Pangeran Gesrek

Pangeran Gesrek
Anggota baru


__ADS_3

"Tingky Vino."


"Gibransy."


"Lalajun."


"Deden ...."


"Telecunguk ... telecunguk ... hoy ... baling-baling bambu ...."


Keempat pemuda itu tertawa gembira, layaknya Telettubies sekarang mereka ke mana-mana selalu berempat. Di tambah kehadiran Juna yang tadinya disangka cool oleh para siswi, ternyata tak berbeda jauh dengan Deden dan duo cunguk. Sebagai penyambutan anggota baru dalam persahabatan mereka. Sekarang, Deden, Juna, Gibran, dan Vino mengadakan teater kartun dadakan yang bertempat di kios Pak Kasim sebagai pusatnya. Mereka bisa tiba-tiba menjadi Doraemon, nobita, suneo dan Giant, tiba-tiba juga menjadi Upin, Ipin, Jarjit, dan Ehsan.


Para siswa yang berada di Kantin tak henti-hentinya tertawa melihat kelakuan mereka. Key dan Viera juga duduk di kursi terdepan, tampak sedang menahan tawa. Namun, sesekali Viera menutup muka malu karena kelakuan pacarnya.


"Hey, kawan-kawan. Urang Denpin dan ini Junpin, kita cunguk kembar bersaudara," ucap Deden yang sekarang ber-akting layaknya Upin sambil menunjuk Juna disebelahnya." Kalo yang itu Gibran bayung, sebelahnya lagi Vinrit."


"Salah! Salah! Salah!" timpal Juna menanggapi, ia langsung mendapatkan tatapan bingung dari Deden.


"Se ... lamat pagi, kawan," ucap Gibran menirukan Ehsan yang memimpin temannya ketika guru datang. "Daddy, daddy. Nak Tampan ...."


"Salah! Salah! Salah!" timpal Juna menanggapi lagi.


"Bodo amat!" timpal seluruh siswa yang berada di kantin serentak.


"Dua tiga kecipirit, gak enak dipanggil Vinrit." Vino menunjukan muka memelasnya, para siswa terbahak mendengarnya. "Sumpah gak enak banget percampuran nama gue sama jarjit, jadi berasa dipanggil Jin iprit gue."


"Salah! Salah! Salah!" timpal Juna lagi-lagi menanggapi.


"Lo jangan salah-salah mulu, Jun. Belum pernah dijilat lidah buaya ya?" ucap Vino memeletkan lidahnya, ia masih kesal dipanggil Vinrit. "Deden gue mau protes!"


"Apa sih maneh, Vin? Kan udah dapet peran masing-masing. Jadi kacau, kan."


"Salah! Salah! Salah!"


"Nih si Juna enak banget dialognya, salah, salah, doang," ucap Vino menunjuk Juna yang menampilkan wajah polos."Gue jadi jarjit, gak bisa pantunnya, Karsum!"


"Yaudahlah, kita makan aja kalo gitu. Tujuan kita ke kantin kan emang makan, kenapa jadi maen drama dadakan coba?" ucap Gibran mengusulkan dan dibalas anggukan oleh teman-temannya, para siswa tampak bersorak kecewa karena teater terhenti.


"Woy, lanjut dong!" ucap salah satu siswa berteriak. Ia tak terima melihat Deden dan para sahabatnya yang sudah duduk bersiap makan.


"Siapa yang bilang, Woy?" tanya Deden berdiri mengedarkan pandangannya, kemudian ia tersenyum manis. "Maaf, ya. Kalo kita lanjut dampak kedepannya negatif, soalnya kita rese kalo lagi laper apalagi baper. Jadi Woy Deden, Woy Juna, Woy Vino, sama Woy Gibran gak bisa lanjut." Deden menjelaskan sambil menunjuk sahabatnya satu-persatu.


"Kok gitu sih, Woy Deden?" tanya siswa yang lain.


"Karena gak gini, jadinya harus gitu. makanya aja gini jadi gitu, karena dipaksa gitu-gituin." Para siswa kesulitan memahami bahasa yang Deden ucapkan. Sejenak semuanya hening memikirkan artinya, mereka jadi melupakan mengenai teater tadi.


"Apaan tuh? Kok gue gak paham?" tanya Viera masih berusaha mencerna ucapan ketika Deden sudah duduk.


"Gak usah dipikirin, yang penting bisa makan dengan tenang," jawab Deden tanpa beban.


"Lo kapan warasnya sih, Den?"


"Urang kurang waras apa coba. Ganteng, iya. Lucu, iya. Im- , eh, Key." Deden menghentikan ucapannya ketika menyadari Key yang bertanya, mukanya menjadi memerah mengingat kejadian kemarin di rumah Key.


*Flashback ON*


Deden melajukan motornya pelan, ia duduk sangat depan di bagian motornya hingga tercipta ruang yang cukup luas ditengah-tengah. Sesekali Deden menggelengkan kepala, wajahnya tak henti-hentinya bersemu merah mengingat kejadian baju Key yang basah tadi. ia yang biasanya tak bisa diam, malah tak bersuara hingga sampai di rumah Key.

__ADS_1


"Makasih, nanti gue balikin sweeternya," ucap Key setelah sampai di depan gerbang rumahnya. Deden hanya mengangguk menanggapinya.


Bunda Devi yang mendengar suara motor langsung menghampiri kedua siswa didepan gerbangnya.


