
Juna datang dengan napas terengah-engah, ia membungkuk memegangi kedua lututnya. "Gila! Gue hampir ketahuan," tukasnya sembari mengatur napas. "Gue jatoh nabrak tong sampah! Obor yang gue pegang kelempar nimpuk kepala Pak Wiryo," lanjut Juna khawatir.
Lapangan sekolah penuh dengan siswa-siswi yang berkerumun. Siapa lagi kalo bukan Juna penyebabnya, ia membakar obor yang ia persiapkan beberapa hari lalu. Juna menggunakan obor tersebut untuk memicu alat kebakaran otomatis yang menyemburkan air, tentu saja agar Deden mendapat cukup waktu untuk melaksanakan tujuannya.
"Obornya, gak apa-apa?" tanya Vino penasaran.
"Tong sampahnya, gak apa-apa?" tanya Gibran ikut-ikutan.
"Angin sepoi-sepoi yang tak tahu menahu, gak apa-apa?" Deden ikut bertanya sambil menahan tawa.
Deden, Gibran dan Vino sudah datang ke lapangan lebih awal dari Juna. Mereka melingkar di pojok belakang lapangan, berdiri di bawah pohon tinggi sekolah.
"Dasar kalian sahabat laknat! Gue yang jatoh, gak ditanyain," ketus Juna mendelik kesal.
"Ya, maaf," ucap Gibran terkikik geli.
"Berhasil, Den?" tanya Juna beralih pada Deden.
Deden membuka tiga kancing terbawah baju seragamnya yang memang tak pernah di masukan dengan rapi.
"Heh! Lo mau ngapain? Tempat umum ini, woy!" cerca Vino menahan gerakan tangan Deden.
Deden menarik tangan Vino menjauh, menyingkirkannya layaknya sebuah benda yang menjijikan. "Apaan, sih. Otak maneh tuh laundry biar bersih. Urang cuma mau nujukin ini," ucap Deden menunjukan sebuah berkas di balik baju seragamnya.
"Ettdah, lo kira tangan gue sampah tisu!" ucap Vino kesal.
"Gak etis amat, Den. Masa nyimpennya di situ?" tanya Gibran kebingungan.
"Terus di mana? Di balik celana?" timpal Deden sambil tertawa. "Kalo gue pegang gitu aja, mungkin akan ada orang yang curiga," lanjutnya mengancingkan kembali seragamnya.
"Yah ... yang penting usaha kita berhasil, deh," ucap Juna menengahi.
"Terus setelah lo dapet dokumennya. Lo bakal ngapain?" tanya Vino melihat sekeliling. Pak kepala sekolah sedang berjalan menuju podium di depan lapangan.
"Pastinya baginda papa akan kesulitan, sih, kalo dokumen ini gak ada. Walaupun, nanti pasti minta baru," jawab Deden tak acuh. "Nanti urang pikirin cara lain lagi."
"Harap tenang semuanya!" Pak Jahid selaku kepala sekolah memberi intruksi melalui alat pengeras suara. "Itu kenapa, itu?" tunjuknya melihat ribut-ribut di sisi lapangan.
"Kerasukan, Pak!" jawab salah satu siswa.
"Bantuin, dong!" ucap Pak Jahid mendekat ke arah siswi yang sedang kerasukan.
Siswa-siswi berkerumun, duduk melingkari siswi berambut pendek yang duduk di tengah. Ia terlihat tengah menyampaikan sesuatu.
"Itu kesurupan?" tanya Deden yang ikut mendekat karena penasaran.
"Who are you? You are so handsome. Do you wanna be my husband?" tanya siswa tersebut menyeringai ke arah Deden yang baru datang.
"Astaghfirullah. Inalillahi. Allahumma baarik lanaa fiimaa rozaqtanaa wa qinaa 'adzaa bannaar," ceracau Deden mengangkat kedua tangannya berdoa.
__ADS_1
Gibran menepuk tenguk Deden keras. "Ngaco, lo! Ngapain?" tanyanya yang ikut melihat, diikuti duo cunguk.
"Urang lagi do'a. Biar setannya cepet keluar," jawab Deden dengan tatapan tulus.
Deden memekik pelan ketika Juna menyentil dahinya kencang. "Gak do'a mau makan juga, Susanto! Lo mau makan, Setan!" ucap Juna kesal. Sebenarnya Juna mau mengatai Deden susanto atau setan? Entahlah.
Gibran dan Vino hanya tertawa menggeleng-geleng melihat kelakuan Deden. Begitu juga para siswa di sekeliling mereka.
"Bukan sahabat gue!" ucap Gibran masih dengan sisa tawa.
"Gue juga gak kenal!" timpal Vino mengikuti.
"Panggil Pak Ahmad. Dia guru agama mungkin bisa menanganinya," titah Pak Jahid pada salah satu siswa berambut minimalis. Eh, atau bisa dibilang mendekati botak.
"Gak bisa, Pak," jawabnya menggeleng.
"Kenapa?" Pak Jahid mengernyit heran.
"Setan yang masuk bisa bahasa inggris, lumayan buat belajar sebelum ulangan nanti," jawab siswa dengan kepala menuju botak.
"Bawa ke UKS cepat," titah Pak Jahid tegas. "Kamu tolong panggil Pak Ahmad," ucap Pak Jahid kepada siswi lainnya.
Siswa yang diperintah mengikuti dengan pasrah, padahal sebenarnay mereka masih ingin berbincang dengan siswa tadi. Eh, atau lebih tepatnya dengan setan yang jago bahasa inggrisnya.
Pak Jahid kembali menuju podium. Ia hingga hampir lupa apa yang akan di sampaikan.
"Tadi sampai mana, ya?" tanya Pak Jahid kebingungan.
