
Seharusnya beberapa hari kebelakang ini merupakan hari yang paling ditunggu oleh Key, cita-citanya untuk tenang dan tak ada gangguan di sekolah terwujud. Deden tak menemuinya lagi, bahkan jika mereka berpapasan Deden akan langsung membuang mukanya.
"Ckk ... sok-sokan buang muka, gak bakal gue pungut juga sih, santai aja."
Key yang mendecak sebal itu memasuki kelasnya, membuat Viera yang disebelahnya kebingungan.
"Lo putus ya ... sama Deden? Apa lagi marahan?"
"Putus apanya? jadian aja kagak, putus tali jemuran dirumah sih iya," ucap Key duduk di bangkunya.
"Lo kenapa sih, Key, ngegas teros ... kalo punya masalah tuh cerita jangan dipendem aja. Nanti gak kuat, pas yang keluar bau kan gak enak, Hahaha-Ha-Ha."
Viera tertawa patah-patah, karena Key yang tengah mengintimidasi dengan tatapannya.
"Ha ... gak lucu," ucap Viera diam dan berhenti bersuara.
Sesaat kemudiam hening, karena Viera tak mau membuat marah seekor macan PMS.
Brak!
Key memukul meja keras, membuat Viera yang di sebelahnya terperanjat.
"Kemana, Key?"tanya Viera yang melihat Key keluar kelas.
"Mau ngapel sama pak kasim" jawab Key ngasal.
"Ternyata bukan virus corona aja ya yang berbahaya, virus dikacangin gebetan juga lebih mematikan," ucap Viera geleng-geleng kepala.
Bayangkan saja seorang Key, seorang Key loh si manusia datar, segitu marahnya dikacangin sama Deden. Memang tidak ada yang tahu bagaimana isi hati seseorang, apa itu artinya Key mulai membuka hatinya?
"Pak kasim bakso satu mangkok, ya," ucap Key memesan makananya.
Di tengah meja kantin, terdengar ribut-ribut. Key yang mendengar sebenarnya merasa risih, setelah ditelisik ternyata biang keroknya adalah seekor Deden yang sedang berlutut di hadapan seorang gadis cantik. Deden berlutut dengan satu kaki, ditangannya terlihat sebuah kotak cincin beludru merah. Key terperanjat kaget, masa sih Deden mau melamar wanita apalagi itu seorang gadis berambut pirang yang katanya adalah teman Deden.
Terlihat siswa-siswi tengah mengelilingi Deden dan Zea yang masih berdiri mematung, mereka bernyanyi lagu 'balonku ada lima' di pimpin oleh dua cunguk untuk memperkhidmat suasana, atau lebih tepatnya merusak suasana.
Bakso pesanan Key datang, ia hanya mengangguk menerima pesanannya. Mata Key tak lepas dari kejadian yang tengah terjadi di kantin, sambil meracik mangkok baksonya menjadi lautan cabai, ia terus memperhatikan orang gila yang tengah jadi perhatian seluruh siswa itu.
"Zea Will you- "
Suara Deden yang sayup-sayup terdengar itu, dipotong oleh seorang yang sekarang telah duduk manis di hadapan Key.
"Jangan kebanyakan cabenya, Key, nanti kamu sakit," ucap Bagas yang baru datang itu.
"Kak Bagas?" Key menatap bingung orang di hadapannya.
"Pak baksonya satu mangkok lagi, ya," pinta Bagas pada Pak Kasim, menghiraukan panggilan Key.
Key tidak dapat melihat apa yang sedang terjadi di tengah kantin karena tubuh tegap Bagas yang menghalangi, yang jelas sekarang adalah bunyi-bunyi sorakan siswa dan tepuk tangan yang terdengar kencang.
Baru saja Key hendak menyuap bakso hasil racikannya, mangkok dan sendok yang tadinya tergenggam erat, ditarik paksa oleh Bagas ke hadapannya.
"Udah dibilangin jangan banyak-banyak cabenya, yang ini buat saya gak ada protes!"
Bagas memakan bakso super pedas level dewa milik Key, mukanya tampak tenang tidak kelabakan seperti waktu pertama kali Deden yang memakannya.
"Terus gue makan apa dong, Kak?" tanya Key.
