Pangeran Gesrek

Pangeran Gesrek
Corong-corongan


__ADS_3

Kring ....


Pintu kafe terbuka, menampilkan seorang manusia yang meninggalkan kesadarannya di kolong tempat tidurnya. Deden yang baru bangun tidur itu masih setengah sadar sempoyongan menuju meja pemesanan, ia memakai celana jeans hitam dengan kaos berwarna cream bergambar kuda ponny kecil di dada kirinya, entah baju siapa yang ia pakai. Tadi sore Deden ketiduran, dan ketika bangun hari sudah gelap, bahkan mungkin ia tidak akan bangun jika ia tidak terjatuh dari tempat tidur dan terantuk lantai hingga dahinya memerah.


Deden lupa jika hari ini anggota phoenix akan berkumpul, ia asal-asalan mencomot baju dan memakainya.


"Kenapa lo, Den?" tanya Bimo yang melihat Deden masih seperti orang hilang ingatan.


"Phoenix."


"Phoenix? Burung api yang mitos itu? "


"Bukan, bang. motor," ucap Deden memijat kepalanya yang berdenyut.


"Menurut hasil analisis gue, lo habis dari dimensi lain terus naik burung phoenix layaknya motor dan mengalahkan penyihir jahat. Bener, 'kan?"


"Bukan, bang. Halu maneh ketinggian kayak harapan untuk memiliki si dia," ucap Deden menggeleng.


"Baperan, lo. Nih, mending minum dulu." Bimo menyodorkan Segelas air jeruk dingin ke hadapan Deden.


Deden meneguk minumannya hingga tandas, kesadarannya mulai kembali terkumpul.


"Bener kata gue, kan. Deden tuh di sini," Vino memasuki kafe diikuti oleh Gibran dan Juna dibelakangnya.


"Kalian kenapa disini? Phoenix gak kumpul?" tanya Deden heran.


"Lo yang kemana aja? Kita tunggu dari awal kumpul sampe bubar gak dateng-dateng," ucap Juna mendengus kesal. "Anak Phoenix pada nyariin lo."


"Hehe ... urang ketiduran," ucap Deden merasa bersalah. "Gimana penyambutan anggota barunya?"


"Apa lo, hah? Nanyain penyambutan!" Gibran menginjak kaki kiri Deden, berpura-pura tidak sengaja. "Gue kira penyambutannya bakal keren! Ada debus kek atau kuda lumping, gitu. Masa dateng-dateng kita disuruh mungut sampah masing-masing seratus buah, sambil jalan kaki lagi di sepanjang jalan," ucap Gibran semakin kencang menginjak kaki Deden, Deden hanya bisa meringis tertahan.


"Lo tahu, gak? Kita habis jalan dari tempat ngumpul yang lumayan bikin gempor kalo jalan kaki kesini, sambil ngambilin sampah!" ucap Vino yang ikut menginjak kaki sebelah kanan Deden, sekarang kedua kaki Deden sudah terinjak sempurna di bawah kaki duo cunguk. "Gue bahkan sampe rebutan sampah gagang permen sama si cunguk Gibran!"


"Aduh ... aduh! Sakit woy, urang gak punya kaki cadangan."


"Tenang aja, nanti gue ganti jadi kaki kuda biar kuat, Hahaha ...." Vino menunjukan tawa jahatnya.


Plak!


Gibran memukul pelan mulut Vino yang sedang tertawa. "Tawa jahat lo gak enak didenger, kayak ucing kepencet," ucap Gibran yang kemudian mengelapkan tangannya yang terdapat bercak ludah Vino ke kaos Deden.


"Jijik, maneh!" ucap Deden menatap bajunya miris.


"Kayak kenal, itu kaos." Juna mencoba berpikir. "Bukannya itu hadiah dari Zea, ya?"

__ADS_1


Duo cunguk melepaskan kaki Deden, mereka masih kesal, tetapi mereka juga tidak bisa terus berhimpitan bertiga.


Kaos tersebut memang kaos pemberian hadiah dari Zea saat mereka kelas tiga SMP dulu. Entah kenapa masih muat di badan Deden dan tak tahu juga mengapa Deden asal memakainya sekarang.


"Urang asal comot tadi!" jawab Deden seadanya, Juna hanya mengangguk paham.


"Duh, kaki urang berasa jadi penyek." Deden mengelus-ngelus sepatunya. aneh memang, kaki yang sakit, sepatu yang di-elus, sama seperti Deden yang mati-matian ngejar Key, malah Viera dan Vino yang jadian. Eh ... kenapa malah kesitu?


"Pokoknya kita kesel sama penyambutannya! Gue baru dapet 23 gelas plastik, 12 kantong kresek, 7 botol plastik, 8 kantong kresek, sama 5 gagang permen, itu juga pake acara baku hantam sama Vino. Gue harus dapetin 45 sampah lagi! Gue harus mulung kemana?!" ucap Gibran masih tak terima. sepertinya Gibran memiliki bakat tersembunyi dalam memungut sampah, hebat sekali ia mengingat para sampahnya.


"Badan kita pegel, Den. Gibran mending dapet segitu, Gue cuman dapet 14 kantong kresek  2 sendal jepit bekas sebelah-sebelah sama 3 bungkus permen kiss. Sebenernya phoenix itu gank motor atau pengepul sampah, sih?" timpal Vino ikut tak terima.


