
Kelas XI IPS 5 tampak ramai, guru belum masuk untuk mengajar sehingga para siswa masih bebas berkeliaran.
Deden dan duo cunguk tengah duduk melingkar di pojok belakang kelas. Mereka sedang asyik memainkan game di ponsel mereka masing-masing. Ralat, hanya duo cunguk yang terlihat sedang asyik, Deden tampak tidak menikmatinya.
Deden merasa bosan karena di ponselnya memang hanya ada permainan pou dan ular-ularan, padahal ponselnya termasuk keluaran baru dan canggih, entah kenapa isinya hanya itu-itu saja. Deden sudah memandikan, memberi makan, memakaikan baju pounya, dan membuatnya tidur. Ular-ularannya juga sudah semakin besar dan panjang hingga ia pegal memainkannya dan akhirnya mati. Sedangkan, Gibran dan Vino masih asyik memainkan game online di ponselnya, sesekali mereka memekik gemas karena tak berhasil mengalahkan lawan.
Deden memandang heran duo cunguk yang berteriak-teriak kegilaan, sesaat kemudian ia menatap mereka sambil menunjukan seringai jahatnya.
Drttt ... drttt ... drtt ....
"Anj*r siapa nih yang video call! Ponsel gue nge-lag," ucap Gibran memaki kesal.
"Aargh ... gue bentar lagi booyah, Bambank!" Vino juga meremas ponselnya dengan kesal, hampir saja ia melemparnya.
Vino dan Gibran menatap layar ponselnya, nama Deden tertera melakukan panggilan Video call secara bersamaan kepada mereka berdua. Mereka menatap serentak pada Deden yang sedang tersenyum tanpa dosa.
"Deden!" Teriak mereka secara bersamaan, memanggil pelaku yang merusak kebahagiaan.
"Mak! Tolong Deden!"
Deden berlari menghindari duo cunguk, ia berlarian di dalam kelas. Para siswa di dalam kelas hanya menatapnya datar, kejadian seperti itu memang sudah sering terjadi hingga mereka sudah terbiasa.
Dua lawan satu, memang lawan yang tak seimbang. Deden kewalahan menghindari duo cunguk, bahkan ia menyimpan poselnya di sembarang tempat. Deden terus menghindar hingga sesekali menubruk meja dan kursi, ia juga jatuh tersungkur karena tak sengaja menginjak penghapus papan tulis yang entah sejak kapan ada disana.
Deden tertangkap, dengan kekuatan kekompakan dari duo cunguk, ia sudah tak dapat bergerak. Vino memegangi kedua tangannya dan Gibran memegang kedua kakinya, Deden diangkat dengan posisi tengkurap.
"Woy! urang mau dikemanain?! Gak enak banget ini posisinya."
"Kemanain cunguknya, Bran?" tanya Vino masih memegang tangan Deden erat.
"Kena air mati gak, ya? Kita ceburin ke bak mandi di WC sekolah aja," ucap Gibran memberikan usul, Vino mengangguk paham.
Deden terkejut mendengar ucapan Gibran. Mereka mulai membopong tubuh Deden yang terbalik keluar kelas.
"Jangan diceburin! Kalian tahu aja urang belum mandi." Deden memberontak, ia berusaha melepaskan diri, siswa-siswi yang berada di kelas tertawa terbahak, tak ada yang berniat menolong. Memang para kaum berwujud teman sekelas yang laknat.
"Diem, lo harus dihukum. Tadi gue hampir menang," ucap Vino masih merasa dendam.
"Badan urang sakit, cunguk!"
"Deden ...." seseorang memanggil Deden pelan, dalam posisinya Deden mendongak ke arah suara.
Duo cunguk yang paham, segera melepaskan pegangan mereka begitu saja dan pergi kembali ke alamnya di pojok belakang kelas. Wajah Deden harus kembali mencium keramik kelas yang masih polos, sungguh kasihan keramiknya, ia segera berdiri mengusap wajahnya dan bibirnya yang terasa ngilu. Para siswa lainnya kembali tak peduli dan melakukan aktivitasnya masing-masing.
"Kenapa?" tanya Deden dingin, wajahnya datar tanpa ekspresi.
__ADS_1
"Ponsel khamu tadi hampir jatoh dari atas meja." Zea menyodorkan ponsel Deden sambil menunduk, tak berani melihat wajahnya.
"Oh, makasih." Deden menerima ponselnya, ia hendak kembali bergabung dengan duo cunguk.
"Deden," ucap Zea kembali memanggil, Deden menghentikan langkah dan balik menatap Zea.
"Maaf," lirih Zea memainkan jarinya gusar, matanya berkaca-kaca menahan tangis.
"Urang maafin maneh, kok." Deden mengusap rambut Zea pelan. "Maneh harusnya minta maaf sama Key."
Zea menangis, ia memeluk Deden tiba-tiba. "Maaf ...." Zea terisak, dadanya naik-turun tak beraturan, Deden berbalik memeluknya untuk menenangkan. "Akhu janji gak akan jahat lagi."
"Cup ... cup ... udah-udah," ucap Deden sambil menepuk-nepuk pelan punggung Zea.
"Bagus dramanya. Saya jadi terharu, hiks," ucap Pak Tono yang entah sejak kapan sudah berdiri di ambang pintu. "Sekali lagi kalian pacaran di sekolah, saya nikahin kalian! Kalian gak tahu? Saya suka inget istri kalo liat yang romantis-romantis!"
"Bapak aja itu sih, orangnya baperan."
"Duduk kalian!"
Deden dan Zea segera duduk ke bangkunya. Pak Tono segera memulai pelajarannya, ia sudah membuka buku paketnya.
