Pangeran Gesrek

Pangeran Gesrek
Menyerah


__ADS_3

"Eta cungukna takol ku sapu, sing hiber.(Itu kecoaknya pukul pake sapu, nanti terbang)"


Deden berteriak, panik melihat hewan hama satu itu lewat. Ia memegang sapu tinggi-tinggi, mencoba memukul kecoa yang tadi ia lihat. Gibran dan Vino juga melakukan hal yang sama, mereka bertiga berlari heboh mengejar satu kecoak yang berlari ke balik lemari, berniat mencabut nyawa sang kecoak.


"Bawah meja, bawah meja," ucap Vino memberitahu kedua sahabatnya tentang keberadaan sang kecoak musuh mereka, yang sudah berlari pindah tempat.


"Kepung kecoaknya kepung," ucap Gibran.


Vino dan gibran sudah bersiap mengangkat meja tempat persembunyian sang kecoak, Deden memegang sapunya gemetar bak pemain softball yang sedang memegang tongkatnya.


"Satu ... dua ... tiga ...," ucap Deden tak bersuara mengisyaratkan kedua sahabatnya itu.


Plakk ....


"Mati maneh sama urang," Deden menampilkan wajah menyeramkan menatap sang kecoak.


Kecoak itu tampak menggeliat di balik sapu yang Deden pegang untuk menahan pergerakan, ia terus bergerak seperti memohon meminta pertolongan untuk dilepaskan.


"Jangan harap maneh bisa lepas, ini hari terakhir maneh menghirup udara kotor perpus hahaha ...."


Deden tertawa evil melihat sang kecoak yang tak berdaya, Gibran memegang satu antena sang kecoak mengangkatnya ke atas. muka Deden tampak pucat melihat kecoak itu mulai diangkat, Gibran yang melihatnya tersenyum jahil.


"Woy jauhin gak maneh, belom pernah digigit komodo ompong, ya, Vin gigit!"


Deden panik dan naik ke atas kursi karena Gibran mendekatkan kecoak itu ke hadapan mukanya.


"Lah gue komodo ompong dong?"


Vino yang tak terima malah mendukung Gibran menakut-nakuti Deden, Ia memegangi Deden agar tak kabur.


"Mak! ... tolongin Deden," ucap Deden berteriak, berusaha lepas dari cengkraman Vino.


"Hahahahaha...."


Key yang mendengar keributan dari luar perpus dan langsung menghampiri melihat seluruh kejadian tadi, ia pun memegangi perut karena tak kuat menahan tawanya. Bayangkan saja seorang Deden yang biasa ditempeli kedua sahabat cunguknya malahan takut sama cunguk asli.


Ketiga orang yang tengah ribut itu menoleh ke arah suara, dilihatnya Key yang berdiri di ambang pintu. Deden yang masih dipegangi Vino itu sempat terpesona melihat wajah Key tertawa, terlihat sangat imut.


"Lo ngapain disini, Key?" tanya Gibran menatap kecoak yang tadi ditangannya berhasil meloloskan diri.


"Gue tadi dihukum disuruh bersihin perpus bareng Viera," ucap Key kembali ke mode datarnya.


Viera yang baru tiba itu tampak kebingungan melihat Deden dan sahabatnya di perpus, ia baru saja berlari mengejar Key yang meninggalkannya.


"Kalian ngapain ada disini?" tanya Viera heran.


"Oh, tadi kita juga abis dihukum gara-gara bantuin rencana Deden ngerubah plank nama SMA BHAYANGKARA jadi TK PELANGI pake spidol warna-warni," ucap Vino santai, sedangkan Viera yang mendengar tampak menahan tawanya.


"Giliran kita udah selesai kan, urang mau pulang," ucap Deden dingin menjauh dari perpustakaan.


"Tuh anak ketularan Key?" tanya Viera bingung melihat sikap Deden.


Vino dan Gibran hanya mengangkat bahu tak tahu, dan pergi mengikuti Deden.


"Lo lagi marahan apa gimana sih Key sama Deden?" tanya Viera melihat ketiga orang itu menjauh.


Key tidak menjawab, mukanya sendu. Ia hanya mulai membereskan buku di perpustakaan, dan segera mengambil sapu yang tadi Deden pegang.


"Ya tuhan, sering banget gue dikacangin. Kalo bisa dijual udah dapet lamborghini kali gue," ucap Viera memelas dan mulai membantu Key membersihkan perpustakaan.

