Kalian bolos sekolah, 'kan?" tanya Bunda tepat, terlampau tepat.


"Hakim Ayah memutuskan. Key kamu dihukum tidak boleh makan pedas selama seumur hidup+1 hari. Deden kamu akan ayah sunat 2 kali!"


"Loh, kok gitu, Yah? Serem amat hukuman urang," timpal Deden tak terima.


"Kamu mau di samain sama Key, jadi di sunat seumur hidup?"


Deden bergidik ngeri membayangkannya, secara refleks ia memegang celananya. "Urang keberatan hakim ayah! Urang mau mengajukan banding!"


Ketukan sapu ayah berpindah pada kepala Deden. " Kamu kira ini apa?!"


"Urang berhak dong menyampaikan pembelaan," pinta Deden. "Pengacara mana pengacara?" Ia melihat sekeliling seperti tengah mencari sesuatu.


"Gue aja, Kak, pengacaranya." Arkan yang sedari tadi diam, langsung melesat duduk di sebelah Deden. "Tapi ada komisinya, Kak," lanjutnya berbisik pelan.


"Gak usah! Gak perlu pengacara!" Deden menjauhkan dirinya dari Arkan lebih mendekat pada Key.

__ADS_1


"Pengacara penting tau, Kak!" Arkan kembali mendekat.


"Gak!" Deden kembali menjauhi Arkan.


"Penting, gak bohong!" timpal Arkan kembali mendekat.


Deden lagi-lagi menjauh. "Gak!"


"Ekhm." Key sengaja pura-pura batuk, posisinya tidak enak. Tubuhnya miring, otaknya tidak, sekali lagi gerakan ia akan terjatuh.


"Mau di sunat lagi, Kak?" tanya Arkan.


"Yaudah, iya. Nyesel urang minta pengacara." Deden kembali bergerak ke arah sebaliknya dari arah tadi. "Geser-geser, jodoh urang kecepet."


"Jadi apa pembelaan kamu?" tanya Ayah serius.


"Urang sama Key, ke rumah sakit. Makan sebentar, main sebentar, terus pulang," jawab Deden, Key mengangguk setuju.


"Benar!" timpal Arkan semangat.


"Siapa yang sakit?" ekspresi Bunda mulai melunak, begitu juga dengan ayah.


"Mama Rena," jawab Deden lesu.


"Benar!" Arkan kembali berujar.


Key menatap Arkan tajam, tatapannya seakan berbicara, 'Pengacara gak guna!'. Arkan mulai menciut diam.


"Maafin kita, bunda gak tahu mama kamu sakit," Bunda berpindah tempat duduk ke sebelah Deden, menyingkirkan Arkan hingga terjungkal.


Bunda mengusap-usap punggung Deden untuk menenangkan, Deden tersenyum. Keluarga Key terasa sangat hangat, persis seperti sebuah keluarga yang selalu ia impikan.


"Pas yang Kak Deden katanya kecelakaan? Itu kemana? Kak Key galau seminggu lebih," ujar Arkan mengingat kecelakaan yang dilihatnya waktu itu.


"Kapan?"


"Pas Kak Deden yang nganter Kak Key terus pulang gitu aja," jawab Arkan terduduk di lantai. Punggungnya terasa sakit karena tadi terjungkal.


"Oh ... urang nabrak tukang siomay, tapi syukur gak celaka." Deden mengernyit bingung, masih tak terlalu paham.


"Jadi waktu itu lo bolos seminggu gara-gara tukang siomay?" tanya Key ikut kebingungan.


"Mama Rena waktu itu kritis, urang buru-buru dateng, jadi gak sengaja tukang siomaynya ketabrak, untung semua selamat." Bibir Deden tersenyum, tatapi ekspresinya penuh kesedihan. "Urang jagain Mama Rena biar bisa lewatin masa kritisnya, makanya urang bolos seminggu," lanjutnya lagi-lagi tersenyum.


"Maafin ayah sama bunda, ya. Kita kira kalian bolos tanpa alasan, kamu mau makan?" tawar bunda. "Semoga mama kamu cepat sembuh dan bisa ketemu bareng kita nanti, ya."


"Iya, semoga aja, Bunda. Tapi, mama Rena bukan mama urang. Dia mamanya Rayyan." Entah kenapa Deden merasa nyaman, dan ingin mencurahkan segala keluh kesahnya pada orang tua Key. Ia merasa suasana keluarganya dulu kembali utuh.


Deden benci menangis, tapi air mata itu tak bisa ia bendung saat ini. "Mama Rena bukan mama urang. Baginda mama udah meninggal. Rayyan ... Rayyan juga udah meninggal. Itu semua gara-gara Kafa, gue yang salah." Napas Deden mulai terasa sesak, luka lama yang telah ia kubur dalam-dalam kembali muncul.


"M- maaf, urang izin pulang," ucap Deden berdiri, ia menyalami ayah dan bunda, kemudian berlalu pergi.


"Yah ... Kak Deden, padahal belom ngasih komisi, tapi urang ikhlas," ucap Arkan menepuk dada dramatis, mengikuti gaya bicara Deden.


* * * * *


Hy gaes happy reading! Jangan lupa krisannya juga, maafin author kalo ada salah😂


Urang \= Saya


Maneh \= Kamu


Jangan lupa, like, komen, vote, klik fav dan RATE bintang lima yaa ... See you next part.

__ADS_1


__ADS_2