
"Makanya gak usah banyak gaya! Dasar cowok aneh!"
Deden mendongakkan kepalanya, melihat orang yang berbicara, dilihatnya seorang gadis manis sedang melipat kedua tangan memperhatikannya dengan seksama.
"Kok maneh di sini, Key?" Deden terkejut melihat Key yang melempar senyum padanya. "Maneh bolos?"
"Kalo gue bolos, terus lo apa? Dagang kuaci?"
"Maneh telat, Key? Mau dibantu masuk?" tanya Deden balik tak mempedulikan pertanyaan Key.
"Gak, gue mau bolos. Emang lo doang yang boleh."
Ting!
Notifikasi pesan di ponsel Deden kembali berbunyi, dengan segera Deden melihat pesan yang masuk di layar ponselnya.
Dokter Ahay ... deh!
Pasien dipindahkan sejenak ke ruang Aciu untuk penanganan lebih lanjut.
Wajah Deden mendadak pucat, ekspresinya juga berubah dingin -3°C, Key penasaran siapa yang menghubungi Deden, tapi ia tak dapat melihatnya. Deden berjalan cepat ke samping sekolah, tempat di mana tadi ia memarkirkan motor bersama teman-temannya.
"Siapa?" tanya Key penasaran, ia mengikuti Deden dari belakang.
Deden tak menggubris pertanyaan Key, sesampainya di tempat motornya terparkir ia segera memakai helm dan menaikinya.
"Lo mau kemana?" tanya Key lagi, ia merentangkan tangan di depan motor Deden sehingga menghalangi siempunya motor yang hendak pergi.
Deden membuka kaca helm fullfacenya. "Gue gak tahu apa yang mau lo lakuin, tapi gue saranin lo cepet balik kelas dan jangan ganggu gue. Gue mau pergi," ucap Deden menatap tajam siswi di hadapannya.
"Ah ... mode Kafa ternyata," gumam Key pelan.
"Minggir!" teriak Deden dengan rahang yang mengeras menahan amarah.
"Gak! Gue mau ikut!"
"Lo budek, ya?! Gue bilang minggir, ya minggir!" Pikiran Deden kalut, ia sudah tak bisa menahan amarahnya, rasa khawatir terpancar jelas di wajahnya.
"Lo juga budek, ya? Gue bilang ikut, ya ikut!"
"Kepala batu! Gak bisa minggir, ya? Dasar cewek aneh!"
Key tercengang, ia merasa deja vu akan ucapan yang barusan Deden katakan. "Hah?" tanya Key masih tak percaya. "Gue? Aneh? Hahaha ... berarti kita cocok," lanjut Key menganggukkan kepalanya.
Sudah tidak ada waktu lagi, Deden tidak bisa membuang waktu lebih lama. Ia harus segera ke rumah sakit. Deden segera saja menyalakan motornya dan menarik gasnya tiba-tiba. Key yang terkejut, tersentak ke samping hingga memberikan ruang untuk Deden lewat. Beberapa saat Key lengah, Deden sudah menjauh dengan motornya.
Gadis manis itu menggerutu, baru kali ini ia dibilang aneh. "Kemarin lo ngejar-ngejar gue, dan sekarang lo ninggalin gue? Hah, bener-bener, belum pernah dihujat Viera, dipukul centong sama bunda, dicubit ginjalnya sama ayah, tuh anak," ucap Key setengah berteriak, ia berlari menuju jalan raya dan memberhentikan seekor, eh seorang tukang ojek dan memerintahkannya untuk mengikuti motor Deden yang berkecepatan tinggi.
__ADS_1
* * * * *
Langkah kaki itu terkesan berat dan terburu-buru, orang-orang di sekelilingnya tampak menatap dengan tatapan bingung dan keheranan.
Deden berdiri di depan ruangan bertuliskan 'ICU', ia sudah tidak dapat memahan perasaannya. Ia sangat khawatir, sungguh-sungguh khawatir. Tanpa berpikir panjang lagi, segera ia membuka pintu putih tersebut dalam sekali gerakan. Orang-orang berbaju hijau tampak sibuk di dalam, Deden mendekat ke arah mereka untuk melihat keadaan pasien.
"Mama Rena?" panggil Deden mencari keberadaan orang yang dimaksud, ia melihat pasien yang sedang terbaring, tetapi ia tak mengenali wajahnya.
Seseorang dengan baju putih, khas seorang dokter masuk ke dalam ruangan. "Wah ... wah, sudah lama rumah sakit ini gak kedatangan super hero," ucap seorang pria berusia 27 tahunan mendekat ke arah Deden. Ia membuka maskernya, sambil tersenyum ia berkata, " Untung saja penanganan pasien sudah selesai, kok bisa ada orang menerobos ruang ICU begitu saja?" Pria tersebut merangkul Deden kemudian menggiringnya agar keluar dari ruangan.
"Dokter Ahay! Mama mana?" tanya Deden ikut duduk di depan ruangan mengikuti pria yang tadi bersamanya.
"Nama saya Haidar, darimana Ahaynya?" ucap Dokter Haidar protes. "Lagipula, sejak kapan power ranger masuk rumah sakit?"
"Power ranger?" tanya Deden kebingungan.
Haidar menunjuk kepala Deden sambil menahan tawanya. Deden yang paham segera memegang kepalanya, lebih tepatnya benda yang masih menempel di kepalanya.
"Siapa nih yang naro helm di kepala gue? Pantes engap!" Deden membuka benda yang ternyata sedari tadi berada di kepalanya, pantas saja orang-orang memperhatikannya.
