Pangeran Gesrek

Pangeran Gesrek
Patah Hati


__ADS_3

Deru suata motor terdengar, Deden berhenti tapat di depan rumah Key. Key tampak terburu-buru masuk ke dalam rumah tanpa mengucap sepatah kata pun lagi pada Deden.


"Kak Bagas penting benget, ya, buat maneh?" Deden tersenyum, tetapi raut wajah sedih yang ia tampilkan.


Deden berniat pergi, ia sudah menyalakan mesin motornya. Namun, sebuah suara menginstruksinya dari dalam rumah.


"Deden!"


Bunda Devi memanggil Deden yang hendak pergi dari dalam rumah, Deden menoleh ke arah suara. Dilihatnya bunda keluar dengan memakai celemek di badannya sambil menggenggam sebuah mixer yang colokannya terlepas dari stop kontak.


"Mau perang kemana, bunda, Kok bawa-bawa mixer? Kayak panglima aja, haha ...."


"Aduh ini bunda lagi bikin kue kering, nanti kamu bawa beberapa, ya ... tunggu dulu sebentar," ucap Bunda sambil menggerak-gerakan mixernya seperti menunjuk Deden.


"Siap, bunda kapten." Deden tersenyum manis sambil hormat menempelkan tangannya disamping kepala.


"Mau nunggu di dalem, Den?"


"Di luar aja bunda, sekalian donor darah secara ikhlas buat nyamuk. kasian pada kurus, gak ada yang nafkahin ."


Bunda Devi hanya tertawa melihat kelakuan Deden dan kembali masuk menyiapkan kue untuk Deden bawa.


Sebuah mobil sedan hitam telah terparkir rapi di depan rumah Key, Bagas keluar dengan setelan jas hitam yang tampak cocok di tubuhnya. Bagas melihat Deden yang sedang duduk bersandar di motornya, ia menatapnya heran.


"Ngapain kamu di sini?" tanya Bagas mengintimidasi.


"Urang lagi jualan cincau rasa cilok."


"Dasar aneh."


"Maaf, komentar dinonaktifkan," ucap Deden dengan suara khas robot.


"Dasar orang stress."


"Komentar melanggar aturan, laporkan komentar ini? Ya atau Tidak?"


"Saya kasihan sama kamu, udah jelas Key gak suka kamu deketin. Kamu malah  terus ganggu hidup dia sampe risih. Segitu ngemisnya cinta, padahal simpenan dimana-mana. Kalo saya jadi Key juga pasti jijik dideketin orang kaya kamu. "


"Orang yang berkomentar minta dihujat. Sabar atau tenggelamkan?"


"Key tuh gak suka cowok gak bener kayak kamu tahu, gak!"


Tangan Deden sudah terkepal kencang, dadanya naik turun menahan amarah. Ia sudah tidak bisa menahan emosinya.


Key keluar dengan gaun peach selutut yang manis, melekat cantik di tubuh Key. Rambut Key dibiarkan terurai bergelombang, make up tipis natural menghiasi wajahnya. Key tampak sangat cantik, hingga dapat membuat Deden melupakan emosinya dan menatap Key tanpa berkedip.


"Ayo, kak, katanya ada yang penting," ucap Key bergegas menyampirkan sling bag putih miliknya.


Bagas dan Deden yang sempat terpana itu tersadar. Dengan segera Bagas menuju mobilnya diikuti Key, ia membukakan pintu mobil sambil tersenyum mempersilakan.


"Bye, Den." Key melambaikan tangan ke arah Deden, memasuki mobil Deden dan menjauh pergi.


Bunda Devi sudah membawa bungkusan kecil untuk Deden bawa, tetapi Deden seperti tak bernyawa, menatap kosong ke arah jalanan.


"Den, kamu kenapa?"


"Sedang memproses rasa sakitnya patah hati, bunda."


*   *   *    *    *


Restoran bintang lima itu tampak ramai dengan pasangan, Bagas menuntun Key ke salah satu meja di dekat jendela di lantai atas.


