
Washington, D.C. 10 tahun yang lalu.
* * * * *
Kafa POV
"What happend, kid? (Apa yang terjadi, nak?)" Papa Dirga berjongkok, ia mensejajarkan dirinya denganku yang sedang kesal karena pertunjukan bodoh ini.
"I don't want to be a prince! I want to be a rock. (Aku tidak mau menjadi pangeran! Aku mau menjadi batu.) "
Pertunjukan akhir tahun sekolah sebentar lagi di mulai, kelasku berkontribusi menampilkan sebuah drama putri cinderella. Aku terpilih sebagai pangeran, awalnya aku baik-baik saja menerimanya karena kupikir, dengan menjadi seorang pangeran aku akan bermain pedang dan menusuk orang, tapi kenyataan merusak ekspetasiku. Adeganku penuh dengan membawa sepatu kemana-mana, rasanya aku seperti sedang menjualnya dan di akhir adegan, aku menyatakan perasaan kepada seorang gadis yang menjadi putri cinderella. Aku tak paham apa yang dipikirkan oleh guruku, yang benar saja, apakah wajar anak usia tujuh tahun sepertiku disuruh menyatakan cinta? Aku tidak mau! Aku ingin menjadi batu saja!
Mama dan papaku membujukku yang sedari tadi diam di belakang panggung, aku merasa kesal sekali, ingin menelan orang rasanya. Apalagi sekarang aku mengenakan kostum pangeran aneh dengan banyak benang-benang. Ah ... aku merasa seperti mesin jahit berjalan.
"Pangeran kan kuat, gagah dan tampan, terus kenapa Kafa gak mau jadi pangeran?" bujuk Mama mengelus rambutku pelan.
"Dramanya buat cewek! Dialog Kafa juga banyak banget, Kafa pusing. Mending jadi batu kayak Juna, dia tinggal diem aja sampe selesai, mentok-mentok gerakannya cuma gelinding doang."
"Haha! Kafa benar. Kafa tahu gak? Banyak yang pengen jadi pangeran kayak Kafa?" Dania---Mamaku---mengangguk membenarkan ucapanku. "Gimana kalo kita main kerajaan-kerajaan?"
"That's a good idea! Kafa jadi pangeran. Papa jadi baginda raja, dan mama jadi baginda ratu," ucap papa bersemangat.
Kerajaan? Bersama kedua orang tuaku? Sepertinya menarik. Di dalam kerajaan keluargaku aku akan menjadi pangeran kejam dengan menangih pajak tinggi-tinggi pada seluruh masyarakat, aku juga akan mutilasi para musuh yang mengusik kerajaanku dan membuat bom panci untuk mereka? Aku tidak akan dipenjara karena aku pangeran, aku juga masih kecil. Sepertinya akan seru.
"Iya, jadi nanti kalo Kafa ada dialog yang susah pas tampil. Tinggal inget baginda mama, sama baginda papa yang dukung. Eh, baginda raja dan ratu maksud mama."
"Kafa lebih suka panggil baginda mama, sama baginda papa! Oke, i will try it. Kafa akan coba jadi pangeran." Aku tersenyum bersemangat, setelah ini aku akan mengajak baginda mama dan papa bermain kerajaan bersamaku di rumah."Terus kerajaannya, Kafa pengen kasih nama Dedemit palace."
"Haha ... hantu semua dong rakyatnya? Yaudah, yang penting sekarang Kafa semangat buat pertunjukannya." Mama tersenyum manis padaku, senyuman yang selalu membuatku bahagia."Baginda mama dukung Kafa, semangat!"
"Baginda papa dukung kamu juga!"
"Kafa sayang kalian berdua," ucapku memeluk orang tuaku, kemudian bersiap naik ke atas panggung.
Pertunjukan berjalan lancar di awal-awal, semuanya mengerjakan tugas dengan baik. Namun aku kesal, ketika adegan aku yang akan memasangkan sepatu pada Zea yang menjadi putri. Kakinya tidak mau diam, ingin ku ikat kakinya pada tiang bendera.
