
"Kenalin, Ma. Ini Key, dia- "
"Aku pacarnya Rayyan, Tante," potong Key mengangguk sopan.
Deden terbatuk mendengarnya, ia seperti tersedak tapi tak sedang memakan apa-apa. Entahlah, mungkin Deden tersedak oksigen yang dihirupnya sendiri.
"Aduh, kamu kenapa, Rayyan?" tanya Rena tampak khawatir, ia memperbaiki posisi duduknya.
"Gak apa-apa, Ma," jawab Deden menepuk-nepuk dadanya. "Cuma kaget."
"Oh, mama kira kenapa," ucap Rena seadanya, ia beralih menatap Key. "Sini, Key duduk. Pacarnya anak mama, cantik juga. Dia pinter pilih pacar," lanjut Rena terkikik pelan, ia menepuk sisi kosong ranjangnya.
Deden membulatkan matanya, wajahnya sekarang terasa panas. Key yang melihatnya tampak menahan senyumannya, ia duduk mengikuti perintah Rena.
"Ehm, Ma. Rayyan izin ketemu dokter Ahay dulu, ya." Deden meminta izin setelah mendapat pesan dari Dokter Haidar. "Key, kamu sama mama dulu, gak apa-apa? Nanti gue balik lagi."
"Yasudah, cepat temui Dokter A-hay,idar . Mungkin ada hal penting yang mau dibicarakan," ucap Rena paham.
"Key?" tanya Deden kembali meminta jawaban.
"Iya, pergi aja," jawab Key singkat menunjukan senyum manisnya. "Gue mau ngobrol, sama calon mertua," ucap Key tanpa suara, ia hanya menggerakan mulutnya, tetapi masih dapat di pahami Deden.
"Uhuk ... uhuk." Deden kembali tersedak oksigen. Jantungnya berdetak sangat kencang. "Ckk ... kenapa sikap Key jadi semanis ini, sih?" tanyanya dalam hati.
"Minum yang banyak, Rayyan," ujar Rena memperingatkan.
"Iya, Ma." Deden menahan mamanya yang hendak berdiri. "Mama duduk aja, banyak-banyak istirahat. Oh, iya, Ma. Jagain calon menantunya, ya," ucap Deden mengedipkan sebelah matanya pada Key.
"Uhuk ... uhuk ... uhuk." Giliran Key yang sekarang terbatuk, menepuk dadanya pelan, wajahnya memerah menahan malu karena Deden yang menggodanya.
"Aduh, di sini banyak virus atau gimana, sih? Kok pada batuk?" Rena mengibas-ngibaskan udara kotor di sekelilingnya. "Kalian anak muda banyakin minum, jangan sampe sakit," ujar Rena terkikik geli, ia sebenarnya tahu apa yang terjadi diantara mereka.
"Rayyan pergi dulu, Ma. Kalo ada apa-apa bilang aja, jangan buat Rayyan khawatir." Deden mengecup puncak kepala Rena lembut, Key memperhatikan mereka serius. "Lo mau juga, Key?" Deden mengelus puncak kepala Key.
"Dih, apaan, sih. Pergi sana ke Arab!" ucap Key mendorong Deden.
Deden tertawa melihatnya ia pergi meninggalkan ruangan tersebut dan melangkah ke ruangan khusus tempat Haidar berada.
* * * * *
"Lapor, Ra. Di pohon mangga samping sekolah Key, gak ada," ucap Juna memberi hormat singkat.
"Dikiranya Key monyet bekantan apa? Cari lagi!" jawab Viera tegas.
Ketika jam pelajaran ke-dua baru dimulai tadi, Viera yang baru saja datang dari toilet kehilangan Key begitu saja. Ia sangat panik dan khawatir, hingga akhirnya pada jam istirahat kali ini, gadis itu mengumpulkan satu pasukan penuh yang berisi teman sekelasnya dengan tambahan duo cunguk, Juna dan Bagas untuk mencari Key yang mendadak hilang.
"Ra, di seluruh tong sampah sekolah, Key gak ada!" Lapor Gibran yang baru datang.
"Key gak bisa di daur ulang atau dijadiin pupuk kompos, bolot! Mana ada dia di tong sampah, cari lagi!" perintah Viera, ia juga langsung menatap sekeliling, memperhatikan setiap siswa yang lewat.
"Ra! Di toilet gak ada," ucap Dinda, temen sekelasnya.
"Toilet mana?"
"Toilet cowok."