"Ini ... Dinner, kak?"


Bagas menarik salah satu kursi mempersilakan untuk Key duduki, ia duduk dan memanggil seorang waitters.


"Iya, sekali-sekali."


"Biasanya di taman doang, kak, beliin es krim sama balon."


"Kamu inget gak waktu kecil kita sering main masak-masakan di belakang rumah? kamu masak tanah, saya yang di suruh makan, haha .... "


"Iya, kak, waktu kecil kita sering main bareng. Hujan-hujanan, naik sepeda, manjat pohon sampai jatuh."

__ADS_1


Sejenak memori mereka terputar pada masa lalu, masa kanak-kanak yang terasa menyenangkan.


"Key, kamu gak suka kan sama Deden?" tanya Bagas tiba-tiba.


"Kenapa sih, kak, akhir akhir ini sering banget nanya itu?"


"Jawab aja dulu, Key."


"Gue gak tahu, Kak."


"Kamu tahu kan, kalo Deden itu playboy?"


"Ya siapa tahu kan, kak, orang bisa berubah."


"Gue gak suka lo deket sama Deden, Key."


"Untuk saat ini, kita cuma temenan kok, kak. Gak usah terlalu khawatir."


"Udah berapa kali saya bilang, saya suka kamu, Key."


"Maaf, kak, gue belum tahu sebenernya hati gue buat siapa."


Key menunduk lesu, waktu kecil Bagas selalu menjaga dan mendampingi Key. Key sangat mengagumi lelaki di hadapannya bahkan ia pernah berharap waktu kecil, jika ia besar nanti ia ingin menikah dengan Bagas. Namun, entah kenapa akhir-akhir ini hatinya goyah.


"Yaudah makan aja dulu, saya harap nanti kamu menentukan pilihan yang benar." Bagas mengelus kepala Key lembut, perasaan hangat mengalir di dada Key. Wajah Key mulai merona merah mendapat perlakuan tersebut dari Bagas.


*   *   *   *   *


Kring ....


Pintu cafe terbuka, Bimo yang cemas menunggu karyawannya yang tak kunjung datang akhirnya tersenyum lega.


"Den!" panggil Bimo.


"Oitt."


Deden menghampiri bosnya, ia duduk di salah satu meja membuka bungkusan yang ia bawa.


Deden memakan kue kering yang tadi di berikan oleh Bunda Devi, ia memakannya lahap tanpa memperdulikan Bimo yang dihadapannya.


"Uhuk ... uhuk ... urang numpang tempat doang, makan gak minta sama maneh, kok. Tapi minta minum dong, Bang."


Deden berlari cepat mengambil air minum dan bersiap melanjutkan memakan kuenya.


"Dasar bentol kadal! Kayaknya enak tuh, mau dong." Bimo hendak mengambil satu kue, tetapi tangannya langsung di tepis oleh Deden.


"Khusus dari calon mertua nih, bang, gak usah culametan."


"Pelit banget, lo, nanti susah jodoh."


"Emang gitu bang? Pantes urang susah dapet Key," ucap Deden menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Key siapa?"


"Cewek cantik yang waktu itu dateng pake kaos love."


"Yang rambutnya pirang?"


"Itu sih Zea, Bang."


"Oh iya-iya gue inget, yang duduk deket jendela kan."


"Iya, Bang."


"Den?"


"Apa?"


"Kata siapa itu jodoh, lo?"


Deden yang sedang makan pun menghentikan aktifitasnya, perkataan Bimo seperti pedang. Menusuk tapi tak berdarah.


"Mau gak bang kuenya?"

__ADS_1


"Mau dong,"


"Dua singgit," ucap Deden bergaya layaknya mail, ia menjauhkan kue dari Bimo. Bimo sangat kesal untung saja ia bukan kanibal, jadi Deden tak sampai ia makan.


Kring ....


Pintu cafe kembali terbuka, padahal cafe baru lima menit dibuka, cepat sekali pelanggan datang.


