Pangeran Gesrek

Pangeran Gesrek
Cermin


__ADS_3

"Wah keren lo, Key. Peringkat lo di kelas mantap banget!" ucap Viera memuji kegirangan.


Mereka baru saja selesai mendapat raport hasil belajar masing-masing. Itu berarti libur panjang menanti di depan mata.


Key masih terdiam, ia fokus pada ponsel di genggamannya. Gadis cantik itu tak mempedulikan Viera yang sedang berbicara panjang lebar.


"Ra, anter gue, yuk?" pinta Key langsung menarik tangan Viera untuk mengikutinya.


Key bergerak cepat, Viera kesulitan mengikutinya. Mata Key tampak menelisik, mencari orang di kerumunan para siswa yang berdesakan hendak pulang.


"Gibran! Vino!" panggil Key melambai, melihat dua orang siswa yang sedang saling pukul.


Key menarik Viera untuk segera mendekati duo cunguk.


"Kenapa, Key?" tanya Gibran menghentikan aksinya.


Viera dan Vino entah bagaimana caranya mereka malah bertengkar, baru saja bertemu beberapa menit, mereka malah saling melempar hujatan. Apakah hubungan antar mantan memang semenyeramkan itu?


"Ehm .... " Key tampak ragu untuk bertanya. "D- Deden mana?" Suara Key pelan.


"Gue gak tahu, tadinya gue malah mau nanya sama lo. Udah lima hari gue gak liat Deden," jawab Gibran ikut kebingungan.


"Dia gak sekolah?"


"Enggak. Ke mana, ya, tuh cunguk?" Gibran balik bertanya.


"Bukannya kalian yang terakhir kali sama Deden?"


"Si Juna yang nginep nemenin Deden di rumah sakit.  paginya kita dateng, tapi Deden udah gak ada," ucap Vino ikut menimpali, sepertinya ia sudah selesai bertengkar dengan Viera.


"Gimana, sih? Kalian, kan, sahabatnya. Masa gak tahu?" cerca Viera mendecak kesal.


"Nah itu dia ... lo kan pacarnya Key. Deden gak ngabarin gitu? Kalian belum ngasih pajak jadian lagi." Gibran berujar tak jelas, entah ke mana tujuan ucapannya.


"Waktu itu Deden nelpon gue berkali-kali. Gue sengaja gak angkat." Key menggigit bibir bawahnya cemas. "Hari ini dia ngirim pesan ke gue."


"Pesan apa? Mana-mana liat?" Vino tampak antusias.


Key menyerahkan ponselnya, terdapat 99 pesan masuk dari nomor yang sama, isi pesannya pun semuanya sama.


"Urang gak apa-apa?" tanya Vino membaca isi pesan. "Maksudnya apa?" Ia menggaruk kepalanya bingung.


"Mana gue juga mau liat!" Gibran merebut ponsel dari tangan Vino.


"Apa bener Deden gak apa-apa?" Viera merasa aneh. Kenapa jika Deden tak apa-apa, ia malah mengirim pesa sebanyak itu.


"Makanya gue takut," lirih Key memainkan tangannya tak tenang. "Gue takut Deden kenapa-kenapa."


"Dia gak ngehubungin apa-apa lagi?" Gibran menggeser layar ponsel ke bawah.


"Enggak." Key menggeleng.


"Ayo kita tanya Juna," usul Viera. "Dia, kan, yang terakhir sama Deden."


*        *         *          *       


"Sulit bukan? Memperbaiki yang telah rusak?"


Deden berdiri, menatap ke depan. Matanya terlihat berubah sendu dan penuh luka. "Urang kira bakal berhasil."

__ADS_1


"Tapi kenyataannya?"


"Kesalah baru yang urang buat-" ucap Deden menunduk. "Terasa lebih menyakitkan."


"Apa yang akan lo lakukan selanjutnya?"


"Urang gak tahu. Harapan urang satu-satunya buat nebus kesalahan, hilang begitu aja." Deden mulai terisak, pupilnya bergetar menahan air mata.


"Percuma bukan? Semuanya terasa sia-sia."


"Kenapa? Apa karena kesalahan yang urang buat terlalu banyak?  Sampai-sampai ... buat memperbaikinya pun urang gagal." Deden tak bisa menahan air mata yang keluar begitu saja.


"Gue gak tahu lagi."


