
Sulit untuk ... lari dari kejaran masa lalu. Urang takut ... setiap urang tidur, kenapa rasa bersalah yang selalu menyelimuti? ~ Kang Bubur
* * * * *
Deden mengerjapkan matanya perlahan, mengatur cahaya yang masuk ke netranya. Padangannya sedikit buram, ia kenal tempat ini. beberapa kali ia mengunjunginya.
Baju putih khas seorang pasien melekat rapi di tubuh Deden. Sebuah selang infus sudah terpasang di tangan kirinya. Terakhir kali ia ingat, ia tengah berkelahi bersama teman-temannya dan perutnya tertusuk oleh pisau.
Deden mulai bangkit duduk, tak ada siapapun di dalam ruangan. Hanya kosong, kesunyian yang biasa ia rasakan. Deden mencoba berdiri, bangkit dari ranjangnya, pinggangnya terasa nyeri, sepertinya luka yang ia dapat belum sembuh total.
"Suster?" Deden melangkah mencari seorang perawat, ia heran kenapa rumah sakit sangat sepi, bukan sepi seperti biasanya.
Sambil membawa infusnya Deden melangkah perlahan. Kepalanya tiba-tiba berdenyut, Deden memejamkan mata merasakan sakit.
"Baginda mama, Kafa mau berlibur ke rumah nenek," ucap Seorang anak kecil ditemani ibunya duduk di taman rumah.
Si ibu terkekeh pelan."Kamu, kan, baru kemarin pergi ke sana ketika berlibur," ucapnya mengelus lembut rambut anaknya.
"Pokoknya Kafa mau lagi!" tegas anak itu cemberut.
Deden tertawa melihat potongan ingatan yang tiba-tiba terputar, seakan-akan ingatan itu bergerak di hadapannya. Ia merindukan ibunya, sangat merindukannya. Tanpa ia sadari air mata menetes melewati pipinya.
Si ibu seketika menatap ke arah Deden lembut, ia menyodorkan tangan, memberi isyarat untuk memeluknya. Deden terkejut, apa ini? Semua ini begitu nyata.
Deden menghambur ke pelukan ibunya, ia tak peduli ini nyata atau tidak, yang jelas ia sangat merindukan ibunya.
"I miss you, Baginda mama," ucap Deden terisak pelan, ia semakin mengeratkan pelukannya.
"I miss you," bisik Deden semakin terisak, bahunya bergetar.
Hangat, terasa sangat hangat, Deden hanya ingin seperti ini selamanya. Berada di pelukan ibunya.
Deden semakin mempererat pelukannya, tapi tubuh ibunya malah terkulai lemas. Dilihatnya oleh Deden, tangannya yang sekarang berlumuran darah. Tangannya tiba-tiba menyusut, ukuran tubuhnya berubah mengecil, layaknya seorang anak berusia tujuh tahun. Ia ingat ini, memori yang berusaha ia kubur dalam-dalam.
Deden melihat wajah ibunya yang tak berdaya, memucat sambil tersenyum ke arahnya.
"Don't leave me alone, Please." Deden menggoyangkan tubuh ibunya yang bersimbah darah. "Help me!" teriaknya sambil menangis terisak.
Seperti film yang terputar, Deden serasa dipindahkan di tempat yang sekarang menjadi luka di hatinya. Ia tak kuat, ia tak kuat melihat ibunya yang kesakitan. Di jalanan yang merenggut nyawa ibunya, ia terduduk di samping wanita yang paling dicintai. Tangisan Deden kecil semakin keras.
Orang-orang yang berlalu lalang mulai mengerumuni, baru saja terjadi kecelakaan. Sebuah truk besar menabrak seorang wanita yang menolong anaknya ketika menyebrang.
"Call my dad!" Tubuh anak itu gemetar, matanya buram karena air mata.
Seseorang mulai mencoba memanggil ambulan. "What happened, kid?"
Serasa dihantam batu besar, kepala Deden semakin berat. Rasa sakit seketika menjalar ke seluruh tubuhnya, pandangannya kian mengabur hingga tak bisa melihat apa-apa.
"Kau sedang terluka!" bentak seseorang menyadarkan Deden.
Suara ini ... Deden mengenalnya, ia lebih menajamkan mata, melihat siapa yang berbicara. Di depan Deden sekarang terlihat sebuah bus yang terguling mengeluarkan asap. Seorang siswa memakai seragam Abbundan junior high school, sekolah SMP yang sama dengannya, ia bolak-balik masuk ke dalam bus menyelamatkan orang-orang yang terluka.
__ADS_1
"Rayyan?" tanya Deden terkejut.
Deden berusaha berdiri, tapi ... kepalanya sakit, kakinya juga sulit digerakan. Ia tidak ingat apapun, dirinya tengah bersandar di pinggir trotoar dengan seluruh tubuh terluka.
"Rayyan! Keluar!" teriak Deden meneriaki Rayyan yang masih menyelamatkan orang lain di dalam bus.
"Rayyan! Busnya bisa meledak!" Deden kalut ia tak bisa melakukan apapun.
Deden memukul-mukul kakinya yang tak dapat digerakan. Ia kesal, merasa dirinya tak berguna, dengan sigap Deden merogoh sakunya, mengeluarkan ponsel dan menghubungi seseorang.
