Pangeran Gesrek

Pangeran Gesrek
Buka Hati


__ADS_3

"Key, tolongin urang!"


Deden berlari sepanjang koridor menuju kelas Key, terlihat Gibran dan Vino mengejar. Suara bel tanda pulang sekolah berbunyi beriringan dengan teriakan Deden, sesekali ia menubruk siswa yang berhamburan ke luar kelas.


"Deden, lo harus bantuin kita! Turnamen sebentar lagi, lo harus masuk tim futsal!" ucap Gibran berteriak.


"Deden, bantuin gak, lo! Nanti gue kasih permen Kiss gue yang ada tulisan 'jadian yuk' dibelakangnya," tambah Vino yang juga berteriak.


Deden berhenti sejenak tepat beberapa langkah sebelum sampai di kelas Key, ia pikir tawaran Vino sangat menggiurkan untuk melengkapi koleksi bungkus permennya. Namun, Deden kembali berpikir jika ia nanti masuk tim futsal seperti duo cunguk, waktunya untuk menjahili Key semakin sedikit. Baru saja Deden hendak melanjutkan larinya leher nya di cekal oleh Vino, tangannya juga ditarik kebelakang seperti tahanan oleh Gibran.


"Sahabat laknat kalian!" ucap Deden kesulitan berbicara karena lehernya dicekal.


Viera yang mendengar ribut-ribut diluar langsung menarik lengan Key yang sibuk membereskan bukunya, Key yang tangannya ditarik membereskan bukunya cepat dan menenteng tasnya.


Kedua telinga Deden terlihat sedang ditarik oleh kedua sahabat cunguknya, Gibran ditelinga sebelah kanan, dan Vino di kiri. Sungguh penyiksaan seorang sahabat yang sangat kompak.


Melihat Key yang muncul keluar dari kelasnya, Deden langsung lari dari tarikan super pada telinganya yang sekarang ia pegangi karena saking memanasnya takut copot. Ia langsung berlari menyembunyikan dirinya ke belakang Key dan Viera. Padahal masih kelihatan ... wkwk.


"Key lihat tuh, ada dua cunguk Ganas. Tolongin urang, Key," ucap Deden menunjuk kedua sahabatnya.


Karena waktunya pulang sekolah, banyak siswa-siswi yang penasaran mengerumuni dan melihat yang terjadi. Viera memelototkan matanya kepada siswa-siswi yang berkerumun hingga perih, untung saja matanya tidak copot. Kabar baiknya para siswa mulai pergi meninggalkan mereka, memang selalu saja dimana ada Deden, pasti tingkahnya langsung  menjadi pusat perhatian.


"Ada apa, sih?" tanya Viera bingung.


"Deden diajak masuk tim futsal malah gak mau, noh," ucap Gibran kesal menatap sahabatnya.


"Kan urang udah bilang, urang yang bantu nyemangatin aja." Deden membela dirinya, tak merasa bersalah.


"Gak, gak bisa!" timpal Vino memaksa.


"Urang bisa, kok, Semangat Gibran dan Vino sayang, muach ...." Deden bertepuk tangan sambil memajukan bibirnya.


"Jijik, anj*r!" Gibran menjitak pelan kepala Deden, dan langsung mendapat ringisan dari sang empunya kepala.


"Lo gak ngerasa tadi, gocekan dan cara lo ngelindungin bola dari lawan itu keren banget. Walupun ada acara joget-joget sedikit ditengah lo yang lagi giring bola, tapi tendangan lo akurat." Vino menerangkan sangat yakin, matanya tampak semangat berapi-api.


"Urang cuman maen lima menit doang tadi, gak usah di besar-besarin. Lagian urang udah ada janji mau pulang bareng sama Key," ucap Deden tetap menolak.


Vino dan Gibran yang mendengar nama Key disebut itu dengan kompak langsung berlutut di hadapan Key, mereka menangkupkan kedua tangan di dada sambil menatap Key memelas.


