
"Kenapa semuanya berubah? Padahal mereka kan bukan power ranger." Keyara Valensia
~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~
"Key!" panggil Viera menggebrak meja, napasnya kelelahan dan keringat bercucuran di wajahnya.
Ini masih pagi bahkan gerbang baru beberapa menit terbuka, para guru juga belum berdatangan. Pelajaran olahraga masih beberapa jam lagi untuk dimulai, lalu mengapa Viera sudah kelelahan? Key yang tadinya asyik membaca novel terkejut dan menatap Viera heran. Siswa-siswi yang sudah berada di kelas sejenak menatap mereka kemudian kembali ke aktivitas mereka masing-masing.
"Kenapa lo? Habis dikejar kuyang?"
"Eh ... amit-amit jabang bayi," ucap Viera mengelus perutnya.
"Emang lo lagi hamil? Wah jangan-jangan lo- " Key tidak meneruskan kalimatnya, ia menatap Viera menyelidik. Viera yang ditatap malah seperti orang yang tertangkap basah.
"Coy! Coy! Amit-amit jabang usus," ucap Viera kembali mengelus perutnya.
Key terbahak mendengarnya, apa-apaan itu jabang usus? Sepertinya Viera harus diperiksa ke dokter urat syaraf karena urat warasnya yang sepertinya sudah putus. Eh ....
"Kenapa sih lo?" tanya Key masih dengan sisa tawanya.
"Lagian lo nuduh gue yang enggak-enggak. Kalo jadi iya gimana? Mau tanggung jawab lo?" ucap Viera kesal, ia menyilangkan lengannya di dada.
"Maaf," ucap Key menelungkupkan tangannya, tak lupa ia juga menampilkan wajah imutnya.
"Gak dimaafin!"
"Bakso deh satu porsi."
"Gak!"
"Ditambah minumnya dua gelas."
"Oke deal." Viera menjabat tangan Key untuk tanda resmi traktirannya. "Akhir-akhir ini lo lebih asyik ya, Key. Gak sedatar papan triplek yang dihamplas kayak dulu. Datar ... banget."
"Oh jadi dulu gue gak asyik."
"Gitu aja masa baper, nanti cantiknya ilang loh. Bang Deden gak suka lagi," ucap Viera mencubit kedua pipi Key. "Oh iya ngomong-ngomong tentang Deden, tadi gue liat dia di depan gerbang."
Key yang mendengarnya terkejut, ia tak perlu mendapatkan penjelasan lagi. Key segera beranjak dari tempat duduknya dan berlari menuju tempat yang tadi Viera sebutkan. Viera pun segera mengikuti langkah Key.
Di depan pintu gerbang terdapat banyak motor ninja. Bukan banyak lagi mungkin sekitar lima puluh motor lebih motor ninja berwarna-warni. Sejenak Key berpikir jika ada showroom motor dadakan di sekolahnya.
Key dan Viera berada di sebelah utara gerbang, dekat dengan pohon mangga sekolah yang sering diambil buahnya oleh para siswa. Mereka dan beberapa siswa lainnya menatap dari jauh sekumpulan orang dengan motor itu tak percaya. Siswa-siswi yang sudah tiba juga tampak berkerumun penasaran di tempat lain untuk melihat gank motor yang tiba-tiba berada di depan gerbang sekolah, ditambah dengan Deden yang berada diantara mereka. Orang-orang tersebut memakai seragam dari sekolah yang berbeda-beda mereka tampak sesekali bersorak ketika pria berlesung pipit bersuara.
Pak satpam kewalahan menjaga ketertiban, siswa dari dalam yang memaksa berhamburan keluar. Siswa yang hendak masuk ke sekolah pun ragu-ragu melihat gank motor tersebut dan berbelok sejenak ke warung makan disamping sekolah.
"Itu, Key. Deden yang di depan," ucap Viera menunjuk Deden yang tengah duduk diatas motornya sambil berbicara dengan seseorang.
"Sejak kapan dia ikut gank motor?"
"Lo yang tiap detik ditempelin sama si Deden. Kenapa malah nanya ke gue?"
__ADS_1
"Lo kira dia setan ditempelin."
"Asik ... ngebela."
"Diem deh."
"Oke, aku batu. Aku diam." Viera benar-benar berdiri tegap dan diam. "Tapi kenapa gak lo samperin aja, Key?"
"Gue masih pengen mantau dulu."
* * * * *
"Hy, Den." Zea menyapa Deden dan ikut bertengger dimotornya, ia langsung akrab dengan teman se-gank Deden yang lainnya.
"Gue gak disapa?" tanya pria berlesung pipit menginstrupsi Zea.
"Hallo, Jun."
"Makin cantik lo, Ze." Juna mengacak pelan rambut Zea, kemudian melingkarkan tangannya di leher Zea.
"Apa sih, lama tahu gak gue rapihinnya."
"Berasa reuni ya kita," ucap Deden melihat sekelilingnya yang juga penuh orang bercakap-cakap.
"Reuni akbar ini sih, sampe semua anggota gank lo bawa." timpal Zea ikut menatap sekeliling, sesekali ia melambaikan tangan pada orang yang ia kenal.