Viera yang mendengar dari kejauhan menyembunyikan wajah karena malu, mungkin dia merasa tersungging? Bukan-bukan maksudnya tersingging, aduh ... tersinggung. Ngetik kok, banyak typo.
"Bucin!" ucap Deden dan sahabat lainnya serempak. Vino hanya nyengir tak berdosa.
"Tadi hanya ada sedikit kesalahan teknis, tidak ada kebakaran. Mungkin hanya terdapat kerusakan pada alat. Ulangan akan tetap berlanjut, dengan tempo sesingkat-singkatnya. Sekarang kalian kembali ke ruangan kelas masing-masing," ucap Pak Jahid memberi intruksi. Para siswa membubarkan diri kembali ke kelas masing-masing.
* * * * *
"Den, gue nyesel," ucap Gibran berjalan bersama kembali menuju kelas.
"Nyesel kenapa? Nyesel bantuin urang?" tanya Deden mengernyit heran.
"Bukan kalo itu, sih, gue seneng. Kurang malah." Gibran tertawa. "Gue nyesel gak ikut sama cewek yang kesurupan, kan lumayan bisa belajar."
"Makanya di rumah tuh belajar! Jangan rebahan mulu!" Deden terkikik geli menimpali.
"Lo gak tahu, sih. Gue itu ketua perkumpulan remaja rebahan santuy se-Indonesia. Jadi, pastilah gue harus menjalankan moto grup, yaitu 'Rebahan is my life!', makanya ikutan," ucap gibran menunjukan jari telunjuk dan kelingkik seperti bergaya anak-anak metal.
"Yah ... kumaha maneh wae, lah. (Yah ... gimana kamu aja, lah.)" Deden berujar tak peduli.
"Eh, Den. Lo kan lumayan lama, nih, di Amerika. Nanti gue minta jawaban ulangan inggris, ya. Gue tahu bahasa inggris cuma yes, no, sama i love you doang." Gibran mensejajarkan langkah memohon.
__ADS_1
"Ya ... ya ... terserah."
"Gimana, nih cara nyonteknya? Ada ide gak?"
"Jari jempol berarti jawaban 'A', jari telunjuk 'B', Jari tengah 'C', jari manis 'D', Jari kelingking 'E'. Maneh inget aja isyarat dari urang."
"Wih, sohib gue memang terbaik." Gibran merangkul Deden memasuki kelas, tetapi Deden mendorongnya jauh-jauh hingga jatuh menabrak pintu kelas.
Ulangan berjalan begitu khidmat, tapi berbeda dengan upacara karena suasana lebih mencekam. Apalagi, tiada jeda untuk istirahat karena waktu yang tadi terbuang, dan yang lebih parah Bu Fida dengan julukan 'Guru Killer' menjadi pengawas di ruangan Deden seharian.
Ulangan pelajaran terakhir hari ini dimulai, ulangan bahasa inggris. Bu Fida menatap seluruh siswa dengan tajam, seakan-akan matanya bisa copot kapan saja. Semua siswa serius menatap soal di atas meja masing-masing.
Gibran menunggu dengan was-was, isyarat jawaban dari Deden. Berkali-kali ia melirik ke arah meja Deden.
Deden mengacungkan jari jempolnya perlahan, berusaha sealami mungkin agar tak ketahuan. Gibran mengangguk.
"Oh, nomor satu A," gumam Gibran pelan.
Semuanya berjalan lancar, Gibran tersenyum penuh kemenangan setiap kali Deden memberi isyarat untuk jawaban. Hampir lebih dari setengahnya, sudah terjawab.
Deden mengangkat jari kelingkingnya, perlahan. Bu Fida yang curiga mulai menatap Deden tajam. Gibran gemetar, ia panik takut mereka ketahuan. Deden seketika terkejut, otaknya berputar agar cepat berpikir. Entah angin bodoh muncul dari mana, Deden spontan memasukan jari kelingkingnya yang tadi teracung ke dalam salah satu lubang hidung.
Deden memaki kesal dalam hati, tapi usahanya berhasil. Bu Fida kembali mengawas seperti biasa dan tidak lagi terus-terusan memperhatikannya.
Semua siswa tertunduk serius, waktu tersisa sedikit, hingga jam ulangan terakhir usai.
Bel berbunyi nyaring, para siswa berbondong-bondong mengumpulkan kertas soal juga jawaban. Mereka langsung keluar dari ruangan setelah selesai.
"Makasih, Den. Karena lo, gue terselamatkan," ucap Gibran menyusul langkah Deden menuju parkiran sambil menenteng sebuah tas.
"Santai aja sama urang mah." Deden berjalan memasukan tangannya ke dalam kantung celana.
"Tapi, kok 15 nomor terakhir jawabannya 'C' semua?" Gibran bertanya kebingungan, ia penasaran sejak tadi.
"Oh, itu." Deden menggantungkan ucapannya, ia menyapu seluruh penjuru sekolah dengan tatapannya. Siswa tersebut mencari seorang gadis cantik yang biasa ia jahili.
"Itu kenapa?"
"Urang kesel sama maneh. Jadi, urang nunjukin jari tengah terus-terusan." Deden segera mengambil langkah seribu setelah melihat orang yang dia cari, ia segera menjauh dari Gibran sebelum meledak.
"Jadi, tadi. Deden, Somplak!" Gibran memaki Deden kesal, ia mengejar Deden yang menjauh pergi.
* * * * *
Holla Gaes! Apa kabar? Tolong masukan dan kritik yang membangun untuk cerita ini, ya. Author banyak salah jadi marahin aja.
Urang \= Saya
Maneh \= Kamu
__ADS_1
Jangan lupa klik like, komen, vote, klik favorite, dan rate bintang lima. Pake subscribe, gak, ya? Oke, gak usah. See you next part!