
Ujian akhir semester ganjil sudah di depan mata. SMA Bhayangkara sudah mempersiapkan sebaik mungkin untuk para siswa-siswi menunjukan hasil belajar mereka enam bulan terakhir ini.
Hari masih pagi, para siswa berbondong-bondong memasuki sekolah, entah sekedar kembali membuka buku pelajaran atau mengisi perut yang tak sempat diberi makan. Pengendara motor ninja merah memasuki lingkungan sekolah, beberapa motor serupa berada di belakangnya.
"Hari ini jadi?" tanya Juna setelah membuka helmnya. Motornya ia parkir berdampingan dengan motor Deden dan juga duo cunguk yang memang sudah membuat janji untuk berangkat bersama.
"Jadi, dong! Gue udah download lagu seru buat party nanti," ujar Gibran antusias, berjalan mendekat ke arah Deden dan Juna yang sedang berdiri.
"Eh, tapi kalian gak apa-apa, nih? Bantu urang secara sukarela?" tanya Deden memastikan pada sahabat-sahabatnya. "Urang berharap rencananya berhasil," lanjutnya.
Juna mengeluarkan sebuah korek dari kantungnya. "Gak apa-apa, dong. Pas banget hari ini ada ulangan matematika, gue males," ucap Juna memainkan korek di tangannya.
"Santai aja, Den. Gue dukung lo, gue gak mau kehilangan sahabat gue yang paling disayang ini, sini-sini peluk," ucap Gibran sambil mendekat, merentangkan tangannya.
"Pergi, Maneh. Cari cewek makanya, jangan nge-jones mulu!" Deden mendorong Gibran agar menjauh.
"Eits! Hati gue terlalu limited edition untuk dimiliki. Jangan salah, gini-gini juga banyak yang antri. Bener, gak, Jun? " Gibran mengintrupsi Juna yang kembali memasukan korek ke saku celananya.
"Muka lo mirip sembako, sih, jadi banyak yang ngantri." Juna terkekeh geli.
"Gue tabok, gelinding, lu. Jadi sahabat, gak ada ngasih dukungannya," ujar Gibran kesal.
Deden mendecih melihat kelakuan mereka berdua. "Gini, nih. Kalo cangkang kuaci dikasih nyawa."
Pertarungan masih berlanjut, Gibran dan Juna sekarang malah saling melempar ejekan. Semoga tidak terjadi perang dunia ke-3. Deden melirik ke arah Vino yang duduk termenung di atas motornya, akhir-akhir ini Vino memang sering melamun.
"Jangan diem-diem bae, Vin. Napas ngapa napas." Deden yang bersandar di motornya, menepuk lengan Vino pelan.
"Eh, gue kenapa?" Vino setengah terkejut menunjuk dirinya.
"Enggak ... tadi ada kucing patah hati pake sepatu beda jenis, udah mana kiri semua." Deden menahan tawanya, melirik ke arah bawah. Sedangkan, Juna dan Gibran yang paham, sudah tertawa terbahak-bahak memegangi perut mereka.
Vino ikut tertawa, walaupun sebenarnya ia tak tahu dimana letak lucunya. "Haha ... gila tuh kucing, depresi kali," ucap Vino seadanya.
"Iya mungkin, ya," timpal Gibran masih tertawa sambil melirik Vino.
"Yaudah, kuy! Cari kelas," ucap Deden melangkah terlebih dahulu. Diikuti Gibran dan Juna.
Vino turun dari motornya, ia berjalan mengikuti mereka. Merasa ada yang aneh pada kakinya, Vino menunduk menatapnya. "Eh, buset! Gue kenapa pake sepatu kiri semua? Jadi kucing yang dimaksud Deden itu gue? Si*lan emang mereka!" ucap Vino kesal memaki angin yang hanya numpang lewat.
* * * * *
Detik pada jam terdengar terasa teratur. Siswa-siswa menunduk serius melihat kertas di atas meja, sesekali tangan mereka menari-nari menuliskan deretan angka pada sebuah kertas.
Pelajaran matematika yang sedang diujiankan membuat siswa beberapa kali menghela napas, jika kalian mempunyai kekuatan supranatural mungkin kalian bisa melihat asap yang muncul dari setiap kepala siswa, yang diakibatkan polusi mental hingga mengotori ruangan.
