
Key memperbaiki posisi tidurnya, ia menjadikan lengannya sebagai bantal. Semalaman ia belajar hingga larut malam. Sehingga, hari ini ia sengaja berangkat pagi agar bisa tidur sejenak sebelum ulangan dimulai. Gadis itu merasa sangat lelah, matanya berat hanya untuk sekedar terbuka.
Bisik-bisik serta langkah kaki mulai terdengar di telinga, beberapa murid mulai berdatangan. Key mengerjap-ngerjapkan matanya malas.
Key terkejut, kesadarannya terkumpul penuh seketika. Ia menegakan badan menatap tajam siswa yang tadi terlihat olehnya. Siswa tersebut ikut terduduk tegak, ia tadi memposisikan dirinya bersandar pada meja dan tepat menghadap Key.
"Ngapain, lo?" tanya Key kesal.
"Siapa suruh tidur di kelas. Lo cantik, awalnya gue mau ngagetin, tapi lihat muka lo yang cantik pas lagi tidur, gue jadi pengen liatin," jawab siswa di sebelahnya merasa bersalah.
"Apaan, sih, Jun. Lo kan tahu gue lagi deket sama Deden," ucap Key menyilangkan kedua lengan di dada.
"Gue cuma liat lo tidur doang, Key."
"Tapi kan gue sama Deden-"
"Belum pacaran, kan?"
Sebuah sepatu hitam-putih meluncur mulus dengan kecepatan melebihi kecepatan cahaya, tepat mendarat di pipi Juna. Mungkin orang yang melemparnya menyangka pipi Juna adalah landasan sepatu terbang, entahlah.
Deden yang tadinya hanya ingin bermain ke ruang ujian Key dan Juna sebelum ulangan, terkejut melihat mereka. Siswa itu berjalan dengan cepat ke bangku Key yang berada di pojok belakang, dengan hanya menggunakan sebelah sepatu.
"Si Dodol! Belom pernah ngerasa dipaksa balik ke rahim mamah kayaknya!" Deden geram, ia mencengkram kerah seragam Juna.
"Santai, Den," ucap Juna menenangkan.
"Santai-santai! Maneh jangan berani-beraninya nikung urang lagi, ya!"
"Kayak pas Zea? Tapi, kan, gue gagal." Juna mengangkat bahunya acuh, Key yang mendengar terkejut mendengar ucapannya.
"Udah sana pergi! Jangan sampe, ya ... persahabatan kita ancur kaya dulu." Deden melepaskan cengkramannya.
"Lagian, sih. Lo kalo punya gebetan cantik terus. Jiwa pebinor gue meronta-ronta." Juna terkekeh geli.
"Dasar Playboy cap minyak tawon!" cerca Deden kesal, tetapi ia ikut tertawa.
"Heh! Apa bedanya gue sama, lo? Udahlah gue laper, mau ke kantin dulu." Juna mulai beranjak pergi, sebelumnya ia menepuk pundak Deden pelan. "Gue tahu kita sahabat, jaga cewek lo baik-baik. Gue udah pernah bilang, kan, kalo gue juga tertarik sama gebetan lo," ucap Juna datar, Deden membulatkan matanya terkejut. Juna hanya nyengir tak berdosa, ia segera pergi berlari sebelum Deden menyambitnya.
Deden mencari sebelah sepatunya, entah kemana perginya. Key menyodorkan sepatu Deden yang tadi berada di bawah meja, ia masih duduk dengan tatapan kebingungan.
"Makasih, Princess," ucap Deden sambil tersenyum seketika, Key membalasnya hanya dengan anggukan.
Deden menerima sepatunya dan memakainya sambil duduk di bangku di samping Key. "Juna Duduk di mana?" tanya Deden.
"Depan gue," jawab Key datar.
Deden menepuk-nepuk pelan meja di hadapan Key, Key mengernyit tak paham.
"Maneh tiduran lagi," titah Deden menampilkan senyum manisnya.
"Mau apa?"
"Urang mau ngomong."
Key tak paham, tetapi ia menuruti perintah Deden. Gadis cantik itu kembali menyandarkan kepalanya pada lengan di atas meja. Deden mengikuti dalam posisi sama, mereka berhadapan.
