
Warning! Jangan tiru yang tidak baik, jadikan hiburan saja. Kalo ada yang melanggar, nanti tak tabok online!
* * * * *
Deden berjalan lesu menuju kamarnya. Semenjak pembicaraan di rumah Key tadi, pikirannya jadi penuh dengan segala hal. Ia seperti orang yang sangat kebingungan dan tidak tahu apa yang akan dilakukan.
"Kafa, Persiapkan dirimu!" ucap Dirga menghentikan langkah Deden, ia duduk di ruang televisi sambil menyesap kopinya perlahan.
"Untuk apa?" tanya Deden tanpa ekspresi, tatapannya benar-benar meredup.
"Pindah."
"Kafa gak peduli," timpal Deden hendak melanjutkan langkahnya.
"Kamu, pindah. Kembali bersekolah di Amerika, bersama Zea," Dirga berbicara tanpa menoleh ke arah Deden. "Dokumen untuk kepindahanmu sudah papa urus. Setelah ujian semester selesai kau langsung berangkat."
"Kafa bisa mengurus diri sendiri."
"Tidak! kau harus patuh!" kata Dirga dingin.
Deden berbalik arah, menuju keluar rumah. Pikirannya penuh, hatinya juga penuh. Rasa yang begitu menyiksa dan terkumpul terasa menyesakkan hingga tak ada ruang hanya untuk sekedar menghela napas. Terlalu penuh bahkan tidak bisa hanya untuk diutarakan.
"Kafa!" bentak Dirga kencang, tetapi tak dihiraukan.
Percuma, Deden mengira apapun yang akan dikatakan atau dilakukannya sia-sia. Papanya tidak bisa dilawan, tidak mungkin bisa. Ia kembali menaiki motornya, melaju membelah jalanan yang mulai terasa sepi.
* * * * *
"Deden kemana?" tanya Juna kepada Gibran dan Vino yang baru datang.
Grup motor Phoenix, yang Deden bentuk, memiliki kegiatan rutin setiap bulan. Seharusnya mereka sudah memulai kegiatannya, tetapi kapten mereka justru belum datang.
"Kita lihat terakhir kali, pas bantu bolos di sekolah tadi," jawab Gibran diikuti anggukan dari Vino.
"Yaudah, langsung kita mulai aja," titah Juna mengintruksi.
Juna bersiul, puluhan anggota Phoenix mulai berkumpul. "Oke kita mulai serangannya seperti biasa! Sudah siap dengan senjata masing-masing?!" teriak Juna lantang.
"Siap!" Kumpulan suara teriakan itu terdengar bergemuruh, anggota Phoenix menjawab serentak.
"Sebentar, Jun. Ini gue disuruh bawa-bawa sapu lidi dari rumah buat apa, ya?" Vino menenteng sapu yang sedari tadi ia genggam.
"Itu kan senjata anak Phoenix," jawab Juna tersenyum hangat, dapat dipastikan anggota perempuan meleleh dibuatnya.
"Sapu?" Vino memastikan.
"Lo kira kita mau apa? Oh, iya. Kalian masih baru," ucap Juna terkekeh geli. "Acara rutin setiap bulan Phoenix, ada yang namanya 'menyapu mantan' kita bersihin jalan dan lingkungan sekitar taman kota ini." Juna menjelaskan.
__ADS_1
"Menyapu mantan?" Gibran mengernyit bingung. "Lah gue yang gak ada mantan, apa kabar?"
"Mantan sama dengan sampah, jadi kita menyapu sampah, oke," kata Juna menjelaskan. "Bukannya Deden udah pernah bilang, ya? Kegiatan anggota gank kita positif, tapi bukan artinya semua anggotanya positif hamil lho, ya. Masa cowok hamil juga." Juna terbahak karena ucapannya, Gibran dan Vino hanya ikut tertawa, dengan terpaksa.
"Ini gank motor atau gank babu, dah?" cerca Vino.
