Pangeran Gesrek

Pangeran Gesrek
Kesalahan (2)


__ADS_3

Kafa berjalan tertatih-tatih dibantu tongkat menuju ruang kerja ayahnya di rumah. Matanya sembab karena selama dua hari ia menangis tanpa henti.


Dirga tengah duduk di bangkunya, tampak sibuk mengerjakan sesuatu. Tangannya tak henti-hentinya bergerak dan memastikan sesuatu.


"Baginda papa? Apa ini?" tanya Kafa gemetar, ia memperlihatkan di meja surat kabar yang berisi kecelakaan mengenai dirinya dua hari lalu.


Terdapat berita di surat kabar tersebut, sebuah foto bus terguling yang terbakar juga tulisan di sekelilingnya, jika diartikan berarti,


'Kecelakaan terjadi di persimpangan jalan 16th street, sebuah bus terguling. Pelaku berinisial RAL berkendara ugal-ugalan dan menabrak bus. Pelaku dan satu korban lainnya dinyatakan meninggal.'


"Kenapa Rayyan disalahkan?" tanya Kafa, suaranya terdengar serak.


"Siapa yang menyuruhmu membuat masalah?" Dirga balik bertanya, tatapannya begitu dingin.


"Kafa yang salah! Kenapa seluruh kesalahan dilimpahkan pada Rayyan!" teriak Kafa dengan rahang yang mengeras. "Rayyan pahlawan! Kafa penjahatnya! Itu yang benar!"


Plak!


Kafa jatuh terduduk di lantai, pipinya terasa panas, tongkat yang ia pegang terlempar ke belakang. Dirga tadi tiba-tiba berdiri dan menampar Kafa begitu saja. Ia merapikan jasnya, jari-jari tangannya ia renggangkan.


"Kau mau apa?" Tatapan mata Dirga begitu tajam, ia berjongkok mensejajarkan diri dengan putranya. "Kau mau dipenjara?"


"Ya! Kafa mau dipenjara! Kafa mau bertanggung jawab!" balas Kafa tak kalah sengit.


Plak!


Tamparan kembali mendarat di pipi kiri Kafa, wajahnya sekarang terasa kebas dan mati rasa.


"Kau mau ayahmu ini bangkrut? Pemilik perusahaan yang bergerak di bidang transportasi, anaknya tak tahu tata krama akan lalu lintas?" Senyum seringai muncul di wajah Dirga. "Ucapkan lagi apa yang kau inginkan!" titahnya serius.


"Kafa akan bertanggung jawab atas kematian Rayyan!"


Plak!


Sudut bibir Kafa berdarah, ia meringis sambil mengusapnya perlahan.


"Kau tahu? Berapa banyak biaya yang kukeluarkan untuk menutupi kebod*hanmu? Dasar anak tak tahu diuntung!" Dirga berdiri, melonggarkan sedikit dasinya.


"Gak boleh! Rayyan gak boleh disalahkan!" gumam Kafa mulai terisak, tangannya terkepal kencang. "Kafa yang salah! Gue harus dipenjara!"


"Anak ini benar-benar!" Dirga mendecih pelan, ia hendak kembali menampar Kafa tapi ia urungkan. "Bagaimana kamu menyelesaikan masalah kemarin? Mengenai yang terjadi pada ibumu saja kau diam! Apa yang kau bisa selain membuat masalah?!" cerca Dirga setengah berteriak.


Perih, ketika kau tak bisa berkutik di depan yang berkuasa. Ingin melawan, tapi tak bisa. Ketika semua beban berada di pundakmu, ketika keadaan tak berpihak padamu.


"Gimana?" lirih Kafa memperbaiki posisi duduknya lebih tegak. "Gimana caranya Kafa memperbaiki semuanya?" Kedua tangan Kafa terkepal di atas paha yang ditekuk.


"Kau tak bisa bukan? Makanya diam saja dan ikuti perintahku!"


"Kafa harus bagaimana? Rayyan tidak bersalah, dia gak salah. Dia gak boleh disalahkan!" ucap Kafa kembali terisak.

__ADS_1


"Walupun kau sujud di hadapanku! Tak akan mengubah apapun, diam saja dan ikuti semuanya!"


"Bersujud," gumam Kafa.


Ragu-ragu Kafa mulai menunduk, tangannya yang gemetar ia siapkan untuk posisi sujud.


"Tolong ... Rayyan tidak bersalah," lirih Kafa tertahan.


"Aish, apa-apaan anak ini!" ucap Dirga meninggalkan ruangan.


"Rayyan tidak bersalah, dia pahlawannya. Dia tidak bersalah. Kafa yang salah, Kafa yang harus disalahkan, Kafa yang salah," gumam Kafa mulai bangkit berdiri.


Kafa berjalan menuju pintu rumah, ia menggumamkan kalimat yang sama berulang kali. Seorang sedang menunggunya sedari tadi, seorang wanita dengan baju seadanya dan kondisi yang cukup berantakan. Wajahnya pucat, matanya juga sembab, tak jauh berbeda dengan Kafa.


"Bagaimana Kafa? Rayyan tidak bersalah bukan? Dia tak sengaja menabrak bus transportasi dari perusahaan papamu," tanya seorang wanita paruh baya dengan wajah pucat, ia mencengkram kedua pundak Kafa erat. "Bisakah dia membersihkan nama Rayyan? Bagaimana mungkin orang yang telah tiada disalahkan. Rayyan terbebas dari gugatan bukan?"