Satu mangkok baso yang baru saja Pak Kasim antar pun Bagas tarik kehadapannya, ia masukan kecap, sedikit saos dan setengah sendok cabe.
"Makan lo banyak juga ya, Kak, ngambil makanan orang tanpa izin lagi," ucap Zea yang merasakan kebahagiannya terenggut.
"Ini buat, lo."
__ADS_1
Bagas menyodorkan Bakso yang ia racik itu, warnanya masih bening hanya sedikit keruh saja, berbeda jauh dengan bakso pedas yang Key racik tadi.
"Dih, bukan gue banget nih," ucap Key kesal.
"Gak usah protes makan aja."
Bakso yang Key rasakan terasa hambar, tidak ada tantangannya sama sekali menurut Key. Key melihat Bagas yang memakan Baksonya lahap, ia mendengus kencang karena racikan bakso pedasnya pasti memang enak.
"Gaes katanya Deden ngelamar Zea ya? gila anak SMA lamaran?" Viera datang dengan napas terengah, mendatangi meja Key penasaran.
"Emang, iya?" tanya Key tak paham.
"Key lo kan daritadi di kantin, katanya kejadiannya di kantin masa lo gak tahu? Gue abis dari kelas nih,
perasaan setiap ada peristiwa penting gue telat mulu deh." Viera masih mengatur napasnya yang tak beraturan, ia lari sekencang mungkin dari kelas menuju kantin setelah mendengar gosip dari siswi lain.
Key hanya menatap Viera dengan tatapan bingung begitu juga Bagas, Viera yang melihatnya tampak geram.
"Kalian di kantin ngapain aja sih? mancing ubur-ubur? Berita seviral itu masa gak tahu!"
Viera pergi menjauh mencari orang yang bisa memberikannya informasi, bahkan ia sampai bertanya pada pak kodir penjual cilor.
"Jadi ... yang tadi beneran ngelamar?" batin Key.
"Key nanti pulang saya anter, ya," ucap Bagas membuyarkan lamunan Key.
"Eh ... iya, Kak, kan emang rumah kita deketan juga."
* * * * *
"Ze itu tali sepatu maneh iket dulu, nanti jatoh," ucap Deden berjalan disebelah Zea.
Mereka sedang berjalan melewati tengah lapangan yang sepi tak ada aktivitas, mereka terlihat sangat buru-buru menuju suatu tempat.
Brukk!
Zea terjatuh lututnya kanannya terluka, tumpukan kertas yang tadi Zea pegang berserakan. Deden langsung mendatangi Zea yang terduduk jatuh itu, melihat keadaan gadis pirang di depannya.
"Tuh kan udah urang bilang juga, ngeyel sih." Deden meniup lembut lutut Zea yang terluka, Kemudian ia mengelus pelan debu dan pasir yang berada di atas luka Zea.
Tali sepatu yang terlepas itu Deden ikatkan dengan kuat, Zea menatap cowok dihadapannya tak berkedip, sekarang mukanya tampak memerah menahan malu.
"Yuk urang obatin dulu luka kamu, Ze," lanjut Deden.
Kertas yang berserakan itu dikumpulkan dan dirapihkan oleh Deden, kemudian dia berjongkok membelakangi Zea.
"Khamu mau apa?" tanya Zea bingung.
"Ayo sama urang gendong kita urus luka maneh dulu," ucap Deden masih dalam posisi jongkoknya.
Mereka pergi ke arah UKS dengan Zea yang digendong oleh Deden. seorang gadis imut memandangi mereka tanpa ekspresi dari lantai atas, Key yang menuju lab komputer untuk pelajaran selanjutnya itu melihat semua kejadian dari awal. Entah kenapa saat Key melihat mereka hati Key terasa berdenyut nyeri, seperti ada ribuan jarum yang menusuk.
"Key ayo jangan diem aja nanti telat," ucap Viera yang menyadarkan Key.
Siswa-siswi kelas XI IPA 2, sedang memperhatikan pelajaran yang diterangkan guru di ruangan lab komputer. Key tidak dapat fokus pada pelajaran di depannya, seperti ada yang kurang hari ini.
"Lo kenapa, Key?" bisik Viera pelan takut ketahuan guru.
"Gue ngerasa hari ini ada yang kurang," ucap Key balas berbisik.