Kerumunan siswi dari SMA yang jaraknya tak jauh dari cafe memesan memanggil Deden sang barista. Beberapa dari mereka ada yang masih menggunakan seragam, jumlah mereka sekitar tujuh orang. Tujuan mereka kesini adalah untuk berkumpul dan nongkrong bersama, tapi tujuan paling utama mereka mencari perhatian Deden sang barista.


"Tuh fans lu udah dateng. Cepet siap-siap kerja!" Bimo menepuk Deden pelan, yang ditepuk malah berjalan gontai bersiap bekerja.


"Padahal kue calon mertua belum habis."


Deden memakai appronnya, ekspresinya ia rubah semanis mungkin melayani mereka yang sudah mengantri untuk memesan. Padahal cukup satu orang saja saja kan yang memesan yang lain tinggal menunggu? Ini mengapa jadi seperti ada pembagian sembako?


"Mau pesan apa?" tanya Deden tersenyum manis.


"Kyaaa ... pesen hati kamu aja satu, tambah bumbu cinta."


"Kalo aku pesen kopi rasa kasih sayang."


"Pesen nomor ponsel kamu aja boleh, gak?"


"Pesen titip jaga diri baik-baik aja ya."


"Pesen mahar buat nikahin aku."


"Pesen dari calon mertuamu, katanya kapan mampir."


"Jangan dengerin mereka, kita samain pesen cappucino aja." ucap gadis berambut lurus sepinggang.


"Akhirnya ada yang waras juga," ucap batin Deden.


"Tapi jangan kebanyakan gula, soalnya nanti minder kalah manis sama kamu, terus bikinnya harus diracik dengan sepenuh hati, ditambahkan aliran perasaan dan diaduk dengan rasa kasih sayang," lanjut gadis itu.


"Ternyata sama aja," batin Deden.


"Oke, urang langsung buat kopinya dengan sepenuh ginjal dan empedu," ucap Deden yang dibalas tawa oleh para siswi.


Deden memijit pangkal hidungnya yang pusing, hampir seriap hari ia mengalami kejadian seperti ini, tapi Deden tidak pernah bisa menghadapi kelakuan para pelanggannya. Apalagi Key yang setiap hari harus melihat kelakuan gesrek Deden? Dasar Deden gak melihat kelakuan sendiri.


Para siswi itu duduk berkerumun sambil terus menatap Deden yang meracik kopi dengan takjub. Mereka berbisik-bisik sambil menatap Deden yang sibuk.


Deden membawa nampan memberikan pesanan mereka, ia hati-hati mendekati takut diterkam. Tapi bukan Deden namanya jika tidak bisa mengatasinya.


"Silahkan diminum," ucap Deden mempersilakan datar.


"Deden sekarang sombong, nanti gak usah kesini lagi, deh." Salah satu dari mereka berucap, bisa gawat kalau pelanggan berkurang, bisa-bisa Deden diblender sama Kak Bimo.


"Maaf yaa, urang kurang sopan, jangan ngambek nanti manisnya ilang." Deden mengedipkan matanya sebelah dilanjut dengan senyuman maut khasnya, sontak saja mereka memekik kegirangan.


Beberapa dari mereka ada yang berdiri dan mencubit pipi Deden, ada juga yang menjambak kepalanya. Tuh kan, mereka benar-benar ganas.


"Apa sih, gak usah pegang-pegang pacar akhu deh." Zea tiba-tiba sudah berdiri merentangkan tangan menghalangi para fans Deden.


"Apa lo bilang, pacar?"


"Iya, khenapa?" Zea berkacak pinggang, tatapannya tajam menatap para siswi dihadapannya.


Merasa Deden diam saja, Zea mencubit perut Deden keras hingga Deden yang masih melongo itu terkejut kesakitan.


"Eh iya, dia pacar urang."


* * * * *


Urang \= Saya


Maneh \= Kamu


See you next part!


**Jangan lupa like, komen, vote, rate dan klik favorite.

__ADS_1


Ditunggu krisannya juga**.


__ADS_2