"Mama Rena," lirih Kafa pelan, air mata mengalir di pipinya.


Rena ikut menangis. "Jawab Kafa! Rayyan tidak bersalah bukan?!" bentak Rena mendesak, cengkramannya semakin kuat.


Kafa mengusap air matanya. "R- Rayyan, Rayyan bersalah. Dia harus menanggung semua kesalahannya."


"Tidak mungkin! Kau berbohong! Rayyan tidak salah! Bilang padaku jika Rayyan tidak bersalah!"


Air mata kembali mengalir di pipi Kafa. "Rayyan bersalah, Ma. Dia bersalah," ucap Kafa gemetar.


Kafa ikut berjongkok, ia memeluk Rena erat. "Ma," panggil Kafa pelan.


"Tidak. Rayyan tidak bersalah. Ia tidak mungkin bersalah." Tangisan Rena semakin kencang.


"Maafin Kafa. Kafa gak bisa berbuat apa-apa," gumam Kafa pelan semakin mengeratkan pelukannya.


*     *       *        *       *


"Kesalahan yang gue lakuin terlalu banyak," gumam Deden pelan, ia duduk di pojok kamar sambil membentur-benturkan kepalanya. Sesekali ia menjambak rambutnya sendiri karena frustasi.


Pagi tadi, Deden mengantarkan kepergian Rena ke tempat peristirahatan terakhir. Setelah itu, ia langsung pulang ke rumahnya. Papanya memerintahkan untuk segera berkemas karena mereka akan segera langsung berangkat menuju Amerika.


"Gak becus! Gak becus! Gak becus!" bentak Deden pada diri sendiri, ia semakin memperkuat benturan kepalanya ke tembok, darah mulai mengalir dari pelipisnya.


Rasanya ... rasa bersalah semakin menyelimuti diri Deden. Semakin ia ingin melupakan dan menghindar, ia semakin melakukan banyak kesalahan. Memori-memori itu seperti mengejarnya, berkali-kali Deden menghindar, ia merasa semakin tercekik akan kesalahan.


"Baginda mama, Rayyan, Mama Rena. Kenapa semuanya ninggalin gue?" ucap Deden terisak. "Gue benci rasa sakit ini. Rasa sakit yang muncul setiap gue kehilangan."


Deden meringkuk, memeluk dirinya sendiri. Entah kenapa air matanya tak dapat terhenti, rasa sakit di hatinya seakan-akan semua terkumpul, menguak luka yang dulu sudah lama berusaha Deden sembunyikan.


"Angkat Key, Please. I need you," ucap Deden berkali-kali menghubungi kekasihnya. Darah dari pelipisnya mengalir ke leher diikuti dengan air mata.


"Key, please," gumam Deden untuk kesekian kalinya.

__ADS_1


"Key?"


Orang yang dihubungi tak mengangkat panggilannya, terasa sesak, Deden memerlukan seseorang di sisinya. Ia memerlukan orang yang dapat membuatnya tersenyum dan melupakan sejenak sakit hatinya.


*       *       *       *        *


"Key, itu 'My Prince' nelpon," ucap Viera memberitahu, nadanya terdengar sedikit mengejek.


Mereka tengah berada di kantin sekolah. Beberapa hari lagi pembagian raport hasil belajar, para siswa bebas berkeliaran tanpa harus pusing akan angka dan huruf lagi.


Key membalikan layar ponselnya, wajahnya terlihat kesal. "Gak tahu. Gue lagi kesel."


"Ululu ... my prince." Viera menggoda.


Key tak mempedulikan Viera lagi, ia fokus pada bakso kesukaanya. Di mana lagi jika bukan di tempat Pak Kasim, ditambah dengan cabai yang super banyak. Hal tersebut adalah cara Key untuk menghilangkan beban pikirannya.


"Katanya Deden sakit, ya? Gue denger dia luka?" tanya Viera penasaran.


"Iya, perutnya ketusuk," jawab Key datar.


"Apa?!" teriak Viera spontan.


"Gak usah teriak, Ra. Gue gak budek."


"Terus, sekarang Deden gimana?"


"Gak tahu."


"Gimana, sih? Lo pacarnya juga," cerca Viera menggeleng heran.


"Gak tahu. Udah gue bilang, kan, gue lagi kesel sama dia."


"Utututu, tayang ... ia, deh, yang lagi ngambek."


"Bodo amat!"


"Eh, bagi raport nanti jum'at, 'kan? Nilai gue pasti fantastis," ucap Viera bangga pada diri sendiri.


"Terserah. Gue gak peduli."


"Gue sebel sama lo kalo mode datar." Viera mulai fokus pada makanannya.  "Eh, itu Juna! Juna!" panggil Viera pada orang yang baru datang, ia kembali menyimpan sendoknya.


"Kenapa, Ra?" timpal Juna datar.


"Ini kenapa orang-orang jadi dingin gini?" tanya Viera kebingungan. "Deden kemana, Jun? Kok gue belum lihat?" Viera langsung memberitahu tujuannya memanggil.


"Gue gak tahu. Gue gak peduli lagi."


* * * * *

__ADS_1


__ADS_2