"Kami mohon, Ibu Suri. Izinkan Deden masuk tim futsal." Gibran dan Vino berbicara dengan menampilkan puppy eyesnya, Key yang melihatnya merasa risih.


"Lo kira gue timun, pake suri-suri segala. Gue gak peduli. Lagian kenapa minta izinnya ke gue? tuh izin ke punuk onta," ucap Key datar menunjuk Deden dengan kepalanya, Deden hanya nyengir tak berdosa.


"Ayolah, Key. Kan buat kepentingan sekolah kita juga, dengan bergabungnya Deden mungkin peluang untuk menang jadi lebih besar," bujuk Viera ikut memohon.


Kenapa Viera malah ikut-ikutan memohon? Key mendelik sebal. Malang sekali nasibnya selalu dikelilingi para curut titisan dimensi lain ini.

__ADS_1


"Terserah, lah, gue iyain aja." Key menghembuskan napas pasrah, sekali-kali membahagiakan makhluk tak mampu gak akan terjadi apa-apa kan?


Gibran dan Vino berdiri dan bersorak gembira, sedangkan Deden menatap Key sendu.


"Maneh harus nemenin urang setiap latihan futsal sebagai gantinya," ucap Deden menatap Key serius.


Key melongo mendengar ucapan Deden, ucapannya membunuh dirinya sendiri. Sepertinya bencana baru akan mampir ke kehidupannya, Key pun merutuki dirinya sendiri.


*   *   *   *   *


Akhirnya Key sekarang menunggu dan memperhatikan Deden di samping lapangan akibat perkataannya sendiri, Viera di sebelahnya ikut menemani sambil berjingkrak-jingkrak menyemangati tim futsal yang sedang latihan bertanding.


Key baru pertama kali melihat tim futsal berlatih, banyak juga para siswi yang menyoraki semangat di bagian lapangan yang lain.


Tidak heran lebih banyak wanita yang berkumpul melihat tim futsal berlatih, anggota tim futsal hampir semuanya merupakan siswa terkenal di sekolah, apalagi sekarang ditambah Deden yang masuk, makin hebohlah para suporter dadakan itu. Key merasa risih mendengar teriakan-teriakan para siswi yang menyemangati, nembak dadakan bahkan ada yang meminta dijadikan istri dadakan. Hey yang benar saja, kalian masih SMA anak kalian mau di kantongin di tas, masih SMA udah ngajak nikah.


Permainan Deden Key akui memang lihai, ia dengan mudah menghindari lawannya yang hendak merebut bola. Walaupun sesekali Deden menari goyang itik di sela-selanya menggiring bola, ia tetap tidak kehilangan konsentrasi dan berhasil mencetak gol, seperti yang Vino ucapkan.


Latihan sudah usai, langit pun sudah tampak gelap, beberapa siswi yang tadi bersorak sudah mulai membubarkan barisan. Key melihat Deden yang menggunakan kaos putih polos dan celana abunya mendekat,  beberapa siswa menjerit melihat Deden yang mengusap wajahnya yang berkeringat, ia juga mengibaskan rambutnya yang sedikit basah. Sesaat Key merasa terhipnotis, tetapi ia langsung menyadarkan diri dan melihat Viera yang sudah tidak ada di sebelahnya.


Key melihat sekeliling mencari Viera anak itu benar-benar menghilang, apa Viera itu sebenarnya anak jin bisa menghilang? Key bergidik merinding.


Didepan Key, Deden sudah berdiri menyodorkan minuman botol, karena memang Key juga haus ia pun membuka tutupnya dan meminumnya.


"Urang juga atuh, Key, capek," ucap Deden berbicara, Key hanya menatapnya bingung.


Dilihat dari dekat wajah Deden memang terlihat mempesona, lehernya jenjang naik turun menelan minum, dengan rahang yang tegas,  hidungnya yang mancung bak perosotan TK, kulit wajahnya yang mulus serta matanya yang tajam membuat Key sejenak menatap fokus. Deden memang tampan, sayang ketampanannya tertutup oleh sikap gesreknya.