"Zea diam! Kafa mau pasangin sepatunya! Kalo kaki kamu gak mau diam, Kafa amputasi kaki kamu." Aku sudah tidak sabar, aku membentaknya dan akhirnya dia diam sambil menatapku dengan senyuman, aneh bukan? Aku tidak peduli, yang penting sekarang aku dapat memakaikan sepatu kaca padanya. Aku hanya ingin pertunjukan ini berakhir dengan cepat, terserah para penonton mau bilang apa.
Akhirnya pertunjukan berakhir, aku sedang menuju parkiran karena baginda mama dan baginda papa menunggu di sana. Seorang gadis dengan rambut sebahu dan memakai gaun, mengikutiku dari belakang.
"Mau apa kamu, Zea?! Jangan mengikutiku." Aku mempercepat langkah menuju parkiran, Zea hanya tersenyum, ia masih mengikuti di belakang.
"Hush ... hush ...." ucapku mengusirnya pelan, ia tak memperdulikanku dan terus saja mengikutiku satu meter di belakang.
Aku mulai berlari, takut Zea kembali mengikuti. "Pait! Pait! Pait! Pait! Pait!" Aku mengulang-ngulang perkataanku. Baginda mama pernah bilang, jika ada tawon atau hal yang tidak kamu sukai kamu bisa bilang 'pait' biasanya setelah itu akan pergi. Tapu kenapa Zea tidak pergi?
"Kenapa kamu masih mengikutiku?! Aku sudah mengataimu pait-pait. Seharusnya kau menghilang." Aku mendorong tubuhnya hingga terjatuh, Zea kembali berdiri dan tersenyum, ia kembali mengikutiku
__ADS_1
Aku berlari, Zea yang di belakang ikut berlari. "Numpang-numpang anak ganteng lewat. Numpang-numpang anak ganteng lewat. Baginda mama!" Aku berteriak, semakin mempercepat langkahku. "Ya Tuhan ... jauhkanlah Kafa yang ganteng ini dari makhluk abstrak di belakang."
[Grep!]
Ia berhasil memegang lenganku, aku yang terkejut sontak berteriak. "Jangan sentuh Kafa! Jangan sentuh Kafa! Kafa ji-jik ... sama kamu."
"Maneh kenapa, Kafa?" tanya Rayyan kebingungan, ternyata ia yang memegang lenganku.
"Tadi Kafa dikejar-" ucapanku terhenti saat Juna datang bersama Zea. "Heh! Kamu ngapain bareng cewek itu?! Jauhin dia dari aku! Masukin botol!"
"Hahaha ... emangnya kamu kira jin." Juna tertawa melihatku yang tadi berteriak panik.
"Maneh kenapa, Kafa? Zea gak berbahaya tahu ... dia aman. Dia bukan makhluk pemangsa manusia juga, tuh aku sentuh tanganku gak digi-" Zea menggigit jari telunjuk Rayyan yang tadi menyentuh pipinya. "Aaaa! Rabies urang rabies!" Rayyan ikut berteriak panik, menatap jarinya yang menjadi korban kekerasan. Ia melompat-lompat hingga berguling-guling tak jelas.
Juna memegang lengan Rayyan ke belakang, aku memegang jidat Rayyan yang seluas samudra dan sedalam lautan, eh. "Maneh saha?! (Kamu siapa?!)" tanyaku sambil merapalkan kalimat-kaliamat yang aku sendiri tak tahu apa artinya. Aku melihat cara seperti ini di televisi, cara yang biasa digunakan orang berjubah hitam untuk menenangkan seseorang.
"Aing macan! (Aku macan!)" Rayyan menggeram, matanya melotot tajam.
"K- kenapa kamu kok bisa jadi macan?" tanya Juna gugup sekaligus penasaran.
"Dengan bis*uat semua bisa jadi macan."
Plak!
Aku menepuk jidat Rayyan keras, bisa-bisanya ia promo. Untung saja jidatnya tidak semakin lebar. Memang teman sebangkuku ini terkadang otaknya ketinggalan atau mungkin disewakan.
