Pangeran Gesrek

Pangeran Gesrek
Siapa?


__ADS_3

"Heh, lur. Urang mau cerita." Deden diikuti dua cunguk sudah bergabung dengan meja yang ditempati Key dan Viera di kantin, mereka tengah menunggu pesanan bakso mereka di kios Pak Kasim.


"Apa?" tanya Viera penasaran.


Mereka semakin mendekatkan diri ke arah Deden menatap dengan serius orang yang hendak bercerita.


"Pada ... suatu hari, hiduplah seekor ikan sendirian, dan dia jomblo. The end."


Ptak!


Gibran memukul belakang kepala Deden kencang, hingga si empunya kepala meringis kesakitan.


"Gue udah serius dengerin juga! Heh ... Gue bakar juga, lo," ucap Gibran kesal, ia mengangkat tangannya hendak kembali memukul, tapi ia urungkan.


"Muka kalian cengo banget tadi." Deden terkekeh geli, ia memegangi perutnya, tak bisa menahan tawa. Wajah para sahabatnya tadi benar-benar serius ketika sedang memperhatikannya.


"Lo, gue, end," timpal Vino menatap Deden tajam, ia menggerakan jarinya di sekitar leher, berniat mengintimidasi.


"Pantes, Key masih gak mau sama, lo." Viera mendengus, ia menyesal mendengarkan Deden yang bercerita.


"Ini asli, urang beneran mau cerita, sekalian minta saran," ucap Deden masih dengan sisa tawanya, ia menatap Key yang hanya menatapnya datar.


Pak Kasim datang membawa pesanan bakso mereka, yang langsung diterima secepat kilat.  Mereka masih berusaha peduli pada Deden yang hendak bercerita walaupun sebenarnya tak ingin.


"Cerita apaan, Den. Gue sambil makan, deh. Nunggu lo cerita keburu ada perang dunia ke-3, bisa-bisa batu malin kundang berdiri saking pegelnya nunggu lo cerita." Viera mengambil sendok dan garpu, mulai memakan baksonya.


Deden tertawa, ia melihat Key yang sedang memasukan banyak-banyak cabai pada mangkok baksonya, Key yang ditatap hanya menatap balik kebingungan.


"Semalem urang ketemu cewek, cantik ... banget. Terus urang dipeluk, sumpah! pelukannya bikin nyaman." Deden mulai bercerita, baksonya masih belum ia sentuh.


"Terus-terus?" tanya Vino tampak antusias, ia menyuapkan satu bakso ke mulutnya. Key menghentikan gerakannya, wajahnya mulai merona merah.


"Jantung urang dibikin dangdutan tujuh hari tujuh malem tanpa bayaran sama cewek itu, dia juga bilang gini sama urang 'Lo, cakep' sambil malu-malu gitu."


"Gila! Lo punya gebetan baru, Den? Lo suka cewek itu?" Gibran tampak terkejut mendengar cerita Deden.


"Iya, urang suka," jawab Deden mengangguk, Key hanya diam, pura-pura tak mendengarkan. "Pas itu, rasanya urang pengen langsung jungkir-balik, tapi gak jadi karena di depan urang danau. Urang takut tenggelem, kan urang cuman bisa renang gaya batu."


"Terus-terus?" tanya Vino lagi semakin semangat mendengarkan.


"Urang kayaknya udah cinta mati sama ceweknya, ini bukan cinta palsu, no tipu-tipu, karena gak pake boraks soalnya urang bukan penjual bakso yang di sensor. Jadi menurut kalian gimana? urang tembak ceweknya, jangan?"


"Saya gak pake boraks! Saya pakenya sianida campur baygon." Pak Kasim ikut berbicara karena kesal mendengar ucapan Deden.


"Sanes Pak Kasim atuh, hampura. Urang mah ngagibahna oge, tukang bakso nu jadi artis, nu mukana ngeblur, suarana kayak ucing kacepet terus namina sok disamarkan jadi Mawar padahal bentukannya cowok. Teu kenging di tiru nu kitu mah, Pak."


[Maaf, bukan Pak Kasim. Saya ngegibahnya tukang bakso yang jadi artis, yang mukanya blur, suaranya kayak kucing kejepit terus namanya suka disamarkan jadi Mawar padahal cowok. Kayak gitu gak boleh ditiru, Pak.]


Deden meluruskan kesalahpahaman yang terjadi, sebelum ia tak mendapat lagi izin ngutang di tempat Pak kasim, bisa-bisa ia rugi. "Pak kasim, mah kasep."

__ADS_1


[Pak Kasim sih, ganteng.]


"Buat kamu gratis, Den!" ucap Pak kasim senang.


"Yang lainnya, Pak?" tanya Vino berharap diberi gratisan juga.


"Bayar! Jangan kayak sobat misqueen!"


"Ya tuhan! Tabahkanlah hati dedek Vino yang ganteng ini."


"Urang jadi pengen muntahin asam lambung urang ke wajah maneh, Vin. Jadi urang gimana, nih?"


"Lampu ijo itu, Den. Tembak aja, lah," Gibran menanggapi semangat. "Dari pada, ehm ... digantung," lanjut Gibran melirik Key, ia tidak tahu jika yang dibicarakan adalah Key.


"Gue dukung lo, Den. Pepet terus, semangat!" ucap Vino ikut memberi saran.


Key menahan tawanya sedari tadi, walaupun ia juga sedikit tersendir saat teman-teman Deden tidak mendukungnya.