"Eits, tidak serendah itu, Markonah! Saat kita membersihkan lingkungan tanpa pamrih, di situ artinya derajat kita lebih tinggi dari orang-orang yang membuang sampah sembarangan," ujar Juna tiba-tiba seperti ada cahaya di belakangnya. "Oh iya, biasanya setelah kegiatan 'menyapu mantan' akan ada sesi curhat. Ini yang para anggota paling tunggu-tunggu, karena mereka bisa mencurahkan semua keluh kesah. Kita semua saudara, saudara saling memberi solusi, Deden juga yang biasanya paling sering ngasih solusi."
"Berarti Deden terkadang curhat juga?" Gibran tampak antusias.
"Nah itu dia, dia justru jadi satu-satunya orang yang sama sekali gak pernah curhat. Dia selalu nunjukin ini setiap diminta curhat." Juna menunjukan cengirannya. "Terus bilang, 'urang gak apa-apa' gitu," lanjutnya bercerita.
"Terus-terus?"
"Nabrak!" ucap Juna menoleh ke sekumpulan orang yang masih diam. "Udahlah cepet mulai. Ayo semuanya mulai!" Juna kembali berteriak memberi intruksi.
Para anggota Phoenix menyebar, mereka ada yang menyapu di jalan, di dekat air mancur tengah taman, dekat tempat orang berjualan, dan lain-lain. Mereka di terima secara hangat, ada juga orang-orang yang memberikan mereka makanan atau cemilan secara sukarela.
Di sela-sela istirahat, terkadang mereka bersenda-gurau, jika seluruh anggota Phoenix adalah keluarga, ini benar-benar sebuah keluarga besar yang hangat.
"Avadakadavra! Plontos! Plontos!" ujar Doni yang berkacamata tertawa, ia merupakan salah satu anggota Phoenix.
Doni menaiki sapu lidi layaknya sapu terbang, ia memegang ranting yang di arahkan pada Budi yang memang berkepala plontos.
"Hy, kau, Harry mutter! Simsalabim jadi apa ... prok! Prok! Prok!" timpal Budi ikut tertawa.
Gibran, Vino, dan Juna yang sudah menyelesaikan tugasnya ikut bergabung.
"Jangan berani-beraninya kau melawan tuan, ini Budi Volsemprot! Tenang tuan,. hamba disebelahmu!" Vino bergaya sama dan berdiri di samping Budi.
Juna tertawa terbahak-bahak. "Tatap mata saya! Hati-hati ... jatuh cinta," ucap Juna berdiri di tengah-tengah mereka.
Para anggota lain mulai kumpul berdatangan melihat tontonan gratis itu, taman dan jalan sudah terlihat rapi dan bersih.
"Apa Deden belom dateng?" tanya Juna mengedarkan pandangan, sesaat setelah tawanya berhenti.
* * * * *
Tubuhnya tak dapat tegap, kepalanya terasa sangat berat. Mati-matian Deden berusaha menyeimbangkan tubuhnya, setelah ia memarkirkan motor ia segera masuk ke dalam Kafe yang sudah lama ia kenal.
"Loh, kok, lo ke sini, Den? Hari ini kafe kan tutup. Gue mau libur dulu." Bimo kebingungan melihat kedatangan Deden, penampilannya sangat acak-acakan masih dengan seragamnya. "Lo belum pulang? Lo kenapa?" tanya Bimo mulai khawatir.
Deden menggerak-gerakkan tangannya, meminta Bimo agar tak menghalanginya. Siswa yang masih mengenakan seragam itu, berjalan ke arah meja barista ia berjongkok seperti sedang mencari sesuatu.
"Nyari apa?" tanya Bimo penasaran ikut berjongkok.
Deden membuka sebuah laci dan mengacak isinya, ia mengeluarkan satu strip tablet obat bertuliskan 'Xanax'. Ia terduduk, dalam gerakan cepat Deden menelan dua buah tablet obat tersebut tanpa dorongan air minum.