"Kalian ngapain, sih?" Zea yang kulihat sedari tadi hanya diam akhirnya mengeluarkan kata dari mulutnya. Ia tampak kebingungan melihat kelakuan kami, yang sebenarnya sudah sering kami tunjukan di kelas, seharusnya ia sudah tidak merasa aneh bukan?
"Akhu mau bicara sama pangeran." Zea meliriku sambil tersenyum manis.
"Sini bicara sama batu dulu!" Juna berdiri di antara aku dan Zea, ia masih memakai kostum batunya setelah pertunjukan tadi, bagus Juna, good boy.
"Batu kan gak bisa ngomong?"
"Bisa, kok."
"Batu apa?"
"Muhammad Ibnu Batu-rrahman."
"Itu orang! Bukan batu."
"Yang penting ada batu-batunya. Mau batu kerikil, batu akik, baturrahman, candi batubudur, sama aja batu."
"Awas, deh!" Zea menyingkirkan Juna ke samping, sekarang ia berhadapan denganku.
"Pangeran, akhu mau kamu jadi pangeran akhu terus!" ucapnya semangat dan penuh keyakinan.
__ADS_1
Aku bingung apa maksudnya? apakah artinya aku harus terus memakaikan sepatu kaca pada kakinya yang tak bisa diam itu?
"No!" ucapku menolak, aku tidak ingin terus-terusan membawa sepatu yang hanya sebelah.
"Kita nikah langsung?!" tanya Zea kembali dengan wajah polosnya.
Apa-apaan ini? Sepertinya Zea tengah mengalami overdosis obat nyamuk. "Tidak mau! Aku mau cari princess sendiri, yang tak perlu memakai sepatu!"
"Akhu akan terus mengejarmu!"
"Kafa tak peduli." Aku kembali berlari, lebih cepat dari sebelumnya.
Zea sepertinya tidak mengejarku kembali, aku mulai memelankan langkahku. Zea memang tak mengejarku tapi kedua makhluk titisan jantung pisang ini malah mengikutiku.
"Kenapa kalian mengikutiku?" tanyaku pada Juna dan Rayyan yang sudah berada di sampingku.
"Kita bakal temenin kamu ke om sama tante, biar gak ada kuntilanak yang nyulik."
"Ngaco! Mana ada kuntilanak di gedung? Mau nemplok di mana? Lift? Gaya banget."
"Tapi, ada tahu kuntilanak di gedung," ucap Rayyan yang membuatku tiba-tiba merinding.
"Eh ... Rayyan memang kamu tadi di pertunjukan jadi apa? Kok pake kostum ulet?" tanyaku mengalihkan pembicaraan, sebenarnya sedari tadi aku juga penasaran.
"Urang jadi ulet di apel yang ada dikasih nenek sihir, pas mau dimakan putri."
"Oh ...." Aku dan Juna mengangguk paham.
"Tunggu sejak kapan cerita cinderella ada apelnya? Bukannya itu cerita putri salju? Lagi pula apa faedah dan dialog si uletnya di cerita?" tanya Juna yang tampak berpikir keras.
"Urang yang bisikin putrinya supaya tobat! Jangan kebanyakan makan apel, banyak jiwa ulet yang jadi korban."
"Terserah."
*Flashback OFF/ Kafa POV end.*
* * * * *
Deden berlutut di hadapan Dirga yang hendak masuk ke dalam mobilnya. Tangannya terangkat memohon, wajahnya menampilkan kesungguhan, ia benar-benar tulus.
"Urang mohon! Tolong baginda papa kasih kesempatan sekali lagi, urang gak akan ngelakuin kesalahan lagi. Kalo urang ngelanggar, urang terima konsekuensinya."
* * * * *
Hy gaes happy reading! Jangan lupa krisannya juga, maafin author kalo ada salah😂
Urang \= Saya
__ADS_1
Maneh \= Kamu
Jangan lupa, like, komen, vote, klik fav dan RATE bintang lima yaa ... See you next part.