"Lo tahu, Den. Siapa nama Ceweknya?" tanya Gibran menatap Deden yang sudah mulai memakan baksonya.


"Namanya K- "


Hap!


Key memasukan cepat bakso yang berlumuran cabai ke mulut Deden yang hendak berbicara. Deden yang terkejut, tanpa sengaja menelan baksonya bulat-bulat. Ia kelabakan mencari air karena tersedak kepedasan, matanya berair tak, wajahnya juga berkeringat, dari dulu Deden memang tak kuat makan makanan pedas.


Duo cunguk yang khawatir langsung memberikan Deden air minum hingga tiga gelas, mereka juga menepuk-nepuk punggung Deden. Deden merasa kembung, seragamnya basah, perutnya juga kenyang oleh air. Key hanya tertawa kecil melihat Deden yang kesusahan.


"Deden! Lo kan tahu kalo Key udah suka sama, lo. Kalo sampe lo nyakitin dia- " Viera menggebrak meja, hingga siswa lainnya juga ikut memperhatikan. Ia menodongkan sebuah garpu dekat pada mata kanan Deden. "Gue jamin mata lo bakal gue congkel, gue puter, dijilat, gue celup ke saos, gue kasih meisis sama coklat, terus gue jual kayak tahu bulat. Hahaha!" Viera mengeluarkan tawa jahatnya, Deden dan yang lainnya merinding melihat Viera.


"S- sejak kapan di cerita ini ada psikopat. Mata urang berasa jadi biskuit romeo, V- Vin, urus pacar maneh," ucap Deden mendorong bahu Vino, Vino pun tampak ngeri menghadapi pacarnya.


"Ra, tenang, ya. Nanti cantiknya ilang loh," Vino menurunkan tangan Viera, berusaha membujuknya.


"Diem!" ucap Viera datar, wajahnya semakin menyeramkan.


"Sabar, sayang."


"Gak bisa, say-"


"Gak boleh gi-"


"-ton!" ucap Viera melanjutkan ucapannya yang tadi terputus.


"Oh, lo ngatain gue?!"


"Iya, kenapa?!"


Gibran memperhatikan Viera dan Vino yang malah berkelahi dengan tatapan miris, Deden dan Key malah asyik mengobrol berdua.

__ADS_1


"Lihatlah dan bukalah, mata batinmu ... melihat yang jomblo, terluka .... Namun, semangatnya takkan pernah pudar ... hingga tuhan kan berikan ... pasangan ... nananan." Gibran bernyanyi dengan mukanya yang dimelas-melaskan, ia merasa sedih karena hanya ia yang tidak memiliki pasangan.


"Ehm ... permisi, akhu boleh bicara sebentar Key sama khamu?" tanya Zea ragu-ragu. Sudah beberapa hari ini ia menghindari orang-orang, Zea juga sudah sejak lama ingin berbicara dengan Key, tetapi ia selalu malu karena sangat merasa bersalah.


"Oke, di sini aja. Gue males gerak." Key berbicara datar menanggapi, ia masih fokus dengan bakso di hadapannya. 


"Akhu- " Zea tampak berpikir sejenak. "Rasanya akhu gak pantas minta maaf, tapi akhu bener-bener keterlaluan dan ngerasa sangat bersalah soal kejadian waktu itu. Akhu ngelakuin semua itu hanya karena Deden, yang sekarang jelas-jelas sudah gak bisa bareng akhu kayak dulu lagi. Deden yang sekarang sudah bersikap baik saja, seharusnya itu sudah cukup. akhu memang pantas dibenci, tapi aku benar-benar sudah sadar dan hanya ingin meminta maaf, akhu gak apa-apa kalo khamu gak mau memaafkanku."


"Gue udah maafin, lo. Karena semua orang pasti pernah salah dan membenarkan dirinya pada suatu fase." Key melemparkan senyum pada Zea yang tadi hanya menunduk. "Mau bakso?" tanya Key yang dibalas anggukan oleh Zea.


"Makasih, Key." Zea memeluk Key sejenak, kemudian memesan satu mangkok lagi pada Pak Kasim, sekarang ia ikut bergabung duduk di depan Gibran.


"Ze?" tanya Gibra memanggil.


"Iya?"


"Lo kan blasteran, ya. Pasti jago bahasa inggris."


"Memangnya kenapa?"


"Bahasa indonesianya 'I Love you' apa?"


"Nope. Akhu gak mau jawab, khamu pasti mau ngegembel. Basi tahu, gak! Mending sana di lampu merah sambil bawa kecrekan."


"Ckk ... gagal deh gue," ucap Gibran pasrah, menarik napas panjang.


"Gibran," ucap Zea yang sekarang balik menyapa.


"Iya, kenapa?" Gibran menanggapi bersemangat.


"Gak apa-apa, manggil aja."


"Eh ... kirain mau balik ngegombal. Gue getok juga, nih."


"Den, gawat!" Juna yang tiba-tiba muncul entah dari mana, menenggak minuman di atas meja, mukanya memerah kelelahan.


"Kenapa, Jun?"


"Papa, lo. Tadi gue ketemu di depan sekolah."


"Baginda papa?"


*    *    *     *     *


Hy gaes happy reading! Jangan lupa krisannya juga, maafin author kalo ada salah😂


Urang \= Saya


Maneh \= Kamu

__ADS_1


Jangan lupa, like, komen, vote, klik fav dan rate bintang lima yaa ... See you next part.


__ADS_2