Pangeran Gesrek

Pangeran Gesrek
Futsal (2)


__ADS_3

Author POV As komentator pertandingan.


*   *    *    *    *


Ya! kembali bersama saya Author ... jebret! Di pertandingan kali ini saya sebagai komentator akan memandu jalannya sebuah topeng monyet, tapi bohong ... Hore! Sebenernya saya takut juga sama itu hewan. Bukan, bukan topeng monyet, tapi sepertinya kelakuan para pemain kali ini tidak jauh dari itu.


Setelah melewati babak demi babak pertandingan, para perwakilan sekolah yang saling berlomba-lomba mengharumkan Raflesia arnoldi, eh ... maksudnya nama sekolah. Akhirnya kita tiba juga pada babak final antara kedua sekolah yang berhasil lolos dan bertahan walaupun tidak dipedulikan. Oke, supaya tidak terlalu panjang dan tidak bertele-tele. Padahal scenenya udah di crop langsung final biar partnya gak kepanjangan. Akhirnya, kita sambit saja para pemain dari SMA Bhayangkara melawan SMA Garuda!


Pertandingan ini akan dilakukan sebanyak dua babak, dengan masing-masing babak berdurasi 20 menit, menurut waktu sebuah cerita, karena gak mungkin baca satu part sampai 40 menit. Oke, lanjut. 


Sebagai penentu tim mana yang mendapatkan bola pertama, wasit utama melemparkan sebuah koin, hanya satu, kalo banyak jatohnya jadi saweran padahal gak ada yang selametan. Di sisi kanan lapangan ada SMA Garuda dengan lima pemainnya yang sudah bersiap, dan di sisi kiri sudah bertengger para pemain dari SMA Bhayangkara di posisinya masing-masing. Tim bhayangkara mendapat bola pertama, pemain bernomor punggung 17 dengan nama Deden sudah bersiap dengan bola di kakinya.


"Den, lo harus serius," ucap Gibran mengingatkan.


"Kapan urang gak serius, Bran? Sama Key aja, kalo bisa sekarang langsung nikah."


"Bola, Deden! Bola noh lo pelototin! Bucin mulu!"


"Apa salah urang, wahai rumput yang bergoyang?" Deden merenggut tak terima. "Eh, ini perasaan urang aja, atau emang tim kita orang-orang unfaedah semua?" tanya Deden melihat rekan satu timnya. Ia mendecak melihat, Vino, Gibran, Juna, bahkan Kak Bagas.


"Jangan main-main! Kita bawa nama baik sekolah!" teriak Bagas balik menatap Deden yang terus melihatnya.


"Bukannya maneh ketuaan, ya? Kelas 12 emang masih bisa ikut? Sejak kapan juga maneh ikut futsal? Fokus ujian sana!"


"Umur saya 18 tahun, 3 bulan, 22 hari, 9 jam, 34 menit, 9 detik. Saya masih muda! Saya juga masih berstatus siswa bhayangkara. Gak usah banyak komen."


"Entah kenapa perasan urang gak enak, apalagi lihat Juna jadi kiper, harus pasrah kebobolan, nih. Udahlah, bisa sampe final aja sebuah keajaiban dunia."


Wasit meniup peluit panjang tanda dimulainya pertandingan. Deden menggiring bola ke depan, terus menggiring, menghindari kaki lawan yang berusaha menjadi peboor (Perebut bola orang), gerakannya lentur setara dengan pensil Inul. Bola dioper ke arah Gibran yang sudah berada di depan, Gibran bergerak maju, dihadang oleh pemain lawan bernomor punggung 22 dan berkepala botak. "Woy! Yang botak siapa namanya? Di data gak ada?" tanya author Jebret sekenanya pada panitia acara.


"Tuxul," jawab salah satu panitia acara dengan sigap.


"Apa, Tukul? Tuyul? Kok, cocok?"


"Tuxul, Thor!"


Oke, Tuxul. Tuxul menghadang Gibran yang menguasai bola. Sekarang Tuxul bersama satu orang lainnya mengepung Gibran hingga tak bisa bergerak. Tuxul mulai berusaha merebut bola dari kaki Gibran, ribet amat namanya Tuxul, lidah berasa minta keseleo aja. Lanjut, Gibran yang terkepung melihat rekan terdekatnya, dari sisi kanan, Deden juga sedang diawasi oleh seseorang. Vino berlari ke depan, tangannya melambai meminta bola.