__ADS_1


* * * * *


Hari sudah sore sekolah sudah sangat sepi, Key menunduk sendirian menunggu angkutan umum di depan Halte bus dekat sekolah. Viera sudah pulang dari tadi dijemput supirnya, ia tidak bisa ikut karena rumah mereka yang tak searah, takutnya Key malah merepotkan, padahal tadi Viera sudah memaksa tapi Key tetap menolaknya.


Awan tampak mulai gelap, sepertinya akan turun hujan, angkutan umum ke arah rumah Key memang jarang sekali lewat.


Hampir satu jam lebih Key menunggu, ia duduk di kursi panjang halte, berdiri, memainkan ponselnya, duduk lagi, melihat jalan ke kanan dan ke kiri, berdiri lagi, mengecek apakah angkutannya sudah ada, duduk lagi, berdiri lagi, duduk lagi, memainkan ponselnya kembali, berdiri lagi, duduk lagi, berdiri lagi. terus saja sampai pembaca jadi bosan bacanya *eh ....


Sebuah motor ninja merah tiba-tiba berhenti tepat di depan Key berdiri, Key menoleh ke arah orang yang turun dari motornya setelah membuka helm fullface hitamnya.


Key bingung melihat Deden yang turun dari motor ninja itu, bukankah tadi Deden sudah pulang duluan? Seturunnya dari motor Deden langsung melambaikan tangan, Deden melambai ke arah pohon di sebelah halte ..., melambai ke tong sampah ..., ke rumput yang bergoyang ..., ke jalanan yang cukup sepi ..., ke atas langit ..., dan terakhir ke arah Key. Sepertinya Deden kehilangan sebelah otaknya dan sekarang sedang mencari, apa harus Key bantu?


"Ngapain, lo?"tanya Key menautkan alisnya kebingungan.


"Kan biasanya kalo udah gak kuat, boleh lambaikan tangan ke arah kamera, ini urang lagi lambai tangan nyari kamera, Key. Urang udah gak kuat Key, urang gak kuat buat sehari aja berhenti perhatian dan merhatiin maneh, " ucap Deden menjelaskan.


Key tersenyum tipis, entah mengapa hatinya terasa lega dan menghangat. Namun, Key segera menyembunyikan ekspresinya, ia menyilangkan tangannya di atas dada.


"Terus?" tanya Key.


"Walaupun maneh udah jadian sama Kak Bagas, pokoknya Sebelum janur kuning melengkung, seorang Deden masih bisa menikung," ucap Deden menyemangati dirinya.


"Kata siapa gue jadian sama Kak Bagas?"


"Jadi enggak?"


Key mengangguk pelan menjawab pertanyaan Deden, menahan senyum melihat ekspresi wajah Deden yang melongo mendengar jawabannya.


"Yes! masih ada kesempatan, " ucap Deden gembira.


"Ayo urang anter maneh pulang keburu kesorean, mau hujan juga kayaknya. Gak ada tolakan buat kali ini!" lanjut Deden.


"Pake jaket urang, Key, takut tengah jalan kehujanan nanti maneh sakit," Deden memberikan jaket armynya.


Key yang sedari tadi berdiri itu memakai jaket dan memakai helm yang Deden berikan, wangi harum parfum yang melekat di jaket Deden yang ia pakai terasa menenangkan.


Ia menaiki motor Deden yang telah siap melaju itu.


Di tengah perjalanan terasa canggung, Deden melajukan motornya pelan sedangkan Key tengah sibuk berpegangan ke jok belakang karena posisinya yang terus melorot ke arah Deden.


"Kalo mau pegangan aja, Key, mau peluk juga boleh. Daripada maneh nyungsep tengah jalan, nanti urang kira bonceng hantu tadi, tiba-tiba ngilang." ucap Deden tersenyum dibalik helmnya, ia melihat wajah Kebingungan Key di spion mencari pegangan yang nyaman.


Ragu-ragu Key memegang pinggang Deden, posisi duduknya mulai membaik dan terasa nyaman.


"Ehm ... ehm ...." Key berdehem bingung hendak memulai pembicaraan.


"Kalo maneh mau ngomong, ngomong aja Key gausah dehem gitu nanti dikiranya Nisa Sabyan."


Punggung Deden tampak bergetar tanda ia sedang tertawa di depan Key, Key pun merasa malu karena tak berani bicara duluan. Memang biasanya Deden yang memulai pembicaraan duluan, dan sekarang terbalik, rasanya Key ingin sekali bertanya sesuatu.