Deden berada di kelas yang sama dengan Gibran, Juna sekelas dengan Key, dan Vino sekelas dengan Viera.
Deden memutar-mutar pensil di lengannya, ulangan jam pelajaran pertama dan ia harus berpikir keras menghitung abstraknya angka. Sungguh penyiksaan yang hakiki.
Deden tidak banyak menghitung, tetapi ia meminta banyak-banyak kertas buram. Kertas buram yang biasa digunakan untuk menghitung, malah Deden gunakan untuk membuat pesawat-pesawatan dan menggambar bulatan-bulatan di bawah seekor kucing, apakah ia sedang menggambar kotoran kucing? Entahlah.
Deden melirik Gibran di meja sebrang, ia memegang bibirnya memberi isyarat. Gibran yang paham segera mengangguk pelan.
"Bu! Saya izin ke toilet," ucap Gibran mengangkat tangan.
Guru pengawas yang berjaga di depan menoleh. "Jangan terlalu lama. Nanti kamu kehabisan banyak waktu," timpal Bu Fida mengangguk seadanya.
__ADS_1
"Gak akan lama, kok, Bu. Takutnya ibu kangen." Gibran terkikik geli, sontak saja ia mendapat tatapan membunuh dari Bu Fida.
Gibran mengangkat jempol tangannya di bawah, menandakan jika ia sudah bersiap. Siswa itu keluar dari ruangan dan berlari ke suatu tempat, ia mengubah tujuannya. Bukan ke toilet, melainkan ke ... rahasia, deh.
Deden tergagap ketika diperhatikan oleh Bu Fida. Bukan-bukan, ia tidak baper, melainkan ia takut karena wajah Bu Fida benar-benar terasa horror.
Beberapa saat sejak perginya Gibran ke toilet, dia masih belum kembali. Deden sedikit was-was menunggunya, terdengar suara gemerecak pelan dari pengeras suara di pojok kelas.
Deden tersenyum. "Tiga ...," ucap Deden bergumam pelan. "Dua ... satu!"
Koyo ngene rasane wong nandang kangen
Rino wengi atiku rasane peteng
Tansah kelingan kepingin nyawang
Sedelo wae uwis emoh tenan
Bu Fida terkejut mendengar lagu yang terputar berasal dari pengeras suara, ia secara refleks berdiri. Siapa yang dangdutan saat ulangan begini?
"Kalian lanjutkan mengerjakan ujiannya. Jangan ada yang mencontek! Saya keluar sebentar," ucap Bu Fida keluar ruangan dengan tergesa-gesa.
Cidro janji tegane kowe ngapusi
Nganti sprene suwene aku ngenteni
Nangis batinku nggrantes uripku
Teles kebes netes eluh neng dadaku
Deden tertawa terbahak-bahak. "Gila si Gibran sama Vino! Masa lagunya pamer bojo," ucapnya masih tertawa keras. "Kalo tangan yang lagi nulis angka buat jawaban ikut joget gimana? Bisa-bisa anggka lima luntur jadi tiga, Haha."
Para siswa yang tadinya fokus mengerjakan soal teralihkan perhatiannya.
* * * * *
"Cendol-cendol!" Gibran menggerakan badan di depan alat penyiaran di dekat ruang UKS.
"Dawet-dawet!" timpal Vino ikut menggerakan badan, wajahnya berubah sumringah berbeda dengan pagi tadi.
"Cendol-cendol!"
"Dawet-dawet!"
"Cendol dawet seger!" ucap mereka serempak mengikuti alunan lagu.
"Piro?"
"Lima ratusan!"
"Terus!"
"Ra pake ketan!"
Ji ro lu pat lima enam pitu wolu.
Derap langkah terdengar berirama, tidak hanya satu melainkan banyak. Guru-guru SMA Bhayangkara ingin mengetahui siapa yang telah membuat keributan. Tidak mungkin, kan? Ada acara nikah mendadak di sekolah? Mereka berbondong-bondong memasuki ruang penyiaran.
__ADS_1
Gibran dan Vino sudah tersempil manis di bawah meja. Saling berbagi tempat yang sempit, bahkan posisi saat ini kaki Vino sedang menginjak wajah Gibran dengan elegannya. Mereka meringkuk tanpa mengeluarkan suara, musik masih terdengar mengalun di seluruh penjuru kelas.