Gibran berkelit, menghindari kaki-kaki lawan yang seperti ingin menginjak kakinya. Ia menendang si kulit bundar ke arah Vino yang sudah bersiap. Operan cantik yang tak kalah cantik dari mimi peri melambung tepat ke arah Vino yang disambut oleh dadanya, bukan hati, karena hatinya sudah ada Viera dan tak menerima lowongan kerja.


Gerakan kaki Vino cepat dan pandai menghindar, seperti menghindari mantan yang ngajak balikan, membawanya melaju cepat ke daerah lawan. Beberapa meter lagi mendekati kotak pinalti, di hadapannya menghadang Xavier dari tim garuda bernomor punggung 63, Vino terdesak skill merebut bola Xavier terlalu tinggi, setinggi harapan untuk menggapainya yang lebih memilih orang lain. Vino tak sempat mengoper bola pada rekannya, Xavier berhasil merebut bola dengan mudahnya, Vino mendecak sebal karena ia kehilangan bola.


Gerakan cepat dari Xavier membuat tim bhayangakara kesulitan, Xavier dan rekannya yang lain memulai serangan balik.


"Gimana, sih? Gak becus banget bawa bola!" ucap Bagas kesal pada Vino, ia berusaha kembali merebut bola yang sekarang sudah berpindah pada kaki Tuxul.


"Heh! Lo kira gampang? Maju coba, jangan santuy aja di belakang! Rebahan kok gak ngajak-ngajak," timpal Vino emosi, ia berbalik mengahadang lawan yang sudah saling mengoper dan membahayankan gawang yang dijaga Juna.


"Saya jaga kandang, ya!"

__ADS_1


"Pertenakan kali, dah. Ada kandangnya."


Kiper dari tim Bhayangkara---Juna---sudah bersiap, ia merentangkan tangan dan membuka kuda-kudanya. Xavier mengoper bola pada Tuxul, Tuxul mengoper pada Leonard, Leonard menendang jauh ke depan pada Revirus. Anggota tim bhayangkara kesulitan merebut bola, sesulit mengucap nama-nama anggota tim garuda.


Deden mengejar Revirus hingga ke pinggir lapangan, Revirus yang terdesak dengan spontan memberikan umpan silang pada Tuxul! Tuxul menerima dengan mudahnya! Entah pada kemana para pemain dari bhayangkara. Tuxul, masih Tuxul, ia memasuki kotak pinalti. Larinya yang cepat membuat sulit terkejar dan ... jebret! Ah, sayang sekali ... bola dengan mudahnya terlena di pelukan Juna yang selalu sigap dengan keadaan.


Juna mengisyaratkan pada semuanya untuk maju ke depan, sungguh isyarat yang salah hingga para penonton juga ikut-ikutan.


"Panitia! Amankan TKP! Ribut itu ribut!" ucap author jebret berteriak panik.


Setelah menghabiskan waktu selama tiga kali puasa dan tiga kali lebaran, seperti bang toyib yang tak pulang-pulang. Akhirnya pertandingan kembali kondusif.


Pertandingan kembali di mulai, Juna memberikan bola kepada Bagas. Bagas langsung mengopernya begitu saja pada Gibran. Gibran berlari ke depan, menerobos pertahanan. Vino, Deden dan Bagas mengikuti di belakang. Tim garuda yang nama anggotanya sulit diucapkan mulai menghadang, mereka semakin memperkuat pertahanan. Gibran mengoper bola pada Deden di sebelah kanan, bola digiring, terus digiring, dioper ke Bagas, Bagas langsung saja kembali mengopernya pada Deden. Deden mengoper kembali pada Bagas, dikembalikan ke Deden, balik lagi ke Bagas, dioper lagi ke Deden. Gitu saja terus sampai upin-ipin punya jenggot lima meter.


Deden berbalik, kembali menggiring bolanya ke depan, diselingi dahulu dengan goyang itik dan tik-tok-an. Di-rebut saja ... itu bola! Vino bergerak mendekati Leonard yang tadi mengambil bola dari Deden. Vino tampak bersemangat, keringat sudah membasahi tubuh para pemain. Vino mendekat, jaraknya sangat dekat, dan ... ya! Di sleding saja bolanya ... dengan penuh perhitungan akhirnya bola kembali ke pelukan tim bhayangkara.