"Deden." Pak Tono memanggil Deden di tengah-tengah pembelajaran.
"Iya, pak?"
"Pertanyaan apa, Pak?"
"Terdapat sepuluh anak kucing di pinggir sungai. Ketika tujuh anak kucing melompat ke sungai, dan sang ibu kucing datang membawa dua anak kucing. Jadi ... berapa lama lagi hidup kamu akan menjomblo?"
Para siswa yang memperhatikan, tampak menahan tawanya mati-matian. Masalahnya, jika mereka tertawa guru di hadapan mereka akan menyerang seperti ksatria dari negara api, sedangkan jika mereka terus-terusan menahan tawa akan ada bunyi dan gas mematikan yang keluar dari bagian bawah tubuh mereka.
"Eh ... apa, Pak?" tanya Deden masih tak paham. "Ini otak urang yang tidak bisa memahami takdir yang mengenaskan, atau memang bapak alih profesi dari pengajar pelajaran Ekonomi jadi ahli bucin lulusan fakultas memcintai tanpa dicintai?"
"Karena kamu tidak bisa jawab, silahkan ke ruang BK," ucap Pak Tono datar kemudiam melanjutkan pelajaran.
"Loh kok, BK? Jangan pak, urang mending jawab deh, pak. Ketika Thomas Alva Edison menemukan lampu terang yang stabil dan tidak pecah seperti percobaan-percobaan sebelumnya. Lampu yang dia temukan dapat menerangi pos ronda dan tempat santuy emak-emak. Jadi jawabannya, urang masih menunggu kesiapan Key untuk menerima urang," jawab Deden lancar tanpa keraguan.
"Silakan ke ruangan BK."
"Urang kan sudah jawab, Pak."
"Dengan segenap hati dan setulus jiwa yang setia, tanpa adanya penghianatan dan mendua. Saya lupa tadi diminta tolong Pak Wiryo buat panggil kamu ke ruangan BK, jadi bukan karena jawaban kamu salah. Jawaban kamu saya kasih nilai seratus, tapi gak masuk nilai raport."
"Lawak deh Pak Tono, diproduksi sepabrik sama Sule ya, Pak? Kenapa gak bilang langsung aja, Pak?" tanya Deden mengangguk, ia mulai paham akan tujuan dan maksud Pak Tono dan kalimat berbelit-belitnya.
__ADS_1
"Jika ada yang rumit mengapa pilih yang mudah? Yasudah kalo kamu sudah paham, kamu ke ruang BK. Untuk yang lainnya, kerjakan bagian buku besar pada soal halaman 50, saya mau ke toilet sebentar."
Pak Tono keluar kelas, para siswa yang sedari tadi menahan tawanya hingga muka mereka memerah, tertawa terbahak-bahak, bahkan ada yang hingga guling-guling tak jelas.
"Mau dianter gak, Den?" tanya Gibran melihat Deden yang hendak beranjak pergi.
"Gak usah, urang baik-baik aja, kok."
"Yakin, Den? Pak Wiryo loh, terus kalo nanti lo di culik tante-tante gimana?" tanya Vino ikut bertanya memastikan.
"Berapa langkah doang dari sini ke BK, urang gak bakal nyasar sampe bulan."
"Den ... khamu gak ada masalah, kan?" Zea di sebelahnya juga ikut khawatir.
"Urang cuma mau ke ruang BK, bukan mau pergi perang dunia tiga. Kenapa kalian jadi pada ribet gini, sih?" tanya Deden menatap para sahabatnya.
"Kalo gitu gue titip diri baik-baik, Den. Jangan lupa sholawat sama dzikir," ucap Vino memberikan nasihatnya.
"Oke, kalian kirim do'a aja, biar urang selamat setelah natap mata Pak Wiryo."
"Pulang dari BK lo harus cerita, sekalian sama lo semalem pergi kemana," ucap Gibran mengepalkan tangannya memberi semangat.
"Oh, yang semalem katanya kalian jadi mata-mata? Hebat kalian, urang sampe gak tahu kalian ngikutin sembunyinya dimana."
Gibran dan Vino tersenyum kikuk, karena kemarin malam bukannya mereka berhasil memata-matai Deden malah ditilang polisi.
Deden pergi meninggalkan kelasnya menuju ruangan BK, ia harus menemui Pak Wiryo. Jantungnya berdetak tak karuan persis seperti saat ia berdekatan dengan Key, mungkinkah Deden juga menyukai Pak Wiryo?
Ruangan khusus berdekatan dengan UKS itu tampak horror dan menyeramkan. Suasana di sekitarnya berbeda 180 derajat dengan ruangan lainnya di sekolah. Terlihat dari luar, ruangannya sungguh mencekam. Lampu remang-remang yang terlihat dari jendela luar semakin menambah suasana menegangkan.
Deden melangkahkan kakinya menuju pintu, jantungnya masih berdetak tak karuan, tangannya gemetar ketika hendak mengetuk pintu berwarna coklat tersebut.
"A ... assalamu'alaikum, Pak. Permisi, urang Deden," ucap Deden gugup, suaranya tampak sedikit bergetar.
"Wa'aalikumussalam, paswordnya?" sebuah suara menjawab dari dalam, Deden belum berani mendorong pintu agar lebih terbuka.
Deden menunduk berusaha mengingat-ngingat, ia menarik napas panjang. Setelah mulai merasa yakin Deden mengangkat kepala dan membusungkan dadanya. "A- "
* * * * *
Hy gaes happy reading! Jangan lupa krisannya juga, maafin author kalo ada salah😂
Urang \= Saya
Maneh \= Kamu
__ADS_1
Jangan lupa, like, komen, vote, klik fav dan rate bintang lima yaa ... See you next part.