"Hahaha, semuanya gagal. Urang gak berguna," ucap Deden tertawa dalam tangisannya. "Bahkan air mata urang pun. Rasanya terlalu banyak keluar, itu artinya urang gagal bukan?"


"Miris, ya?"


"Hati urang sakit, hahaha ...." Tangan Deden memegang erat Dada kirinya. "Benar-benar sakit. Tolong ...."


"Gue gak bisa nolong."


"Gimana? Apa yang harus urang lakukan? Semuanya hancur."


"Apa yang lo dapetin dari semua ini?"


"Rasa sakit ... urang cuma bisa menambah luka."


"Gue- "


"Kenapa sakit banget. Terlalu sesak, urang gak kuat nahan." Deden memukul-mukul dada kirinya keras.


"Bukannya lo harus semangat? Itu, kan, yang lo bilang di awal. Kalo lo semangat semuanya akan mudah."


"Apa ini adalah akhir?"


"Apa ada mesin waktu? Kalo bisa urang jangan dilahirkan." Senyuman Deden berusaha menutup duka.


"Lo tahu kalo itu gak ada."


"Ah ... benar-benar sakit," ucap Deden meringis.


"Lelah? Huh?"


"Bukan lelah ... urang yang lemah."


"Lalu lo ingin akhir yang seperti apa?"


"Happy end? Urang egois bukan? Sulit, ya?" Deden tertawa miris.


"Kenapa tak kau coba lanjutkan? Jangan dulu mengakhirinya."


"Urang takut, takut untuk melanjutkan," lirih Deden mengusap air mata di pipinya.


"Lantas kau mau bagaimana?"


"Sudah cukup bukan? Setidaknya urang sudah berusaha. Ini benar-benar terlalu sakit ... urang gak kuat lagi." Deden mencengkram dadanya kuat-kuat.


"Bagaimana dengan Key?"

__ADS_1


"Jangan! Biarkan dia menjauh. Urang gak mau dia tersakiti seperti orang-orang di deket urang."


"Kau yakin?"


"Urang suka sama dia. Urang sayang sama dia. Urang bener-bener suka. Tapi urang gak bisa."


"Jadi bagaimana, kita akhiri permainan menyakitkan ini?"


Deden menatap cermin di hadapannya. Tidak ada siapa pun selain dirinya, di toilet kamarnya ini. Hanya dia seorang.


Deden menyeringai, menatap pantulan dirinya di cermin. "Ya, mari kita akhiri."


*        *        *         *          *


"Juna!" teriak Viera memanggil orang yang sudah siap memakai helmnya.


"Ya?" timpal Juna datar.


Key menunduk, lagi-lagi ia ragu. "D- Deden ke mana?" tanya Key.


"Gue gak peduli," jawab Juna tanpa ekspresi.


"Bukannya lo yang terakhir sama dia?" Vino dan Gibran berujar bersamaan.


"Ya, tapi gue gak peduli."


"Lo kenapa, sih? Akhir-akhir ini menjauh!" bentak Vino.


"Coba lo tanya sama sahabat cunguk lo!" Juna membalas kasar.


"Kita gak tahu Deden di mana. Dia gak sekolah berhari-hari," ucao Viera mencoba menenangkan suasana.


"Gue tetep gak peduli!"


"Kalo ada masalah ngomong, bang*at!" Gibran menarik kerah Juna paksa.


"Ini gak ada hubungannya dengan kalian."


"Deden sahabat kita!" ucap Gibran semakin mengeratkan cengkramannya.


"Sahabat kalian! Bukan sahabat gue!"


"Jun ... gue minta tolong. Gue khawatir sama Deden," ucap Key memohon.


Juna mendecih meremehkan. "Buat apa khawatir sama orang kayak gitu? Gak guna!"


"Jun, gue takut Deden kenapa-kenapa," ucap Key tulus.


Kak Bimo is calling ....


Ponsel Juna bergetar, ia segera mengangkat telponnya.


"Hallo, Kak?" ucap Juna perlahan.


Juna terlihat terkejut, matanya membulat sempurna, sedetik kemudian matanya terlihat berkaca-kaca. Juna menjatuhkan ponselnya, wajahnya pucat seketika.


"Kenapa, Jun?" tanya Vino khawatir.


"Jun, lo gak apa-apa?" Key berujar khawatir.

__ADS_1


"Kafa breng*ek! Deden bolot! Kalian gak ada yang bener! Gue benci kalian!" cerca Juna jatuh terduduk. Kakinya lemas seketika.


* * * * *


__ADS_2