"Mungkin karena hari ini lo gak digangguin Deden kali, lo nya kangen sam-"
"Viera, Key! Pulang sekolah kalian nongkrong di perpustakaan bisik-bisik sampe puas sama buku disana!" ucap Pak Hendri yang terlihat marah di depan.
__ADS_1
"T- tapi, Pak," ucap Viera menyahut.
"Mau ditambah? apa mau pindah ke WC bisik-bisiknya sama kloset? "
"Enggak, Pak," jawab Viera lesu, sedangkan Key hanya menghembuskan napas lelah.
"Dihukum lagi gue," gumam Key pasrah.
* * * * *
Bel pulang sekolah sudah berbunyi nyaring, siswa-siswa memakai kekuatan flash nya untuk segera keluar dari sekolah ini. Key dan Viera berjalan gontai menuju perpustakaan, hendak melaksanakan hukuman mereka membereskan ruangan perpustakaan.
"Key ayo kita pulang, saya ambil mobil dulu di parkiran, kamu tunggu dekat gerbang ya," ucap Bagas yang tiba-tiba di sebelah Key dan menepuk kepala Key pelan.
"Maaf, Kak. Kak Bagas pulang duluan aja, aku harus ngejalanin hukuman dulu," ucap Key merenggut, malas sekali rasanya ia bersih-bersih perpus.
"Udah dibilang jangan nakal juga, gak mau ditungguin aja?" Bagas menarik pelan hidung Key, walaupun pelan hidung Key sekarang mulai memerah.
"Gak usah kak, gak papa." Key mengelus ujung hidungnya yang memerah.
Bagas mengangguk paham, kemudian berlalu pergi melambaikan tangannya ke arah Key dan Viera.
"Anj*r ... lo jadian sama Kak Bagas?" tanya Viera antusias.
"Enggak," jawab Key datar.
Sudah fasih sekali Viera dengan kelakuan sahabatnya itu, ia hanya diam tak menanggapi lagi. Mereka melanjutkan perjalanan mereka menuju perpustakaan.
"Eh, Ra. Gimana yang waktu pagi?" tanya Key tiba-tiba.
"Waktu pagi?" Viera balik bertanya bingung.
"Yang katanya Deden ngelamar temennya itu, Zea ya kalo gak salah namanya?"
"Oh tadi pagi Deden tiba-tiba berlutut gitu, terus dia pegang kotak beludru merah tempat cincin dihadapan Zea."
"Itu sih gue juga tahu," ucap Key sebal.
"Ada apa nih nanyain? udah mulai suka lo ya sama abang Deden?"
"Gak!"
"Yakin? keburu diambil sahabatnya loh, nanti sahabat jadi cinta, terus mantan gebetan ditinggalin. Kalo jadi cerita sinetron seru nih judulnya 'Cintaku digondol makhluk mars yang malah berpindah hati ke cewek pirang cantik sahabat kecilnya' kurang panjang gak tuh judul?" Sekarang Viera hanya tertawa lepas, memegangi perutnya yang tak kuat menahan tawa. Key yang malas berdebat dengan Viera itu meninggalkan Viera di belakang dan berjalan cepat menuju perpustakaan.
Di dalam perpustakaan terdengar suara ribut dan suara lengkingan jeritan, Key yang mendengarnya dari kejauhan langsung berlari menuju arah suara.
* * * * *
Urang \= Saya
Maneh \= Kamu
"Wah ... di part ini Deden keluarnya dikit yaa hehe ... kan ceritanya lagi menjauh hehe ..., maafin kalo kurang seru yaa hehe ..., " ucap author.
"Thor, apaan sih cengengesan gak jelas!" ucap Viera memandang author dari atas hingga bawah.
"Gak papa hehe ...."
"Thor sumpah deh ya kalo dijadiin cerita azab nih ya judulnya 'Author gila karena kebanyakan cengengesan gak jelas, kemudian dihantam basoka oleh para cast hingga terkapar tak berdaya' " ucap Viera lantang memeragakan dengan tangannya.
Dukk!
"Judul-judul cerita mulu si Viera dasar, Hehe ...." Author memukul Viera dengan panci bakso Pak Kasim.
__ADS_1
"Apa salahku, Thor? Gaes bantu aku yaa krisan cerita ini biar authornya gak gila lagi, jangan lupa klik like dan favorite juga." Viera yang dipukul itu pingsan terbaring di lantai.