
Dear hati,
Ketika awal sebuah pertemuan, menjadi memori khusus yang tersimpan. Haruskah dihapus atau dibiarkan menjadi luka?
"Nama gue Rakafa Dean Farizi. Jangan ada yang deket-deket apalagi nyentuh gue kalau kalian masih mau bernapas dengan tenang!" Seorang siswa memperkenalkan diri di dalam kelas saat hari kedua masa pengenalan lingkungan sekolah.
Semua murid terdiam, mendengar pengenalan unik dari siswa tampan berpenampilan urakan.
Tidak banyak kegiatan saat MPLS (Masa pengenalan lingkungan sekolah) kebanyakan hanya perkenalan dan memperkenalkan. MPLS dilaksanakan selama tiga hari, tapi siswa yang berdiri di hadapan Key baru masuk di hari ke-dua.
Awalnya hari itu akan berjalan sempurna bagi Key, guru juga hanya sesekali masuk hingga siswa bebas berkeliaran. Namun, semuanya seketika hancur hanya karena satu sentuhan.
Key hanya sedang berjalan seperti biasa, bergiliran antara kaki kanan dan kaki kiri di dalam kelas. Sebelum seseorang mencekal jalannya.
"Eh ... eh, aduh!"
Brugh!
Hari sial. Key terjatuh menubruk orang di hadapannya, ia menyentuh siswa yang justru sama sekali tak mau disentuh siapapun, bahkan ia sekarang berada di atas tubuhnya. Mereka merasakan napas masing-masing, mendengar suara detak jantung masing-masing.
Mereka segera berdiri, merapikan pakaian. Siswa-siswi lain di dalam kelas mentertawakan.
"Lo mau mati!" Siswa yang bernama Rakafa Dean Farizi itu mencengkaram kerah seragam Key kuat.
"Gue gak sengaja jatoh," ucap Key datar.
"Udah gue bilang, 'kan. Jangan sentuh gue!" bentak siswa itu emosi.
Key balik mencengkaram kerah seragam siswa di hadapannya, walaupun cukup sulit karena perbedaan tinggi, tapi ia memberanikan diri.
"Gue juga udah bilang! Gue gak sengaja!" Key menaikkan suaranya satu oktaf.
"Lo berani sama gue!"
Suasana berubah tegang, fokus perhatian hampir seluruh siswa beralih pada dua orang yang tengah bertengkar.
"Lo kira cuma lo doang yang gak mau disentuh? Gue juga!" cerca Key terdengar tegas, tapi tangannya sedikit gemetar.
"Berantem mulu lo berdua!" Seseorang mendorong siswa di hadapan Key.
__ADS_1
Key menutup mata, ia merasakan sesuatu menempel di pipinya. Mata Key membulat ketika siswa di hadapannya tak lagi memiliki jarak dengannya. Satu hal lagi, tak sengaja Key merasakan detak jantung siswa di hadapannya berubah cepat karena tangan Key yang tak sengaja menyentuh dada siswa tersebut.
"Cowok si*lan!" Key menamparnya dan berlalu pergi.
"Heh! Gue gak sengaja, ya! Jangan geer!" ujar siswa tadi berteriak.
Suara detak yang beraturan, perlahan cepat setiap bertemu dalam satu tatap. Perasaan hangat mengalir, memenuhi ruang kosong.
Sebuah pikir yang awalnya dianggap tak penting. Mendapat tempat khusus, mementingkan arti.
Hati yang dulu beku, perlahan mencair. Hanya dengan sebuah tawa, hanya dengan sebuah kata pemancing tawa, juga dengan tingkah laku pemaksa ceria.
"Hai! Nama urang Deden. Jadian, yuk?" pinta seorang siswa yang dulu berseteru dengan Key saat MPLS. Ternyata dia ganti nama.
"Lo gila?" Key tak mempedulikannya.
"Nama maneh Key, 'kan?"
Key berjalan menjauh, meninggalkan siswa yang terus-terusan mengganggunya.
"Key! KeyKeyi Rahmawati Cantika Putri!" panggil Deden berteriak.
Key menghentikan langkah. "Nama gue bukan itu, ya!"
"Bodo amat!"
Dulu rasa ini bagaikan minyak dan air, tak mungkin bersatu. Namun, ternyata air dan minyak pun bahkan dapat beriringan.
Apakah harus memiliki alasan untuk penyampaian sebuah rasa? Bukankah rasa datang begitu saja tanpa aba-aba?
"Den, kenapa lo suka sama gue?" tanya Key sambil berpegangan.
Motor yang Deden kendarai melaju pelan. Membelah jalanan yang mulai ramai.
Deden tampak berpikir sejenak. Selanjutnya ia malah tertawa keras, Key yang mendengarnya kebingungan.
"Urang ... suka banget sama maneh."
"Alasannya?"
__ADS_1
"Karena maneh orang yang urang suka."
"Dih, gak jelas banget."
"Cukup urang yakin dengan hati sendiri kalo urang suka sama maneh. Berarti urang suka, gak bisa dibantah."
"Emang itu sebuah alasan?"
Deden menghentikan motornya, ia membuka helm dan turun dari motornya dengan mudah tanpa Key ikut turun terlebih dahulu.
Deden menatap Key intens, ia tersenyum. "Kenapa perlu alasan untuk menyukai orang cantik kayak maneh. Pokoknya urang suka sama maneh, jadi ... maneh juga harus suka sama urang. Gimana pun caranya."
Ketika rasa rindu menyelimuti, tapi tak ada titik temu. Lalu apa penawarnya? Satu bulan bukan waktu yang singkat untuk menahan sebuah rasa semu, apalagi ketika mengetahui jika waktu untuk sebuah rindu akan terus berlanjut.
Ternyata ... konsekuensi karena menyukai seseorang akan sesakit ini. Jika memang akhir akan menyedihkan? Mengapa diberikan kebahagiaan sejak awal? Bukankah itu terlalu jahat?
Sekarang ... bagaimana cara menghentikan rasa ini? Dikubur? Dilupakan? Jangan dipedulikan? Rasanya sulit.
Kenapa ada sebuah pertemuan jika akhirnya dipisahkan? Bolehkan menjadi orang egois? Tidak bisakah semuanya berakhir happy ending? Kenapa selalu saja orang-orang yang tersakiti? Siapa yang jahat dan siapa yang menjadi korban? Mengapa begitu sulit untuk ditentukan?
Memang ... semuanya tak akan berjalan sesuai kehendak. Namun, tidak bisakah sebuah tujuan tercapai?
Happily ever after. Itu hanya ada dalam sebuah cerita dongeng bukan? Bahagia selama-lamanya. Tidak ada yang benar-benar berakhir bukan?
Sesuatu yang paling sulit dilakukan adalah merelakan, tapi apakah semua orang harus melakukan itu?
* * * * *
"Key, udah sore. Yuk ... pulang," ucap Bagas melangkah duluan.
"Langit Amerika ... indah, ya, Den?" Setetes air mata meluncur di pipi Key. "Ah ... gue benci nangis."
Key menyimpan sebuket bunga di atas gundukan tanah bertancapkan batu bertuliskan sebuah nama.
"I always love you. Selamat tinggal, My Prince." Key terisak, air mata mulai membanjiri pipinya. "Selamat tinggal, Pangeran Gesrek."
* * * * *
"Berhati-hatilah saat di mana kau banyak tertawa, karena ... mungkin saja suatu hari kau harus membayar dengan dalamnya sebuah kesedihan."
__ADS_1
TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA CERITA HINGGA SEJAUH INI.
TAMAT