"Urang gak rela momen tadi ditikung Juna." Deden menatap Key sendu.
Key tersenyum manis, jarak mereka sangat dekat.
__ADS_1
"Jangan senyum, Key."
"Kenapa?"
"Urang gak kuat. Senyum maneh terlalu manis," ujar Deden jujur.
Key terkekeh pelan. "Gak, gue mau senyum terus," ucap Key memperbaiki posisi sandarannya.
"Nanti urang diabetes, Key. Biaya rumah sakit mahal."
Key tampak menahan tawa, ia memejamkan matanya. "Yaudah gue merem aja, masih ngantuk."
Sebuah tangan terulur mengelus kepala Key lembut dari samping. Key tahu siapa yang melakukannya, ia tersenyum tipis menanggapi.
"Nanti malem urang jemput, ya. Kita main keluar."
Key bangkit duduk, Deden ikut menegakan badan menatap Key.
"Besok masih ulangan, gak bisa," ucap Key menolak halus.
Siswa-siswi lain mulai berdatangan, mereka segera duduk di bangku masing-masing dan membuka buku sejenak.
"Pokoknya harus! Atau rumah maneh sama urang bom." Deden bangkit berdiri. "Dah ... princess. Jangan lupa nanti malem," ucap Deden mengedipkan sebelah mata, pergi meninggalkan ruang ujian Key.
* * * * *
Meja belajar berserakan, beberapa buku terjatuh di lantai. Key menutup buku terakhir yang ia pelajari untuk ulangan besok. Jam menunjukan pukul satu dini hari. Tak terasa Key sudah belajar selama itu.
Baru saja Key hendak membaringkan tubuhnya di ranjang karena terlalu lelah. Suara di jendela kamarnya, membuat ia beranjak berdiri untuk melihat.
Dilihatnya Deden di bawah sedang berdiri, ia melambaikan tangan sambil melempari jendela kamar Key dengan batu kerikil kecil, ia memerintahkan Key agar segera keluar. Gadis itu menghela napas panjang, mengganti bajunya sejenak dengan jeans hitam panjang dan kaos putih berbalut jaket kulit hitam tebal.
"Kak Deden di luar, ya, Kak?" tanya Arkan yang entah bagaimana tiba-tiba berada di belakang Key.
Key terperanjat kaget, ia memerintah Arkan agar memelankan suaranya.
"Gue ke luar sebentar, nanti izinin sama Bunda. Bye!" ucap Key membuka pintu dan keluar rumah begitu saja. Arkan hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
Deden mengendarai motornya, dengan Key yang di bonceng pelan. Mata Key sudah hanya tersisa lima watt saja. Gadis itu sangat mengantuk, ingin rasanya dia mencabik pria di hadapannya yang tak tahu waktu.
Perjalanan hanya memakan waktu lima menit saja karena memang Deden hanya mengajaknya ke danau dekat perumahan Key. Di sana juga dekat dengan bekas rumah nenek Deden yang sudah lama kosong.
Di pinggir danau, terdapat lilin-lilin yang di tempatkan secara abstrak, tak berbentuk. Deden mendahului Key yang baru turun dari motor dan berdiri di antara lilin-lilin yang menyala tersebut.
Key mendekat perlahan, tangannya ia masukan ke saku jaket karena udara yang benar-benar dingin.
"Lo mau apa? Kok banyak lilin?" tanya Key menatap lilin-lilin yang tersisa setengah, beberapa ada yang mati. Sepertinya sudah dinyalakan sejak lama.
"Key liat urang!" Deden berdiri tegak di antara lilin-lilin, wajahnya terlihat mengernyit, mungkin Deden takut terbakar.
"Lo mau apa? Gue ngantuk," ucap Key menatap Deden, ia menutup mulutnya karena menguap.
"Mau pesugihan! Urang keliling, maneh jaga lilin!" ketus Deden karena melihat wajah Key yang terlihat tak antusias.
"Dih, baperan!"
"Key ini ceritanya urang mau nembak maneh!" Deden sedikit berteriak karena jarak mereka memang agak berjauhan.