Pertandingan semakin memanas! Tak kalah panas saat melihat gebetan jalan dengan pacarnya. Bola digiring kesana-kemari, tak tentu arah karena tak diberi kepastian dan-


"PRITT .... PRITT ... PRITT!"


Sayang sekali! Pertandingan babak satu sudah selesai, wasit yang memimpin juga tampak hampir pingsan. Skor saat ini masih seri 0 - 0.


Kedua belah tim dipersilakan untuk istirahat terlebih dahulu, selama-lamanya. Eh, maksudnya hanya 15 menit.


Author Jebret POV end.


"Nih minum!" ucap Key melemparkan sebotol air mineral pada Deden, mereka sedang berada di pinggir lapangan untuk beristirahat.


"Tadi bilang 'I love you'. Gak bisa apa maneh tulus dikit ngasihnya."


"Minum. Entar lo dehidrasi, terus badan lo kering kayak jemuran." Key berucap datar, ia berusaha menyembunyikan ekspresinya yang malu karena teringat sorakannya untuk Deden tadi.


"Urang ikhlas kering kayak jemuran, yang gak enak itu kelamaan di gantung kayak jemuran." Deden menepuk bangku kosong di sebelahnya, mengisyaratkan Key untuk duduk.


Key duduk di sebelah Deden. "Kalo lo di gantung makanya cepet angkat. Daripada mati."


"Bentar-bentar, urang mencium bau-bau kode garis keras."


"Alay, lo."


"Anak layangan, dong. Terbang." Deden memeragakan tangannya yang berpura-pura menjadi sayap.


"Garing, najis."


"Maneh tuh gimana sih, Key. Kadang sikapnya manis, kadang minta ditabok."


"Tabok aja," timpal Key santai.


"Kiss aja mau?" Deden memiringkan kepalanya. Menatap Key yang terkejut mendengar ucapannya.

__ADS_1


"A- apa sih, gak jelas, lo."


"Cie ... jantungnya deg-degan, ya?"


"Iyalah, gue kan masih hidup."


"Yakin?" Deden menatap Key serius, jarak wajah mereka sangat dekat.


"Yakin," ucap Key pasti, Key menantang Deden dengan ikut mendekatkan wajahnya. Sekarang mereka duduk berhadap-hadapan.


"Taruhan? Siapa yang ambyar lebih dulu. Harus ikutin kemauan yang menang."


"Siapa takut!"


"Ini juga hampir tiga bulan batas kesepakatan waktu itu, loh. Urang rasa udah menang."


"Y- ya, itu beda dong."


"Key?"


"Apa?"


Deden menatap Key intens, ia mengelus puncak kepala Key pelan. Ia merasa percaya diri karena merasa perasaannya sudah terbalaskan. "Gak tahu udah berapa kali urang bilang, yang pasti sampe sekarang gak berubah. Urang ... terus suka sama, maneh," ucap Deden tersenyum manis, ia menyelipkan anak rambut Key kebelakang telinganya dengan perlahan.


"Aduh jantung gue, ternyata udah mulai taruhannya." batin Key berusaha mati-matian menyembunyikan ekspresinya.


"Ehm, gak ngaruh, tuh." Key menggelengkan kepalanya, menatap Deden dengan sebelah alis yang naik. "Giliran gue."


"Haha, emang gitu? Oke giliran maneh."


"Mulai hari ini, gue mengakui." Key menunjukan senyum termanisnya, Deden sempat terpana, jantungnya berdetak kencang menunggu ucapan yang akan Key katakan. "Saat ini, gue bener-bener udah suka sama, lo. Sampe gak bisa buat nyembunyiinnya lagi."


"Haha ... biasa aj- "


Cup!


Sebuah ciuman mendarat di pipi Deden lembut dalam sepersekian detik. Deden merasa jantungnya dikeluarkan paksa hingga tak terdengar lagi suaranya, semoga ia tidak mati. Deden membeku, kaku dan pikirannya buntu seketika.


"Anj*r, urang ambyar," gumam Deden menatap kosong ke depan.


*     *     *     *     *


Hy gaes happy reading! Jangan lupa krisannya juga, maafin author kalo ada salah, apalagi part kali ini gaje banget😂


Urang \= Saya


Maneh \= Kamu


Jangan lupa, like, komen, vote, klik fav dan Rate bintang lima yaa ... See you next part.

__ADS_1


__ADS_2