"Darimana saja kalian. Jam segini baru pulang?!" Wajah Bunda Devi tampak marah, ia menyilangkan tangannya di depan dada.


Deden dan Key langsung menunduk takut, tatapan Bunda Devi sangat tajam dan menusuk.


"Habis ngapain kalian?" tanya Bunda Devi masih marah. "Rambut kamu juga kenapa basah, Key?"


Tidak ada yang berani menjawab. Key yang baru membuka mulut saja mengarungkan niatnya, eh, maksudnya mengurungkan niatnya dan memilih diam, ia tak berani melawan Bundanya. Asalkan kalian tahu, marahnya Bunda Devi lebih menyeramkan dibandingkan salaman dengan macan.


"Deden!" bentak Bunda Devi meminta jawaban.


Deden masih diam tak bersuara, ia masih menunduk takut. Deden melirik ke arah Key sejenak yang dibalas gelengan.


"Deden! Jawab!"


"Mandi, bun!"


"Mandi? Apa maksudnya?"


"Eh, bukan gitu, Bun."


"Terus, apa!"


"Basah, Bun. Air."


"Apa?!"


Deden frustasi, di satu sisi ia tak bisa bersuara di sisi lain ia harus menjelaskan.Deden mempunyai ide, ia mulai memperagakan dengan gerakan.


"Pacar?" tanya Bunda Devi mencoba menjawab.


"Bukan, Bun. Bukan," ucap Key memberikan instruksi.


"Sahabat?"


"Dikit lagi, Bun. Dikit lagi,"


"Teman?"


"Ya!" Deden dan Key ber-tos ria. Bunda Devi tersenyum senang karena berhasil menjawab.


Deden membentuk lingkaran dengan tangannya, ia memperagakan sedang memutar keran, kemudian ia membalikan tangannya seperti sedang menumpahkan air.


"Ngisi air?" tanya Bunda Devi menebak, ia lebih bersemangat menjawab.


"Dikit lagi, Bun. Dikit lagi,"


"Numpahin air sengaja?!"


"Ya!" Deden, Key dan Bunda Devi sekarang saling ber-tos ria.


"Oh jadi ada yang jahilin Key, ya?" ucap Bunda Devi paham.


"Iya, bun. Bener itu," ucap Deden tersenyum lega, wajah Bunda Devi sudah tak semenyeramkan tadi.

__ADS_1


"Yasudah kamu masuk, Key. Bersihin badan kamu dulu," ucap Bunda Devi yang dibalas anggukan oleh Key.


"Makasih, Deden," ucap Key masuk kedalam rumahnya sambil tertawa.


Bunda Devi kembali menunjukan tatapan tajam ke arah Deden. " Awas aja kalo sampe kamu apa-apain Key, bunda langsung nikahin!"


"Boleh, Bunda!" ucap Deden spontan langsung menutup mulutnya. Deden merutuki dirinya sendiri yang bicara tanpa ada rasa malunya.


"Hahaha ... jagain Key baik-baik ya, tenang aja nanti bunda nikahin."


"Bener, Bunda?" tanya Deden masih tak percaya.


"Sekolah dulu yang bener! Kamu masih SMA mau nikah?"


Deden hanya cengengesan, menggaruk tenguknya yang tak gatal. "Hehe ... iya, bunda."


"Kamu mau mampir dulu?"


"Gak perlu, bunda."


"Bunda masuk duluan, ya." Bunda Devi masuk kedalam rumah, Deden melihat pintu rumah Key yang tertutup.


"Yes! Lampu ijo dari calon mertua. Asyik ... asyik ... hore. Wooo!" Deden menari-nari tak jelas di depan gerbang rumah Key, untung saja tak ada orang yang lewat.


"Deden! Jangan bikin pertunjukan tari di depan rumah bunda."


Deden terkejut mendengar suara bunda tetapi tak ada sosoknya. Deden merasa sangat malu.


"Maaf, Bunda."


Deden segera menaiki motornya, hampir saja Deden kehilangan keseimbangan dan terjatuh saat hendak menaiki motornya, ia pun melaju meninggalkan rumah Key.


*Flashback OFF*


"Eh, nanti malem kita ada pertemuan pheonix kan?" tanya Deden mengalihkan pembicaraan, ia masih tak berani menatap wajah Key.


"Oh, iya. Kalian berdua harus dateng!" ucap Juna memperingatkan.


"Siap, di deket kafe tempat Deden kerja kan?" tanya Gibran memastikan.


"Iya," jawab Juna.


"Cewek boleh ikut gak sih?" tanya Viera masih penasaran.


"Lo diem aja di rumah, Fir'aun. Ada lo nanti jalanan yang lurus berubah melengkung," timpal Vino menjawab Viera.


"Lo kira gue apaan. Dasar kain kafan!" Viera menatap tajam pacar barunya, ia memakan bakso yang tak bersalah dengan ganas.


Semenjak pacaran Viera dan Vino malah semakin tak akur, ada saja hal kecil yang diributkan. Memang ada-ada saja pasangan Fir'aun pake kain kafan ini.


*     *     *     *     *


Hy gaes happy reading! Jangan lupa krisannya juga, maafin author kalo ada salah😂


Urang \= Saya


Maneh \= Kamu

__ADS_1


Jangan lupa, like, komen, vote, klik fav dan rate bintang lima yaa ... See you next part.


__ADS_2