Pangeran Gesrek

Pangeran Gesrek
Pacar Sehari (2)


__ADS_3

Deden keluar dari toko bunga dengan membawa sebuah bungkusan, Key menunggunya di luar karena ia memang tidak suka terhadap bunga.


"Nih, Key." Deden menyodorkan sebuket bunga dan bungkusan kecil dari tangannya.


"Harusnya lo gak usah beliin gue bunga, gue gak suka sama bunga," ucap Key menjelaskan, tapi anehnya ia malah menerima pemberian dari Deden.


"Siapa bilang itu buat maneh?"


"Eh ...."


"Tolong pegangin, itu buat orang yang paling urang sayang."


"Lo mau ngasih bunga ke orang yang lo sayang? Ngajak gue? Gue yang pegangin? Sebelum orang itu yang megang? Yakin gak akan kena virus nih bunga." Key menghela napas kasar, wajahnya terlihat sangat kesal. Ia memberikan bunga dan bingkisannya kembali ke tangan Deden.


"Maneh cemburu?"


"Gak!"


"Kok marah?"


Key kembali mengambil bunga dan bingkisan itu untuk ia pegangi.


"Ayo berangkat gue bakal ketemu sama orang yang lo sayang. Gue bakal nonton dengan tenang saat lo ngasih bunganya."


Deden tertawa melihat tingkah Key, ia bahkan hingga merunduk memegangi perutnya menahan tawa.


"Kenapa lo ketawa?"


"Maneh lucu kalo lagi marah," ucap Deden sambil mencubit kedua pipi Key pelan.


Key menggembungkan pipinya hingga bulat, sebenarnya ia sedang menahan senyumannya dari Deden. Namun, Deden malah makin mengejeknya. Wajah Key semakin merona, ia pun memukul Deden agar segera menaiki motornya dan melanjutkan perjalanan mereka.


Ditengah perjalanan Key tidak lagi berbicara, ia hanya mendengarkan celotehan Deden yang semakin gencar menjahilinya. Key hingga tidak sadar jika mereka telah memasuki sebuah komplek pemakaman umum.


Deden memarkirkan motornya di depan pintu masuk TPU mekar, ditariknya tangan Key agar mengikutinya, satu bingkisan juga telah beralih pada Deden agar ia bawa.


Mereka berhenti disalah satu gundukan tanah bertancapkan papan putih yang bertuliskan nama, tempatnya cukup jauh dari parkiran motor. Sebuah kuburan dengan papan nisan bertuliskan 'Amiatun Jamilah' lengkap dengan tanggal lahir dan tanggal kematian. Kuburan itu tampak rapi dan terawat, seperti setiap hari selalu rutin dibersihkan dari rumput-rumput liar dan dedaunan kering.


"Ini Mak Ami, orang yang paling urang sayang. Dia nenek urang, maneh kenalan ya sama nenek urang." Terlihat guratan kesedihan dari wajah Deden, setetes air mata lolos dari netranya. Deden seperti orang yang tengah menahan luka, ia juga seperti menahan kerinduan yang amat dalam terhadap neneknya.


Deden membuka bungkusan yang sedari tadi dibawanya, ternyata isinya adalah kumpulan kelopak bunga berwarna-warni. Ditaburkannya diatas gundukan tanah, ia juga menyiramkan air di atasnya.


"Hallo nek, namaku Key. Aku temennya Deden, nenek yang tenang ya disana, semoga bahagia. Tenang aja nek, kalo Deden nakal nanti telinganya Key yang jewer sampai kecabut." Key mengusap papan putih itu dan menaruh buket bunga yang sedari tadi ia pegang.


Seulas senyum terlukis di wajah Deden, ia menatap gadis dihadapannya. Mereka memanjatkan doa-doa untuk Nenek Ami, Deden juga tampak bercerita panjang lebar mengenai kehidupannya. Sepertinya Nenek Ami benar-benar orang yang paling Deden sayang, dasar Key bodoh karena mengira Deden akan memberikan bunga ke cewek lain, mengapa juga ia harus sekesal itu.