Bu Fida yang datang terlebih dahulu, berjalan pelan ke arah meja. Ia mengontrol semua tempat untuk memastikan tidak ada siapa-siapa, guru lain memperhatikannya serius dari belakang.
"Satu ... dua ... tiga ...." Vino dan Gibran menghitung bersamaan tanpa bersuara.
Tririiriririiing!
"Apa lagi ini?!" ujar Bu Fida mendecak pelan. Ia berbalik arah ke luar ruangan, diikuti oleh guru lain yang juga penasaran.
Alat otomatis saat kebakaran bersuara kencang, menyemburkan air ke segala arah. Siswa maupun siswi yang tadinya fokus mengerjakan, walaupun sedikit terganggu dengan lagu 'Pamer Bojo' berhamburan ke luar kelas setelah mendengar alarm peringatan kebakaran.
"Tak gintang-gintang oyy! Tak gintang-gintang oyy!"
Duo cunguk keluar dari tempat persembunyian mereka dan melanjutkan tarian yang tadi sempat terhenti.
"Bran!" ucap Vino memanggil Gibran yang masih asyik berjoget.
"Apa?" jawab Gibran singkat.
"Kok murah, ya? Cendol 500an?"
* * * * *
Kepala sekolah keluar dari ruangannya, ia berjalan terburu-buru ke lapangan di mana semua orang berkumpul. Beberapa ada yang beteriak panik karena mendengar alarm kebakaran, ada juga yang malah kesurupan, lah? Aneh memang.
Deden mengendap-endap memasuki ruangan kepala sekolah. Perhatiannya langsung tertuju pada deretan laci di sebelah meja yang hanya ada satu-satunya di ruangan tersebut.
Dokumen-dokumen yang tertumpuk sangat banyak, hingga Deden bingung harus mencari di mana. Deden berjongkok membuka laci satu-persatu, memulainya dari bawah.
Sekian lama mengobrak-abrik isi laci, Deden tak menemukan yang ia butuhkan. Mata Deden menelusuri seluruh penjuru ruangan. Ia melihat seekor kecoak berjalan hati-hati di bawah lantai, mungkin dia takut Deden injak. Padahal kan mereka sama-sama cunguk, malah Deden yang menatap kecoak itu ngeri.
Kecoak tersebut terbang! Sungguh, membuat merinding. Secara refleks Deden mengambil sebuah dokumen di atas meja, ia menggulung dokumen tersebut dan bersiap perang dengan sang kecoak.
"Dasar cunguk! Banteng! Guguk! Anaconda! Mamaconda! Bapakconda! Nenekconda!" teriak Deden memaki kecoak yang terbang melintasi dirinya. Entah kenapa seketika nama hewan tersebut berubah-ubah.
Pemenangnya adalah ... sang kecoak, karena Deden tengah meringkuk di pojok ruangan. Ia takut kecoaknya kembali mengeluarkan jurus andalannya yaitu terbang bebas.
Tatapan Deden terhenti pada sebuah dokumen ditangannya, dokumen yang unik dengan sebuah note berbentuk hello kitty di depannya. Oke, Deden tidak peduli.
Dibukanya dokumen dengan sampul coklat tersebut, matanya melebar setelah mendapat apa yang ia cari.
Berkas-berkas perpindahan siswa atas nama 'Rakafa Dean Farizi"
"Finally! Urang menang! Makasih saudaraku, karena maneh, urang ketemu yang urang cari," ujar Deden bersorak gembira.
Deden menatap haru kecoak yang duduk manis di meja kepala sekolah. Namun seketika, tatapannya berubah ngeri karena merasa kecoaknya menatap balik dan akan kembali melancarkan jurusnya. Deden segera pergi ke luar ruangan setelah mendapat yang ia cari.
* * * * *
Hy! Hy! Holla, gaes! Di sini ada 'SOBAT AMBYAR'?
Happy Reading, ya. Mohon kritik dan saran membangun dari kalian semua.
Urang \= Saya
Maneh \= Kamu
__ADS_1
Jangan Lupa like, komen, vote, rate bintang lima dan klik favorite. See you next part!