"Key kan cewek, Dinda! Carinya di toilet cewek, lah." Viera gemas sendiri. "Lagian lo kok bisa masuk toilet cowok? Cari lagi!"
"Ra, Key ada di hati saya, di pikiran saya juga selalu ada," ucap Bagas melapor dengan wajah sendu.
Viera menepuk pelan pundak Bagas. "Kak, gue tahu cinta lo bertepuk sebelah tangan, tapi gue yakin Deden malah tepuk tangan," ucap Viera bersimpati. "Coba serius, Kak. Cari gebetan lain lagi!"
"Kalian sedang apa?" tanya Zea mendekat ke arah Viera.
"Cari Key," jawab Viera singkat, ia masih lekat menatap setiap siswa yang berlalu lalang.
__ADS_1
"Oh, aku kira ada apa." Zea mengangguk-angguk paham. "Kenapa gak tanya Deden? Akhu rasa dia juga gak ada."
Viera baru tersadar, dari tadi ia juga belum melihat Deden. "Vino, Kafan!" panggil Viera menghalangi Vino yang hendak kembali mencari Key.
"Kenapa? Viera, Fir'aun?" Vino menghentikan langkahnya mendekati Viera.
"Deden mana? Dia lagi sama Key, gak?"
"D- Deden," ucap Vino ragu.
"Dimana?" Viera sudah gemas menunggu jawaban.
"Rumah sakit."
"Deden sakit?" ucap Zea dan Viera bersamaan.
"Bukan, dia katanya ada urusan. Jadi tadi dia minta gue sama gibran bantu buat bolos."
"Coba telpon, Deden. Dia lagi sama Key, gak? Soalnya ponsel Key ada di kelas," pinta Viera pada Vino yang langsung dituruti.
"Deden di rumah sakit? Sedang apa?" tanya Zea dalam hati.
* * * * *
"Yo! Welcome to my yutup channel, Brother!" ucap Haidar melihat kedatangan Deden ke dalam ruangannya.
Blam!
Deden yang baru masuk, malah kembali pergi dan menutup pintu ruangan.
"Eh, eh. Tunggu, dulu." Haidar menahan Deden yang benar-benar akan pergi. "Jangan baperan, dong. Kayak ABG aja," ucap Haidar tertawa.
"Tapi kan urang emang masih remaja," timpal Deden meluruskan.
"Oh, iya." Haidar menepuk jidatnya pelan. "Duduk dulu, duduk. Sudah lama kamu gak ke sini," Haidar mempersilakan Deden duduk di hadapannya, sedangkan ia juga duduk di kursinya, sebuah meja persegi panjang berada di antara mereka.
"Sebuah ikan yang sering dikalengin," jawab Deden semangat.
"Ikan Deden!"
"Haha ... Ikan Sarden, Dokter Ahay!" Deden tertawa lepas.
"Oh, jadi ini Deden. Bahagia banget kayaknya? Apa gara-gara cewek itu?"
"Mungkin, ya. Mungkin, tidak. Mungkin, bisa jadi."
"Berasa main game kan jadinya. Jadiin bahan rebutan game, seru juga kayaknya cewek cantik itu. Mau main dengan saya?" tawar Haidar pada Deden yang mengernyit bingung.
"Urang gak paham." Deden menjawab jujur.
"Kalo saya jadiin temen cewek kamu calon istri, seru juga."
"Dokter udah tua, jangan kebanyakan gaya, nanti encok. Bisa-bisa jantungnya pindah ke perut, lho!" Deden terkikik geli mendengar perkataannya sendiri.
"Sekarang kan sedang marak mengenai pernikahan beda usia. Jadi apa salahnya?" ucap Haidar dengan tatapan serius.
Deden menghentikan tawanya, tangan kanannya mulai terkepal. "Dokter bercanda, 'kan?"
"Enggak juga, kayaknya seru kalo nanti punya istri lebih muda, cantik lagi."
Brak!
Deden menggebrak meja keras, hingga membuat benda di atasnya berserakan. Ia menarik kerah baju haidar erat, dan membawanya ke tempat yang lebih lengang.
"Kenapa?" Haidar tersenyum miring.
__ADS_1
"Jangan berani-beraninya lo nyakitin, Key, atau lo terima akibatnya!"
Deden melayangkan tinju ke pipi sebelah kanan Haidar, pria berjas putih itu terlempar beberapa meter ke belakang, ujung bibirnya sedikit robek dan mengeluarkan darah, badannya juga terasa remuk.