"Saya tak tahu, tanya saja pada cicak yang bertengger," jawab Haidar asal. "Cicak, cicak di dinding. Diam-diam di dinding, makan-minum di dinding .... Hap! Nge-jones di dinding," lanjut haidar malah bernyanyi.
"Dokter Ahay! Gue serius, mama mana?"
"Itu dia, saya juga kehilangan ponsel. Mau bantu cari?" ujar Haidar berdiri, ia memimpin langkah menuju salah satu kamar di rumah sakit.
Pintu ruangan yang biasa Deden datangi terbuka, ruangan serba putih dengan satu ranjang dan lemari kecil di sampingnya, terdapat pula sebuah televisi yang tidak menyala. Seorang wanita paruh baya sedang duduk di atas kasur, menampilkan senyum hangatnya.
Deden menyimpan helmnya di kursi samping ranjang. Wanita bertubuh kurus, dengan pakaian putih khas seorang pasien menyambutnya dengan penuh senyuman.
"Mama kangen kamu, Rayyan. Kamu kemana aja?" tanya Rena memeluk Deden erat.
"Ini dia tersangkanya," ujar Haidar tersenyum menatap Rena. "Boleh saya minta kembali ponsel saya, Bu?" pintanya sopan.
Rena melepas pelukannya pada Deden. "Maaf dokter A- hay, idar. Saya meminjamnya sebentar, saya hanya ingin melihat anak saya." Rena mengambil sebuah ponsel dan memberikannya pada Haidar.
"Tak apa-apa, Bu. Saya paham."
"Mama kenapa kirim pesan seperti itu, sih? De-, ah maksudnya Rayyan khawatir, takut terjadi sesuatu pada mama," ucap Deden kembali memeluk Rena erat. "Maaf, akhir-akhir ini Rayyan jarang jenguk mama."
"Anak mama yang tampan," ujar Rena mengelus wajah Deden lembut. "Mama hanya merindukanmu, kamu sedang sekolah, ya, nak? Maafkan ya, mama ganggu kamu." Rena memperbaiki letak dasi Deden yang sedikit miring.
"Gak, ma. Mama boleh kapan pun minta Rayyan untuk datang. Mama harus sembuh, ya?" pinta Deden tulus. "Mama sudah makan dan minum obat?"
"Sudah, mama sudah lakukan semua itu." Rena menepuk-nepuk pelan pundak Deden.
"Hah ... hah ... ternyata di sini." Seorang siswi SMA terengah-engah masuk ke dalam ruangan, membuatnya menjadi pusat perhatian seluruh orang yang berada di situ.
__ADS_1
"Lo ngapain di sini?" tanya Deden pada Key yang berjalan mendekat.
"Ngikutin, lo, lah," jawab Key singkat.
"Ekhm ... aduh keselek traktor." Haidar pura-pura terbatuk. "Ternyata anak bekicot punya pacar, " ucapnya menepuk-nepuk kepala Deden.
"Dokter Ahay, belom pernah ditendang ke Bulan, ya?" Deden menatap Haidar tajam.
"Duh, takut. Saya mau ditendang ke Bulan. Mending kabur lah, daripada nyasar ke pluto," ucap Haidar melangkah pergi. "Rayyan! Nanti kita meet up, ya. Bahas prospek tentang balikin cincin saturnus ke mantannya," ujar Haidar melambaikan tangan.
Key menatap Dokter yang berjalan ke arahnya, ia merasa aneh karena baru menemui dokter dengan spesies langka di hadapannya.
"Oh, iya. Kamu sementara panggil pacar kamu Rayyan, ya, kalo di depan mamanya," bisik Haidar pada Key yang kebingungan, tetapi Key membalasnya dengan anggukan.
"Woy! Bisik-bisik apaan, tuh?!" tanya Deden curiga.
"Nanti malem jangan lupa dinnernya, ya, sayang," ucap Haidar mengedipkan sebelah matanya pada Key. Ia sengaja menaikan volume suaranya agar terdengar oleh Deden, kemudian pergi meninggalkan ruangan.
"Dokter gila!" cerca Deden kesal.
* * * * *
"Ze, lo habis dari mana? Bukannya tadi itu papanya Deden, ya?" tanya Gibran pada Zea yang baru saja kembali ke kelas, kelas mereka memang sering sekali mendapatkan free class hingga tidak ada guru dan siswa bebas berkeliaran.
Zea duduk di bangkunya, di depan gibran, ia berbalik dan berkata, "Iya," jawabnya singkat.
"Gak ada terusannya tuh kalimat?" Vino ikut bertanya karena penasaran.
"Terusan gimana?" Zea balik bertanya.
"Lo gak ada niatan gitu cerita ke kita, soal kenapa papanya Deden ke sekolah?" Gibran kembali bertanya.
"Enggak, tuh." Zea lagi-lagi menjawab singkat dan seadanya.
"Lo gak ngelakuin hal yang aneh, 'kan?" tanya Gibran untuk ke sekian kalinya.
"Kalian kenapa curiga, sih? Hidup akhu, urusan akhu," jawab Zea tak acuh. "Ngomong-ngomong, Kafa kemana?"
Gibran tak tahu harus menjawab apa, ia menyenggol Vino melimpahkan pertanyaan padanya.
"Eh itu, D- Deden lagi ternak kolor warna ungu muda biar jadi cepet tua," jawab Vino kikuk, Zea mengernyit bingung mendengar jawabannya.
* * * * *
Hy gaes happy reading! Jangan lupa krisannya juga, maafin author kalo ada salah😂
Urang \= Saya
__ADS_1
Maneh \= Kamu
Jangan lupa, like, komen, vote, klik fav dan rate bintang lima yaa ... See you next part.