"Ehm ... tadi pagi gue liat lo ngelamar Zea, ya?"


Tawa Deden terdengar lebih keras, "Bukan..., tadi pagi itu urang ngebujuk Zea doang. Gak bisa dong seorang Deden ngebujuk orang dengan hal biasa, makanya urang pake kotak perhiasan maenan punya adiknya Vino. Ternyata maneh kemakan hoax juga ya Key, apa jangan-jangan maneh cemburu?"


"Apa sih gue biasa aja," ujar Key memahan malu, mukanya sekarang semakin memerah.


Rintik kecil hujan mulai membasahi jalanan saat itu, langit sudah mulai berwarna jingga tanda matahari mulai kembali ke tempat istirahatannya.


"Pegangan yang erat, Key, urang mau ngebut keburu hujannya tambah besar," ucap Deden memperingati.

__ADS_1


Key yang tak siap itu terkejut dan memeluk Deden erat, ia menutup matanya takut. Deden hanya melebarkan senyuman, merasakan tangan gadis itu melingkar erat di pinggangnya.


* * * * *


"Udah sampe Key, maneh mau meluk urang berapa lama lagi?" ucap Deden menyadarkan Key.


Key membuka matanya, ia melepaskan pelukannya di pinggang Deden. Hari sudah gelap, sepertinya ia pulang sangat telat gara-gara dihukum tadi.


Ibu Deva (Bundanya Key) yang sedari tadi memperhatikan mereka dari depan pintu rumah, langsung menjewer kedua murid SMA yang berdiri di depan gerbang rumah.


"Dari mana aja kalian? jam segini baru pulang," ucap Bunda Deva memperkuat tarikannya.


"Aduh bun sakit, nanti Key jelasin deh," ucap Key memohon.


"Siapa lagi ini, Key?" tanya Bunda Devi menoleh ke arah Deden.


"I- itu tante urang temennya spongebob," jawab Deden asal sambil meringis.


Bunda Devi menarik kedua siswa itu masuk ke dalam rumah, ketika sampai di dalam rumah baru ia melepaskan tarikan di telinga dua siswa itu.


Deden dan Key kompak memegangi telinga mereka yang merah seperti tomat itu, mereka berdiri menghadap Bunda Devi yang berdiri menyilangkan tangannya dihadapan mereka berdua.


Deden dan Key menunduk takut melihat tatapan Bunda Devi yang tajam seperti elang melihat mangsanya, mereka tak berani menatap balik.


"Coba jelaskan!" ucap Bunda Devi tegas.


"Tadi Key dihukum bersihin perpus bun, kan udah terlalu sore jadi Key dianterin Deden," ucap Key menjelaskan.


"Kamu yang katanya temennya spongebob. Nama kamu Deden ya ... kamu pacarnya Key?" tanya Bunda Devi lagi.


"OTW, Bun! lagi usaha,"  jawab Deden refleks bersemangat.


Bunda Devi memberikan tatapan menyelidik kepada Deden, ia melihat Deden dari atas hingga bawah. Ia melihat Key yang memakai jaket tak dikenalinya, sepertinya itu milik Deden.


Key menatap tajam Deden yang seenaknya memanggil bunda pada ibunya, Deden yang di pandangi kedua wanita di dekatnya hanya nyengir tak bersalah.


"Hahaha ... kamu orang sunda, ya, gak papa panggil bunda semau kamu juga. Nanti makan disini dulu, ya."


Bunda Devi tiba-tiba tertawa dan meninggalkan kedua murid yang menatapnya bingung.


"Bunda kesambet?" ucap Key pelan.


*   *   *   *   *


Urang \= Saya


Maneh \= Kamu


"Deden khe-mana thor?" tanya Zea terbata-bata.


"Ajak dulu readers buat dukung author lahh Ze," titah Author.


"Hy, readers don't forget to like, add favorite and comment for this story see ya!" ucap Zea singkat.


"Pake bahasa indonesia lahh Ze," titah author lagi.


"Males lah, akhu jarang muncul di cerita kok. Akhu mau cari Deden lagi," ucap Zea melangkah pergi.


"Kok cast semua gak ada yang nurut yah hiks, Jangan lupa Klik like, favorit, dan komen nya gaes! Ditunggu krisarnya juga, " ucap Author sendu di pojokan.

__ADS_1


__ADS_2