"Memangnya kamu yakin, jika Key di dekatmu dia gak akan tersakiti?" Haidar bangkir berdiri dan merapikan bajunya sejenak.
Dengen sekali gerakan Deden kembali menarik kerah baju Haidar, matanya tampak berkilat menahan amarah, napasnya naik-turun tak beraturan. Haidar hanya tersenyum tipis melihat Deden yang tengah emosi.
Deden kembali bersiap melayangkan tinjunya, sebelum akhirnya dicekal oleh tangan Haidar. "Aish, santai, dong. Saya hanya bercanda, ternyata kamu masih kesulitan mengendalikan emosimu," ujar Haidar melepas cengkraman Deden. "Kamu masih kecil kuat juga, ya. Muka saya yang ganteng ini jadi terluka." Haidar merapikan sedikit jasnya yang berantakan, ia meringis ketika mengusap luka di sudut bibirnya.
"T- tadi urang? Itu test?" Deden menatap kedua tangannya yang gemetar.
"Yang tadi sudah bagus, kamu juga pasti ingin melindungi orang yang kamu sayang," ujar Haidar menepuk-nepuk pundak Deden pelan. "Yah ... walaupun wajah saya yang jadi korban, padahal belum lebaran. Harusnya saya korban sapi bukan muka," ucap Haidar melantur.
Tubuh Deden merosot ke lantai seketika, baginya ia telah gagal, dan tetap gagal. Sampai kapan ia harus seperti ini?
Suara ketukan pintu terdengar, seorang gadis berseragam SMA menunggu jawaban di balik pintu.
"Siapa?" tanya Haidar memastikan.
"Key," jawab suara tersebut.
Haidar membukakan pintu setelah mengetahui siapa yang datang.
"Deden mana?" tanya Key, Haidar menunjuk siswa yang terduduk di lantai.
Key menghampirinya cepat, ia panik, dengan segera gadis itu berjongkok di depan Deden dan mengelus pipi Deden pelan. "Deden? K- kamu gak apa-apa?" Terdapat nada khawatir di dalam kalimat Key.
Deden menatap Key intens, matanya mulai berkaca-kaca, tetapi ia tahan. "Gak apa-apa, Key. Mau pulang? Urang ambil helm di kamar mama dulu, nanti maneh pake punya Dokter Ahay ." Deden balik mengelus pipi Key sambil tersenyum hangat, ia berdiri dan meninggalkan ruangan untuk mengambil helmnya.
"Untung saya punya pacar, jadi gak terlalu iri-iri amat," ucap Haidar menatap kepergian Deden.
"Deden kenapa?" tanya Key masih penasaran, ia berdiri di samping Haidar.
"Saya gak bisa jawab, itu rahasia perusahaan," jawab Haidar tersenyum manis.
"Oh," timpal Key singkat.
"Kamu kebanyakan makan triplek, ya? Sama kondisi pacar kok responnya datar. Gak mau tahu lebih lanjut?"
"Tante Rena sakit apa?" Key menanyakan hal lain yang ingin ia ketahui.
"Saya kurang tahu spesifiknya."
"Dokter kan yang menangani tante Rena, kenapa kurang tahu?"
"Karena gak kelebihan tempe," jawab Haidar tertawa akan jokesnya sendiri yang garing, padahal kan gak lucu. "Haha, saya bukan dokter yang menangani Ibu Rena."
"Terus?" tanya Key singkat.
"Saya Dokter yang khusus menangani, Deden? Kafa? Atau Rayyan?" ucap Haidar yang membuat Key mengernyit bingung. "Wah, saya bingung sendiri manggil itu anak apa. Dia terlalu banyak memakai topeng." Haidar menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Deden sakit?"
"Kamu jaga dia, Deden sehat secara fisik. Namun, di sini-," Haidar menunjuk kepalanya,"Dan di sini," lanjutnya memegang Dada. "Ia berusaha mati-matian melawan rasa sakitnya,"
Key yang penasaran melirik badge name yang tertera pada jas 'Haidar Anwar, Sp.KJ.'
"Psikiater?" Key bertanya-tanya di dalam hati.
* * * * *
Kami keluarga 'Pangeran Gesrek' mengucapkan, "Minal aidzin walfa'izin, mohon maaf lahir dan batin." Terutama author minta maaf karena sering lelet update😅
Urang \= Saya
__ADS_1
Maneh \= Kamu
Jangan lupa, like, komen, vote, RATE bintang lima dan klik favorite, mau ngasih saran juga boleh. See you next part!