Rayyan datang, membawa korban lainnya yang berdarah, penuh luka. Dibaringkannya korban tak sadarkan diri di sebelah Deden.
"Jangan kembali ... jangan! Kumohon!" pinta Deden serius, ia menahan lengan Rayyan yang hendak kembali ke dalam bus.
"Hiduplah yang baik," ucap Rayyan tersenyum, ia kembali berjalan ke dalam bus, mencari korban lainnya.
"Rayyan!"
DUARR!
Bus meledak kobaran api menyelimuti Rayyan yang menghilang dibaliknya. Deden menangis, ia benar-benar tak berguna.
* * * * *
Telinga Deden terasa berdenging, pinggangnya juga nyeri. Ia tersentak bangun dengan berkas air mata di pipi. Apa dia tadi menangis?
Deden menghela napas panjang. Mimpi itu lagi ... mimpi yang selalu membuatnya ketakutan, mimpi yang selalu membuatnya merasa bersalah dan tak berguna. Bahkan dalam mimpi pun, ia tak dapat berbuat apa-apa.
Deden mencoba duduk, walaupun terasa perih akhirnya ia berhasil. Ia menggunakan bantal sebagai sandarannya sendiri, dilihatnya Gibran dan Vino tidur bertumpuk di atas sofa, Juna dan Bagas lesehan di lantai, mereka tengah tertidur pulas.
Deden terkikik geli melihat teman-temannya. Terakhir, ia melihat gadis cantik tidur terduduk di samping ranjang. Deden mengusap kepalanya lembut, Key terlihat imut ketika tertidur.
Key membuka matanya perlahan, ia melenguh tertahan. "Deden? Lo udah sadar?" tanya Key tersentak bangun.
Deden menyimpan jarinya di bibir, mengisyaratkan Key agar memelankan suaranya.
"Udah berapa lama urang pingsan?" tanya Deden tersenyum.
Key menunduk. "Dua hari," jawabnya ragu, tangannya tak bisa diam.
"Maneh kenapa?" tanya Deden tertawa.
Key semakin menunduk dalam, air mata mulai menetes jatuh, isakan kecil terdengar dari mulutnya.
"Hello, My princess? Are you ok?" tanya Deden mulai khawatir melihat Key menangis.
"Lo pacar gue, 'kan?" Key balik bertanya, ia mengusap air mata yang tak henti-hentinya keluar.
"Iya, dong. Maneh kenapa, sih?" tanya Deden berusaha duduk tegak.
Key berdiri, ia mendekat ke arah Deden sambil merentangkan tangan. "Peluk!" titahnya sambil menangis.
__ADS_1
"Apa, sih? Kok pacar urang tiba-tiba minta peluk? Kesambet apa?" tanya Deden menggoda sambil menahan tawa.
Grep!
Tanpa aba-aba Key langsung memeluk Deden erat. "Diem! Gue mau peluk," ucap Key sambil menangis.
Deden mebalas pelukan Key lembut, menepuk-nepuk punggungnya pelan.
"Iya ... udah di peluk, nih," ucap Deden, Key semakin menangis di pelukannya.
"Udah, jangan nangis, kan, udah dipeluk." Deden semakin mengeratkan pelukannya.
"Gue benci sama lo! Kalo lo mati gimana? Gue benci! Gue takut kehilangan lo," ucap Key sambil terisak.
"Siapa yang ilang? Urang gak ke mana-mana."
"Tidur lo kelamaan," cerca Key masih terisak.
"Urang istirahat sebentar."
Key menggeleng dalam pelukan. "Gue hampir kehilangan lo. Jangan gitu lagi ... gue sedih liat lo terluka," ujar Key tulus, ia melepaskan pelukannya perlahan.
"Enggak bakal pacar ...." Deden menangkupkan kedua tangannya di wajah Key. "Jangan nangis! Maneh imut kalo nangis. Mau sama urang titik dua bintang?" tanya Deden menaik-turunkan alisnya.
"Berisik! Tahu gitu gue bunuh aja lo pas tidur!" bentak Key, wajahnya merona merah. Ia melipat tangannya didepan dada.
Deden tertawa, tapi sesaat kemudian ia meringis karena terasa sakit di perutnya.
"Makanya lo jangan nakal ... sakit, 'kan? Ha? Nakal, sih!" tanya Key menarik sebelah pipi Deden kesal.
"Hie ... Huka banget, ya, Hama urang?" Deden berujar tak jelas karena sebelah pipinya yang ditarik.
Key mendecak sebal. "Gak tahu, deh! Gue mau beli makan!"
"Bentar, Key, sebentar."
Deden menunjuk teman-temannya yang masih tertidur lelap.
"Kebakaran! Kebakaran! Kebakaran!" teriak Deden membangukan teman-temannya.
Mereka yang terkejut, kalang kabut tak karuan, berlarian tak tentu arah.
"Mana? Mana kebakaran mana?" tanya Gibran membawa ember dari toilet, matanya masih setengah terpejam.
* * * * *
Hy! Hy! Mohon kritik dan sarannya yang membangun. Makin gaje nih cerita, hehe. Kalo ada salah marahin aja authornya.
Urang \= Saya
Maneh \= Kamu
__ADS_1
Jangan lupa, like, komen, vote, klik favorite, dan RATE bintang lima. See you next part.