Setelah melihat ini Key menjadi penasaran akan sosok Deden, sosok yang biasanya selalu tertawa dan melakukan hal yang aneh. Baru kali ini Key melihat Deden menangis, sepertinya ia menyimpan banyak luka. Ternyata Deden adalah orang yang misterius dengan banyak hal yang selalu ditutupinya. Sepertinya Key belum benar-benar mengenal Deden.


"Yuk Key, kita lanjut kencannya," ajak Deden melangkah pergi.


"Lagian lo ngajak kencan ke kuburan, kan gak cocok banget penampilan gue," Key mengikugi dari belakang dengan menampilkan muka pura-pura cemberutnya, ia bertekad membahagiakan Deden walaupun hanya satu hari dengan berakting sebagai kekasihnya.


"Jangan gitu lah mukanya, bikin urang makin pengen nyium. Kan belum sah."


Blush ...

__ADS_1


Muka Key memerah mendengarnya, jantungnya juga tampak berdetak tak karuan.


"Apaan sih," ucap Key malu.


"Hahaha ... lucu banget sih, pacar seharinya urang."


Deden mengacak rambut Key pelan. Key yang kesal mendahului langkah meninggalkan Deden yang masih tertawa.


* * * * *


"Kita sekarang mau kemana, Den?" tanya Key saat motor masih melaju di jalanan. Hari sudah siang, banyak kendaraan yang berhimpitan. Beberapa dari mereka hendak berlibur bersama keluarga, ada juga yang hanya sekedar jalan-jalan makan siang.


"Kita makan dulu Key, urang laper dari pagi gak makan."


"Kok bisa?"


"Karena dari pagi urang gak nyuap satupun makanan ke dalam mulut, jadi belum makan."


"Itu sih gue tahu," ujar Key sebal.


"Maneh sukanya makan apa, Key?"


"Apa aja gue makan."


"Batu, kayu, sama kotoran cicak juga?"


"Bukan itu maksud gue. Gue ngikut sama lo aja deh, lo sukanya apa?"


"Urang sukanya maneh."


Key memukul helm Deden keras, hingga Deden meringis kesakitan. Tidak berapa lama kemudian, Deden meminggirkan motornya di salah satu tempat makan dekat taman kota. Mereka berhenti tepat di depan warung makan pecel lele, tempatnya cukup nyaman dan ramai.


Deden dan Key memilih tempat duduk lesehan di samping jendela. Diluar tampak hiruk-pikuk kendaraan berlalu-lalang.


"Maneh mau disini aja atau mau pindah ke reataurant?" tanya Deden melihat wajah Key yang kebingungan.


"Gak papa di sini juga. Gue heran, lo kan gak suka pedes. Kenapa ke warung makan pecel lele?"


"Dulu urang sering kesini Key sama Mak Ami. Kalo makan pecel urang makan ikannya, sambelnya urang kasih buat nenek." Deden tampak tertawa mengingat dirinya di masa lalu, Key hanya mengangguk paham.


"Itu sih lo pesen ikan lele gorengnya aja, buat apa pake sambelnya kalo disisihkan juga."


"Maneh bicaranya kayak apa aja, disisihkan gitu kalimatnya."


Deden membuat pesanan mereka, tak berapa lama kemudian pesanan mereka datang.


"Itu sambelnya mau lo kemanain?" tanya Key menunjuk piring Deden.


"Buat maneh, urang kangen makan disini, tapi karena gak ada nenek jadi gak ada yang bisa dikasihin sambel. Mubazir nantinya."


"Jadi lo ngajak gue pacaran sehari, buat dikasih sambel pecel lele karena lo kangen makannya gitu?"


"Hahaha ... itu salah satunya Key."


Deden memberikan sambel yang terdapat dipiringnya, yang belum tersentuh kepada Key. Key dengan senang hati menerimanya, karena dia memang maniak cabai. Bahkan setelah ditambah sambal milik Deden pun Key merasa masih kurang.