"Nih sang kapten Kafa. Tiba-tiba ngumpulin kita, padahal sekolah kita udah nyebar dan beda-beda," ucap Juna menunjuk Deden dengan dagunya.
"Deden? Hahaha ...." Juna malah terbahak mendengar ucapan Zea. "Ternyata benar kata orang, lo ganti nama."
"Gak! Gue Kafa, dan selamanya Kafa," ucap Deden. Eh, Kafa menyanggah.
"Woah! Kafa is back. I like it." Zea memeluk Kafa cukup lama, seperti rasa rindunya telah berhasil tersampaikan setelah sekian lama.
"Jangan gitu di depan gue dong. Kalian kira gue udah gak cemburu," ucap Juna pura-pura memelas.
"Basi lo! Masa lalu," ucap Kafa terkikik geli.
"Lo sekarang sekolah dimana? Sejak kapan lo di indonesia?" tanya Zea pada Jun yang sekarang bersandar pada helmnya.
"Garuda. Udah dari dua tahun lalu gue pindah, nih ngikut ampas sepeda," jawab Juna sambil menatap Kafa.
"Udah cukup lama berarti ya,"
"Iya, gue berharap dengan ikut dia Phoenix jaya di negara ini. Awal-awal emang iya sampe anggotanya lumayan kayak gini. Eh, tiba-tiba dia ngilang kayak jin botol," ucap Juna menjelaskan.
"Gue denger lo juga coba ngatur phoenix dan rekrut anggota baru?" tanya Kafa pada Juna yang mulai tertarik pada pembicaraan.
"Iya, gue gagal. Gak ada lo, phoenix hancur."
Sepatu tiba-tiba melayang di atas kepala mereka, bukan satu tapi tiga dan berbeda-beda merek.
__ADS_1
"Woy! Ini sekolah gue, jangan bar-bar." Kafa berteriak kencang, anggota gank yang tadinya tampak ricuh mulai diam.
"The power of kapten. Mereka semua nurut sama lo Fa." Juna bertepuk tangan takjub melihat kepemimpinan Kafa.
"Udahlah sambung nanti. Sekolah gue bisa-bisa runtuh ada kalian semua."
Juna pun bersiap menaiki motornya pergi. Kapten tak bisa dilawan, ucapannya pasti langsung diikuti.
"Apa gue pindah sekolah ke sini aja ya? Kayaknya seru. Gue lihat ceweknya juga bening-bening," ucap Juna sambil menstarter motor ninja hitamnya.
"Sono lo pergi, dasar mesum!" Zea memeletkan lidahnya kemudian menendang pelan motor Juna. Juna hanya tertawa melihat tingkah Zea.
"Satu hal lagi, Kafa. Gue harap lo gak lupa sama Rayyan."
Juna melajukan motornya pergi diikuti motor lainnya, perkataan Juna yang terakhir membuat Kafa terkejut. Wajahnya berubah sendu, jika ia memilih kembali ke masa lalunya berarti ia memang harus kembali mengingat Rayyan.
* * * * *
Kafa mengendarai motornya masuk ke parkiran dengan Zea yang duduk diboncengannya. Para siswa yang sedari tadi memperhatikan masih berkumpul menatap penasaran.
"I am Happy. You are back, Kafa." Zea turun dari motor dan antusias menatap Kafa dihadapannya.
"Me too, Ze."
"Apa kita akan ngelakuin hal kayak dulu?"
"Gue belom tahu. Gue harap lo gak terlibat kayak dulu."
Mereka berjalan menuju kelasnya, Zea menggandeng tangan Kafa mesra. Tak sengaja sepintas Kafa melihat mata Key yang juga menatapnya. Ia segera mengalihkan pandangannya dan mencoba untuk tidak perduli.
"Deden," panggil Key pelan menarik belakang seragam Kafa yang dikeluarkan. Zea menatapnya tidak suka.
"Gue Kafa! Deden udah gak ada. So, lo gak perlu deket-deket gue lagi." Kafa kembali melanjutkan langkahnya meninggalkan Key yang entah sejak kapan sudah mengeluarkan air mata.
Deden yang biasa bicara khas dengan logat sundanya sekarang berubah, tak ada tawa yang biasa terdapat diwajahnya. Key baru tahu rasanya tak dianggap sesakit ini, dan ia melakukan hal tersebut kepada Deden sekian lama.
"Ra ...." Key memeluk Viera, terdengar isakan di sela-sela tarikan napasnya.
* * * * *
Deden jadi Kafa dulu gaes jadi gak bilang.
Urang \= Saya
Maneh \= Kamu
Sekilas info:
Kuyang merupakan siluman berwujud kepala manusia dengan isi tubuh yang menempel tanpa kulit dan anggota badan yang dapat terbang untuk mencari darah bayi atau darah wanita setelah melahirkan. Makhluk ini dikenal masyarakat di Kalimantan.
See you next part. Jangan lupa like, komen, vote, klik favorit, dan rate bintang lima. Bye Bye.
__ADS_1