"Kenapa maneh, Key?" tanya Deden melihat Key melamun, ia menurunkan tangan key dan memperhatikannya serius, wajahnya semakin mendekat hingga Key harus menahan napasnya.


Jantung Key kembali kambuh dengan detakannya yang sangat cepat, wajah Key mulai merona merah. Cepat-cepat Key tersadar dan menutup hidung dan mulutnya.


"Badan lo bau bangke, bersih-bersih dulu sana gih," ucap Key kembali menetralkan jantungnya.


"Yaudah maneh tungguin sebentar ya ...."


Deden terkekeh mendengar ucapan Key, ia pun memgambil ranselnya untuk sekedar membersihkan diri di kamar mandi sekolah dengan cepat.


*   *   *   *   *


Deden memelajukan motornya pelan membelah jalanan menuju rumah Key, ia yang hanya memakai seragam dan helm full face tak henti-hentinya tersenyum senang.


Key duduk dengan canggung memegangi pundak Deden di jok belakang yang menukik, ia menahan tubuhnya agar tak merosot ke depan.


"Key urang dingin," ucap Deden sedikit berteriak, karena sekarang jalanan mulai cukup ramai dengan kendaraan.


"Terus?" tanya Key.

__ADS_1


"Pegangannya jangan di pundak, berasa tukang ojek urang."


"Terus lo maunya gimana?"


"Peluk urang didepan dingin," pinta Deden.


Rambut Deden masih basah setelah mandi secepat kilat untuk menghilangkan keringatnya sesudah bermain futsal, jaket Deden melekat manis di tubuh Key. Key selalu nyaman menghirup wangi parfum Deden yang melekat di jaketnya, ataupun cowok dihadapannya.


Perkataan Deden benar juga, pasti Deden sedang kedinginan mengendarai motornya. Ragu-ragu Key menurunkan tangannya, melingkarkannya di pinggang Deden. Deden yang merasakan Key yang mulai memeluknya tersenyum di balik helm fullface nya.


"Maneh udah suka belum, Key, sama urang?" tanya Deden masih tersenyum.


"Gak tahu, nanti gue pikirin setelah Upin-Ipin lulus TK," jawab Key asal.


Deden terkekeh di depan, sejak kapan Key bisa melawak? Sepertinya ia mulai tertular vitus Deden.


"Kapan tuh, Key?" tanya Deden.


Key merasakan ponselnya yang bergetar di saku seragamnya. Ia tiba-tiba mengingat suatu hal.


"Den lo bisa lebih cepet ga, gue baru inget kalo ada janji," ucap Key.


"Siapa? Kak Bagas?" tembak Deden yang 100 persen benar.


Key tidak menjawab pertanyaan Deden, ia hanya menunduk merasa bersalah.


"Yaudah urang ngebut,"


Deden menambah kecepatan motornya, Key di belakang semakin mengeratkan pelukannya takut terjatuh.


*   *   *   *   *


Urang \= Saya


Maneh \= Kamu


"Pak, Pak kasim," panggil author.


"Kenapa, neng, mau bakso?" tanya Pak Kasim memegang sebuah mangkok.


"Saya beli sepuluh mangkok pak, tapi pak kasim promo dulu,"


"Yang bener, neng? Wah .... Hy gaes jangan lupa vote, like, krisan dan klik favorit cerita ini ya," ucap Pak kasim berseri-seri.


Author dan para cast pun makan bakso yang sudah disiapkan Pak Kasim dengan lahap, setelah semuanya selesai author mendekat ke arah Pak Kasim ragu-ragu.


"Ehm ... Pak, saya kasbon di bayarin Deden yaa." Author langsung melipir pergi, lari dari tempat kejadian.

__ADS_1


"Woy, thor, katanya maneh yang traktir, kok urang yang bayar." Deden kaget mendengarnya, ia mengejar author yang telah berlari jauh sambil membawa sendok sayur Pak Kasim.


__ADS_2