"Setiap anggota yang baru masuk memang kayak itu. Itu udah keputusan Gue, Deden sama Rayyan dari awal," ucap Juna menjelaskan.


"Coba kalian bayangin, deh. Kalo setiap orang sambil jalan mungut sampah yang dibuang sembarangan, lingkungan kita bakal bersih, Itu tujuan kita. Phoenix bukan gank motor yang suka tawuran dan bikin keributan, walaupun kadang-kadang kita balapan. Kita punya kegiatan kemasyarakatan rutin sebulan sekali, contohnya, kita sering bersih-bersih jalanan atau kerja sukarela di panti asuhan," timpal Deden menambahkan panjang lebar.


Gibran dan Vino hanya melihat Deden takjub, setelah itu mereka bertepuk tangan. Ternyata seorang Deden bisa bijak juga.


"Kalian habis mungut sampah? Jangan bilang kalian bawa ke kafe gue?" Bimo yang sedari tadi memeprhatikan menatap mereka tajam. "Awas aja kalo kafe gue jadi kotor!"


"Gak kok, bang. Nanti kita buang," ucap Deden menenangkan.


Prang!


Mereka terkejut mendengar benda jatuh, kafe ditutup lebih awal tadi, sehingga tidak ada pelanggan, lantas suara apa itu?


Prang!


Lingsir wengi sliramu tumeking sirno ....


Jantung mereka semakin berdetak kencang, Bimo dan gank cunguk sudah gemetar. Deden merasa merinding, sesuatu bergetar di tubuhnya.


"Hehe ... itu ponsel urang. Urang lupa ganti nada dering," ucap Deden menggaruk lehernya yang tak gatal.


Deden mengeluarkan ponselnya, kemudian ia berjalan keluar untuk menerima panggilan. Sontak saja semuanya membuang napas tenang, mereka juga melepas pelukan mereka.


Dari dalam kafe Deden terlihat berbincang sebentar di ponsel, wajahnya tampak berubah pucat. Setelahnya, ia menaiki motornya dan pergi begitu saja.


"Mau kemana tuh anak?" tanya Juna bingung, melihat Deden pergi.


"Ayo, kita ikutin," ucap Vino yang hendak bergegas pergi.


"Naek apa? Mau ngesot? Motor kita kan ditinggal di tempat ngumpul," ucap Juna mengingatkan.


"Bang, pinjem motor." Gibran meminta kepada Bimo yang juga menatap kepergian Deden. Bimo memberikan kunci motor maticnya.

__ADS_1


Mereka segera pergi meninggalkan kafe, dengan menaiki motor matic Bimo yang berwarna biru, mereka menaikinya dengan bonceng tiga.


"Heh, sampah, kalian!" Teriak Bimo entah mengingatkan akan sampah mereka yang teronggok di depan kafe atau mengatai mereka sampah.


Gibran, Vino dan Juna sedang mengejar Deden dengan satu motor, Juna yang mengendarai tak henti-hentinya memaki duo cunguk di belakangnya yang tak bisa diam.


Deden sudah melaju cukup jauh di depan, mereka duduk berdempet mirip sekali seperti cabe-cabean. bukan-bukan, mereka cowok, jadi mereka lebih seperti terong-terongan. Bukan juga, mereka semuanya cogan alias cowok ganteng jadi mereka lebih cocok disebut corong-corongan.


Deden sudah tak terkejar, mereka kehilangan jejaknya di pertigaan. Juna masih fokus menyetir, Gibran berusaha menjaga keseimbangan, Vino yang nyempil di tengah mencoba menelpon seseorang.


[Hallo?]


[Den, lo dimana?]


[Di pinggir jalan, lagi ngangkat telpon maneh, sih.]


[Den, ini gue sama Gibran sama Juna juga, lagi mata-matain lo. Kita lagi ngejar motor lo, lo jangan kenceng-kenceng bawa motornya, samsul!]


[Mata-matain? Oh oke, urang bakal pelan-pelan bawa motornya.]


[Iya, sekarang dari pertigaan lo kemana?]


[Belok kiri.]


[Oke, kita lanjut mata-matain lo.]


[Sip, Jangan sampe ketahuan sama urang.]


[Pasti, Gue jamin kita gak akan ketahuan sama, lo.]


"Belok kiri, Jun," ucap Vino sambil mematikan panggilannya.


Nasib mereka sepertinya sedang tidak beruntung, di depan mereka di berhentikan oleh polisi, alhasil mereka semua ditilang. Selain karena mereka bonceng tiga, mereka juga tidak memakai helm.


Deden sudah tak terkejar, entah ia menuju ke mana. Mereka menelpon Bimo yang motornya terpaksa ditilang.


*    *    *     *     *


Hy gaes happy reading! Jangan lupa krisannya juga, maafin author kalo ada salah😂 Jangan tiru Gibran, Vino sama Juna juga yaa 😊😂😂


Urang \= Saya


Maneh \= Kamu


Sekilas Info : "Lagu Lingsir Wengi"

__ADS_1


Tembang ini merupakan syair karangan Sunan Kalijaga sebagai penolak bala bukan lagu Kuntilanak. Jadi sebenarnya Deden dan gank cunguk harusnya gak usah takut hehe ....


Jangan lupa, like, komen, vote, klik fav dan RATE bintang lima yaa ... See you next part.


__ADS_2