Key terkejut mendengarnya, oksigen di sekelilingnya terasa menipis karena gadis itu merasa sesak, jantungnya juga terus-terusan berdetak cepat.
__ADS_1
"Hah?" tanya Key tak percaya.
Deden menarik napas panjang, ia mengangkat dua buah kertas karton di masing-masing tangannya. Pria dengan celana hitam, baju hitam, sepatu kets hitam dan jaket hitam itu mengangkat karton berisikan tulisan tinggi-tinggi. Untung muka dan giginya tidak hitam, juga ada cahaya lilin, bisa-bisa ia jadi tak terlihat.
"Maneh pilih jawabannya! Pake pistol mainan di samping itu," ucap Deden mengarah pada pistol warna-warni di samping Key berdiri.
Key mengambil pistol di bawah, ia menyipitkan mata, mencoba melihat tulisan yang Deden pegang.
"Key!" Deden menarik napas panjang, detak jantungnya semakin tak karuan. "Maneh mau jadi pacar urang? Harus mau!" tanya Deden lantang, ia menutup mata seketika. Apakah itu sebuah pertanyaan?
Deden menunggu jawaban dengan hati yang gelisah, tangannya mulai merasa pegal karena terus mengangkat kertas tersebut.
Pria itu membuka matanya, dilihatnya Key yang berdiri membisu. Key mulai mengarahkan senapannya serius, posisinya persis seperti seorang penembak bayaran yang sudah ahli.
Key menutup sebelah matanya, diarahkannya pistol dengan tangan lurus. Ini sebenarnya siapa yang menembak? Deden yang memintanya untuk jadi pacar, ia malah yang memegang pistol.
Dibacanya dengan perlahan, Key sebenarnya tidak punya pilihan. Lihat saja, kertas yang di pegang Deden masing-masing bertuliskan.
Mau Banget!
Oh, iya, jelas mau, dong!
Seharusnya Deden tidak meminta Key untuk memilih, jawabannya sama saja kok.
Key mengalihkan arah tembakannya bukan pada kertas, melainkan ke arah Deden.
"Loh, Key?" tanya Deden kebingungan. "Ini, jawabannya cuma dua."
Deden benar-benar minta dihukum pancung. Dia sudah tahu jawabannya hanya dua dan sama saja, ia malah meminta Key tetap memilihnya. Apa gunanya coba?
"Key, kok malah ngarahin ke urang?" tanya Deden masih tak paham.
Air menyembur dari pistol mainan tersebut, tepat mengarah ke arah dada kiri Deden, sebenarnya muka Deden sempat kena. Jaket Deden basah, begitu juga dengan mukanya.
"Gue maunya nembak, lo. Gak mau pacaran sama kertas!" ucap Key setengah berteriak, ia tersenyum manis menatap Deden.
Deden membuang kertasnya ke samping, menyeka sedikit air di wajahnya. Didekatinya Key yang masih tersenyum, sangat manis.
"Jadi?" tanya Deden memastikan, alisnya terangkat sebelah.
"Gue mau ... gue mau pacaran sama cunguk gesrek kayak, lo."
Hati Deden terasa penuh, perasaannya lega. Sebenarnya ia sedari tadi gemetar karena takut ditolak, takut terbakar juga sebenarnya. Padahal, pilihan jawaban yang diberikannya lebih ke memaksa.
"Woo! Mak! Berhasil!"
Deden tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya, ia berteriak kencang. Semoga anak tetangga dekat danau tidak bangun. Deden berlarian, melompat-lopat, kopral, nyebur ke danau, eh, yang terakhir tidak. Ia terus-terusan tersenyum gembira.
Dengan sekali gerakan tanpa aba-aba, karena bukan lomba lari. Deden mengecup pipi Key sekilas, jelas saja itu membuat wajah Key langsung bersemu merah.
"Ekhm ... satu sama," ucap Deden ragu.
* * * * *
Holla Gaes! Ketemu lagi sama Deden. Tolong berikan kritik dan saran yang membangun, ya. Author banyak salah jadi marahin aja.
Urang \= Saya
Maneh \= Kamu
__ADS_1
Jangan lupa like, komen, vote, klik favorite, dan RATE bintang lima. See you next part!