__ADS_1
Pikiran Deden semakin kalut, air mata meleleh begitu saja melewati pipinya. Pria itu segera membuka kembali sebuah tablet dan langsung meminumnya, tangisannya semakin pecah. Lagi-lagi Deden mengeluarkan tiga buah tablet di telapak tangannya, berniat meminumnya sebelum Bimo mencekal tangannya.
"Gila, Lo! Mau overdosis?!" Bimo merebut semua obat yang Deden genggam.
"Balikin, Bang. Gue mohon, gue mohon," ucap Deden dengan suara serak.
Bimo tidak memperdulikannya, ia mengeluarkan ponsel dari kantungnya dan segera mengetik nama obat itu di mesin pencarian 'Mbah Egle', mata Bimo terbelalak setelah membaca secara sekilas keterangan yang ada.
Xanax termasuk obat yang memiliki kandungan alprazolam yang merupakan obat anti kecemasan, panik, dan depresi.
Walaupun fungsi utamanya sebagai obat penenang, obat ini harus dikonsumsi sesuai resep dokter.
Kandungan alprazolam akan berikatan dengan reseptor GABA (Gamma-aminobutyric acid) yaitu sel saraf dan hormon otak yang tujuannya menghambat reaksi neurologis yang berbahaya.
Sehingga mereka yang mengonsumsi xanax akan menjadi lebih tenang dan mudah mengantuk.
Efek samping dari konsumsi xanax berlebihan adalah pusing, penurunan ingatan, kejang, alergi, hingga perubahan suasana hati.
"Sejak kapan lo minum ini?" tanya Bimo penuh emosi. "Jawab!" bentaknya.
Deden terlihat tak karuan, wajahnya penuh dengan air mata. "Balikin, Bang. Gue mohon," pinta Deden dengan bibir yang bergetar.
"Buat apa lo minum yang kayak beginian?" Bimo naik pitam.
"Gue capek, Bang. Gue cuma mau istirahat. Lima menit aja, tolong ... lima menit aja cukup." Deden memohon. "Gue capek, Bang. Gue capek! Tolong, Bang. Biarin gue istirahat lima menit ... aja. Tolong, Bang gue capek," ujar Deden lirih, suaranya terdengar parau.
"Lo kira dengan banyak-banyak minum kayak gini semuanya bakal selesai? Gitu? " Bimo menyentakkan kesal obat di tangannya.
"Gue harus gimana lagi, Bang. Gue gak tahu, gimana? Harus gimana? Kasih tahu gue, Bang! " Deden terisak, air matanya tak dapat ia bendung lagi.
Mata Deden mulai buram, dadanya terasa semakin sesak, sedetik kemudian semuanya gelap.
Bimo memapah Deden sekuatnya ke lantai atas kafenya, tempat di mana ia beristirahat atau sekedar ingin menginap di tempat kerja. Tatapannya nanar, melihat seorang siswa yang terbaring lemah. Sosok yang biasanya selalu tersenyum, mendadak penuh tangis di hadapannya dan berkata jika ia lelah.
"Lo kenapa, Den? Kalo ada masalah bilang! Gue udah anggap lo sebagai adek gue sendiri," ujar Bimo prihatin, ia memakaikan selimut di atas tubuh Deden dan membukakan sepatunya.
"Maaf, maafin Kafa. Kafa salah," gumam Deden dalam tidurnya. "Semuanya gara-gara Kafa. Maaf, maaf, maaf, maaf, maaf," lanjutnya menangis dalam tidur. Bimo hanya dapat menatap nanar sosok yang terlihat kuat, tetapi ternyata begitu rapuh itu.
* * * * *
Hy Gaes! Happy Reading. Jangan lupa kritik dan sarannya, ya. Author banyak salah, jadi marahin aja.😂
Urang \= Saya
Maneh \= Kamu
Jangan lupa, Like, Komen, Rate bintang lima, dan Klik Favorit, ya. See you next part.
__ADS_1
Sumber:
https://solo.tribunnews.com/amp/2020/02/28/5\-jenis\-obat\-untuk\-depresi\-yang\-dijual\-di\-apotik\-ternyata\-masuk\-golongan\-psikotropika?page\=2