__ADS_1


"Nenek lo meninggal dua tahun yang lalu ya, Den? Orang tua lo kemana? " tanya Key di sela-sela makannya.


Wajah sedih kembali ditunjukan Deden, tetapi sekarang terlihat sedikit ekspresi marah di wajahnya. Sepertinya Key salah bertanya.


"Makan aja yang banyak, biar cepet gede. Nanti kalo udah waktunya urang ceritain," jawab Deden tersenyum, kentara sekali jika ia sedang menyembunyikan ekspresi aslinya.


"Tambah ini biar makin enak," ucap Deden memasukan onde-onde di sebelahnya ke dalam piring Key, pas sekali bercampur dengan sambal dari pecelnya.


"Deden! Apa-apaan sih. Kalo makan ini nanti gue bisa mati."


"Gak bakal mati kali Key," ucap Deden memakan onde-onde yang tercampur sambal tadi. Ia sepertinya lupa kalau ia tidak kuat pedas, apalagi itu pasti rasanya aneh.


Sejenak Deden tampak tenang memakannya, tidak ada ekspresi. Namun, itu tidak berlangsung lama.


"Hinum-mhinum." Deden kepedasan setelah memakan onde-onde toping selai sambal miliknya. Ia kelabakan mencari minumannya dan akhirnya malah menumpahkannya, untung saja tak mengenai bajunya. Dengan sigap Key mendekatkan sedotan es teh manis miliknya untuk disesap Deden.


Setelah lebih baik, Deden mengambil paksa es teh manis milik Key yang tadi ia minum. Padahal Key baru saja akan meminumnya.


"Jangan bekas urang, nanti terjadi ciuman dengan perantara. Belum boleh," ucap Deden yang kembali memesan minuman, sekaligus meminta mejanya dibersihkan.


"Nanti kita nonton yuk," ajak Deden sambil memberikan pesanan minuman yang baru sampai pada Key.


"Nonton apa? Bioskop? Gue lebih suka spongebob."


"Ini sih maneh bakal suka."


* * * * *


Cepat sekali waktu berlalu, hari sudah mulai sore. Key kira tadinya ia akan diajak nonton film di bioskop atau sebagainya, ternyata Deden malah mengajaknya ke taman untuk menonton orang-orang. Benar-benar menonton orang. Deden juga membelikan Key es krim sebagai ganti popcorn dan soda katanya.


"Nah orang yang lagi lari, napas pake hidung keluar dari mulut. Mamahnya pasti cewek dan bapaknya cowok," ucap Deden seperti sedang mengomentari adegan dalam film.


"Itu sih gue juga tahu," ucap Key tertawa, lawakan Deden benar-benar receh.


"Itu dua orang yang lagi pacaran, pasti cewek sama cowok. Mereka masih hidup soalnya jantungnya berdetak, mereka juga masih bergerak dengan baik."


Key kembali tertawa, perkataan Deden tidak ada yang berfaedah sama sekali.


Walaupun hanya kencan sederhana, Deden dapat membuat suasana lebih menyenangkan, hingga waktu terasa berjalan lebih cepat.


"Oh iya Den, lo kenal Zea dimana?" Key tiba-tiba penasaran akan sesuatu. Setelah cukup lama ia mengumpulman niat, akhirnya ia berani bertanya.


"Di Amerika, waktu SMP."


"Kalian udah kenal lama?"


"Ya, begitulah."


"Lo pernah suka sama Zea?" Deden tampak diam sejenak, ia menatap Key yang balik menatapnya penasaran.


* * * * *


Urang \= Saya


Maneh \= Kamu

__ADS_1


Jangan lupa klik like, favorite, vote, dan rate bintang lima ya. Ditunggu komen dan sarannya juga, kalo author ada salah marahin aja hehe .... Nanti ceritanya diusahakan bertahap diperbaiki.


__ADS_2